
Aku sedang berusaha untuk menjadi wanita yang tak merepotkanmu, wanita yang tak memberatkanmu bahkan menjadi alasan tertundanya segala urusanmu. Jika aku tanpa sengaja masih melakukan hal itu, maka beritahu aku! Akan kupelajari mengertimu lebih baik lagi.
Rea~
***
Bara, ia sudah kembali rapi dengan kemejanya setelah membersihkan diri di hotel. Pergi sebentar, ia sudah berpesan kepada pelayan hotel bahwa akan kembali larut malam nanti.
Namun, tidak dengan Rea. Sejak sore mengurung diri di kamar bahkan tak keluar untuk makan malam.
"Revan, ajak adikmu keluar. Bujuk dia makan," pinta Alex saat makan malam telah siap.
"Iya, Ayah."
"Biar Ibu saja, Yah. Kali Rea beneran gak mau makan karena cemburu, Revan mana bisa membujuknya!" ucap Neya.
"Baik, Bu." Revan hanya bisa pasrah, ia tahu Rea pasti kesal karena permintaan Ayahnya. Dia yang sudah dewasa saja sebenarnya sedikit dongkol dengan keputusan tentang Najira dan Bara yang pulang bersama apalagi Rea yang menurutnya masih labil.
"Maaf, aku ketiduran. Rea keluar dengan piyama pendek dan rambut acaknya meski sudah mencuci muka.
"Astaga Rea, anak gadis meuni berantakan!" omel Neya yang melihat Rea terlihat kusut.
"Aduh, Bu. Rea kan habis mandi rebahan tadi, baca buku bentar malah bablas tidur."
"Ya paling gak sisiran dulu atuh."
"Keburu laper!" Rea memanyutkan bibirnya agar sang Ibu berhenti mendebat.
Sementara Alex hanya geleng kepala.
"Sudahlah, Mah. Gapapa, kasian Rea lapar. Ayo kita makan! Jarang-jarang kita kumpul kaya gini masak mau diisi perdebatan!"
"Sini, Re."
Req mengangguk dan duduk di kursi samping Revan. Makan malam pun dimulai, baik Neya maupun Alex senang karena melihat dua anaknya.
"Tak terasa kalian berdua sudah dewasa, tapi semakin kalian dewasa, semakin membuat Ayah sedih karena setelah kalian menikah waktu seperti ini akan sulit kami dapatkan," ujar Alex setelah mereka semua selesai makan dan kini tengah bersantai di depan televisi.
"Ayah kok ngomong gitu?" protes Rea dengan mata berkaca, mendadak ia merasa bersalah dan egois karena ingin ikut Bara dan Najira pulang.
"Ayahmu benar sayang, kami selalu merasa sepi tanpa kalian. Dan sekarang, kalian sudah memikirkan menikah kami bukan hanya merasa sepi, tapi juga kehilangan."
"Duh, Rea jadi makin sedih kan, Bu."
"Bu, nanti kan aku di Bandung sama Najira kalau sudah menikah."
"Tapi kan beda, Van. Rea anak perempuan, kamu juga tau manjanya dia kaya gimana? Ibu belum yakin dia bisa mengurus suami, nyiapin ini itu di usianya yang masih muda!" jelas Neya.
"Revan yakin dia bisa mengurus Bara, sewaktu di Jakarta Rea juga sangat mandiri, iyakan dek? Hanya..." Revan menggantung ucapannya membuat Rea yang tadi air matanya jatuh haru jadi kembali memicing curiga.
"Dia kalau tidur suka nggak ingat waktu."
"Yey, tidur itu termasuk kebutuhan Mas! Ini aja aku udah ngantuk lagi," ucap Rea seraya menguap.
"Duh anak gadis, nanti kalau sudah menikah nggak boleh begitu ahh. Harus tunggu suami kalau mau tidur." Nasihat Neya.
"Benar Rea, apalagi kalau Bara kerjanya kantoran." Alex menimpali.
"Iya, biar suami juga seneng pulang kerja ada yang menyambut. Makanya Mas juga pengen segera nikahin Najira, biar kalau pulang lembur bukan lagi apartemen gelap yang menyambut."
"Dih, Ayah Ibu sama Mas Revan kok malah nyerang Rea sih, kan yang nikah Mas Revan dulu." Rea menekuk wajahnya.
"Kan kamu anak gadis ibu satu-satunya, harus bisa menempatkan diri mulai sekarang. Latian dulu jadi calon istri," ucap Neya menggoda putrinya.
"Ish Ibu."
***
Rea sudah siap untuk tidur meski jam masih menunjukkan pukul setegah sembilan. Namun, matanya tertegun kala mendapat panggilan telepon dari Bara, apakah kekasihnya itu sudah sampai Jakarta?
"Bodoh banget sih, dikira Jakarta sejauh apa belum sampai." Rea bergumam sendiri sebelum menggeser layar ponselnya ke atas untuk mengangkat panggilan.
"Hallo sayang, kangen nggak?" tanya Bara.
"Dih, kangen lah walaupun kesel juga."
"Kamu dimana, sudah tidur? keluar gih? tapi jangan lewat pintu, tapi lewat jendela kamarmu," pinta Bara.
"Hah?"
"Buruan kalau mau ketemu aku, jangan lupa sebut namaku tiga kali sampai aku denger," ucap Bara berbisik lewat telepon membuat bulu kudu Rea meremang aneh.
"Mas, kebiasaan. Kamu pasti ngerjain aku kan?" tanya Rea tak percaya.
"Coba aja, aku minta hadiah kalau beneran berhasil."
"Huh, oke."
Rea pun mengunci pintu kamarnya, karena tak yakin ia pun keluar lewat jendela dengan masih mengenakan piyama pendek tidurnya. Butuh seddikit perjuangan untuk Rea lantaran kamarnya yang bersebelahan dengan kamar milik Revan. Rea harus meniminalkan suara agar kakaknya tak mendengar ia bertingkah.
"Hah? Mobil?" Rea tertegun kala melihat mobil Bara terparkir di luar gerbangnya.
Dengan perlahan ia membuka gerbang pelan-pelan dan berhasil. Rea lantas langsung membuka mobil Bara yang tak dikunci setelah melihat Bara sedikit menurunkan kaca mobil agar Rea percaya.
"Astaga Mas ini beneran kamu?" Rea langsung menangkup kedua pipi Bara dengan senyum berbinar, masih tak percaya jika Bara masih berada di Bandung.
"Hm, iya ini aku. Kenapa? seneng pasti." goda Bara.
"Ish, ya seneng lah!" Jawab Rea malu-malu.
"Cie, mana hadiahnya!" tagih Bara.
"Apa Mas?"
"Ini." Bara menunjuk bibirnya.
"Ish malu, Mas. Masa cium*n di mobil?" tanya Rea.
"Kaca mobilku gelap sayang, ayolah tadi bilang iya." Bara menyeringai tipis.
"Ishhh, yaudah tutup matanya Mas."
"Kenapa di tutup?" protes Bara, mereka malah terlibat perdebatan hingga ujung-nya Rea dengan malu-malu mencium bibir Bara.
Bukan Bara namanya jika diam saja, Ia menarik tengkuk leher Rea agar lebih dekat dan melu mat bibir gadis itu dengan lembut.
'You won't know what it's like if you don't try.'
'Kamu tidak akan tahu rasanya, jika tidak mencoba.'
"Udah Mas, gak bisa napas aku." Rea mendorong sedikit tubuh Bara agar cium*n mereka terlepas.
"Hahaha, iya baiklah. Oh, ya besok berangkat jam berapa ke Jakarta?" tanya Bara. Rea menggedikkan bahu.
"Sore mungkin Mas."
"Ayo jalan-jalan dulu Mas, masih kangen."
"Boleh, apa yang nggak buat Rea." Bara menoleh ke belakang untuk meraih sebuket bunga dan paperbag yang sempat ia cari tadi lalu menyerahkannya untuk Rea.
"Buat kamu sayang."
"Mas, beneran buatku?" tanya Rea tak percaya. Entah, bagi Rea semua perlakuan Bara sangat manis.
"I like you sugar, you are the most beautiful work of god that i have ( Aku menyukaimu sugar, kamu adalah karya terindah Tuhan yang aku miliki)" Bara kembali meraih kepala Rea dan mencium keningnya.
"So sweet, i Like yo too Mas Dude." Rea tak tahan untuk tidak memeluk Bara dengan erat."
Bara akhirnya membawa Rea berkeliling Bandung setelah meminta gadis itu mengganti pakaiannya di kursi belakang. Malam ini, Kota Bandung menjadi salah satu dari saksi perjalanan cinta mereka.