SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
117. Sugar Season 2



"Kalian ngerasa ada yang ngikutin nggak sih? Apa mau pulang ke rumah mama sama Papa aja?" tawar Kenaan merasa tak beres.


"Boleh," jawab Alesya. Entah masuk angin atau mabok yang jelas saat ini tubuhnya tak berdaya di pelukan Reivan.


"Kayaknya mabok pesawat, tapi masa sih? Perasaan pas berangkat enggak!"


Reivan masih berfikir, sementara Kenaan makin mengkerut melihat bekas luka di lengan Alesya saat Reivan membuka jaket adiknya itu di dalam mobil.


Berbagai pertanyaan bersarang di benak Kenaan. Hingga sampai di rumah Bara, Reivan langsung menggendong Alesya masuk ke dalam rumah.


"Alesya kenapa Rei?" tanya Rea khawatir, ia langsung mengikuti menantunya ke lantai atas guna mengecek keadaan putri kesayangannya.


"Mabok kayaknya," gumam Reivan. Ia merebahkan Alesya ke ranjang dan melepas flat shoes yang masih melekat di kaki.


Rea mendekat, mencari-cari di laki nakas minyak kayu putih. Setelah ketemu, dengan telaten ia balurkan di sekujur tangan, leher, hingga tengkuk.


"Tangannya kenapa ini, kok gini?" seru Rea terkejut. Ia bukan tak tahu bekas luka apa goresan di tangan. Sudah dipastikan Alesya kena goresan benda tajam.


"Galen mengacau bulan madu kami," lirih Reivan.


"Maaf gak bisa jaga Alesya dengan baik, aku pikir berdua saja cukup. Tapi, kami kecolongan dan Galen ada disana. Bahkan resort kami bersebelahan, dia sudah gila hampir membuat Ale ketakutan."


Kenaan yang berada di ambang kamar Alesya pun terkejut.


"Pantas, aku melihat kalian keluar dari pesawat yang sama," seru Kenaan.


"Aku pikir ada yang tidak beres, ternyata benar dugaanku. Sepertinya aku sudah tidak bisa menahan tangan ga talku lagi," seru Kenaan dan pergi setelahnya.


"Reivan dia pasti mau menghajar Galen," seru Rea khawatir.


"Biarin saja, Ma. Jika tanganku masih tak cukup untuk membuat bocah itu sadar, maka masih ada tangan Kenaan, dan tangan Papa."


Reivan sudah bertekat tak akan lagi berbelas kasih pada keluarga mantan istrinya.


Rea hanyaa terdiam, ia fokus pada Alesya yang pucat pasi.


***


Kenaan dengan membabi buta mendatangi kediaman Wilson.


"Mana Galen?" tanya Kenaan langsung pada satpam jaga.


"Itu, Pak. Tuan Wilson melarang saya untuk membiarkan anda masuk," ujarnya langsung mendapat pelototan tajam dari Kenaan. Sepertinya keluarga Galen sudah menebak dan antisipasi akan kedatangannya.


Kenaan masuk tanpa mengindahkan satpam yang berteriak padanya.


"Tuan kalau nekad saya bisa bilang ke warga kalau anda mau maling," tegurnya membuat Kenaan menaikkan alisnya.


"Silahkan, saya yang akan lebih dulu melaporkan Galen karena telah menguntit adik saya dan suaminya!" tegas Kenaan membuat satpam itu menunduk. Mau tak mau ia membiarkan Kenaan masuk dan mencari keberadaan Galen, bernapas lega karena Wilson tak ada di rumah.


"Galen, keluar kamu!" teriak Kenaan mengetuk kasar pintu. Sebenarnya Kenaan bukan type orang yang tak memiliki sopan santun, ia selalu menjunjung tinggi sopan santun seperti yang diajarkan Bara padanya. Namun, hal itu sama sekali tak berlaku untuk keluarga Galen.


Ceklek, Liora keluar dan melihat siapa yang datang. Dengan wajah angkuh dan bersedekap dada menyambut, "ada apa datang kesini?"


"Mana Galen, suruh dia keluar sekarang!" ujar Kenaan datar.


"Galen sedang istirahat."


"Wow! Masih bisa istirahat setelah melukai adikku? Dasar breng sek, Galen keluar kamu!" teriak Kenaan lebih keras.


"Jangan ngadi-adi, Galen tak mungkin melakukannya," bela Liora.


"Lalu? Kemana anakmu beberapa hari ini hah? Kamu tahu, dia menguntit Ale dan suaminya ke Lombok bahkan melukai tangan Alesya dengan senjata tajam? Laki-laki seperti apa dia hah?" teriak Kenaan dengan napas terengah menahan kesal.


Tap tap tap, Galen menuruni tangga. Ia mendengar keributan di luar memutuskan untuk turun. Dahinya mengernyit saat melihat keberadaan Kenaan disana sedang berdebat dengan sang mama.


"Bang Kenaan? Ada apa abang kesini?" tanya Galen. Liora sedikit menyingkir memberi jalan Galen akan tetapi tanpa terduga Kenaan mendaratkan bogem mentah tepat di rahang tegas milik Galen.


Dengan membabi buta memukuli Galen tanpa ampun hingga berhasil membuat Liora berteriak panik.


"Hey, jangan pukul Galen!" teriaknya.


"Satpam... Satpam..."


Galen tersungkur, ia sama sekali tak memiliki daya untuk melawan Kenaan.


Satpam datang, akan tetapi Kenaan mengisyaratkan agar mereka tak ikut campur.


"Kalian tahu marahnya seorang kakak yang adiknya terluka? ini bukan seberapa, karena kalau membu nuh itu tak akan membuatku terjerat hukum, kalian sudah habis!" maki Kenaan.


"Cukup bang, aku begini juga karena mencintai Alesya, aku mencintai Alesya bang! Tidak seharusnya dia menikah dengan Om-om seperti Reivan, tidak seharusnya,--" Galen tak meneruskan kalimatnya karena Kenaan semakin menatap benci ke arahnya.


"Tidak seharusnya Alesya pacaran dan kenal sama cowok se breng sek dan sepengecut kamu! Kamu kira setelah apa yang sudah terlewat, Alesya masih mau menerimamu? Bahkan kamu bukan orang yang bertanggung jawab!"


"Aku pasti akan tanggung jawab," seru Galen dengan suara parau. Liora akan meraihnya agar bangkit tapi Galen menepisnya.


"Aku akan membuktikan kalau layak buat Alesya!" lirih Galen.


"Layak? Adikku tentu tidak mau dengan laki-laki yang mengaku cinta tapi menelantarkan calon anaknya di luar sana. Bahkan dari segi ini pun kamu bukan orang yang bertanggung jawab, lantas setelah membuat Karla hamil dan mencampakkannya keluargaku masih mau menerimamu? Cih, mimpi sana."


Kenaan meninggalkan Galen begitu saja, akan tetapi sebelum langkahnya menjauh kembali berbalik dan menatap Galen sinis.


"Lebih baik kamu pertanggung jawabkan apa yang pernah kamu lakukan sebelum ada pria lain yang akan menjadi ayah sambungnya!" sinis Kenaan lalu benar-benar pergi.


Galen tertunduk, "Karla hamil, Ma!"


Liora meraih Galen dan membawanya ke sofa ruang tamu.


"Bukannya mama sudah memberinya delapan puluh juta, jadi untuk apa lagi kamu memikirkan tanggung jawabmu pada ja lang itu?" sinis Liora.


"Siapa yang kamu bayar delapan puluh juta," seru Wilson tiba-tiba datang. Dengan suara menggelegar setelah tanpa sengaja mendengar ucapan istrinya.


"Pa," lirih Galen.


"Siapa?" bentak Wilson. Liora dan Galen saling tatap panik.


"K-karla, Pa!" aku Galen menunduk.


Wilson tak kuasa menahan amarahnya, "papa tidak pernah mengajarimu menjadi pengecut!" makinya sebelum benar-benar ambruk karena serangan jantung dan syok.


"Pa, papa..." panik Galen dan Liora.


***


"Selamat, Nona Alesya sedang mengandung saat ini. Usianya masih sangat muda, jika dihitung dari tanggal terakhir tamu bulanan janinnya masih berusia empat minggu." Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Alesya pada Rea dan Reivan.


"Hamil, Dok?" ulang Reivan tak percaya. Ia tak kuasa untuk tak tersenyum haru.


"Iya hamil. Untuk lebih akuratnya bisa lakukan pemeriksaan USG di rumah sakit."


Rea dan Reivan sontak mengangguk bahagia.


Alesya masih lemas, ia pucat pasi karena tenaganya terkuras habis perjalanan penuh dengan drama.


"Akhirnya kamu hamil sayang," bisik Reivan seraya mengusap kening Alesya dengan lembut.


"Aku kenapa, Mas?" lirihnya memelas.


"Kamu cuma perlu istirahat sayang," jawab Reivan. Laki-laki itu tak hentinya tersenyum hangat pada sang istri meski Alesya penasaran apa yang membuat Reivan tersenyum seperti itu.


"Ah iya? Apa aku hamil?" tanyanya diangguki oleh Reivan.


"Hamil?" ulang Alesya lagi penasaran hasilnya mengingat tadi setelah mengeluarkan urine Reivan langsung membopongnya kembali ke ranjang dan malah suaminya itu yang mengecek.