SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 41



"Aku nggak salah kan? kamu ninggalin Danis buat cowok kaya dia, hahaha lucu ya? kaya gitu kamu masih nggak terima dibilang simpanan, cih!" cibir Kanaya.


"Eh, mulut kamu itu busuk banget ya?" Amy yang mendengar ucapan Kanaya pun tak terima.


Sementara Danis memilih jalur aman dengan pamit pergi.


"Urus urusan kalian bertiga, aku nggak ada andil apapun masalah itu, aku sudah jelasin ke Rea kalau bukan aku pelakunya. Sekalipun tadi pagi kalian melihat kami, itu karena aku sedang meluapkan kekesalan sama Kanaya karena dia mengaku-ngaku sepupuku." Alibi Danis, seraya mengibaskan tangan sebelum berlalu.


"Heh, Dans. Breng sek emang!" maki Kanaya menahan kekesalan saat Danis langsung pergi begitu saja.


Rea membiarkan Danis pergi, toh urusannya saat ini dengan Kanaya. Perihal Danis, ia sudah tidak perduli apapun tentangnya.


"Apa bedanya sama kamu yang menghalalkan segala cara? Kamu kalau emang suka sama Danis, ambil aja. Bukankah sampah lebih cocok dibuang pada tempatnya?" tegas Rea.


"Sampah? Ck, mata kamu buta!" maki Kanaya.


"Hehe, bukankah kata itu lebih cocok tersemat buat kamu?" cibir Rea.


"Arghhhh..."


Bara masih diam, harus ia akui Rea memang hebat. Namun, diamnya Bara bukan berarti tak perduli dan membiarkan Rea ditindas begitu saja, ia sedang mencari tahu siapa gadis yang berurusan dengan Rea saat ini.


Bara menghela napas kasar saat tahu siapa keluarga dari gadis itu, salah satu saingan bisnis Alnav Group.


'Dia pernah kencan satu malam dengan Om-om pemilik perusahaan N di club malam daerah X.'


Pesan terakhir Tama.


Bara menyeringai.


"Sudah Rea, jangan buang-buang waktu buat ngelawan orang yang gak jauh lebih baik dari kamu," bujuk Bara.


"Bilang aja kalau yang aku omongin itu kenyataan, kalian ga bisa ngelak kan?"


Rea menghampiri Kanaya, tangannya mengepal dan dengan segera menamparnya.


Disusul Bara yang berusaha menahan tangan Rea agar tidak menampar Kanaya lagi.


"Sudah, Re!"


"Kamu punya kaca kan di rumah? lihat, betapa menyedihkannya kamu sampai mengurusi hidupnya Rea. Dia kekasihku, itu lebih baik ketimbang kamu yang terlibat one night stand dengan pengusaha kaya. Demi apa, demi sebuah bisnis? ck, miris sekali." cibir Bara.


Deg.


Kanaya mundur, ia tak percaya bagaimana laki-laki itu tahu soal rahasia yang hanya ia dan kedua orang tuanya tutup rapat-rapat.


"Pulang, kalau masih punya malu!" sindir Amy.


Kanaya langsung lari meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata, sementara Rea semakin mengerutkan keningnya.


"Ayo duduk?" Bara mengulurkan tangannya yang disambut lega oleh Rea.


"Hm, makasih Mas."


"Pasti capek! Kenapa nggak ngomong kalau ada yang ganggu kamu," ujar Bara sedikitpun tak melepaskan tautan.


"Mas Bara nggak tau aja kalau Rea itu dibaik-baikin sama dia." seloroh Amy.


"Yaudah, ga usah dipikirin. Mending pesen minum, capek kan kalian marah-marah. Masalah cewek itu biar aku yang urus, aku kenal kok orang tuanya," ujar Bara.


"Dev, jangan diem terus. Pesen gih!" titah Bara.


"Eh, iya Ra." Devan mengangguk canggung. Namun, tak berselang lama ia sudah terlibat obrolan dengan Amy.


Mereka pun memanggil pelayan untuk memesan minum sekaligus makanan. Sore itu, mereka nikmati dengan bersantai di caffe.


Bara juga menjelaskan apa-apa yang diperlukan untuk bergabung ke Alnav Group. Rea benar-benar takjub, masih tak menyangka laki-laki yang ia kenal 1 bulan yang lalu karena accident adalah Bara si penguasa bisnis bukan Bara tetangga kosnya.


"Masih mikirin yang tadi?" tanya Bara saat sudah sampai di kosan.


"Nggak sih, Mas. Aku yakin kok, kalau Kanaya gak bakal ganggu-ganggu lagi. Tapi ya gitu, orang-orang kampus tetep bakal ngira aku simpanan orang kan?"


"Kalau gitu, kita nikah aja biar mereka tahu kalau kamu itu istri sahku."


"Mas..." Rea menekuk wajahnya dengan bibir mengerucut.


"Kenapa kan enak nikah?"


"Gak papa, kan Mas Bara sendiri yang dulu bilang gak mau nikah?"


"Aku berubah pikiran, kalau sama kamu bawaannya pengen cepet halalin ke MUI."


"KUA Mas, KUA!"


"Hahahaha, canda sayang." Bara terkekeh melihat wajah kesal Rea, menggemaskan.


"Aku mau nemuin Tama bentar, ada urusan. Gapapa kan?" tanya Bara.


"Jam segini?" tanya Rea seraya melihat jam di dinding kosannya.


"Iya memang jam segini, Tama lagi di club malam soalnya."


"Aku ikut!"


"Mana boleh, club malam bukan tempat yang baik buat kamu ikut sayang!"


"Ck! terus baik buat kamu gitu Mas? disana banyak cewek-cewek seksi. Menurut novel yang aku baca, cowok ke club malam ntar pulang-pulang mabuk dijebak cewek gimana?"


"Astaga Rea, kebanyakan baca novel kamu!" Bara mencubit pipi Rea dengan gemas, sedikit heran dengan pikiran gadis itu yang over. Namun, dibalik overnya Rea, Bara menyukainya! Bara menyukai sikap gadis itu, manjanya, perhatiannya dan satu hal, Dewasa!


Bagi Bara, Rea cukup dewasa mengimbanginya.


"Tapi bener kan, Mas?" Rea masih kekeh.


"Nggak, itu cuma di novel-novel aja. Buktinya kamu nggak hamil kan?" tanya Bara.


"Ih, Mas! jangan keras-keras nanti mereka denger." Rea membekap bibir Bara dengan telapak tangannya.


"Ini di kamar Rea, mana dengar!"


"Ya dengarlah, Mas. Dikira tembok orang kaya yang mau teriak-teriak bakalan nggak kedengeran."


"Hm, iya iya."


"Re, kenapa pake tangan si, coba pakai itu!" tunjuk Bara ke arah bibir saat tangan Rea terlepas.


"Dih mana boleh."


"Boleh kalau sama aku," ucap Bara menarik tubuh Rea agar merapat dengannya. Dengan satu tekanan, bibir mereka sudah bertemu.


Bara pamit setelah beberapa menit ciuman mereka terhenti.


"Pergi dulu, jangan kangen." pamit Bara.


Rea hanya memjawab dengan ekspresi lesu dan bibir mengerucut.


Hingga mobil Bara menghilang, ia masih berdiri diambang pintu yang tanpa Rea sadari Devan sedang memperhatikannya dari jauh.


***


Bara berdecak kala Tama memintanya menemui di club malam, dalam hati menggerutu sebab Bara tak begitu suka datang ke club.


"Hai-hai Bara, nyari Tama ya?" sapa Lauren pemilik club Tonight.


Club Tonight adalah club tersembunyi. Desain club dari luar lebih mirip warung makan itu membuat Bara bergidik. Ia pernah dibuat terkejut lantaran club yang sebenarnya berada dibalik pintu yang didesain mirip dengan kulkas.


"Mana dia?"


"Oke, aku anter! Sini ikut." Lauren meminta Bara mengikutinya.


"Tuh dia." Lauren membuka pintu ruang VIP dimana Tama sedang duduk ditemani wine.


"Ngapain sih Tam, ngajak ketemu di tempat begini. Besok-besok kan bisa di Kantor!" gerutu Bara.


"Ayolah, Ra! Sesekali, lagian kamu makin sibuk sama Rea."


"Ck! nggak juga, aku banyak urusan."


"Jadi nyerang perusahaan Erlangga? Kau tau kan alasan kenapa aku ngajak ketemu disini. Di tempat Lauren aman, gak bakal ada yang perduli apa yang kita omongin."


"Iya, aku mau ngasih pelajaran anaknya Erlangga yang udah kurang ajar sama Rea." geram Bara.


"Sesuai permintaan kamu Bar-bar, cek email! Tapi inget, bonusku tambahin dua kali lipat, lumayan tabungan modal nikah." Tama menyeringai.


"Beres, bahkan aku kasih mobil kalau kamu nikah duluan." Janji Bara, meraih gelas kosong kemudian ikut menikmati wine.