SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 82



"Selamat datang kembali, Pak Revan!" Pak Damar sudah menunggu anda di dalam.


Revan mengangguk saja pada sekertaris atasannya itu, lantas berjalan memasuki ruangan dimana Pak Damar, CEO tempat ia bekerja berada.


"Pagi, Pak." Revan duduk di hadapan Pak Damar.


"Anda memanggil saya?" tanya Revan.


"Hya, Revan. Bagaiman kabar kamu, apa sudah lebih baik?" tanyanya langsung pada poin.


"Jauh lebih baik, Pak."


Damar menghembuskan napas kasar, menatap Revan.


"Revan, apa kamu yakin dengan keputusanmu?"


Revan terdiam, ia mengangguk.


Damar dilema, bagaimanapun ia merasa sangat cocok dengan Revan. Dan setelah laki-laki itu memutuskan untuk mengundurkan diri membuatnya sangat terkejut. Damar tau Revan baru kehilangan istrinya, mungkin satu-satunya alasan ia ingin pergi dari Jakarta adalah agar laki-laki itu tak larut terus menerus dalam bayangan sang istri.


"Saya minta maaf, Pak." Revan menunduk, merasa sangat bersalah meninggalkan perusahaan Pak Damar yang selama ini telah menjadi tempatnya mengais pundi-pundi rupiah.


"Tak apa, saya mengerti posisi kamu. Besok temui saya sebelum pulang, besok terakhir kan?" tanya Pak Damar.


Revan mengangguk, "iya, Pak. Besok saya pasti menemui Pak Damar lagi sekalian pamit!"


"Baik, Revan."


Esoknya adalah hari terakhir kali Revan bekerja, ia bukan hanya ingin berhenti dari perusahaan tapi juga pergi dari Jakarta dan memilih pulang ke Bandung.


Mungkin mengembangkan bisnis orang tua adalah kesibukan yang akan membuatnya sedikit lupa akan kehilangan. Setidaknya bayang-bayang Najira akan hilang jika ia menikmati waktunya bersama Ayah dan Ibu di Bandung.


Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya sebelum memasuki ruangan Pak Damar.


"Ada apa?" tanya Revan saat berpapasan dengan sekertaris Pak Damar.


"Tidak ada," jawabnya sambil berlalu setelah ketahuan memperhatikan Revan tak berkedip.


Revan menggeleng, ia masuk ke dalam ruangan Pak Damar untuk berpamitan.


"Ini sedikit dari saya," ucap Pak Damar, menyodorkan amplop coklat tebal di hadapan Revan.


"Pak, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, saya sudah cukup puas dengan kinerja kamu selama disini. Jadi, sedikit uang itu tidak ada artinya. Semoga kamu bisa sukses dimanapun kamu bekerja."


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih untuk semua kebaikan Pak Damar!" ucap Revan sebelum akhirnya pamit undur diri.


Keluar dari ruangan Pak Damar, Revan mulai pamit dengan rekan-rekannya satu persatu juga para bawahan yang selama ini baginya adalah partner kesuksesannya.


"Pak Revan jadi keluar?" tanya Selena.


"Jadi."


Selena menghela napas, sulit sekali baginya mendekati laki-laki dingin itu, setiap obrolannya selalu dijawab singkat, menyebalkan.


"Hm, baguslah kalau dia keluar, bukannya lebih mudah buat kamu berhenti Selena!" batin gadis itu, hingga langkah terakhir Revan keluar kantor harus kembali berpapasan dengannya sekali lagi.


"Nunggu jemputan?" tanya Revan menghentikan mobilnya.


Selena menggeleng, "nunggu taksi lewat, Pak."


"Ayo bareng." Revan membuka pintu mobilnya dari dalam hingga membuat Selena mematung tak percaya. Berbulan-bulan ia menjadi sekertaris Pak Damar dan mencoba untuk mendekatinya. Namun, yang ada laki-laki itu tak ada respon sama sekali dan selalu bersikap dingin tanpa ampun.


"Ah, iya." Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Selena langsung masuk meski jantungnya berdetak tak karuan.


"Dimana kamu tinggal?" tanya Revan, Selena pun menunjuk alamatnya.


"Hm." Selena hanya menjawab dengan deheman, ia gugup sekaligus senang. Namun, tetap harus pura-pura bersikap biasa saja.


"Selena..."


"Iya, Pak?" Selena menatap Revan, rahang tegas dan wajah tampan itu membuatnya berulang kali merapalkan matra agar tidak tergoda.


"Tidak ada."


"Haishh, bapak ini? irit banget bicaranya, macam kulkas saja, dingin!" gerutu Selena.


"Berisik, yang mana rumahmu?" tanya Revan.


Selena menunjuk dimana rumahnya berada. Lalu, Revan dengan sigap menghentikan mobilnya.


"Sudah sampai sini, terima kasih atas tumpangannya Pak Revan!"


"Hm, selamat tinggal!" kata Revan, setelah memastikan Selena turun, ia kembali melajukan mobilnya.


Revan memang tak terlalu akrab dengan Selena, selama ini ia bersikap dingin karena adanya Najira di sisinya, juga karena Revan tau bahwa Selena diam-diam meliriknya. Ia hanya tak ingin memberi harapan palsu pada gadis itu.


Sekarang fokusnya hanya satu, ia akan pulang ke Bandung dan menetap disana.


***


Sementara di sebuah kamar Villa, sepasang manusia tengah bergelung nikmat. Mereka adalah Bara dan Rea.


Ligerie merah bahkan baru saja melekat di tubuhnya setelah selesai percintaan semalam, akan tetapi tangan Bara sudah dengan sigap kembali menariknya dalam pelukan.


"Mas, katanya bulan madu. Kita bahkan dari kemarin belum kemana-mana?" protes Rea.


"Memang mau kemana, bulan madu ya kaya gini," ujar Bara.


"Ish, kalau kaya gini di rumah juga bisa Mas, ngapain sampai kesini," sungut Rea memalingkan wajahnya.


"Ngambek sayang, iya nanti diajak jalan-jalan yah. Sekarang kita mandi dulu," ujar Bara sudah seperti membujuk anaknya yang sedang ngambek.


"Hm, beneran?"


"Iya beneran, mandi lagi ya temenin aku!"


"Ish, gak mau."


Bara tak butuh jawaban Rea, ia menggendong tubuh mungil sang istri untuk dibawa ke kamar mandi meski Rea berulang kali memekik tak mau.


Dan siang dibalik panas yang terik, mereka berjalan menyusuri pinggiran pantai sebelum mencari tempat untuk makan siang.


"Inget pantai ini?" tanya Bara.


Rea menggeleng.


"Tepat di pantai ini, aku minta kamu nunggu aku, masa gak inget?" tanya Bara sekali lagi, ia sungguh sedang ingin mengenang sekaligus mengulang kenangan manisnya bersama Rea di pulau seribu.


"Iyakah, Mas? di pantai ini?" tanya Rea, sebab ia hanya ingat Bara mengucap kalimat itu setelah memutuskan bercerai dengan Mba Najira, Rea tak ingat saat Bara mengucapkannya di pantai ini.


"Jahat banget, padahal aku ngucapinnya gak sekali dua kali."


"Iya iya inget kok," ucap Rea, ia pasrah begitu saja saat Bara menarik pinggangnya agar berhadapan.


Ciuman singkat di bibir membuat Rea seketika mendorong tubuh tegap itu.


"Malu, Mas."


"Gak ada orang, sayang."


Namun, Rea tetaplah Rea yang kadang walau hanya dengan Bara saja membuatnya sering kali malu apalagi di hadapan orang banyak.