
Sejak kejadian di caffe beberapa hari yang lalu, Rea tak pernah lagi melihat wajah Kanaya di kampus. Sedikit heran dengan apa yang dilakukan Bara sampai bisa membuat orang selevel Kanaya tak lagi menampakkan wajah.
"Hai, Rea!" Rara dan temannya menghampiri Rea, "mau langsung pulang ya?"
Rea merasa tak begitu akrab dengan mereka, dan jadi akan sangat aneh jika Rara mengajaknya mengobrol.
"Iya, ini mau pulang kok!" jawab Rea seadanya.
"Gue minta maaf ya, soal gosip yang di kampus kemarin. Soal lo sama pacar lo yang difitnah Kanaya." Rara menghentikan langkah Rea sebentar.
"Iya, sorry banget. Kita berdua ikut andil, karena..." Sarah menyenggol Rara.
"Karena kita yang ngambil foto itu buat Kanaya," ucap Rara jujur.
"Kalian..." Rea menggelengkan kepalanya kemudian menghela napas. Kesal rasanya, tapi melihat dua orang di depannya merasa sangat bersalah juga tak bisa membuatnya bersikap kasar.
"Sorry, Re. Tapi, sumpah! kita sebenarnya ga ada niatan sama lo! satu lagi, lo mesti cek trending web kampus kabar soal Kanaya, dia udah mendapat balasan setimpal."
"Oh, oke." Rea mengangguk tanpa ekspresi.
"Aku duluan kalau begitu," sambung Rea. Meski setiap kesalahan bisa termaafkan, bukan berarti bisa terlupakan begitu saja. Rea masih ingat bulian-bulian mereka beberapa waktu yang lalu. Bahkan kerap kali berdengung di kepala bak kaset rusak.
Rea memutuskan pulang tanpa menunggu Amel dan Amy.
Sementara di kantor, Bara sangat sebal karena diteror telepon sang Mama yang terus meminta nomor Rea. Alasannya simple tapi masih membuat Bara ragu, 'Mama mau lebih dekat dengan Rea!'
"Pa," panggil Bara menyelonong masuk ruangan Aron.
"Hm, ada apa Ra?"
"Hanya perlu sedikit bantuan Papa." bujuk Bara.
"Soal apa? soal Mamamu? atau Rea?" tanya Aron, "mau melamar kapan?" sambungnya antusias.
"Kalau itu secepatnya, tapi aku baru saja menyentil perusahaan Erlangga. Anaknya yang cewek, Papa tau kan?"
"Tau, sugar baby-nya Alan."
"Alan?" tanya Bara, ia merasa pernah familiar dengan nama itu.
"Sudahlah jangan memikirkan hal yang tak penting, fokuslah sama hubunganmu dan Rea. Bagaimanapun, Mamamu belum tahu kalau Rea adalah adik dari calonnya Najira," ujar Aron mengingatkan putranya.
"Tapi gimana dengan Erlangga? aku yakin saat ini dia tidak terima putrinya menjadi trending media sosial, apalagi di kampusnya!" Bara seperti memikirkan sesuatu.
Baginya, menghancurkan Kanaya sangatlah mudah. Namun, satu! Erlangga memiliki koneksi sama kuatnya dengan Alnav group dan hal itu menjadi ancaman baginya.
"Rea, aku harap kamu nggak akan marah sementara aku mengatasi masalah ini," batin Bara karena sejak hari itu Bara belum sama sekali menemui Rea. Ia hanya bertukar pesan atau sekadar video call jika malam hari.
Mendengarkan lagu adalah salah satu cara meluapkan rasa rindu saat hati dan raga tak bisa bertemu.
Rea, meski jaraknya dan Bara tak jauh tapi dirinya beruasaha makhlum dengan kesibukan laki-laki itu terlebih setelah apa yang dilakukan Bara untuknya, untuk menyelesaikan masalahnya, Rea berusaha untuk tidak berprasangka buruk dan tetap mempercayai Bara.
Bahwa jarak dan waktu bukanlah hal yang sulit untuk mereka hadapi.
Rea menatap dua benda di hadapannya dengan perasaan penasaran sekaligus takut. Dua tespeck yang ia beli diam-diam di apotek belum ia pakai, dalam hati merapalkan segala doa semoga ia tidak hamil mengingat tanggal bulanannya sudah kelewat.
"Syukurlah, aku kira bakalan hamil." Rea menghela napas lega saat melihat hasil tespeck menunjukkan negatif.
"Maaf ya, Mas. Tapi akunya mau nikah dulu baru hamil. Ngomong-ngomong ngeprank Mas Bara panik gak ya? Gemes pengen liat ekspresinya, hihi." Rea menangkap spidol merah diatas meja kemudian membuat satu garis lagi di tespeck itu. Dua tespeck dengan hasil berbeda Rea foto dan kirimkan ke Bara.
"Kamu hamil sayang? kok bisa beda hasilnya, ini yang bener yang mana?" Bara secepat itu membalas pesan Rea.
"Hihi, Panik gak Mas." Rea tak segera membalas malah cekikikan di kamar.
"Astaga, Re. Harus cepet-cepet nikah sebelum perut kamu bedundung."
"Lamar aja dulu, nikahnya lima tahun lagi." Lagi-lagi Rea tak kuasa menahan tawa, mungkin di lain tempat Bara sedang panik dan syok, tapi tak apalah sesekali.
"Mana boleh, Hm? Kamu mau, aku lumutan?"
"Boleh-boleh, biar cambangnya agak putihan dikit." goda Rea.
Saat tengah asyik berbalas pesan dengan Bara, Amy dan Amel mengetuk pintu kamarnya.
"Re..."
"Hm, masuk kuy?" ajak Rea. Amy dan Amel pun masuk begitu saja, tanpa Rea sadari tespeck yang ia pakai masih tenggorok di sana.
"Re, kita mau nunjukin sesuatu sama kamu. Btw, pacar kamu itu hebat bisa bikin Kanaya kicep gak mau masuk kampus lagi," ucap Amel senang.
"Iya, liat foto-fotonya! sumpah, jyjyk banget." Amy mengedikkan bahunya merinding.
"Eh, iyakah? aku malah belum lihat sama sekali." Rea berujar seraya menatap Amy dan Amel bergantian. Namun, siapa yang tahu tangannya sedang berusaha meraih tespeck yang lupa ia simpan.
"Huft akhirnya!" batin Rea bernapas lega kala berhasil menyembunyikan tespeck itu dari mereka.
"Kamu kok kaya panik gitu, Re?" tanya Amy.
"Nggak, aku cuma lagi ngerasa ga enak akhir-akhir ini kepikiran Mas Bara." alibi Rea.
Dengan sigap tangannya memasukkan tespeck bekas itu ke bawah kasur saat Amel dan Amy tak menatapnya.
"Iya, yang punya pacar!" gerutu Amel.
"Hahaha, jomblo diem aja di pojokan Mel." ejek Amy, dia sendiri sedang pdkt dengan Devan diam-diam.
"Awas ya kalian, padahal nih kalau Mas-nya Rea jomblo, mau dah aku jadi kakak iparnya Rea hihi, bayangin gak?" Amel terkekeh.
"Wew, janganlah. Kak Revan itu udah cinta mati sama Mba Najira." protes Rea.
"Meskipun kalau aku suruh milih mending sama kamu!" sambung Rea.
"Why?" ucap Amel dan Amy bebarengan.
"Iya, karena Mba Najira itu mantan istrinya Mas Bara!" jelas Rea.
"Wow, what the hell????" pekik Amel.
"Hmm."
"Ya ampun, Rea jadi kalian kakak beradik?" Amy membulatkan mata.
"Hm, begitulah. Bisa dibilang pelakor ga sih?" tanya Rea dengan polosnya.
"Entah! Mana ada pelakor berhati lembut kaya bulu selimut!" protes Amel.
"Ada, kan pelakor baik."
"Ampun deh Re, kamu tuh ya!" omel Amel dan Amy melihat kepolosan Rea.
Suara mobil berhenti di depan sama sekali tak mengganggu percakapan mereka. Bahkan saat ini tiga sekawan itu tengah terbahak hingga terdengar suara mereka dari luar.
"Brakkk!"Napas Bara ngos-ngosan, ia membuka pintu kamar kos Rea tanpa mengetuk hingga tiga gadis di dalamnya terperanjat.
"Mas Bara, ngagetin!" pekik mereka hampir bersamaan.