SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 47



Di kediaman Erlangga, pria paruh baya itu menatap putrinya tajam. Sebab, sejak Bara menyerangnya lewat foto-foto Kanaya, saham perusahaan Erlangga anjlok bahkan kini ia sangat kesulitan memulihkannya. Dan yang menjadi sasaran amarahnya adalah sang anak.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu pikir mudah, membangun perusahaan? Papa kan sudah bilang, kalau mau menyinggung orang lihat dulu siapa laki-laki di belakangnya!" bentak Erlangga.


"Pa, sudahlah. Lihat putri kita, dia sudah kehilangan semangat belajarnya dan kamu masih terus menyalahkan masalah sepele itu!" kesal Eriana yang sebenarnya kasian pada Kanaya, karena harus terus menerus menjadi sasaran kemarahan Erlangga.


"Sepele, kamu bilang sepele? Perusahaan hampir bangkrut karena ulahnya, dan kamu masih bisa bilang itu hal sepele. Kalian gak kerja heh, gak kerja! cuma bisanya ngabisin duit, dan sekarang? Satu lagi, dia putrimu, bukan putriku!" tegas Erlangga penuh penekanan.


"Pa!"


Eriana mengepal saat melihat laki-laki itu pergi dengan emosi, bukankah sejak pertama menikah laki-laki itu akan menganggap Kanaya dan memperlakukannya seperti putrinya sendiri, kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Kay!" panggil Eriana.


"Ini semua salah Mama kan? Secara tidak langsung Mama yang membuat masa depanku hancur! Mama menikahi pria breng sek seperti Papa yang tega menjual anak tirinya demi sebuah bisnis. Hahaha... Kehidupan macam apa ini?" Kanaya yang sudah berhari-hari bungkam akhirnya meluapkan semuanya, meluapkan kekesalan dan kesialannya hidup di dunia ini.


"Apa???" Mata Eriana membulat sempurna.


"Apa? Jangan bilang Mama tidak tahu apapun masalah ini. Ck! Menyedihkan sekali."


"Apa itu benar, Kay? Apa yang kamu katakan itu benar?"


"Memang benar! Apa salahku, aku hanya ingin seperti Rea, bahagia, punya kakak dan kekasih yang sangat mencintainya meskipun dia bukan lahir dari rahim orang kaya. Aku iri melihat semua orang begitu baik padanya, bahkan saat ia putus dengan Danis pun langsung mendapat laki-laki lain, sementara aku? Jangankan kekasih, orang menganggapku rendahan karena sosok Papa yang melemparku ke lubang dosa."


"Cukup Kay!" bentak Eriana, dia sendiri juga bingung harus seperti apa? membela Kanaya, akan menjadi ancaman untuk kehidupannya kelak. Namun, ia juga tidak bisa membenarkan tindakan Erlangga.


"Kenapa? Mama mau bilang kalau ini semua demi aku, demi kebahagiaan aku. Memang, semua hal membutuhkan uang, tapi ingat Ma! Uang bukan segalanya, Mama nggak akan pernah bisa membeli semuanya dengan uang."


"Kay, yang dibilang Papamu itu ada benarnya. Oke, mungkin dia salah karena telah mengorbankanmu disini."


"Serah Mama. Yang jelas, aku nggak mau lagi masuk kuliah disana."


Eriana hanya mampu menghela napas kasar mendengar ucapan Kanaya.


***


Di sisi lain, Bara dan Najira pamit pulang ke Jakarta. Hal itu membuat Rea menekuk wajahnya sedari tadi karena Alex sama sekali tak mengizinkannya ikut.


"Hati-hati di jalan." pesan Alex dan Neya.


"Baik, Om, Tante. Aku pamit." Bara bersalaman dengan Alex dan Neya. Kemudian mendekat ke arah Rea yang mengantarkannya sampai gerbang.


"Mas..." Rengek Rea, memayunkan bibir.


"Kenapa? kamu kaya gak ikhlas gitu Rea, aku pulang sama Najira?" goda Bara.


"Mau ikut, aku gak mau kamu satu mobil sama Mba Najira," ucap Rea berbisik.


Sementara Najira dan Revan juga masih mengobrol sebelum wanita itu pergi bersama Bara.


"Kamu cinta gak sama aku?" tanya Bara. Rea mengangguk tanpa kata.


"Kalau cinta, kamu percaya kan kalau aku nggak akan macam-macam selain sama kamu," bisik Bara.


"Iya. Yaudah aku percaya!"


"Senyum dulu, masak cemberut gitu. Nanti kalau kangen panggil namaku tiga kali."


"Mas, masih sempetnya ngelawak. Emang kamu bakal dateng kalau aku panggil-panggil?"


"Tergantung Rea, aku denger apa enggak! Yaudah ya aku berangkat."


Mobil Bara mulai merangkak meninggalkan komplek perumahan Rea. Namun, Bara bukan kembali ke Jakarta melainkan Bara menghentikan mobilnya tepat dimana Tama sudah sampai.


"Turun." perintah Bara saat mobilnya berhenti tepat di sisi jalan dimana Tama sedang menunggu disana.


"Maksud Mas Bara? tanya Najira tak mengerti.


"Maksudnya kamu turun karena kita tidak mungkin pulang ke Jakarta bersama." tegas Bara.


"Lantas? dengan membiarkanku ke Jakarta sendiri?" tanya Najira.


"Kamu bisa pulang dengan Tama. Lima menit waktumu untuk turun atau aku yang pergi," ujar Bara tanpa menatap ke arah Najira.


"Oh oke." Najira turun, ia sadar diri jika mantan suaminya itu masih sangat marah padanya. Bagaimanapun Bara tetaplah Bara, sangat sulit baginya mengenali diri laki-laki itu sebenarnya.


"Tam, antar Najira pulang." Bara berteriak dari dalam mobil saat tubuh tegap Tama keluar menyambut.


"Hm, ya!" Tama hanya menampilkan ekspresi datar lalu membiarkan Najira masuk ke dalam mobilnya. Sementara mobil Bara langsung melaju pergi.


Sepanjang jalan, Tama pun sikapnya tak beda jauh dari Bara. Alhasil Najira hanya bisa pasrah seraya menghela napas, karena dihadapkan pada posisi salah.


"Tama, kamu tahu kemana Mas Bara?" Tanya Najira mencoba membuka percakapan.


"Itu tidak penting untukmu Najira."


"Tentu penting! orang tua Mas Revan meminta kami pulang bersama," jelas Najira.


"Lantas? Apa kamu pikir Bara akan mudah mengiyakannya? Dia bukan orang bodoh Najira, Bara tau cara dia menjaga perasaan pasangannya!"


Deg.


Najira terdiam, perkataan Tama begitu menyindirnya.


"Ya, kau benar. Mas Bara tidak akan melukai Rea dengan memilih pulang bersamaku." Najira memalingkan wajah menatap ke arah jalanan.


"Bagus, jika kau cukup sadar diri." Tama tersenyum remeh.


Bara menghentikan mobilnya ke sebuah hotel, ia memutuskan untuk menginap di Bandung dan menggunakan trik licik membohongi orang tua Rea. Masih membayangkan wajah kesal Rea saat melepasnya pulang bersama Najira. Sebenarnya Bara sungguh ingin tertawa saat itu juga. Namun, ia harus berakting lebih dulu agar kedua orang tua Rea percaya kalau ia benar-benar pulang ke Jakarta bersama Najira.


"Tunggu kejutan dariku sayang," gumam Bara seraya membayangkan senyum jengkel Rea.


Bara segera cek in untuk istirahat sore ini, dan malam nanti ia ingin memberi sedikit kejutan dengan menemui Rea diam-diam.


"Huh akhirnya," Bara merebahkan diri diatas ranjang king size hotel. Bibirnya melengkung tipis saat melihat banyak notif pesan dari Rea.


'Jaga jarak, awas kalau macem-macem.'


'Hati-hati, jangan mampir! Langsung pulang, Mas. Aku nggak suka kamu lama-lama sama Mba Najira! Kalau perlu suruh dia pindah ke belakang agar kalian tak begitu dekat.'


Lagi-lagi Bara dibuat tersenyum dengan pesan Rea.


"Posesif bener ayang satu ini," gumamnya mnggeleng-gelengkan kepala.


'Di read doang, Mas. Bales nggak.'


Bara senyum-senyum sendiri membaca pesan-pesan Rea.


'Iya sayang, aku jaga jarak aman kok.' Balas Bara kemudian meletakkan ponselnya ke atad nakas.