
Tidak mudah bagi kita untuk sampai di titik sebahagia ini. Sebab, kita adalah dua orang yang pernah patah sebelumnya.
Pernah kecewa, pernah sakit, pernah trauma karena menaruh cinta yang salah.
Namun, sekarang!
Aku menegasi perasaanku sendiri untuk tidak pernah memandang laki-laki lain, pandanganku hanya untuk suamiku seorang.
Rea_
***
Setelah puas mengelilingi Lembang Wonderland, Bara lanjut mengajak Rea mengunjungi Orchid Forest Cikole.
Nama Orchid Forest Cikole memang sudah cukup populer di Bandung. Tak hanya ramai dikunjungi di siang hari, Orchid Forest Cikole yang berlokasi di Lembang ini juga tampak ramai dikunjungi wisatawan di malam hari. Bara dan Rea mencari wisata malam di Lembang, Orchid Forest Cikole memang tak boleh mereka lewatkan.
"Capeknya, padahal baru dua tempat hihi." Rea menatap Bara, laki-laki itu menyunggingkan senyum simpulnya.
Cahaya temaram lampu jembatan di Cikole menambah kesan romantis kebersamaan mereka.
Rasa-rasanya tak akan cukup jika hanya semalam mereka berada di sana.
"Hm, kita menginap di daerah sini. Sepertinya istri tercintaku belum terpuaskan," ujar Bara.
"He'em, Mas tau aja aku masih banget pengen disini."
"Iya udah kita nikmati aja dulu, toh pengantin baru memang harus banyak jalan-jalan, iyakan?" Bara mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, harusnya sih Mas ajak aku honeymoon kan. Hehehe, jadi bayangin bangun tidur tiba-tiba aku berada di pesawat atau sudah di luar negeri, haha kira-kira bakal Mas Bara lakuin gak kalau aku yang minta?"
"Bakalan kok, cuma aku gak punya pesawat pribadi, gimana dong! apa kita nabung dulu buat beli pesawat," canda Bara.
"Ish ish ish!" Rea menggelengkan kepalanya, tak mau.
Mereka asyik menikmati waktunya di lembang, hingga malam mulai larut dan lelah mulai melanda, Bara mengajak Rea untuk memesan penginapan di sekitar sana agar besok lanjut liburan lagi.
***
Hampir dua hari mereka menikmati liburan di Bandung. Kini Bara dan Rea sudah kembali dengan segudang lelah hingga memutuskan istirahat total seharian di rumah.
Lain halnya dengan Revan dan Najira, masa-masa pengantin baru menjadi hangat-hangatnya terlebih sudah sejak lama ia mendambakan Najira menjadi istri. Dan hari ini, ia akan mengajak Najira untuk tinggal di apartemennya yang ada di Jakarta sementara butik hanya khusus untuk sang istri bekerja.
"Mana kopermu Honey? biar aku yang paking!" ujar Revan setelah selesai mandi.
"Itu, Mas. Dekat lemari, aku mandi dulu yah. Udah lengket banget rasanya pengen berendam dulu," jawab Najira sambil berlalu.
"Iya," sahut Revan.
Revan menggeser koper milik Najira tuk kemudian menaruhnya diatas ranjang agar mudah untuk membereskan barang-barang sang istri.
"Apa ini?" gumam Revan mendapati kertas bulat tak beraturan.
"Apa kertas ini tadi terselip diantara koper dan lemari? Hm, ini pasti Najira asal lempar," gumam Revan kemudian meleparkannya ke keranjang sampah yang ada di luar kamar.
"Meleset ya." Revan mengambil kembali kertas itu hendak membuangnya akan tetapi urung, ia pun penasaran kertas apa itu.
Deg.
Jantung Revan berdetak cepat saat membuka kertas dan membaca kalimat demi kalimat diagnosis dokter. Kenapa selama ini Najira tak pernah cerita? kenapa ia harus menutupi semua padanya yang bahkan harus tau hal sepenting ini.
"Mas..." Panggil Najira setelah keluar dari kamar mandi.
Aroma vanilla menyeruak wangi, akan tetapi tak bisa mengalihkan keterkejutan Revan.
Revan tak menyaut, ia terdiam sebab pikirannya sedang larut.
"Mas, kok gak jawab aku panggil." Najira langsung melingkarkan tangannya ke leher Revan dari belakang. Namun, ekspresinya seketika berubah dengan mata membulat sempurna. Dengan cepat ia meraih kertas itu dari tangan Revan.
"Apa-apaan kamu, Na."
"Apa? ini bukan hal penting," ujar Najira merobek kertas itu menjadi puing-puing kecil.
"Percuma, aku sudah membaca semuanya. Bisa kan kamu jelaskan itu apa?" tanya Revan dengan ekspresi wajah datar.
"Kan aku sudah bilang, bukan apa-apa! Atau sekarang kamu mulai meragukanku, mulai tak percaya padaku, Mas?" tanya Najira.
"Iya kamu mulai meragukanku?" sinis Najira.
"Iya, kenapa? dari awal kita mau menikah aku meragukanmu! Puas sekarang dengan jawabanku?"
"Mas..." Najira tak percaya dengan ucapan Revan yang semudah itu. Ini pertama kalinya Revan bersikap tak manis padanya, kenapa?
Najira beku, terlebih saat Revan berlalu begitu saja meninggalkannya.
Dengan gesit ia menyusul laki-laki itu meski harus menuruni tangga dengan cepat.
"Auhhh..." pekik Najira, ia tergelincir hingga bagian belakang kepalanya membentur tangga.
Revan yang baru sampai di lantai dua menoleh dan mendapati sang istri terjatuh.
"Na..." Meski kecewa, ia akhirnya kembali.
"Na, sadar!"
"Na, jangan buat aku takut!" Revan menepuk-nepuk pipi Najira.
Tangan satunya ia gunakan untuk menyangga kepala sang istri.
"Honey!" teriak Revan, air mata seketika luruh.
Revan beku, darah segar mengalir di kepala belakang sang istri. Kepanikan menyerangnya dengan langkah tertatih menuruni tangga, menggendong sang istri untuk dibawa ke rumah sakit.
"Maaf, maafkan aku. Bertahanlah sayang!" Revan tergugu, ia tak mungkin membawa mobil sendiri sedang di butik Najira karyawan masih libur. Masih beruntung ia langsung mendapat taksi begitu keluar butik.
"Rumah sakit terdekat, Pak!" titah Revan.
Sopir taksi itu langsung mengangguk paham, sebab melihat keadaan sepertinya sangat mendesak.
"Tolong cepat sedikit, Pak!"
"Baju anda penuh darah, Mas. Apa yang terjadi?" tanya sopir taksi, kemudian menambah kecepatan lajunya.
"Istri saya terjatuh!" tubuh Revan lemas, bukan karena habis tak punya tenaga, Ia merasa semua berawal dari kesalahannya yang tak bisa mengontrol amarah.
"Ha-hallo R-rea," ucap Revan terbata-bata setelah berhasil mengumpulkan tenaga menghubungi adiknya.
"Hallo, Mas? kenapa, suara Mas?"
"Rea, Najira..."
"Iya Mba Najira kenapa, Mas? kenapa suaranya tak jelas?" tanya Rea.
"Coba dialihkan ke panggilan video yang." Saran Bara.
"Najira jatuh dari tangga, aku menuju ke rumah sakit terdekat sekarang. Tolong kalian kesini, aku, aku..."
Tut!
Telepon terputus, sebab Revan sudah sampai di rumah sakit Pusat Medika. Najira langsung dibawa ke UGD untuk penanganan, sementara dirinya beku di tempat dengan pakaian penuh darah.
"Sebaiknya anda membersihkan diri lebih dulu, kami akan melakukan yang terbaik!" pinta Suster dengan helaan napas panjang, menatap kemeja Revan yang terkena noda darah. Lantas Suster itu menyusul masuk ke ruang penanganan.
"Mas Revan," panggil Rea, ia dan Bara baru saja sampai dan sangat terkejut melihat keadaan abangnya.
"Van, apa yang terjadi?" tanya Bara.
Revan tak mampu menjawab apa-apa, ia hanya menangis dan luruh ke lantai.
"Mas, yang tenang ya!" Rea meraih lengan sang kakak agar berdiri lagi.
Sedikit lebih tenang Revan memeluk Rea.
"Aku tak bisa menjaga istriku, Najira hiks..."
Rea masih belum bisa menelaah perkataan Revan, ia membiarkan sang kakak menangis puas di bahunya.
Sementara Bara, ia mengerti kondisi dan memilih ke parkiran, mengambil baju ganti agar bisa dipakai Revan nantinya.