SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 71



Rea menatap Bara lekat-lekat saat posisi laki-laki itu tepat di atas tubuhnya, ada rasa tak percaya pada takdir yang menyatukan mereka secepat ini. Namun, ada juga rasa bangga menyeruak dalam hati sebab Rea teringat akan pertama kali mereka bertemu dan detik-detik ia meratapi diri sendiri.


Rasa rasanya, percaya saja tak akan cukup membuatnya terbangun dari mimpi. Hya, Rea merasa hidupnya seperti mimpi karena baru kemarin ia menangis dan sekarang sebahagia ini.


Hari masih siang, tapi mereka tak perduli dengan itu sebab orang-orang di rumah juga sedang istirahat. Setelah dilanda rasa bersalah tentang malam kemarin, Rea berinisiatif untuk membuka dasi dan kancing Bara lebih dulu.


"Maaf, membuatmu menunggu," lirihnya.


Bara malah meraih tangan itu dan menciumnya, "aku tidak keberatan, bagiku mau kemarin atau sekarang tetap yang pertama."


"Ish ish ish..." Rea terkekeh, merasa lucu dengan ucapan Bara yang condong gombal. Laki-laki itu semakin pintar, pikirnya.


"Kamu yakin siap? apa tidak apa-apa jika melakukannya saat kamu ham..."


"Sttt..." Rea langsung meletakkan jarinya di bibir Bara, meminta laki-laki itu diam.


"Kamu tau kan, Mas! Kalau tembok rumahku bisa ngomong, bukan seperti tembok rumahmu, jadi jangan bicara keras-keras atau aku takut seseorang sedang menguping kita."


"Kenapa? kita pasangan halal, sah hukum dan agama. Siapa yang berani protes," ujar Bara.


Rea belum sempat menjawab, Bara sudah menyerangnya lebih dulu. Bibir tipis berwarna merah jambu itu bagaikan candu, manis dan selalu membuat Bara ingin terus mencicipinya.


Hingga ciuman itu semakin menuntut, dan Bara menurunkan wajahnya setelah berhasil menanggalkan pakaian miliknya dan Rea.


"Tunggu, Mas. Kunci pintu dan tutup kordennya dulu," pinta Rea.


Bara bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk menguncinya kemudian beralih menutup korden jendela yang belum terbuka sedari pagi, ia juga tak ingin melakukan hal seperti itu sampai ketahuan.


Di balik pintu, Najira mengepal. Ia mendengar jelas obrolan Bara dan Rea. Baru seperti itu saja membuat hatinya kembali sakit.


Lantas, ia pergi menghampiri Revan dengan menahan kedongkolan di hatinya.


Najira bermaksud untuk mengambil air dingin di dapur, akan tetapi langkahnya terhenti di depan pintu kamar Rea yang berjejer dengan kamar Revan. Padahal sudah jelas, arah dapur dan kamar itu bersebrangan.


"Sudah aman," ujar Bara seraya mendekat ke arah Rea yang tersenyum jail menatapnya.


"Benar?"


"Hya, sangat aman. Bagaimana dengan perutmu? rasanya?" tanya Bara memastikan sekali lagi.


"Baik-baik saja, hanya kalau pagi hari terasa menyesakkan." Rea terkekeh.


Bara tersenyum dan menghadiahinya dengan kecupan berulang-ulang, "karena sudah tidak apa-apa, biarkan Papanya ini melihatnya nanti."


"Bagaimana kalau sekarang?" ujar Rea mengalungkan tangannya di leher Bara yang berada di atas.


"Sekarang ya? aku harus mendaki gunung dulu untuk sampai disana," goda Bara seraya terkekeh, ia menuruni tubuh Rea dengan kecupan singkat, lalu berhenti di da da dan memberikan beberapa tanda kissmark disana.


"Ishhh..." Rea hanya bisa mendesis, menggeliat pelan.


Bara terkekeh, ia gemas sendiri melihat ekspresi Rea seperti itu. Dirinya menjadi semakin tertantang, lalu di detik berikutnya ia mulai menyatukan tubuhnya dengan tubuh Rea.


"Eumhm..."


Rea berusaha menahan agar tak mengeluarkan suara, ia tak ingi menciptakan kegaduhan di rumah minimalis itu karena kegiatan panas mereka.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Bara.


Rea menggeleng, juga tersenyum. Ia merasa senang bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri Bara.


"Beneran?" tanya Bara khawatir. Meski sudah berhati-hati, tetap saja di usia kehamilan Rea adalah usia rentan.


"Iya, Sayang." Kembali menyunggingkan senyum dan berinisiatif mencium Bara di bibir.


Bara melepas pagu tannya, "coba panggil sekali lagi?" pinta Bara.


"Apa?"


"Panggil Mas dengan sebutan SAYANG," pinta Bara.


"Tergantung situasi dan kondisi, kalau aku panggil sayang di depan mantan istri kamu nanti dia darah tinggi."


"Jangan membahas orang lain, dia hanya masalalu Rea," ujar Bara menekankan kata masalalu.


"Iya, oke. Aku tak akan membahas orang lain, hanya ada aku kamu dan anak kita di obrolan selanjutnya," bisik Rea.


Bara melanjutkan aktivitasnya bersama sang istri, hampir satu jam Bara dan Rea akhirnya sampai pada titik nik mat. Keduanya berpelukan erat, lalu Bara merebahkan diri di samping Rea dengan senyum bahagia.


"Mas mau kemana?" tanya Rea.


"Aku mau mandi dan keluar sebentar untuk merokok," ujar Bara.


Rea menekuk wajahnya, ia tidak rela Bara keluar kamar saat dirinya tidur.


"Kenapa, hm?"


Aku mau ditemenin tidur," ujar Rea memohon, entah kenapa ia jadi tak ingin jauh-jauh dengan Bara, tak ingin laki-laki itu luput dari pandangannya.


Bara kembali naik ke atas ranjang, menutup tubuh polosnya dan Rea dengan selimut tipis.


"Ya sudah kita tidur," ujar Bara.


"Gak mau mandi dulu?" tanya Rea.


Bara menggeleng, "nanti saja sekalian setelah part dua," godanya.


"Ishhh..." Rea tak mengiyakan ataupun protes, baginya asal itu menyenangkan Bara akan berusaha ia lakukan.


Sore itu setelah mandi, Rea membantu sang Ibu memasak di dapur sementara Bara menikmati waktunya dengan duduk di teras samping sambil merokok seorang diri.


"Bara, kamu betah disini?" tanya Alex tiba-tiba menghampirinya.


"Betah, Ayah. Disini tenang dan sejuk," ujar Bara jujur.


Alex mengangguk, ia mendudukkan bokongnya di kursi samping Bara dan menata lurus ke depan.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Alex.


"Bara izin akan membawa Rea pulang, Ayah. Sebab, pekerjaan Bara disana!"


"Hya, bagaimana dengan kuliah Rea?"


"Bara ikutin maunya Rea bagaimana nantinya, mau ditunda atau lanjut, Bara tak keberatan. Tapi..." Bara menggantung ucapannya, ia terlalu ragu untuk berterus terang pada sang mertua.


" Masalah anak, tidak perlu ditunda, kamu sudah pernah menikah dan Ayah tau masalahmu!" tegas Alex.


"Terima kasih pengertiannya, Ayah!"


Alex mengangguk, "atas nama Revan, Ayah meminta maaf. Hanya bisa berharap kamu benar-benar mencintai Rea dan mengikhlaskan Najira."


Deg.


Bara tertegun, dalam hati ia bertanya-tanya apakah Ayah mertuanya tau semua kelakuan Revan dan Najira? jika tidak kenapa harus minta maaf?


Bara terdiam, keduanya sama-sama terdiam.


Hingga panggilan Neya membuyarkan keduanya untuk segera bergegas masuk.


Makan malam berlalu dengan hikmat, lebih banyak diam. Alex tak bisa banyak berkata, begitupun Neya sebab Najira juga berada disana. Meski begitu, mereka menyunggingkan senyum melihat Bara sangat perhatian kepada Rea.


"Kalian istirahatlah, Ayah dan Ibu mau tidur lebih awal," pamit Alex.


"Hya, udara sedang dingin-dinginnya. Tak baik jika begadang," timpal Neya.


"Baik, Ayah, Ibu." Ujar mereka hampir bersamaan.


Setelah Alex dan Neya menghilang dari pandangan. Rea dan Bara ikut bergegas.


"Kak Revan, Mbak kami duluan," ujar Rea.


Bara hanya mengangguk sebagai sapaan terakhir lantas menggandeng Rea menuju kamar.


"Selamat tidur Rea sayang!" Bara menarik Rea ke dalam dekapan hangatnya.


"Selamat tidur suamiku," Ujar Rea menunjuk-nunjuk keningnya meminta cium.


Cupp!


Bara mencium kening Rea, beralih ke pipi kanan dan kiri, merapatkan hidung kemudian mengecup bibir Rea sekilas.


SELAMAT MALAM PEMBACA TERSAYANG, JANGAN LUPA DI LIKE KOMEN VOTE DAN GIFT🤭


.