
Baru hari pertama menghadapi Sarah, Alesya harus sering mengelus dada karena ulah Mama mertuanya itu. Kalau bukan karena pesan Rea untuk berbakti pada suami, mungkin Alesya sudah meluapkan kekesalannya sejak tadi.
Beres belanja, ia bahkan harus menyapu lantai bawah seorang diri. Belum lagi membereskan pekerjaan dapur yang katanya harus buat perjamuan. Kalau Alesya tak ingat dosa, mungkin juga ia akan menaruh racun sianida di masakan-masakannya.
"Capek ya?" tanya Reivan saat Alesya dengan wajah tertekuk masuk ke dalam kamar.
"Udah tahu, nanya!" sinis Ale. Kesal sekali dia sampai Reivan harus jadi sasarannya.
"Sabar, ya! Mama aku emang seenak jidatnya aja, tapi aslinya baik kok!" Reivan mendekati Alesya. Mengusap-usap bahunya agar sang istri diberikan kesabaran seluas samu?dra.
"Hm!" ingin protes pun percuma. Ia hanya bisa berdehem sebagai jawaban.
Kini Ale tahu, menurun dari siapa sifat menyebalkan Reivan. Selain sama-sama seenak jidat, Reivan dan mamanya sama menyebalkan.
Sarah mengetuk-ngetuk meja, suasana rumah sunyi hanya ada Arsen yang berseliweran di lantai bawah. Sementara Alesya dan Reivan berada di kamar sejak tadi membuat Sarah kesal karena dicuekin.
Tin tin...
Mobil hitam legam memasuki pekarangan rumah Reivander. Sudah Sarah pastikan jika itu Aderald dan Richi yang datang. Dengan bibir melengkung senyum ia keluar menyambut.
Glekkk...
"Siapa?"
"Permisi, saya Bara dan ini istri saya Alrea. Kami datang untuk mengunjungi Alesya." Bara mengulas senyum ramahnya, pun dengan Rea.
Glekkk...
"Apa gadis itu mengadu orang tuanya agar datang kesini," batin Sarah. Mendadak ia cemas sekaligus khawatir. Citranya sebagai mertua akan jadi buruk kalau sampai dua orang di hadapannya saat ini tahu kelakuannya menyiksa Alesya. Bukan, bukan menyiksa! Lebih tepatnya mengetes kelayakan, meski Sarah tahu kalau Alesya lebih dari kata Layak untuk putranya.
"Hallo," sapa Rea merasa Sarah hanya bengong.
"Ah iya, saya Mamanya Reivander. Mari masuk!" ajaknya berubah seratus delapan puluh derajat lebih ramah di kantong.
"Terima kasih!"
Bara dan Rea masuk, tadinya ia enggan mendatangi Alesya di hari minggu, bahkan di jam menjelang malam. Namun, namanya orang tua apalagi anak gadis satu-satunya, mereka ingin memastikan Alesya baik-baik saja.
"Reivan... Alesya!" panggil Sarah mengetuk pintu kamar Reivan. Setelah mempersilahkan Bara dan Rea duduk di ruang tamu.
Alesya menggeliat, selepas mandi sore tadi ia sempat ketiduran. Dan yang membuatnya tak menyangka adalah Reivan ikut tidur juga.
Ceklek...
Alesya membuka pintu, "Tante?"
"Panggil saya Mama, sekarang kalian bersiaplah dan segera turun." Sarah berubah ramah, nada bicaranya bahkan melembut hingga berhasil membuat dahi Alesya mengernyit keheranan.
"Ayo cepat!"
Sarah kewalahan, ia bahkan harus membuatkan minum sendiri untuk tamunya sambil menunggu Reivan dan istrinya turun.
"Silahkan dicicipi, kebetulan saya juga sedang mengunjungi Reivan."
"Terima kasih."
Canggung, itulah yang dirasakan Bara dan Rea apalagi saat Sarah bercerita Reivan menyembunyikan pernikahan darinya.
"Sebenarnya, ini juga di luar kendali kami. Tamu udangan sudah hadir dan opsi lain dari pembatalan adalah menerima tawaran Reivan," jelas Bara.
"Tak apa. Namanya jodoh kan tak tahu dari mana asal bertemunya bukan? macam-macam cara Tuhan menyatukan sepasang suami istri itu unik-unik," seru Sarah.
"Seperti kami," timpal Rea.
Jika dipikir-pikir, pertemuannya dengan Bara adalah ketidak sengajaan yang sakit, lalu berujung manis.
Alesya turun pun dengan Reivan, menghampiri Bara dan Rea.
Alesya langsung memeluk Papa mamanya rindu.
"Kok gak bilang-bilang mau kesini, Ma?" tanya Alesya.
"Mau ngasih kejutan dong!" Rea mengulas senyum, bercengkrama dengan Alesya.
Di sela obrolan mereka, Richi dan Aderald datang, Sarah tersenyum lebar.
Makan malam dua keluarga besar pun berlalu dengan hikmat. Alesya bernapas lega karena kedua orang tuanya datang bak dewa penolong.
Lantas setelah membereskan sisa meja makan, Alesya langsung mencuci semua piring kotor dan merapikan dapur.
"Mama minta maaf," ujar Sarah tiba-tiba.
Alesya menoleh, tanpa sadar ia melihat Sarah sedang memperhatikannya.
"Sini duduk!" pinta Sarah, Alesya menurut setelah mencuci tangannya.
"Mama cuma mau yang terbaik untuk Reivan, jadi mama minta maaf kalau apa yang mama lakukan menyakiti kamu. Alesya, apa kamu mencintai putraku?" tanya Sarah.
Alesya terdiam, ia memang tak mencintai Reivan. Itulah kenyataan sebenarnya, setuju menikah dengan Reivan atas dasar ingin membuktikan pada Galen kalau ia bahagia tanpa sosok laki-laki itu.
"Maaf," gumam Alesya. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa.
"Reivan terlalu bodoh dalam hal mencintai seseorang, bertahun-tahun buta dan sekarang? Ia malah menikah dengan wanita yang umurnya terpaut jauh."
"Saya memang tidak mencintai Mas Reivan, Tante! Tapi saya pastikan tidak akan pergi dari sisinya kecuali dia sendiri yang meminta. Seperti kata Tante, Tuhan selalu punya cara unik menyatukan sepasang manusia. Sebelumnya, saya hampir tidur dengan Mas Reivan sebagai sepasang asing dan itu gagal," aku Alesya.
Sarah tertegun, ia salut dengan kejujuran Alesya.
"Lalu kami bertemu setelah ikrar ijab qobul terlaksana. Saat itu, saya sadar kalau laki-laki pengganti itu adalah Mas Reivan. Dunia memang sempit, hanya masih tak menyangka."
"Sudah malam, ngobrolnya besok lagi." Aderald menyapa istrinya. Sejak datang, entah kenapa ia sama sekali tak protes pada opsi kedua istri Reivan.
"Mulai sekarang, kamu panggil Tante dengan sebutan Mama." Sarah menggenggam tangan Alesya.
"Hm, dan panggil aku Papa. Oh ya, selamat kamu lolos tes. Maafkan istri Papa yang nakal ini," seru Aderald merangkul bahu Sarah.
Alesya tersenyum dan mengangguk.
Di ruang kerja Arsen, Reivan dan Richi sedang mengawasi cctv, dimana Reivan melihat Mamanya tengah memeluk Alesya.
"Huft, akhirnyaaa..." Reivan bernapas lega, sangat lega.
Ia menoleh pada Richi dan Arsen.
"Sepertinya aku harus segera mengurus surat-surat pernikahan. Ric, bisakah kau mengambil alih proyek yang ku kerjakan?" tanya Reivan.
Richi mencebik, lalu mengangguk paksa.
"Kalau begitu, aku bisa tenang. Arsen, kamu persiapkan pestanya! Aku mau, pernikahan kali ini terlihat sempurna," seru Reivan.
Arsen mengangguk saja, kaum jomblo sepertinya bisa apa?
Reivan meninggalkan ruang kerjanya, gegas ke lantai atas menyusul Alesya.
"Al," panggilnya.
Alesya menoleh, rupanya ia sudah mengganti baju dengan piyama tidur.
"Mau tidur bareng lagi?" Reivan menaik turunkan alisnya.
Alesya menggeram, "nggak!"
"Ya sudah, semoga nanti mati lampu, hujan petir badai sekalian. Biar ada yang nangis-nangis minta ditidurin!"
Alesya mendekati Reivan lantas menggingit lengannya tanpa aba-aba.
"Astaga sakit Aleee..."
"Rasain, makanya jangan ganjen. Orang aku minta ditemenin, bukan ditidurin!" omel Alesya.
Duarrr!
Alesya sontak melompat ke arah Reivan dan memeluknya erat.