
Seminggu kemudian, Aron dan Rosa mengajak Bara dan Rea bertandang langsung ke Bandung. Ia juga meminta Bara membawa Rea lebih dulu sementara dirinya dan suami mempersiapkan apa-apa yang akan diberikan kepada calon besan. Hari ini juga, Bara akan melamar Rea. Namun, semua ini hanyalah rencana Aron dan Rosa tanpa melibatkan sang anak, ia tak ingin lagi mendengar Bara berkilah dengan alasan apapun, sekalipun itu kuliah Rea.
"Tam, bisa ikut ke Bandung?" tanya Bara di sambungan telepon.
Tama mendesah pelan, "Sorry, Ra. Gue-gue ada acara keluarga," ujar Tama di tengah kegugupannya.
"Oh, oke gapapa!" Bara menutup teleponnya, ia tak bisa memaksa Tama terlebih hari ini hari libur. Bara berfikir, akhir-akhir ini terlalu egois terus menerus menyita waktunya.
"Siapa, Mas? boss kamu ya?" tanya seorang gadis menatap Tama tak enak.
"Iya, bossku memang rada egois. Hari libur aja kadang hobi banget nyiksa, suruh ikut maunya dia. Tapi tumben, hari ini enggak!" Tama juga tampak heran.
"Sebegitunya ya?"
"Iya, makanya aku sebelum kita benar-benar ke jenjang yang lebih serius. Kamu harus tahu banyak hal termasuk boss dan pekerjaanku!" terang Tama.
"Oh, oke. Kamu juga harus kenal dengan sahabat-sahabatku, gimana deal?"
"Boleh, next time." janji Tama seraya meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya.
Sementara gadis itu semakin menyunggingkan senyum, "mungkin tahu kalau kita mau kencan, sudah ayo berangkat."
***
"Sudah siap semuanya, Ma? Ada yang kurang?" tanya Aron memastikan.
"Nggak sih, Pa. Udah ayo kita berangkat sebelum ketinggalan jauh dari mobil Bara."
Aron mengangguk, ia masih sedikit heran dengan sang istri yang tiba-tiba antusias melamar Rea.
"Mama kenapa mau mereka nikah cepet?" tanya Aron di sela perjalanan menuju ke Bandung.
"Papa, Bara itu sudah sering membawa Rea menginap di apartemen. Memang, gak akan jadi masalah buat Bara karena kehidupan di Jakarta hal seperti itu biasa. Tapi, bagaimana dengan Rea? dia kuliah dan punya banyak teman. Mama sebagai perempuan sekaligus mamanya Bara gak mau kalau Rea kenapa-napa, hidup di jaman pedasnya mulut netizen sekarang, Mama khawatir Rea akan dibully di kampusnya karena sering bersama Bara tanpa status."
"Mama kok tumben bijak banget."
"Hm, nanti habis dari Bandung beliin sepatu baru ya, Pa. Kemarin minta Bara gak di kasih." Rosa menekuk wajahnya.
"Memang sepatu Mama yang baru kemana?"
"Buat ngelempar kepala tikus got, pokoknya Papa ganti beliin yang baru!"
"Papa transfer aja nanti Mama beli sendiri."
"Papa yang beliin, kalau transfer uang Mama juga masih banyak di atm."
"Ya, Papa gak punya waktu buat beliin mama ini itu."
Rosa semakin menekuk wajahnya, "yaudah, tidur di luar!" ancam Rosa. Sejujurnya ia hanya ingin sesuatu pemberian suaminya, bukan karena kehilangan sepatu.
Dua mobil sudah terparkir di tepi jalan depan rumah Rea. Gadis itu sedikit ragu kalau-kalau orang tuanya Bara terkejut melihat rumah oorang tuanya yang tak sebanding.
"Mas, aku takut." Rea menatap Bara, akan tetapi laki-laki itu menatapnya dengan tenang. Seolah bicara lewat isyarat bahwa semua bisa dilalui bersama, Bara tidak tahu jikalau ketakutan Rea adalah reaksi kedua orang tua Bara mengenai keluarganya.
"Lho kalian malah bengong disini?" tegur Rosa.
"Ah iya Tante."
"Rea, Bara." Neya langsung turun, akan tetapi termangu dengan kehadiran dua orang paruh baya.
"Ini..."
"Salam, kami orang tua Bara dari Jakarta," sapa Rosa dengan seulas senyum, begitupun dengan Aron.
"Astaga, mari masuk." Alex menghampiri, setelah menyimpan motornya.
Kini mereka semua duduk di ruang tamu dan Rea berlalu ke dapur untuk membuatkan minum.
"Maaf ya Pak, Bu. Rumah kami kecil dan sederhana." Alex membuka percakapan.
"Ah sama saja, jeng. Rumah kami juga kecil, tak apa yang penting nyaman!" jawab Rosa. Kali ini Bara harus salut dengan Sang Mama.
Rea membuatkan minum dan membawa beberapa camilan yang ada, setelahnya ia ikut duduk di samping dan Alex sementara di hadapannya ada Bara dan kedua orang tua.
"Mari dicicipi Bu, pasti lelah dari Jakarta kesini. Ayo Pak Aron, Nak Bara," ujar Alex setelah tahu nama kedua orang tua Bara.
"Terima kasih Banyak, maaf sudah repot-repot. Kedatangan kami kesini karena masalah anak kami, dia ingin sesegera mungkin menikahi Rea." Aron memulai pembicaraannya. Sementara Alex dan Neya cukup terkejut meski berusaha menutupi.
Rea memandang lekat kedua orang tuanya, terlebih saat Bara kembali ke mobil mengeluarkan beberapa bingkisan untuk keluarganya membuat Rea merasa sangat tak enak jika orang tuanya kembali beralasan.
"Maaf sebelumnya merepotkan, tapi masalah itu kami sepenuhnya serahkan kepada Rea, dia yang lebih tahu bagaimana ke depannya dan apa-apa yang terbaik untuknya."
"Bagaimana Bara?" tanya Aron, mengkode putranya.
Bara mengangguk sebagai isyarat, ia meminta Rea mendekat setelah ia berdiri. Bara pun berjongkok di hadapan Rea. Tidak mewah, sederhana dan secukupnya saja. Karena sesuatu yang dibangun dengan kemewahan belum tentu akan berakhir dengan bahagia, Bara ingin memulainya kembali dari bawah, dari Rea yang mengenalnya sebagai Bara yang bukan siapa-siapa, Bara yang hanya kebetulan anak orang kaya.
"Rea, hari ini aku kembali datang. Aku memang selalu mempersiapkan saat-saat seperti ini sejak aku memilih kamu. Dan disaksikan kedua orang tua kita, bersediakah kamu menikah denganku, menjadi istriku dan melewati tua kita dengan cerita bersama?"
Bara menatap Rea lekat-lekat, ini memang di luar rencananya, tapi ia sudah mempersiapkan banyak hal untuk Rea, untuk mengikat gadis itu di sisinya. Dan ia sama sekali tak menyangka jikalau kedua orang tuanya seantusias ini.
Rea bergetar, ia gugup sekaligus senang. Taman dalam hatinya seketika berbunga bahagia, sampai ia tak tahu harus berekspresi seperti apa? menangis seraya tersenyum, kemudian mengangguk. Bibir Rea bahkan terkatup rapat karena gugup.
"Serius?" ulang Bara.
Mengangguk, "iya aku mau Mas, aku mau."
Rea akhirnya bersua meski lirih, baik Neya maupun Alex turut senang dengan keputusan putrinya, mereka tidak akan memaksa Rea lagi menunggu Revan, biarkan saja toh Rea perempuan.
"Mama sampai terharu sayang," ucap Rosa seraya menghapus bulir bening yang luruh di pipinya.
Meski sudah pernah menikah, ini pertama kalinya momen lamaran Bara dan ia merasa terharu.
Acara melamar pun usai, Bara dan kedua orang tuanya pamit pulang, pun dengan Rea yang ikut lantaran esok harus kuliah.
Di sisi lain, Revan baru saja mendapat kabar perihal lamaran Bara untuk Rea. Laki-laki itu terkejut, tak menyangka Bara akan secepat itu bergerak untuk adiknya.
'Tak apa Revan, adikmu sudah dewasa secara metal, Ibu yakin ia bisa menjadi istri yang baik. Semua hanya masalah waktu, kita tidak boleh egois dan menjadi penghalang bagi Rea. Dia punya pilihan, maka ketika dia bilang iya, kami hanya bisa menaburkan doa-doa terbaik kami.'
Perkataan Neya membuat Revan tersadar, Rea berhak menentukan sendiri jalan hidupnya.
"Hya, adikku sudah benar-benar dewasa rupanya. Meski kamu menemukan bahu yang lebih nyaman dari bahu kakakmu, kamu tetaplah adik kecilku Rea," gumam Revan menatap kosong jalanan.