
Bagaimana rasanya tiba-tiba menikah dengan orang asing? Pengkhianatan Galen Adhitama di hari pernikahannya berhasil membuat gempar jagat perbisnisan. Anak kedua Bara dan Rea, Alesya Damara.
"Bara, jika boleh biar aku yang gantikan Galen. Dari pada acara berantakan dan keluarga kalian menanggung malu," ujar Reivan dengan nada sepelan mungkin.
Bara menghela napas frustasi, ia menatap ragu Reivan, akan tetapi tak ada pilihan lain.
Bukan tanpa alasan juga Reivan menawarkan diri, beberapa waktu yang lalu ia hampir saja terlibat one night stand dengan Alesya kalau ia tak berhasil menahan gai rahnya.
"Anda bicara seperti itu seolah memakhlumi masalah Galen! Galen adalah ponakan anda, apa anda pikir adik saya mau menikah dengan paman dari mantan kekasihnya," decih Kenaan. Sebagai seorang kakak, Kenaan tak terima saat adik kesayangan yang ia jaga segenap jiwa disakiti oleh laki-laki sebreng sek Galen.
"Sudahlah, Ken! Tak apa, semua sudah terlanjur. Papa ke Ale dulu, kamu tetap disini." permintaan Bara pada sang putra untuk tak tersulut emosi mengingat tamu undangan mulai hadir.
Kenaan menatap sengit Reivan, ia masih tak habis fikir jika adiknya yang berusia dua puluh dua tahun harus menikah dengan Om-om seperti Pamannya Galen. Meskipun Kenaan akui paras seorang Abberico Reivander tak terlihat tua.
Bara ke kamar putrinya, melihat Alesya yang menangis di pelukan Rea membuat Papa dua anak itu merasakan sakit yang luar biasa. Kepercayaannya pada seorang Galen berakhir kekecewaan yang dalam.
"Ale, berhenti menangis sayang! Papa janji akan membalasnya, tapi... Bagaimana jika mempertimbangkan penawaran Om Reivan, dia yang akan menggantikan Galen menjadi suamimu?" tanya Bara. Tak ada unsur keterpaksaan, ia bukan golongan sesebapak yang akan memaksa putrinya menikah dengan orang kaya. Bara hanya memberikan opsi pilihan lain dari membatalkan pernikahan Alesya dengan Galen.
Alesya masih sesegukan, ia syok dan terpukul. Apalagi video Galen dan Karla berdurasi 19 detik itu sungguh menghancurkan harga dirinya sampai jurang luka paling dalam.
"Ale mau, Pa!" ujarnya mengangguk sebagai tanda setuju. Entah hal gila apa yang dipikirkan oleh Alesya hingga setuju begitu saja menikah dengan laki-laki asing.
"Kamu yakin sayang? Mama Rea bagaimana?" tanya Bara pada istrinya.
Rea mengangguk saja, toh sang anak sudah setuju.
"Oke."
Setelah membenahi tampilannya yang hancur berantakan karena menangis, Ale akhirnya keluar dibimbing oleh Rea dan Selena.
"Saya nikahkan Abberico Reivander dengan Alesya Damara bin Bara Alnav dengan maskawin uang tiga juta dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Alesya Damara bin Bara Alnav dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
Deg,
"Suara itu," batin Alesya seperti familiar.
"Sah!!!!"
Alesya mendongkak, saat hendak mencium telapak tangan laki-laki yang telah sah menjadi suami dadakannya. Dan betapa terkejutnya Ale saat melihat wajah Abberico Reivander menatapnya, wajah yang beberapa waktu lalu menolongnya dari jebakan Karla.
***
Aberico Reivander, Duda berusia 38 tahun itu memasuki sebuah club ternama Red Apple demi janji temunya dengan Bara, CEO kontruksi besar di Jakarta untuk menjalin kerja sama.
"Arsen, dimana Bara menunggu?" Tanya Reivan.
"Di ruang sini, Tuan! Mari," ajak Arsen mengantar Tuannya ke ruang VIP nomor tiga dimana Bara berada disana menunggu.
"Hot duda," sapa Bara menyambut kedatangan Reivan dengan sumringah.
"Sialan!" Maki Reivan diiringi gelak tawa keduanya. Bagaimana tidak? Bara menyebutnya Hot duda, sungguh panggilan yang sangat menyebalkan di telinga Reivan. Namun, ia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu sebab kenyataannya sudah lebih dari tiga tahun ia menduda karena ditinggal Alira.
Istrinya meninggal karena karena kangker dan itulah yang menyebabkan Reivan sulit membuka hati dan memilih mempertahankan statusnya sebagai duda.
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu baru muncul setelah sekian abad menghilang?" tanya Bara. Sudah hal yang wajar jikalau keduanya akan terlibat obrolan yang melenceng dari kerja sama. Makhlumi saja, Reivan dan Bara cukup lama berteman di dunia bisnis, meskipun Bara sudah jauh lebih tua diatasnya, tak ada lagi kata sungkan bagi Reivan ataupun Bara untuk menceritakan kisah masing-masing.
"Aku ingin memberi kejutan hadiah pernikahan untuk ponakanku."
"Bentar, memang kamu punya ponakan disini? Maksudku,--" Bara tak meneruskan kalimatnya, ia sungkan membahas hal sensitif ini pada Reivan meski hatinya juga penasaran sekaligus iba pada pria di hadapannya saat ini.
"Bagaimanapun, dia tetaplah ponakanku walaupun Alira sudah tak ada."
Bara mengangguk membenarkan, meskipun dia sendiri tau nasib percintaan Reivan tak seberuntung dirinya. Reivan menikahi Alira atas dasar perjodohan yang membawa cinta, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama saat mendekati satu tahun pernikahan, Alira harus berpulang karena penyakit kangker stadium akhir.
Katakanlah Reivan pria yang bodoh, setia pada wanita yang jelas-jelas sudah menghilang dari dunia, tapi Reivan mampu membuktikan kalau ketulusannya mampu membawa bahagia untuk orang lain, termasuk keluarga istrinya.
Arsen yang sedari tadi menunggu di luar pun masuk.
"Maaf Tuan." Arsen membungkuk, ia melangkah mendekati Reivan lalu berbisik di telinga tuannya itu.
"Saya melihat wanita Galen ada disini," bisik Arsen.
Reivan sontak mengerutkan keningnya, jikalau Wanita Galen berada disini? apakah Galen keponakannya juga?
"Sebentar, Bara!" pamitnya.
Reivan keluar bersama Arsen. Benar saja, ia melihat Karla kesusahan membawa seseorang yang tak sadarkan diri ke lorong belakang bar dimana kamar-kamar disewakan berjejer disana.
Langkah lebar Reivan mengikuti gadis itu, akan tetapi matanya melebar saat tanpa sengaja mendengar gumaman sekaligus umpatan Karla untuk wanita yang dibawanya.
Flash back on.
"Karla, kamu yakin ini tempatnya? Bukannya kalau acara ulang tahun itu biasanya di ballroom atau villa, ini mah tempat dugem yang ada orang joget-joget kaya cacing kepanasan!" Omel Alesya pada Karla.
Alesya dan Karla sudah bersahabat sejak SMA, tepatnya sejak Alesya menjalin hubungan dengan Galen Adhitama.
"Galen bilang disini tempatnya, kamu tahu kan kalau Galenmu itu gak pernah bohong!"
'Ck! Galenmu, yang benar saja.' Bahkan Galen yang sering dibangga-banggakan oleh Alesya itu adalah teman ranjang Karla, pria yang selalu meminta jatah seenak jidatnya. Mereka sudah melakoni scandal di belakang Alesya satu tahun terakhir ini, akan tetapi Karla sudah tak tahan dijadikan simpanan oleh Galen, dan disinilah dia dengan segudang ide licik untuk melempar Alesya ke pelukan laki-laki hidung belang penghuni salah satu club malam terbesar di Jakarta.
"Dimana acara ulang tahunnya?" cerca Alesya tak sabar. Ia menelisik tempat itu, Alesya paham ia berada dimana meski seumur-umur belum pernah masuk ke tempat seperti itu.
"Kita tunggu disini," ajak Karla masuk ke salah satu ruang VIP. Jangan sampai rencananya gagal dan Galen tahu apa yang tengah ia lakukan. Bahkan sebelum berangkat tadi ia sempat bertemu Galen dan membuka ponsel pria itu untuk memblokir nomor Alesya.
Tak berselang lama, pelayan bar masuk membawa dua botol wine. Karla menuangkan dua gelas wine itu sembari menunggu Alesya lengah.
"Coba hubungi Galen?" Pinta Karla.
Alesya mengangguk, ia mencari ponselnya di tas dan menghubungi Galen. Saat itulah Karla beraksi dengan memasukkan obat perang sang ke minuman milik Ale.
"Gak aktif, ini tumben!"
"Yaudah, kamu minum dulu! Sambil nunggu Dave datang, kan yang ultah Dave."
Flash back off.
"Cih, kalau bukan karena Galen sangat mencintai kamu! Aku gak mungkin sampai terniat bikin kamu ditidurin Om-om disini," decak Karla.
"Happy fun, Alesya! Semoga kamu puas dengan om-om hadiah dariku! Ceh, jangan mimpi kamu bakalan jadi ratunya Galen, karena sampai kapanpun Galen itu cuma milik Karla seorang. Setelah statusmu berganti jadi ja lang, aku rasa Galen akan setuju dengan keputusan Omanya buat nikah sama aku!"
Reivan terkejut dengan gadis picik itu, akan tetapi saat Karla melintas ia pura-pura tak melihatnya.
"Om, ada cewek gratis tuh! Kalau mau sikat aja," ujar Karla pada Arsen.
"Oh, thanks!" balas Arsen.
Karla melebarkan senyumnya kemudian berlalu begitu saja tanpa tahu siapa pria yang ia tawari. Cahaya remang lorong club membuat penglihatan Karla tak jelas.
"Tuan, Apa yang harus kita lakukan?" tanya Arsen.
"Ck! Bawa ke mobil! Aku akan urus Bara dulu," ujar Reivan.
Arsen mengangguk, ia mengangkat Alesya layaknya karung goni di pundak lantas berjalan lewat pintu belakang.
"Ini cewek apaan sih, berat banget kaya beban hidup," gerutu Arsen.
***
"Panas, tolong aku!" Alesya menggeliat tak nyaman. Reivan berdecak, merasa terganggu oleh lengu han kecil seorang Alesya.
"Cewek bodoh!" makinya.
"Arsen, hotel terdekat!" perintah Reivan langsung diangguki oleh assistennya.
Setelah cek in, Reivan membopong gadis itu ke kamar yang telah Arsen siapkan.
"Apa Tuan mau,---" Arsen menunduk.
"Mau apa hah? Kamu pesanlah kamar sebelah, biar dia bersamaku."
Arsen mengangguk, lalu membalikkan badan dan pergi dari sana.
"Baguslah kalau Tuan mau menghabiskan malam dengan wanita, berarti dia masih normal. Meski harus dengan cara tidak benar," gumam Arsen.
***
Hallo, musim kedua dari sugar hot duda! Semoga suka😙🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak😍