
"Nyonya kenapa tidak pakai sepatu?" tanya Art terheran dengan penampilan Rosa yang berantakan.
"Ceritanya panjang, Bi. Rencana Quality time sama Rea gagal di arisan karena ada yang berniat jahat."
"Kok bisa Nyonya?" tanya Bi Sani.
"Bisa, dan sepatu yang saya pakai, saya terpaksa lempar ke kepalanya. Entah celaka atau tidak. Tapi sepatuku hiks..." Rosa meratapi sepatunya yang baru dipakai satu kali dan berharga puluhan juta.
"Astaga, sepatu itu nggak ada apa-apanya dibanding nyawa Rea, kalau sampai kenapa-napa, gak tau gimana Bara bakalan murka." Rosa menghela napas merutuki ucapannya.
"Sepatu bisa beli lagi Nyonya, kalau nyawa mau gimana?" Bibi Sani kembali datang membawa segelas air putih.
"Makasih, Bi. Iya benar. Lega, untung saya langsung menghubungi Bara. Saya ke atas dulu Bi."
***
Sementara Bara yang melihat Rea mulai membaik pun bernapas lega.
"Kamu gak apa-apa sayang, masih pusing nggak?" tanya Bara seraya mengusap-usap pipi Rea.
"Nggak, Mas! Cuma kaget aja sih, masih nggak nyangka. Tante Rosa gimana?"
"Kondisinya jauh lebih baik, kalau begitu aku pamit Ra," ucap Steve, Dokter yang di panggil Bara untuk memeriksa keadaan Rea
"Thanks, Stev!" ujar Bara lalu mengantar Dokter muda itu sampai pintu apartemen.
"Sama-sama, semoga kekasihmu lekas membaik!" pesan Steve, Bara mengangguk. Setelah punggung Stev menghilang, Bara kembali masuk dan duduk di sisi Rea.
"Mas, gimana keadaan Tante Rosa?" tanya Rea, gurat wajahnya tercetak khawatir mengingat samar Ibu dari kekasihnya berusaha melawan Danis.
"Rea Rea, keadaan kamu kaya gini masih sempet khawatirin Mamaku?" Bara merasa tak percaya Rea justru menghawatirkan Mamanya, dan pertanyaan sederhana itu semakin menambah poin plus kekasihnya, luar biasa.
"Mas, jawab dong!"
"Mama baik sayang, kamu ini malah masih mikirin Mamaku."
"Iya, soalnya Danis itu nekad banget Mas, aku udah waspada dengan tidak minum-minuman yang disana, soalnya aku lihat dia pergi dan datang tepat saat pesanan minumanku datang."
"Emang gila itu orang, Re. Udah! Kamu tenang, biar aku yang kasih dia pelajaran. Makin kesini kok makin gak tau diri," ucap Bara mengepalkan tangan.
"Mas, aku gak mau kamu bahayain diri kamu buat melawan dia, Mas. Dia udah bener-bener gila."
"Kamu tahu itu kan, mulai besok aku siapin pengawal buat kamu, tak ada penolakan!" tegas Bara, ia sungguh khawatir dengan Rea karena bukan hanya Danis sepertinya yang berusaha mencari masalah, akan tetapi juga mantan sahabat wanitanya.
"Harus sebegitunya, Mas? Kan kan masa aku kuliah harus sama pengawal sih?" Rea menekuk wajahnya.
"Gimana lagi, aku gak mau kamu kenapa-napa sayang, sementara jagain kamu 24 jam aku belum bisa," ucap Bara.
"Yaudah iya, aku nurut kali ini." Rea akhirnya mengalah, membiarkan Bara melakukan cara apapun untuk melindunginya, toh itu lebih baik ketimbang ia harus terus menerus menjadi sasaran Danis.
Rea bangkit dan bersandar di kepala ranjang, ia bahkan sama sekali tak bisa menolak kala Bara dengan segala kesigapan menyuapinya makan.
"Mas, aku bisa makan sendiri tau!"
"Gak usah bandel, biar aku yang suapin." omel Bara.
"Hm, yaudah iya. Tapi, aku itu gak kenapa-napa lho, kok diperlakukan kaya orang sakit. Disuapin, di tungguin kan aku jadi malu."
"Gak apa-apa, anggap aja aku lagi perhatian sama istriku yang sedang hamil!"
"Ish, Mas makin ngaco deh. Nikah aja belum." Rea memalingkan wajahnya, pipinya sudah merona karena perkataan Bara barusan yang biasa tapi terdengar menggelitik di telinga Rea.
Malam ini, Bara tak membiarkan Rea pulang. Ia menyimpan Rea di apartemennya, selain karena khawatir jika Danis kembali nekad, ia juga sedang ingin berlama-lama dengan gadis itu.
"Nanti aku tinggal pulang sebentar ya, atau kamu mau ikut?" tawar Bara saat hari mulai gelap.
"Enggak, Mas. Gapapa aku disini, kamu nanti balik kan?" tanya Rea.
"Ih masa?" tanya Rea tak mampu menyembunyikan binar bahagianya.
"Masa gak percaya, hm? Beneran, aku juga ngomong apa adanya hatiku."
"Iya iya, Mas."
***
Malam hari, Bara sengaja pulang ke rumah sebentar. Ia meminta Bi Sani untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Rea nanti. Selain itu, dia ingin mendengar kejadian sebenarnya dari Sang Mama.
"Gimana keadaan Rea, Ra?" tanya Rosa saat Bara menghampirinya dan Aron di ruang santai.
"Jauh lebih baik, gimana ceritanya Ma?" tanya Bara.
Rosa melirik Aron, lalu menghela napas.
"Mamamu melempar anaknya Melly dengan sepatu highellnya, Ra!"
"Hah? kok bisa?"
"Iya jadi Rea nggak sengaja menumpahkan minumannya, terus Mama suruh bersihin gaun ke toilet, pas Mama ngobrol sama Jeng Novi, dia bilang kalau anaknya Melly gelagatnya mencurigakan..." Rosa pun menjelaskan semua kepada Bara secara detail.
"Nekad banget itu anak!" gerutu Bara.
"Lawan dia pakai tangan kamu, karena kalau kamu nyerang perusahaannya yang rugi Papanya, sementara dia? masih ada kemungkinan nekad karena sedari awal ia sudah sangat terobsesi dengan Rea!" jelas Aron.
"Jadi aku harus gimana?" tanya Bara, "memukulnya? atau membunuhnya?"
"Eh tunggu-tunggu, terobsesi gimana maksudnya? bukannya mereka mantan kekasih?" tanya Rosa kepo.
"Jadi memang iya, Ma. Mereka sepasang kekasih, dan hari kedua Bara kos. Cowok bernama Danis itu berhasil mence koki Rea dengan minuman yang dicampur obat. Karena kasian, aku tolong! Aku Bawa Rea ke apartemen, tapi malah aku yang merusaknya." aku Bara.
"Hah? jadi kalian?"
Bara mengangguk, "itu terjadi saat aku masih menjadi suami Najira."
Rosa memijat pelipisnya tiba-tiba, sementara Aron hanya menanggapi dengan kedua alis terangkat.
"Kamu dapat jackpot??" tanya Aron dengan santai, Bara hanya tersenyum lantas Papa dan Anak itu menyeringai.
"Ih kalian, main kode-kodean! ngomongin apa?" tanya Rosa yang kesal karena tak mengerti maksud anak dan suaminya.
"Bara dapat perawan, Ma. Makanya harus segera di sahkan!" Aron menyeringai.
"Papa tuh ya, anak salah kok malah seneng! Yaudah kalau kalian sama-sama siap nunggu apa?" tanya Rosa.
"Mama fix merestui kami kan?" tanya Bara.
"Kenapa memang tanya begitu?" Rosa menatap Aron dan Bara bergantian, sepertinya banyak rahasia tersembunyi yang ia tak tahu.
"Soalnya..." Bara melirik ke arah Aron, papanya itu mengangguk sebagai kode.
"Soalnya Rea..."
"Rea kenapa? Jangan-jangan Rea hamil ya, sampai kamu gugup gitu? Astaga Bara, Mama harus seneng atau sedih ini, tapi kalian kan belum menikah harusnya jangan hamil dulu," ujar Rosa panjang lebar membuat Bara dan Aron menghela napas bersamaan.
"Bukan, Mama. Tapi karena Rea adik dari selingkuhan Najira," ucap Bara dengan wajah menunduk.
Duar!
.
.