SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 61



"Rea..." Rosa langsung memeluk erat Rea saat gadis itu sampai di hadapannya, wajahnya layu, pandangannya kosong. Namun, sedari tadi Rea berusaha menguatkan diri untuk tidak ambruk saat orang kepercayaan Papanya Bara mencarinya ke kosan.


"Mas Bara kenapa Tante?" lirih Rea, ia mulai terisak sebelum akhirnya benar-benar menumpahkan tangisnya di bahu seorang ibu dari orang yang ia cintai.


"Bara..." Rosa tiba-tiba terdiam, ia malah mengusap-usap punggung Rea saat tahu calon menantunya menangis sedih.


"Sudah sayang, kita berdoa yang terbaik buat Bara ya. Aku yakin dia bisa melewati ini semua asal kamu di sisinya." Rosa melerai pelukan, ia menatap Rea lamat-lamat, memohon gadis itu untuk berada di samping Bara.


Rea mengangguk, ia melihat Bara dari kaca jendela, dan tampak tubuh kekar itu tengah terbaring dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Mas kenapa kamu memberikan kebahagiaan sekaligus kesedihan untukku diwaktu yang sama? aku sedih lihat kamu kayak gini," lirih Rea.


Ia menoleh kepada Aron dan Rosa yang juga berada di luar.


"Apa kita belum boleh masuk, Om, Tante?" tanyanya memohon.


Rosa menggeleng, "belum sayang, kita tunggu dokter!" ujar Rosa.


"Kalian tunggu disini, biar aku tanya dokter. Siapa tahu dengan adanya Rea di dalam, Bara jadi lekas sadar."


"Oke, Pa."


Tak berselang lama, Aron kembali bersama Dokter.


"Saya periksa sebentar," ujar Dokter masuk ke ruangan Bara dirawat.


"Gimana, Dok?" tanya Rea tak sabar, pun juga Aron dan Rosa.


"Pasien sudah stabil meski belum bangun, boleh masuk asal satu-satu."


"Baik, terima kasih Dok!" ujar Aron.


"Re, masuklah!" titah Aron. Rea menatap Rosa, bagaimanapun Rosa adalah Mamanya Bara, dan Rea yakin wanita paruh baya itu dua kali lebih khawatir dibanding dirinya.


"Iya sayang, Bara pasti membutuhkanmu!"


Rea pun mengangguk setuju, ia melangkah memasuki kamar rawat Bara. Tampak laki-laki yang baru melukiskan bahagia di hari ulang tahunnya itu terbaring lemah dengan mata terpejam dan luka di tangan dan dahinya.


"Mas," lirih Rea, air matanya lagi-lagi tak kuasa meleleh. Ia duduk tepat di sisi Bara dan memandang laki-laki itu dengan getir.


Rea meremas kuat dress yang dikenakannya, ingin rasanya menangis histeris di hadapan Bara agar pria itu segera bangun, agar pria itu terganggu dan membuka matanya, atau paling tidak ia berharap Bara-lah yang akan menghapus air matanya.


"Bangun Mas, kamu bilang mau nikahin aku tapi kamu malah kaya gini. Aku gak akan minta kamu nunggu lima tahun lagi kok, sekarang juga aku udah siap jadi istri kamu. Kamu pengen apa, Mas? kamu pengen aku jadi istri dan ibu dari anak-anakmu? Bahkan aku sudah siap untuk itu, asalkan kamu bangun maka aku akan mengabulkannya satu-satu," lirih Rea.


Meski pada akhirnya, Bara masih sama. Nyaman dengan mata terpejam hal itu sama sekali tak membuat Rea menyerah. Ia akan datang lagi esok jika perlu, atau tak akan pulang sekalian asalkan Bara bangun untuk melihat senyumnya, asal Bara bangun untuk menghapus air matanya.


"Aku harap kamu denger semua ucapanku, Mas." Rea bangkit, meski berat ia harus keluar. Membiarkan Rosa atau Aron menemui Bara, bagaimanapun ia tak ingin egois untuk tetap berada di sisi laki-laki itu.


"Rea, ayo makan dulu sayang, Bara biar dijaga sama Papa Aron," ujar Rosa.


"Tapi Tante..."


"Dokter bilang, Bara sudah membaik. Hanya tinggal menunggu bangun tidurnya. Kamu harus tau, kalau Bara sampai lihat kamu menyiksa diri gak mau makan karenanya dia pasti akan kecewa. Rea, menunggu juga butuh tenaga, jangan sampai kamu ikutan sakit. Karena kita harus tetap sehat untuk Bara." Rosa menghela napas, ia mengusap-usap bahu Rea layaknya menenangkan putri sendiri, meski jujur dalam hatinya juga berkecamuk khawatir akan keadaan Bara. Namun, baik dirinya maupun Aron yakin bahwa putranya orang yang sangat kuat.


"Bangun, sudah selesai aktingnya. Dasar anak nakal," gerutu Aron. Andai di sofa ruang rawat Bara ada bantal, ia mungkin akan melempar Bara dengan bantal itu untuk meluapkan kekesalannya.


"Hehe ampun, Pa." Bara membuka mata, meringis karena menahan diri untuk tidak bergerak selama ada Rea.


"Sudah yakin sekarang? sudah acara tes mengetesnya? kamu nggak tau gimana perasaan Papa liat dua wanita menangis sekaligus, hm? lama-lama Papa pecat kamu dari wakil CEO kalau kebanyakan drama," omel Aron.


"Hm, iya nggak lagi, Pa. Lagian aku ini beneran sakit, beneran lecet tau!"


"Hm, terserah. Papa bilang ke Rea kalau kamu pura-pura nggak sadar gimana?" ancam Aron.


"Janganlah, Pa. Janji deh, ini yang terakhir bohong!"


Aron hanya menggelengkan kepala, tak habis fikir dengan Bara karena harus bekerja sama dengan dokter, pura-pura tak sadar hanya karena ingin mendengar reaksi Rea. Sungguh, ingin rasanya Aron melempar anak itu keluar kalau tak ingat kalay Bara adalah darah dagingnya.


Aron menghempas tubuhnya di sofa, dengan tangan terlipat di dada. Sambil berjaga, barangkali tiba-tiba Rea dan istrinya datang.


Sementara di kantin, Rosa menatap iba pada Rea yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya. Rosa memang khawatir, tapi melihat Rea seperti itu dia juga merasa sedih.


"Bara itu dari kecil kuat, meskipun sakit dia pasti akan cepat sembuh..." Rosa menjeda ucapannya.


"Rea, menikahlah segera dengan Bara." Rosa menggenggam tangan Rea.


"Iya, tante." Rea mengangguk.


"Makanlah, Bara akan sedih kalau kamu gak mau makan karena mikirin dia yang sakit."


Lagi-lagi Rea mengangguk, perlahan ia mulai menyentuh makanan yang ada di hadapannya meski tak nafsu.


"Sebenarnya, gimana ceritanya Mas Bara bisa tertabrak, Tante?" tanya Rea.


"Bara mau jemput kamu untuk fitting baju pengantin, ada truk memakan jalannya hingga Bara terpaksa banting stir dan menabrak pembatas."


Rea menutup mulutnya tak percaya, "astaga Mas Bara."


Rea terdiam, terlebih saat Rosa mengajaknya kembali ke bangsal dimana Bara di rawat. Namun, tertegun saat melihat dari jendela laki-laki itu sudah membuka mata.


"Mas Bara!"


Rosa ikut menoleh dan mendapati Bara sudah sadar.


"Akhirnya, jagoan mama sudah sadar," pekik Rosa.


Rea tersenyum sumringah, raut wajahnya yang sedih seketika berubah.


"Kamu gak apa-apa kan, hah Mama khawatir kamu bakalan koma padahal kalian udah mau menikah," ujar Rosa.


"Dih Mama, enggak jadi koma kalau ada Rea, iya kan sayang."


Rea hanya tersenyum di belakang Rosa, saking senangnya.


"Ehmmm," Aron berdehem, membuat Bara mendelik sekaligus meringis karena Papanya.