SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
119. Sugar season 2



Merestui Galen dengan Karla benar-benar bukan keputusan Liora dari hati. Ibu satu anak itu seketika teringat uang delapan puluh juta yang ia berikan pada Karla beberapa waktu lalu. Lantas yang dilakukan olehnya setelah melihat Galen memboyong Karla ke rumah adalah menagih uangnya kembali. Lumayan bisa buat pegangan dan shopping sehari.


"Heh kamu," seru Liora memanggil Karla.


"Iya, Ma?" Karla mengernyit lantaran ekspresi Liora berubah drastis setelah dua hari ia menjadi istri Galen dan suaminya berangkat kuliah. Di rumah besar itu hanya ada pelayan yang sibuk di belakang, Karla dan mamanya Galen.


"Karena kamu sudah jadi istri Galen, saya harap kamu dengan ikhlas hati mengembalikan uang saya. Galen sudah jadi suami kamu dan kamu melanggar perjanjian kita," seru Liora. Tak ada raut wajah keramahan yang Liora tampilkan seperti kemarin di depan Galen dan Wilson.


"Tapi uang itu,--" Karla terdiam, uang itu memang ada di rekeningnya tapi sudah berkurang mengingat Karla mengontrak dan belum memiliki pekerjaan dengan gaji besar. Karla hanya mampu bekerja serabutan bersama tetangga kontrakannya, pekerjaan yang ringan dengan upah tak seberapa itu.


"Kenapa? Atau jangan-jangan habis? Bagus ya, pinter sekaligus licik kamu," cibir Liora.


"Masih tapi tidak utuh, Ma!" gumam Karla, ia takut Liora berbuat jahat padanya. Karla mundur beberapa langkah saat Liora mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam nan galak.


"Belum tentu juga kan kalau itu anaknya Galen?" cibirnya menunjuk perut Karla yang mulai terlihat menonjol sedikit.


"Ini anak Galen, Ma! Aku nggak pernah berhubungan dengan pria manapun selain Galen," ucap Karla membela diri.


"Oh ya? Saya gak yakin. Kalau gitu, balikin uang sisanya, transfer sekarang atau kamu mau saya dorong dari sini dan jatuh?" ancam Liora. Mereka sedang berada di lantai atas, sedikit lagi mungkin Karla sudah berada di ujung tangga lantai atas.


"Aku akan mentransfernya, Ma!" Karla menurut, ia meraih ponsel yang ada di sakunya lantas mengirim uang lima puluh juta ke rekening Liora.


Liora tertawa puas, tak berhenti disitu. Ia terus mendekat membuat Karla semakin terdesak dan mundur.


"Ma ti kamu." secepat kilat Liora mendorong Karla hingga jatuh dari tangga. Kepalanya sempat membentur pinggiran tangga hingga pelipisnya berdarah.


"Selesai," gumamnya pelan lantas turun ke bawah. Memangku Karla dan berdrama. Sebelumnya Liora sudah merusak cctv di rumah besar itu hingga apa yang terjadi hari ini tak mungkin Wilson dan Galen akan tahu.


"Karla, Karla bangun sayang..." Serunya kemudian berteriak memanggil para pelayan agar menghubungi Galen dan Wilson.


Benar saja, tak sampai lima belas menit Galen sudah datang mendapati Karla terluka tak sadarkan diri membuat Galen panik langsung meraihnya.


"Kenapa ini, Ma?" tanyanya. Lantas membawa Karla ke rumah sakit.


"Mama juga gak tau, kayaknya jatuh dari tangga," bohong Liora sambil mengusap air mata palsunya.


Sesampainya di rumah sakit, Galen membawa Karla ke IGD untuk penanganan darurat.


"Saudara Karla?" tanya seorang perawat.


"Saya suaminya, sus!"


"Silahkan urus administrasi."


Galen mengangguk, lalu menitipkan Karla pada Liora. Tak berselang lama, Wilson datang tanpa sengaja bareng bersama Reivan dan Alesya yang sedang pemeriksaan kehamilan.


"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Reivan.


"Karla, katanya jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri." Wilson tampak buru-buru.


Sontak Alesya membekap bibirnya tak percaya, ia ingin melihat tapi rasanya belum tepat.


"Mas..." Alesya tak berani meminta izin Reivan untuk bertemu Karla dan Galen.


"Nanti saja ya, setelah kita periksa kondisi kamu nanti kita tengok." seolah tahu apa yang ada di pikiran Ale, Reivan sontak menebak perihal Galen.


"Kondisinya belum terlalu kuat, apalagi usianya masih lima minggu. Masih sangat kecil dan rawan." Dokter menjelaskan seraya menggerakkan alat di atas perut Ale yang sudah dioles krim. Alat itu terhubung langsung pada monitor USG yang menampilkan janin milik Alesya. Senyum haru membingkai wajah Alesya, terlebih selama pemeriksaan Reivan terus menggenggam tangannya tanpa terlepas barang sedetik pun. Reivan seolah tak rela jauh-jauh dengan istri dan calon anaknya.


Selesai periksa dan menebus obat beserta vitamin, Alesya menagih ucapan Reivan tadi untuk diantar melihat kondisi Karla yang juga sedang dirawat.


Alesya bukan ingin datang lalu mentertawai mantan sahabatnya itu, Ale hanya memastikan keadaan Karla karena bagaimanapun mereka dulu cukup dekat meski bertopeng kepalsuan.


Alesya hanya waspada pada Galen, bukan Karla. Setelah bisa berdamai dengan masalalu dan mendengar Galen menikahi Karla membuat Alesya lega. Kebencian dan sakit hati itu seketika berubah menjadi kelegaan. Alesya bisa tenang dan menjalani hari bahagia bersama Reivan dan calon anaknya tanpa dibayangi obsesi Galen lagi.


"Al," lirih Karla saat melihat Alesya berada di ambang pintu ruang rawatnya.


Ada Galen, Liora juga Wilson disana.


"Boleh kami masuk?" tanya Reivan diangguki Wilson dan Liora. Namun, tidak dengan Galen yang masih membenci Om-nya.


"Boleh." Jawaban tak terduga keluar dari bibir pucat Karla.


Wilson dan Liora memilih keluar membiarkan Alesya dan mantan iparnya masuk ke dalam.


"Maaf, Al. Aku jahat sama kamu, aku udah jahat banget," cicit Karla. Air mata terus membasahi pipinya dan terisak pelan.


"Sayang, kamu ngomong apa sih?" tegur Galen. Apalagi melihat Karla sampai sesedih itu membuat Galen semakin kesal saja. Galen memang masih labil dalam bersikap.


"Semua yang terjadi udah berlalu, lagian aku udah bahagia sama suamiku," ujar Alesya dengan tangan masih melingkar di lengan Reivan.


"Kalau tahu aku bakalan kehilangan anakku setelah menikah dengan Galen. Mungkin, lebih baik aku memilih sendiri, Al." mengabaikan Galen, Karla mencurahkan semua keluh kesahnya. Menganggap Alesya layaknya sahabat sekaligus pendengar terbaik.


"Maksud kamu ngomong gitu apa sih, Karla?" tanya Galen meninggi.


"Dia sedang sakit, bisakah tidak kekanakan Gal?" tegur Alesya membuat Galen seketika bungkam.


"Belajarlah lebih mengerti wanitamu! Karla sedang lemah sekarang, harusnya kamu mendengarkannya dengan baik dan bersikap lembut," ujar Reivan langsung mendapat cebikan kesal Galen.


"Al, bisakah kau mengunci pintunya? Tolong," cicit Karla melemah."


Galen tak mengerti apa yang akan dilakukan istrinya, ia memilih diam karena sudah pasti akan salah jika bicara. Apalagi Reivan dan Alesya sama sekali tak melihatnya benar.


Alesya menurut, ia mengunci pintu kemudian duduk bersama Reivan di kursi sebelah kanan Karla. Sementara Galen berada di sebelah kiri.


"Mamanya Galen mendorongku sampai jatuh dari tangga. Beliau juga menagih uang lima puluh juta yang beberapa waktu lalu ia berikan padaku. Kalau tahu kaya gini, aku kehilangan anakku lebih baik selamanya aku tak pernah menjadi istri Galen, Al. Aku tahu ini karma, bisa jadi ini karma. Tapi anakku nggak bersalah," cicitnya sedih.


Galen cukup terkejut, tapi yang ia lihat ketika pulang ke rumah tak seperti yang Karla bicarakan.


"Kau menuduh mamaku, setelah mamaku menolongmu dan membawanya kemari?" bantah Galen membela Liora.


"Gal, bisa nggak jangan motong!" ketus Alesya.


"Kamu lihat kan Al, aku sudah mendapatkan karmaku. Kamu mau kan maafin aku, aku janji akan berubah lebih baik lagi." tak mengindahkan Galen, Karla memilih bicara menatap Alesya.


"Aku maafin kamu," ujar Alesya.


"Kamu yang sabar Karla," sambung Ale lagi kemudian beralih menatap suaminya yang tiba-tiba diam.


"Aku bisa talak kamu kalau kamu kaya gini, nuduh-nuduh mamaku jahatin kamu." Ancaman Galen untuk Karla. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Reivan berhasil mendapatkan rekaman cctv rumah Wilson berkat usaha Arsen berikut pelayan yang mengaku melihat Karla didorong dari atas tangga.