SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
114. Sugar season 2



Sesi kedua terjadi di ranjang, lebih empuk, enak dan uwaaa...


Alesya hanya bisa menjerit ambigu menerima serangan Reivan. Duda setengah kopling itu memang beneran hot.


"Sekarang percaya kan?" Reivan menaikkan alis lalu mencium kening Alesya setelah mencapai kli maks kedua kalinya.


"Hm..." hanya gumaman tak jelas, Alesya benar-benar dibuat lelah. Mungkin sekarang kesusahan bangun dan jalan oleh ulah Reivan.


"Jangan ngremehin duda," bisiknya menenggelamkan kepala di ceruk leher layaknya bayi.


"Mas!" Alesya mendesis sebal. Gimana dia mau istirahat kalau Reivan terus mengganggunya. Meniup-niup lehernya.


Esok hari, Alesya mengacak-acak kopernya. Mencari lembar demi lembar baju miliknya, seingat Ale. Ia ikut menyiapkan baju-bajunya tapi kenapa malah koper pertama yang ia bongkar penuh dengan gaun dinas berbagai model.


"Mas Reivan!" pekiknya.


Kesal tak menemukan pakaiannya, ia lantas memilih memakai kemeja besar milik Reivan.


"Apa?" tanya Reivan terkekeh.


"Apa-apa, bajuku mana?" rengek Alesya, meski sudah memakai kemeja milik Reivan ia tetap belum lega kalau belum menemukan gaunnya.


"Ada di kopermu!"


"Koper mana astaga, bahkan ini semua isinya lige rie," gerutu Alesya.


Reivan tergelak kencang, "ya kan emang itu tujuanku."


"Sebel, niat banget." Alesya bersedekap, sudah ingin marah menjadi urung kala mendengar ketukan pintu.


"Ya sebentar!" Reivan segera memakai kaos asal dan celana lalu membuka pintu kamar sedikit untuk celah melongokkan kepala. Benar-benar mpok cecif.


"Sarapan-nya Tuan," seru pelayan bersama nampan berisikan dua piring sanwich pesanan Reivan dan minum.


"Oh, thanks!" seru Reivan meraih.


Meski ingin marah toh akhirnya mereka tetap makan bersama, menikmati pagi bersama bahkan mandi bersama. Andai tembok bisa bicara, mungkin dirinyalah yang merutuk sepasang pengantin labil itu.


Di sudut lain, tepatnya di resort seberang. Seseorang memandangi mereka dengan sorot mata kebencian.


"Ternyata sudah sejauh itu, ck ck sial. Aku bahkan belum pernah menyentuhmu, Al? Tapi kenapa kamu dengan mudahnya duduk di pangkuan Om-ku. Bahkan kalian ciuman di balkon, apa itu pantas?" decaknya menahan kesal sekaligus cemburu. Mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menyusun rencana menghancurkan bulan madu mereka.


Siapa lagi kalau bukan Galen. Melepaskan Alesya tentu tak semudah itu untuknya, Galen akan melakukan segala upaya agar Alesya kembali ke sisinya.


Di tempat lain, Karla sedang sibuk.


Sibuk mengalami morning sickness seorang diri. Jangankan untuk mengurus dirinya, menelan makanan saja rasanya sulit.


Kenapa dia harus menderita sepihak? Pikir Karla, kenapa bukan Galen saja dan dia tetap baik-baik saja?


Apa karena Galen mencintai Alesya, bukan dirinya?


Bahkan sudah beberapa hari ini ia hanya berdiam diri di kontrakan tanpa pergerakan.


Karla menatap nanar nomor ponsel Galen, sambil menggeleng keras.


"Kalau dia gak hubungin aku, berarti dia emang gak butuh," serunya menyakinkan diri.


"Mungkin uang dari mamanya Galen kuanggap pertanggung jawaban. Tapi aku pastikan dia akan menyesal karena tidak tahu prosesku. Ya Tuhan, aku menyesal kenapa harus menuruti Galen mengkhianati Alesya."


"Apa aku ke dokter aja ya," gumamnya pelan.


Lalu setelah membersihkan diri, dengan perut kosong ia keluar rumah kontrakan. Berjalan keluar gang sempit menunggu taksi online yang dipesan.


"Mau kemana neng?" tanya seseibu ramah.


Ibu yang biasanya Karla beli nasi bungkusnya itu hanya berjarak dua rumah dari kontrakan.


"Ih mau ke dokter, Bu! mau periksa, ini kan pertama kalinya aku hamil mana nggak ada suami," seru Karla memelas. Hanya itu satu-satunya cara agar tak diusir dari kontrakan karena hamil di luar nikah yaitu berbohong.


"Ada Bu, di luar jadi TKI. Sayang kalau cuti lama-lama, jadi kemarin tuh di rumah cuma sebulan lebih dikit, karena aku nggak nyaman tinggal sama mertua jadi ngontrak."


Ibu itu mengangguk-ngangguk percaya, "mau dianter?" tawarnya.


"Ada klinik dekat sini kalau mau, nggak perlu ke RS. Klinik juga bagus kok dan ramah di kantong."


"Boleh, Bu!"


Dengan ditemani tetangganya, Karla naik taksi online menuju klinik yang dimaksud. Memang dasarnya lagi sial, dia malah bertemu si lambe turah disana.


Putra juga sedang mengantar Mamanya berobat.


Karla dan Putra berpapasan, "ngapain buk disini? Sendirian?" tanya Putra kepo.


"Bukan urusan lo," decak Karla malas.


"Ck ck ck, udah di DO masih juga somvong!"


"Dari pada lo, cowok lhemes, suka banget ngurusin hidup orang!" ketus Karla. Ia berlalu begitu saja untuk mengambil nomor antrian.


Karla duduk tak jauh dari Putra yang sedang menunggu mamanya diperiksa. Ia beruntung karena Putra lebih dulu pulang sebelum Karla di panggil ke ruang poly, laki-laki itu tak akan kepo dengan apa yang Karla lakukan disana.


Karla masuk setelah mendapat panggilan dari bidan, mendadak gusar. Bagaimana kalau dokter obgyn itu menanyakan aneh-aneh, ini pertama kalinya dan membuat Karla gugup sekaligus takut.


"Anda datang sendiri? Apa dengan suami? Kalau iya, suaminya masuk gak apa-apa," seru dokter wanita itu dengan ramah.


"Sama tetangga dok, suami saya lagi kerja," alibi Karla.


Dokter itu mengangguk masih dengan senyum ramahnya.


Karla mulai berbaring dan diperiksa setelahnya dokter mengoleskan gel kemudian menempelkan alat kecil dan bergerak-gerak di perut datarnya.


"Usianya masih kecil, masih sekitar lima minggu." dokter menjelaskan semuanya secara detail dan tiba-tiba mata Karla memanas menahan tangisnya.


"Nanti saya kasih resep obat dan vitaminnya bisa ditebus di apotek yang ada di klinik ini juga," seru dokter, Karla mengangguk.


Setelah menunggu beberapa saat, Karla keluar dengan membawa foto hasil USG-nya. Ia bahagia memiliki bagian dari diri Galen meski cintanya bertepuk sebelah tangan.


***


Reivan lagi-lagi terkekeh usil, akhirnya ia mengeluarkan pakaian Alesya yang disembunyikan dibawah baju-bajunya.


Alesya melotot tak percaya dengan kelakukan absurd suaminya.


"Bodo ah, aku mau jalan-jalan sendiri! Kesel aku tuh sama kamu Mas, usil banget!" Alesya mencebik.


"Yaudah kalau jalan-jalan ke bawah aja, nanti aku susul."


"Hm, oke. Jangan lupa bawa duit yang banyak kalau nyusul," kekeh Ale.


Ia meninggalkan Reivan dan keluar resort, sementara mantan gamon yang menyamar jadi penguntit pun seketika tersenyum lebar mendapati Alesya keluar resort sendirian tanpa suaminya.


"Secepatnya aku akan buat kamu balik lagi jadi milikku," gumam Galen menyeringai jahat.


Ia memakai hoodie hitam dan masker lantas mengikuti kemana Alesya pergi.


Greppp...


Telapak tangan lebar berhasil membungkam Alesya, "mmpt...t!"


Alesya berusaha melihat, akan tetapi nihil lelaki itu pandai berkilah. Masih beruntung karena Alesya tak dibius, ia pun berusaha melemah agar lelaki itu mengiranya sudah parah.


"Ha ha ha, akhirnya ada masa dimana kamu kembali ke pelukanku," bisik Galen.


Deg.


Alesya tertegun mendengar suara khas itu, suara khas laki-laki yang telah menghancurkan hatinya.