
Alesya bisa melihat wajah Reivan yang suram sejak keluar rumah sakit tadi. Namun, untuk bertanya pada pria itu rasanya sangat enggan.
Dengan bibir sama-sama diam, akhirnya mobil mereka sampai di kediaman Reivan. Langkah lebarnya turun memutar tubuh, membukakan pintu mobil untuk Alesya.
"Makasih." Jawaban singkat Ale diangguki tanpa suara oleh Reivander.
"Kenapa dia?" batin Alesya dengan kening mengkerut. Tentu ia ingin tahu hal apa yang terjadi di rumah sakit sampai wajah suaminya sangat dingin.
"Arsen!" panggilnya berteriak.
Arsen yang ikut tinggal dengan Reivander hanya bisa menghadap meski nyawanya belum utuh karena tertidur.
"Ya, Tuan?" tanyanya begitu sampai di hadapan Reivan.
"Kumpulkan semua pelayan, semuanya!" titah Reivander.
"Baik."
Selang satu menit, semua pelayan bahkan sekaligus satpam jaga menghadap Reivander dengan wajah menunduk. Reivander duduk di ruang tamu, sementara Alesya yang tak mengerti apapun hanya bisa ikut duduk di sebelahnya. Menyimak dan mencoba menelaah apa yang terjadi.
Brak!!!
"Kalian tahu, aku paling tak suka berbasa basi?" bentak Reivander menatap pelayan kediamannya satu persatu.
"Siapapun diantara kalian yang berkhianat disini. Aku tak akan lagi segan! Arsen, periksa orangku yang sengaja memberikan informasi apapun itu pada keluarga Wilson. Pecat sekarang juga!" perintah Reivander emosi.
Arsen terdiam, ia menatap pelayan rumah Reivander satu persatu dengan mata tajam bak elang. Dia dan Reivader memiliki sifat hampir sama, dingin jika berhadapan dengan para pengkhianat, penjilat bahkan jika itu keluarga mereka sendiri.
"Ampun Tuan," aku seorang pelayan.
"Saya memberikan informasi karena ancaman," akunya menunduk.
"Ancaman?" tanya Reivander berteriak. Ia sungguh mengerikan jika sedang marah dan Alesya melihat itu.
"Ya, Tuan! Nyonya Liora mengancam akan menyelakai keluarga saya!"
"To lol..." maki Arsen, ia menatap wanita itu seolah sedang mengulitinya hidup-hidup.
"Cukup!" suara lantang Alesya, ia menatap suaminya sebentar lalu beralih pada pelayan itu.
"Sayang, aku mau kamu memecat dia!" ujar Alesya tanpa beban. Ia rasa, hidupnya jauh lebih baik disini tanpa adanya pelayan-pelayan bermuka dua. Padahal muka satu saja menurut Alesya sudah boros bedak.
Arsen terdiam pun juga dengan Reivan yang terkejut mendengar permintaan istri barunya, terlebih saat mendengar panggilan sayang dari Ale. Jantung Reivan rasanya ingin meledak.
Alesya menyilangkan kakinya dengan anggun, sungguh pesonanya sejak menjadi istri Reivan tak terbantahkan. Semua pelayan menunduk gugup seolah sedang tertangkap basah mencuri, padahal hanya satu diantara mereka yang melakukan kesalahan.
"Kenapa Al?"
"Tentu saja karena aku tak mau memiliki pelayan bermuka dua, di depanmu dia bilang diancam Tante Liora, sedang di belakangmu? Dia menerima uang tak sedikit."
Cerdas! Itulah yang ada di benak Arsen mendengar pengakuan Alesya. Menyesal ia pernah memakinya perkara berat yang seperti beban hidup waktu itu.
"Aku hanya mau satu pelayan untuk bebersih, dan membantuku masak. Sisanya terserahmu mau diapakan."
"Tuan! Mohon ampun, saya hanya korban dari ancaman Nyonya Liora. Mohon jangan pecat saya."
Alesya berdecak, sebenarnya alasan ia ingin Reivan memecat pelayan itu karena Ale tanpa sengaja mendengar percakapan pelayan rumah dengan seseorang yang Ale yakini Tante Liora.
Ya, setelah mengantar Alesya ke kamar Reivan. Tanpa sadar pelayan mengangkat telpon di depan pintu kamar tamu. Sebab di bawah sana Reivan dan Arsen berseliweran menurunkan foto-foto.
Alesya tanpa sengaja mendengarnya. Tak ingin kepergok, ia memilih masuk ke dalam kamar dan tidur.
"Kamu saya pecat! Arsen, kasih dia gaji penuh bulan ini. Tapi ingat, hari ini berkemas dan pagi buta nanti aku tak ingin melihat kamu lagi.." perintah Reivan lantas beranjak menarik paksa Alesya naik ke lantai atas.
"Kamu yang kenapa?" tanya Reivan tak habis fikir.
"Aku udah nurunin semua foto Alira! Tapi satu, ini rumahku. Aku suka Alesya yang nurut bukan mendominasi kaya tadi," keluh Reivan.
"Hanya itu?" tanya Alesya.
"Aku ada nyuruh kamu nurunin foto istrimu, Mas? Enggak kan, aku gak ada nyuruh apapun hey. Kamu yang berisiatif sendiri! Aku sadar kok, kalau pernikahan kita cuma siri. Jadi, mau bagaimanapun aku gak akan bisa geser posisi istri kamu." Alesya menjeda ucapannya. Ia memang menyebalkan, tapi tak pernah memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tak disuka, dalam arti terpaksa.
"Aku saingan sama makhluk hidup aja kalah apalagi mau bersaing sama orang udah meninggal? Yang jelas-jelas namanya sudah paten di hati kamu! Nggak, Mas! Dari awal aku dikhianati Galen, aku nggak pernah mimpi sedikitpun akan hidup sama kamu. Aku melakukannya semata karena Mama dan Papa!" Alesya mengibaskan tangannya ke atas.
"Alesya, kamu!!!"
"Apa? Mana kunci kamar tamu, biar aku tidur disana!" pintanya.
Reivan mengusap wajahnya frustasi, "jangan! Oke oke, aku salah."
"Ya emang kamu salah!" pekik Alesya.
Reivander mati kutu, ia hanya menghela napas panjang menatap Alesya.
"Sekarang tidurlah! Tidur disini, di sampingku," pinta Reivan.
"Aku akan tidur di sofa." Alesya sudah mengambil satu bantal yang ada di ranjang.
"Kamu istriku, Ale! Jangan pernah membantah."
"Kalau begitu, mari kita menikah sungguhan?" Alesya menyeringai.
"Apa kamu pikir pernikahan kita main-main?" tanya Reivander. Sungguh, Alesya tipe wanita yang sulit ditebak. Kadang lembut, kadang penurut dan hari ini, satu lagi sifat yang ia tunjukan, daebak!
"Bisa iya, bisa tidak!" Alesya merebahkan diri membelakangi Reivander.
"Dengar Ale, aku akan urus pernikahan kita secepatnya! Secepatnya, jadi... Persiapkan juga dirimu menjadi istriku sepenuhnya," bisik Reivander ikut merebahkan diri.
***
Pagi hari di kampus, Karla akhirnya masuk setelah beberapa kali tak kuliah. Pun juga dengan Galen. Namun, meski keduanya gempar di telinga jagat kampus.
Hal itu tak membuat mereka menundukkan muka.
"Galen, tunggu!" pekik Karla.
"Apaan sih," desis Galen menepis tangan Karla dengan kasar. Beberapa pasang yang menyaksikan adegan itu sontak kecewa.
"Yah, baby! Tak semanis di ranjang," ujar Putra no filter. Diantara yang lain, ia memang bukan maen masalah begituan. Apalagi menyangkut hal-hal miring seperti otaknya.
Lain dengan Alesya, setelah menyiapkan sarapan untuk Reivan ia malah bermalas-malasan di rumah. Melakukan apapun yang ia suka, termasuk membaca novel seperti yang sering dilakukan Mamanya.
"Bersiaplah, kalau kamu mau kuliah sekalian bareng. Kita mau ke kantor," ajak Reivan setelah selesai sarapan.
"Aku nggak kuliah!" putusnya.
"Kenapa?"
Alesya menghela napas, selain tak tahu Karla dan Galen sudah kembali apa belum, ia juga tak tahu bagaimana kelanjutan berita trending di kampus.
"Besok saja," bohong Ale.
"Apa kau mau ikut aku ke kantor?" tawar Reivan.
"Ehm, boleh." Alesya beranjak untuk bersiap-siap.