
"Ceroboh," decak Revan begitu memarkirkan mobilnya di depan gedung apartemen miliknya.
Revan mendapati ponsel Selena tertinggal di mobil. Mau tak mau, Revan harus mengembalikannya segera, dan karena kecerobohan Selena ia terpaksa melajukan mobilnya lagi menuju rumah gadis itu.
Sementara di dalam kamarnya, Selena menggingit bibirnya, menghela napas seraya menatap diri di cermin. Harusnya ia tak nekad menginggalkan ponsel di mobil Revan hanya untuk bertemu lagi dengan laki-laki itu.
Menghembuskan napas kasar, duduk kemudian berdiri lagi.
"Astaga, bodoh banget kamu Sel. Istrinya itu belum ada sebulan meninggal, berharap banget kamu bisa runtuhin tembok kokohnya dengan hal bodoh kaya gitu," gumam Selena mengumpati diri sendiri di depan cermin.
"Aku udah masang foto candidnya di wallpaper ponsel, dan tak menggunakan sandi. Harusnya Pak Revan bisa melihat kalau kalau aku beneran menyukai dia," gumam Selena sekali lagi. Meski tindakannya terbilang konyol dan nekad, ini adalah cara terakhirnya dan Selena berharap Revan bisa sedikit saja melihatnya.
"Selena, ada tamu sayang?" teriak Mamanya dari luar kamar. Jantung Selena berdegup kencang, ia keluar menemui sang mama dan hendak bertanya.
Menghela napas saat tahu, Revan sudah duduk manis di sofa ruang tamu rumahnya.
"Eh, jangan duduk dulu. Buatin minum dulu," titah sang Mama membuat Selena kembali bangkit.
"Nggak usah, Tante. Saya cuma sebentar kok," ujar Revan sungkan.
"Tidak perlu sungkan, saya senang setelah sekian lama akhirnya ada teman laki-laki Selena datang ke rumah."
"Eh, iya Tante." Revan menggaruk kepalanya. Jujur niatnya datang hanya untuk mengembalikan ponsel, bukan bertamu. Namun, sepertinya Mama Selena salah paham dan malah sangat senang melihat kedatangannya, Revan jadi tak tega jika menolak mampir dan langsung pamit. Meski dalam hatinya merasa bersalah, ya bersalah karena Najira baru saja pergi dan ia sudah dekat dengan wanita. Revan bukan orang yang seperti itu sebab nama Najira masih tersimpan rapi di lubuk hatinya yang paling dalam.
Selena melangkah ke dapur membuatkan minum untuk Revan. Sengaja ia berlama-lama agar laki-laki itu juga lebih lama berada di rumahnya.
Selena membuang napas kasar, "Dek, tunggu sampai kakak selesai lakuin cara terakhir ini, baru kamu boleh nikah duluan!" batinnya meratapi nasib.
"Selena!" panggil sang Mama, karena merasa putrinya lama sekali.
"Maaf ya, Nak. Jadi menunggu lama, itulah kenapa saya terus mencoba untuk menjodohkannya selama ini, karena dia tak mau ternyata Selena sudah punya pacar."
"Maaf, Tante kami..."
"Ini minumannya, Pak Revan. Mama, Pak Revan ini atasan Selena di Kantor!" potong Selena sebelum sang Mama semakin merambah kemana-mana dengan kesalah pahaman datangnya Revan.
"Ah, Mama kira Pacar kamu."
"Bukan, tidak." jawab Selena dan Revan kompak.
"Ya sudah lanjut saja mengobrolnya ya," ucap sang Mama sebab ia harus pergi karena ada urusan.
'Tak apa kalau masih malu-malu mengaku, dasar anak muda!'
"Ehm..." Revan berdehem.
"Maaf, Pak Revan. Ponsel saya..."
"Oh ya, ini." Revan menyodorkan ponsel milik Selena yang ia keluarkan dari saku jassnya.
"Terima kasih, silahkan diminum dulu sebelum pulang," ujar Selena.
Revan mengangguk, lantas meraih seggelas orange juice buatan Selena.
"Terima kasih untuk minumannya, aku pamit. Salam buat Mamamu," ucap Revan, karena menurutnya urusan di rumah Selena sudah selesai.
"Oke, biar saya antar ke depan!" Selena bangkit, mengikuti tubuh tegap Revan keluar rumah.
Sampai di depan dahinya dibuat mengkerut dengan kehadiran sosok yang menurutnya sangat familiar.
"Amel..." Sapa Revan.
"Mas Revan." Amel terkejut lantas melirik sang Kakak yang terdiam kikuk di belakang tubuh tegap Revan.
"Hah? ini rumah Amel Mas," ujar Amel sambil meringis.
"Astaga, Kakak gak tau, Mel. Jadi kamu?"
"Aku adeknya Kak Selena," ujar Amel menjelaskan.
"Gak mampir masuk dulu Mas, dah lama kita gak ngobrol. Rea apa kabar?" cerca Amel.
"Rea sehat, next time saja ya. Aku keburu pulang ke Bandung."
Amel mengangguk sebagai jawaban, sementara Revan pamit pulang, kini tinggalah Amel dan Selena yang bersitatap setelah kepergian Revan.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Selena celingukan, melihat ke belakang barangkali menemukan Tama disana.
"Iya sendiri. Mas Tama sibuk," ujar Amel.
"Hm, baguslah. Jadi aku nggak mati kutu ngeliat kalian pacaran!"
"Hm, nyesel ya nolak Mas Tama?" cibir Amel.
"Nggak, nggak ada. Kan aku udah bilang ada laki-laki lain yang aku sukai." kekeh Selena.
"Dan laki-laki itu jangan-jangan Mas Revan? udahlah kak, susah ngarepin Mas Revan, dia itu cinta banget sama Mba Najira. Kak Selena sih belum tahu masalalu mereka kaya gimana, rumit!" jelas Amel.
"Bodo amat sama masalalunya!" Selena melengos, berlalu meninggalkan Amel yang selalu ceramah akan pilihan hidupnya jika gadis itu sudah pulang ke rumah.
"Astaga, batu banget punya kakak! Awas kalau nanti sakit hati bagi-bagi," maki Amel setengah berteriak.
***
Di hati orang yang tepat, kamu akan mendapatkan tempat~
Seperti apapun dirimu, akan selalu berharga sepanjang waktu.
Tidak sementara, tapi selamanya~
"Masih sakit nggak? udah enakan belum?" tanya Bara sambil memijat-mijat kaki Rea. Seharian mengajak wanitanya jalan-jalan bukan hanya berakhir senang tapi juga pegal di sekujur tubuh sang istri.
"Enak banget pijitan Mas Bara, langsung ilang deh capeknya, jadi makin sayang." Rea tersenyum, ia sangat bahagia dimanjakan suaminya.
"Nanti kamu kasih reward aku ya!" Bara mengedipkan matanya sebelah.
"Boleh deh, aku kasih lebel suami idaman." Rea mengulum senyum.
Bara meluruskan kakinya, menatap sang istri yang bersandar di kepala ranjang. Kamar vila dengan pemandangan laut lepas cukup menyenangkan sekalipun mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Apalagi, masa cuma lebel."
"Apa ya, mau aku kasih hadiah uang, Mas Bara udah kaya sejak lahir hehehe."
Bara terkekeh, "kata siapa kaya? aku gak punya jet pribadi," ucap Bara merendah.
"Terserah Mas Bara deh!" Rea mengerucutkan bibirnya, seharian tadi Bara mengajaknya keliling pulau, dan kini suaminya itu harus menanggung keluh kesah capek dan letihnya dengan memijat seluruh tubuh Rea.
"Gemes banget deh, anak siapa ini?" goda Bara. Ia semakin mendekat ke arah Rea, hingga jarak diantara keduanya semakin terkikis.
"Hai sayangku di dalam sana, jangan nyusahin Mama ya! Tos dulu sebelum tidur," ucap Bara, mengajak ngobrol janin di dalam perut Rea lalu mengusap-usapnya.
Seperhatian itu Bara dengannya, hingga Rea selalu bisa merasakan moodnya baik-baik saja jika menempel dengan sang suami sebab perasaannya selalu berubah menjadi hangat.
"Iya, Papa! disayang juga boleh," jawab Rea dengan suara imut dan bibir melengkung senyum.