SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
120. Sugar season 2



Galen menggeram pelan, "dari mana Om dapatin rekaman ini? Bukannya cctv tangga kata mama rusak?" tanya Galen. Kekecewaan jelas terlihat di matanya mengingat Liora bukan tipe ibu setega itu.


"Mamamu hanya merusak cctv sekitaran tangga. Ia melupakan kalau bekas kamar Alira depan pintu ada cctv yang masih aktif. Cctv yang berseberangan dengan tangga. Sebenarnya bukan hanya itu, salah seorang pelayanmu tanpa sengaja tahu kejadiannya dari jauh. Hanya tak berani mengungkapnya di depan mamamu."


Glek.


Galen menggelap, ia mengepalkan tangan tangannya. Sementara Karla merasa lega sekaligus sesak di waktu yang sama.


Lega karena Galen akhirnya tahu kebusukan mamanya. Sesak karena meski sudah mendapatkan Galen ia masih tak mendapatkan kepercayaan laki-laki itu bahkan Karla merasa hidupnya jauh lebih buruk dari sebelumnya.


"Kita cerai saja." Di luar duga, Karla mengucapkan kata itu tanpa melihat ke arah Galen. Malah mengalihkan pandangannya menahan tangis, serta meredam sakitnya sebisa mungkin.


"Karla! Jangan gegabah," seru Alesya menenangkan Karla. Apalagi pernikahan mereka masih dalam hitungan hari. Semudah itukah cerai?


Reivan keluar, ia meminta Wilson dan Liora masuk. Kemudian memperlihatkan video kiriman dari Arsen pada mereka berdua. Liora menelan salivanya berat, seingatnya ia sudah merusak cctv depan kamarnya dan Galen. Liora lupa kalau di rumah besar itu, lorong seberang, kamar yang tak lagi terjamah olehnya dan Wilson masih ada cctv aktif. Itu artinya, selama ini Reivan tahu semua kebusukan keluarganya? Bisa jadi.


Setelah terdiam begitu lama dan masih tak mengaku, Karla akhirnya memberanikan diri menatap mertuanya. Sementara Alesya dan Reivan memilih keluar sebentar, tapi tangan Karla sungguh menahan Ale agar memberinya kekuatan. Jika Galen saja tidak mempercayainya, itu artinya Karla harus menghadapi mereka bertiga sendirian dan Karla tak mau itu. Mungkin terkesan ia tak memiliki malu, tapi jika bukan Ale? Siapa yang akan perduli dengannya disini? Karla sungguh menyesal telah menodai persahabatan mereka dengan pengkhianatan. Bahkan kata maaf saja tak akan cukup untuk menghapus kesalahan fatal Karla.


"Kalau tante sama Om dari awal nggak berniat menerima aku. Harusnya cukup tahan Galen agar pernikahan kita tidak terjadi." Karla menerawang. Meski bukan sosok calon ibu yang baik, ia sudah membayangkan bagaimana akan menjalani kehidupan menyenangkan berdua dengan bayinya.


"Papa menikahkan kalian karena memang Galen benar-benar harus bertanggung jawab padamu. Masalah ini, jauh diluar kendali papa Maaf," ujar Wilson. Pria baruh baya itu bahkan sudah suram sejak melihat fakta istrinya sekejam itu. Tega mencelakai mantu hingga kehilangan calon cucunya.


"Minta maaf, Ma! Mama udah salah kali ini, bahkan mama tega menghilangkan nyawa cucu mama sendiri," tegur Wilson.


"Karla aku keluar bentar ya," bujuk Alesya, ia sungguh tak nyaman berada di tengah-tengah konflik mereka.


"Tapi Al," tahan Karla.


"Kamu bisa menghadapi semua ini, kamu kuat. Aku gak tahan bau obat dan mual, karena aku lagi hamil," bisik Alesya pelan agar mereka yang disana tak mendengar.


"Sorry," cicit Karla dengan air mata meleleh di pipi.


"Tenang!" Alesya mengusap lengan Karla kemudian mengajak Reivan keluar.


Memutuskan pulang karena Ale pikir sudah terlalu lama di rumah sakit. Biarkan Karla menyelesaikan urusan keluarganya. Alesya bukan sedang balas dendam, niat itu memang ada. Tapi dia terlahir sebagai wanita baik-baik, bahkan ketika melihat orang yang pernah dibenci mendapat karma di depan mata pun Alesya masih memiliki rasa empati.


"Itu bukannya bang Ke?" tanya Alesya kala mengenali mobil Kenaan berada di parkiran rumah sakit. Dan terlihat jelas Kenaan masih bersandar di kemudi dengan kaca mobil terbuka.


"Iya ngapain Kenaan disini?" tanya Reivan.


"Ayo kita sapa?" ajak Ale.


Akan tetapi sepasang pasutri itu kompak sembunyi saat melihat Kenaan keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka.


"Sembunyi, ketauan nggak ya?" bisik Ale.


"Enggak, kayaknya enggak!"


Reivan dan Alesya mengikuti arah jalan Kenaan dimana terus melewati koridor rumah sakit. Keduanya kompak mengikuti kemana Kenaan pergi dan berhenti di depan salah satu ruangan.


"Bukannya itu ruangan salah satu dokter?" tanya Alesya. Setengah berlari ia mendekat ke pintu yang sudah tertutup itu. Sialnya tak ada celah sedikitpun baginya.


"Ck! Gagal ngintip," decaknya di depan pintu membuat Reivan terkekeh dengan tingkah istrinya.


"Ayo pulang, nggak baik kepo urusan orang lain."


"Bang Ke bukan orang lain, Mas! Ngapain coba masuk ke ruangan dokter,--" Alesya sampai mendongkak dan membaca nama yanga ada disana.


"Dokter Giselle?" gumamnya pelan.


"Ini bukan Giselle yang 19 detik itu kan," sambungnya lagi membuat Reivan semakin tergelak.


"Kayaknya kamu lapar, mau makan apa biar fikirannya positif. Kasian calon anak kita kalau mamanya mikir aneh-aneh. Udah lah, paling bentar lagi dibawa pulang terus dinikahin," seru Reivan menenangkan.


Tapi Ale malah menoleh dan melotot ke arahnya. Tak kehabisan akal, Alesya meraih gagang pintu yang ternyata dikunci dari dalam.


Ngapain abangnya masuk ruang pribadi dokter pakai dikunci dari dalam? Sakit? Atau butuh perawatan pribadi?