SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 87



Kenaan Alnav kalbara, bayi gembul milik Bara dan Rea akhirnya telah diberi nama. Nama yang tentu sudah mereka siapkan berdua jauh-jauh hari sebelum baby-nya lahir. Bara dengan sigap menggendong Kenaan, bergantian dengan Rosa yang saat ini memutuskan pulang untuk membersihkan diri, Alex dan Neya pun tak mau kalah ingin menggendong cucu pertama mereka. Sementara Revan baru datang bersama Selena.


"Ganteng banget, cucu oma!"


"Ganteng dong Oma, Mamanya aja cantik kok," jawab Bara seolah mewakili Kenaan, si bayi gembul yang tersenyum dan terus menggeliat di gendongan Bara.


"Bara, boleh Ibu gendong dulu, kamu ngobrol aja sama Rea."


Bara mengangguk, lalu menyerahkan Kenaan dalam gendongan Neya.


"Kapan boleh pulang, Mas?" tanya Rea tak sabar, sebab ia sudah jenuh dan ingin segera pulang ke rumah meski belum sepenuhnya bisa mengurus Kenaan.


"Besok sudah boleh pulang sayang, sabar ya? pasti kamu jenuh." Bara mengusap-usap pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Ada Revan dan calon istrinya datang," bisiknya.


"Hah? jangan ngadi-adi kamu, Mas." Rea menatap Bara tak percaya, melirik ke pintu dan tak berselang lama Revan masuk bersama Selena.


"Wah!" ucap reflek Rea dan langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.


"Hai, Dek. Gimana keadaan kamu? selamat ya," ujar Revan.


"Makasih Mas Re, kok bisa barengan kak Selena?" tanya Rea.


Selena tampak kikuk dan canggung, ia tak begitu akrab dengan Rea meski sudah pernah ke rumah adik Revan itu dengan Amel dan teman-temannya.


"Gak sengaja ketemu kok, tadi di Mall." jelas Selena.


"Boleh gendong baby-ya nggak?" tanya Selena ragu-ragu, sebab seperti yang terlihat baby Kenaan sedang bersama Oma dan Opanya.


Rea dan Bara mengangguk tersenyum, tak berselang lama Kenaan sudah berubah posisi jadi berada di gendongan Selena.


Diam-diam Revan mengamati gadis itu, meski belum menikah Selena tampak mahir dalam memegang bayi, bahkan Kenaan berulang kali tersenyum dan mengeliat senang dalam gendongannya.


"Ayah sama Ibumu akan lama disini, gak apa-apa kan? biar kami puas gendong Kenaan," ujar Alex.


"Gak apa-apa Ayah, Rea justru seneng, begitupun Mas Bara. Kalau bisa kak Revan juga lebih lama disini," pinta Rea.


"Hm, Rea benar. Rumah kami lebih dari cukup untuk tinggal. Nanti, biar Ibu sama Mama yang urus syukurannya Kenaan!" ujar Bara.


"Ibu sih mau-mau saja nak, dengan senang hati malah."


"Van, kapan kamu mau menikah lagi?" tanya Alex.


Revan menghela napas, "entah, Ayah. Kenapa terus mendesakku menikah, kan sudah ada cucu dari Rea."


"Ya, tapi istrimu sudah lama pergi. Dan kamu ini laki-laki, jangan sampai jajan sembarangan di luar sana. Lebih baik menikah sesegera mungkin."


"Lucu banget, hm." Revan tak mengindahkan ucapan sang Ayah, memilih menggoda baby Kenaan yang nyaman di gendongan Selena.


"Iya lucu," ujar Selena malu-malu terlebih saat tubuh Revan sangat dekat dengannya, walaupun dekatnya mereka bukan karena cinta tapi karena keberadaan baby Kenaan di gendongannya.


***


Esok setelahnya Rea sudah diperbolehkan pulang, dan kebahagiaannya semakin sempurna sampai rumah saat mendengar sahabatnya Amel akan menikah dengan Tama. Bara sedikit terkejut, pasalnya Tama sendiri bilang padanya untuk pacaran lebih dulu dan menunggu Amel selesai kuliah, tak disangka keputusannya berubah dalam hitungan hari.


"Tama pasti ngeprank nih, dari awal dia emang mau nikah cepet-cepet cuma ditutup-tutupi dari aku dan papa," ujar Bara dengan nada mengomel.


"Jangan berburuk sangka Mas, lagian demi apa Mas Tama sama Amel nggak ngomong, atau ngabarin kita."


"Awas aja itu anak, belum ada ngomong apa juga ke Papa!" Bara mendumel, antara kesal juga syok sebab mendengar keputusan Tama menikah. Bukan karena tak boleh, ia mengenal Tama sejak dari jaman SMA dan sudah menganggap laki-laki itu lebih dari sekedar sahabat, apapun yang Bara perlu, butuhkan dan lakukan selalu mengandalkan Tama tapi sekarang?


Bara baru saja selesai membicarakan Tama, laki-laki itu muncul bersama Amel di hadapannya.


Bara marah, akan tetapi tak bisa meluapkan pada sahabatnya itu. Mau tak mau, akhirnya ia merangkul Tama untuk mengajaknya bersantai di depan bersama Revan.


"Rea, maaf ya. Baru sempat kesini," ujar Amel meletakkan bingkisan ke atas meja, matanya celingukan mencari sosok bayi mungil Rea yang diklaim sebagai ponakannya.


"Mana ponakanku?" tanyanya.


"Di kamar, tidur sama Ibu. Gimana persiapanmu?" tanya Rea to the point.


"Duhhh, aku super gugup iya. Gimana gak kaget, orang kita kepergok lagi ciuman dan Mama langsung ngultimatum kami buat nikah!" jelas Amel.


"Hah?" Rea membulatkan mata sebentar, tak berselang lama ia terbahak.


"Nasibmu!" ujar Rea yang memegangi perutnya karena tawa mendengar nasib Amel dan Tama.


Lain halnya di depan, tiga laki-laki seumuran itu berbincang sambil menikmati kopi buatan Bi Liam.


"Jadi kenapa bisa dadakan? aku tau kau bukan orang yang dengan mudah mengambil keputusan. Tiba-tiba menikah dalam hitungan hari, benar-benar gila. Aku aja sebulan mepet banget!"


"Iya, awalnya juga aku dan Amel sepakat nunggu Selena. Ini semua gara-gara kamu lho, Ra. Kamu ikut andil," ujar Tama.


Sementara Revan memilih diam menyimak pembicaraan mereka.


"Kok aku?" Bara menunjuk dirinya sendiri.


Tama pun menceritakan semuanya hingga berhasil memancing tawa Bara dan Revan.


***


Acara pernikahan Tama dan Amel pun terlaksana meski hanya sederhana. Gadis itu tak hentinya tersenyum meski hatinya gugup tak karuan. Bara dan Rea menyempatkan hadir di acara sakral itu meski tanpa si Baby. Rea terpaksa menitipkan Kenaan pada Neya sebab usianya belum ada satu minggu. Beruntung stok asi miliknya melimpah, meski jujur dalam hati Rea tak tega meninggalkan baby gembulnya. Namun, diacara Amel dan Tama ia juga ingin menyempatkan datang dan menyaksikan sahabatnya menikah.


"Selamat ya, kalian akhirnya!" Rea memeluk Amel setelah Amel dan Tama resmi menjadi sepasang suami istri.


"Makasih Rea sayang." Amel balas memeluk Rea.


Tak ingin kalah, Bara pun melakukan hal yang sama, memberikan selamat untuk Tama dan memeluknya.


"Thanks, makasih banyak!" ujar Tama yang tak bisa menyembunyikan bahagianya.


"Mas Bara, aku ke Kak Revan sebentar ya?" tanya Rea.


Bara mengangguk saja, "kalau bisa segera bujuk agar lekas menikah juga," bisik Bara berpesan pada sang istri. Rea mengangguk, meski tak yakin bisa membujuk Revan atau tidak.


Dengan langkah pelan mendekati Revan yang tengah mencuri perhatian Selena. Ya, Rea melihat kakaknya diam-diam tengah memperhatikan Selena dari jarak jauh.


"Ehm, kalau suka samperin kak. Toh selama ini kak Selena suka banget sama kakak."


"Apaan sih, Rea. Kakak gak punya fikiran buat menikah lagi," ujar Revan mengelak tindakannya meski ketahuan oleh sang Adik.


"Kak, Mba Najira itu udah tenang disana. Dan kakak nggak mungkin selamanya seperti ini. Biar, Mba Najira punya tempat dan ruang sendiri dalam hidup kak Revan, tapi bukan berarti Kakak nggak akan melanjutkan hidup bukan? Cobalah membuka hati, karena aku juga pengen liat Kak Revan bahagia sama pasangan dan punya anak."


Revan terdiam, ia sendiri juga bingung harus seperti apa?


"Liat kak Selena, dia bahkan menolak perjodohan dengan Tama karena kakak, karena dia menyukai kakak bahkan sejak kalian masih bekerja satu kantor!" terang Rea.


Deg.


Revan tertegun, ia memang sedikit banyak tau bahwa Selena menyukainya. Namun, hal yang tidak ia tahu adalah penolakannya pada laki-laki sempurna seperti Tama demi dirinya. Demi dirinya yang tak lebih dari apa-apa.


LIKE KOMEN RATE DAN VOTE YA KAK😂