SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
118. Sugar season 2



Dengan wajah babak belur kebiruan, Galen mengendarai mobilnya menuju rumah Karla. Ia sampai mengabaikan teriakan Liora kalau Galen akan menghampiri gadis itu. Sementara Wilson terduduk lemas setelah berhasil menguasai diri.


"Kau masih membela anakmu itu, huh? Kau bahkan mendukungnya untuk jadi manusia pengecut?" sindir Wilson yang sudah lelah dengan tingkah anak dan istrinya.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita harus memperhatikan kasta dan tahta? Karla bukanlah calon yang sesuai dengan bibit bebet bobot keluarga kita," keluh Liora.


"Lalu? Itu tidak berlaku jikalau gadis itu hamil. Bagaimanapun, Galen wajib tanggung jawab. Lihatlah Alesya, dia bisa bahagia tanpa Galen kenapa Galen tidak?"


Liora terdiam, ia tak mungkin memberitahu alasan Kenaan menghajar habis Galen tadi.


"Jika Kenaan marah karena Galen masih mengusik adiknya, itu hal yang wajar. Karena dari awal Galen sudah salah. Posisikan dirimu sebagai Alesya sebelum kamu terus membela kelakuannya. Belakangan Reivan memutus semua hubungan bisnis dengan kita, itu cukup membuatku pusing. Jangan menambah pusing lagi dengan kebodohanmu Liora."


"Apa? Tapi bukannya Reivan sangat mencintai adik kecil kita," pekik Liora.


Wilson meminjat pelipisnya, "itu dulu sebelum Reivan tahu semuanya. Setelah scandal Alira terkuak, apa kamu pikir Reivan masih menggantung nama orang yang telah tiada di hatinya. Ada Alesya sudah pasti gadis itu berhasil meluluhkannya, mungkin bisa jadi juga mempengaruhinya untuk tidak berhubungan dengan kita lagi."


"Lebih baik kita menerima Karla." Wilson tampak putus asa, bagaimana lagi. Apalagi Karla mengandung anak Galen saat ini.


Galen melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah orang tua Karla, tanpa sadar ia berhasil menyerempet seorang perempuan. Namun, karena terburu ia tak menghiraukan dan malah semakin kencang melajukan mobilnya.


"Galen, ternyata kamu masih aja bersikap kejam ya? Setelah mencampakkanku, bahkan kamu berusaha membuatku celaka," gumam Karla meringis menahan sakit saat lengannya terluka. Ia bahkan terjatuh kalau tak seseorang berhasil menangkapnya.


Galen mengetuk pintu, di depan rumah orang tua Karla yang tampak sepi senyap ia juga khawatir tak mendapat kesempatan memperbaiki semuanya.


"Karla," panggilnya sambil terus mengetuk pintu.


"Ada apa?" ketus mama Karla setelah membuka pintu dan melihat yang datang ke rumah ternyata adalah Galen. Pria breng sek yang telah merusak dan meniduri putrinya.


"Tante, aku mau ketemu Karla, Tante!" seru Galen memohon. Sambil berusaha celingukan berharap Karla dengan senang menyambut datangnya dan segera keluar. Namun, harapan itu pupus kala melihat abang Karla keluar dengan mata melotot tajam ke arahnya.


Galen mendelik, merasakan luka pukulan Reivan dan Kenaan saja masih begitu nyeri dan sekarang? Apakah akan terulang oleh bogeman abang Karla?


Mundur selangkah akan tetapi saat tubuhnya membentur tiang teras rumah Karla, pukulan bertubi-tubi melayang ke arahnya. Setelah itu Galen tak mengingat apapun. Tubuhnya nyeri sakit bersama luka yang ia terima karena kesalahannya sendiri.


Saat terbangun, Galen mendapati Karla duduk menatapnya datar. Galen direbahkan abangnya di sofa ruang tamu. Sementara Karla datang karena seseorang mengantarnya setelah insiden mobil Galen menyerempet lengannya.


"Kenapa Gal? setelah apa yang udah kamu lakuin ke aku kenapa harus datang lagi?" tanya Karla tanpa kedip dan ekspresi.


"Mama kan sudah bilang, gugurkan saja! Terbukti kan dia mau nyelakai kamu," seru mama Karla saat tahu Galen hampir menabrak dirinya di jalan tadi.


"Maksud tante apa? Saya kesini untuk tanggung jawab," seru Galen. Lalu beralih menatap Karla.


"Tanggung jawab?" terdengar helaan napas panjang mama Karla. Sementara abang Karla melewati mereka begitu saja karena masih sangat kesal dengan Galen dan keputusan Karla membiarkan laki-laki itu tinggal meski hanya sampai sadar.


"Saya ingin menikahi Karla," ujar Galen disela rasa sakitnya.


Harusnya Karla merasa senang, tapi entah kenapa ia fikir ada yang tidak beres.


"Kenapa baru sekarang Gal? Apa karena Alesya sudah gak mau sama kamu lagi?" tanya Karla.


"Sudahlah Karla, lebih baik kalian menikah tak apa buat status." Usul sang mama membuat Karla menghela napas.


Disaat Alesya dan Reivan bahagia karena kabar hamil Ale. Tidak dengan keluarga Wilson yang terpaksa merestui pernikahan Galen dan Karla. Pernikahan yang diadakan sangat sederhana, tertutup dan cenderung hanya keluarga dan kerabat yang datang. Meski begitu, Reivan menjadi salah satu tamu diantara kerabat itu. Ia datang seorang diri karena merasa tak enak jika tak datang.


Ucapan selamat ia khususkan untuk Wilson, bukan Galen. Karena terus terang untuk Reivan berbasa basi itu hal yang sangat tak mungkin. Ia terlanjur kesal dengan Galen karena kejadian di lombok beberapa hari yang lalu.


"Gimana kabar istrimu?" tanya Wilson pada Reivan.


"Baik, Mas. Hanya saja sedang hamil dan lemah jadi aku datang sendiri," seru Reivan. Namun, definisi sendiri bagi Reivan tak benar-benar sendiri. Nyatanya kemanapun pria itu pergi selalu ada Arsen di belakangnya.


Tak lama, Reivan pulang. Ia khawatir karena meninggalkan Alesya terlalu lama padahal saat ini mereka memutuskan tinggal sementara waktu di rumah Bara dan Rea. Mengingat Alesya kandungannya lemah dan Reivan tak ingin ambil resiko meninggalkan Ale sendiri di rumah saat bekerja.


"Kok udah pulang Mas? Udah selesai emangnya?"


"Belum, tapi males ah. Mending nemenin kamu dan debay," serunya. Padahal perut Ale masih datar-datar aja.


"Beneran? Jangan-jangan mas bikin rusuh," tuduh Ale membuat Reivan memilih merebahkan tubuh di samping sang istri. Reivan meminta Alesya mendekatkan wajah.


Sejurus kemudian mengujani istrinya dengan kecupan-kecupan kecil di pipi kiri dan kanan, kening, hidung terakhir di bibir.


"Calon mama ini makin bawel yah, aku ngantuk sayang! Tidurin," serunya tanpa filter.


"Apaan?" sengak Ale. Nyatanya meski tubuhnya lemas karena awal kehamilan ia masih mampu melawan Reivan dengan kata-katanya.


"Bang Kenaan tadi nyusulin kesana? Emang beneran dateng?" tanya Alesya membuat Reivan mengernyit.


"Gak ada Kenaan disana! Beneran."


"Masa? Tapi tadi bilangnya,--"


"Paling keluar kali, cari angin. Dah yuk tidur, mumpung aku lagi gak kerja dan Arsen gak rewel telpon-telpon." Alibi Reivan menarik Alesya agar merebahkan tubuhnya.


"Al," panggilnya.


"Hm, iya mas?"


Reivan menatap Alesya lekat, "kamu masih ada perasaan sama mantan kamu itu nggak?" tanyanya tiba-tiba.


"Maksud Mas?" tanya Ale.


"Belakangan aku merasa pengen banget bilang gitu, tapi takut kamunya masih gamon!"


"Bilang apa? Gamon apa? Soal Galen? Enggak lah," elak Alesya.


"Meski kadang cinta itu gampang berubah jadi benci, tapi aku ragu kalau kamu sudah benci sama Galen-mu! Al, gak tau bekas siapa pemilik hati kamu yang jelas sekarang jangan lagi mikirin orang lain selain aku," seru Reivan. Sungguh pernyataan cinta yang belibet.