SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 36



Rea merasa dirinya semakin menegang, belum selesai keterkejutannya dengan reaksi tubuh yang menuntut penasaran. Bara terus menerus menyerangnya dengan kata-kata manis.


Menikah? hah, dia bahkan baru menduda satu bulan. Ingin rasanya Rea menggetok kepala Bara. Namun, banyaknya momen yang mereka lewati membuat Rea merasa waktu seakan berjalan lambat, sangat lambat. Menunggu Bara lebih lama lagi mungkin akan terasa menyesakkan, meski Rea sangat sadar bahwa hubungannya masih seperti hujan kemarin yang membasahi tanah kering.


Rea melepas tangan Bara yang melingkari perutnya, untuk kemudian membalikkan tubuh. Dengan senyum menggoda mengalungkan tangan, seperti rasa penasaran menuntutnya untuk terus menempel pada Bara.


"Baru menduda, sudah mau nikah lagi, memangnya Mas Bara beneran udah nggak tahan?" tanya Rea dengan senyuman manisnya.


Namun, godaan Rea tak berarti apapun karena di mata Bara, Rea tetaplah Rea si gadis polos yang menggemaskan.


"Kenapa, kamu mau tahu hm?"


"Mau tau rasanya, Mas."


"Jangan harap bisa menggodaku Rea, kau mau mengulangnya? Menggodaku lagi? ayo kita ingat sama-sama hal paling indah malam itu," bisik Bara.


"Kau sungguh menyebalkan, Mas." Rea mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka saling menempel dan hembusan napas hangat bersautan.


"Tapi kau menyukainya kan, Re?" Bara melingkarkan tangannya lebih erat agar tubuh Rea semakin dekat, malam semakin larut tapi tidak dengan dua insan yang sedang dimabuk cinta.


Rasa penasaran gadis sepolos Rea tentu tak akan Bara sia-siakan begitu saja, jemarinya mulai menyusur lembut inci kulit putih Rea.


"Udah, stop Mas!" Rea mendorong tubuh Bara, hingga ambruk ke atas ranjang, akan tetapi tangan kekar itu langsung menariknya.


Kini posisi Rea tepat di atas tubuh Bara, dan ia membeku beberapa saat sebelum akhirnya Bara membiarkannya mengubah posisi menjadi tidur di sisinya.


"Baru pemanasan, Re. Kamu udah kepanasan!" goda Bara. Pipi Rea sudah bersemu merah, malu-malu tapi juga mau.


"Apa kamu bilang, pemanasan apanya?" gerutu Rea.


Bara memiringkan tubuh, aroma parfum maskulin benar-benar membuat Rea candu untuk berada di dekat Bara, di pelukan laki-laki itu. Lalu tangannya terangkat mengusap rahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis.


Tiba-tiba Rea terkekeh tak kuasa menahan tawanya,


"Mas," panggil Rea.


"Hm." Bara memejam, membiarkan Rea terus menggodanya, dan lihat saja nanti jika batas kelakiannya hilang, habislah Rea.


"Mas, jangan tidur ehh."


"Nggak ada, aku nggak tidur!"


"Itu kamu merem," protes Rea.


"Tapi aku nggak tidur, Rea berhentilah menggodaku atau aku akan memakanmu," Ucap Bara dengan bibir menyeringai tipis.


"Oh, ya?" Rea mengangkat dua alisnya, hingga kening mengkerut.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Bara meraup bibir manis itu dan menjelajahinya dengan tak sabar, Rea yang tadinya terdiam mulai terbawa suasana dan membalas ciuman Bara.


"Eu..mm." Rea tak kuasa menahan suara de sah*nnya saat bibir Bara mulai turun ke area ceruk leher, tubuhnya seperti merasakan sengatan listrik ribuan volt dan detik berikutnya kegiatan panas itu terhenti saat nama Papa Aron tertera memanggil di layar ponsel Bara.


"Ck!" Bara sempat berdecak karena merasa terganggu, sementara Rea hanya bisa menahan tawa melihat kekesalan di raut wajah Bara.


"Bentar, Re. Papa nelpon."


"Hm, iya Mas gak apa-apa." Rea menjadi kikuk dan semakin malu.


Bara berdiri, ia terkejut mendapat tumpukan pesan dari Papanya, padahal ia pergi baru beberapa jam dan biasanya memang ia tak pulang ke rumah, ada apa? pikirnya.


"Hallo, Pa?" sapa Bara di sambungan telepon.


"Hallo, Ra. Kamu masih sama Rea? kalian dimana?" terdengar nada panik suara Aron.


"Kami ada di..." Bara menggantung ucapannya, ia sungguh tidak mungkin bilang sedang berada di hotel bersama Rea, bukan?


"Hallo, Bara. Bisa datang kesini, jika kamu masih bersama Rea? Ke Rumah Sakit Permata Medika?" ujar Aron lagi-lagi dengan suara tergesa.


"Ada apa, Pa?" tanya Bara.


Terdengar helaan napas Aron yang berat di seberang sana.


Bara mengatupkan mulut tak percaya, ia langsung menutup telepon kemudian melihat ke arah Rea lekat-lekat.


"Najira masuk rumah sakit, Re. Apa Revan tau?" tanya Bara.


Rea membulat, "Mba Najira kenapa Mas?"


"Papa bilang, dia jatuh dari tangga dan tak sadarkan diri," gumam Bara.


Rea langsung bangkit, "kita harus kesana sekarang, Mas. Aku hubungi Mas Revan dulu," ucap Rea, tangannya mencari-cari ponsel kemudian mencoba menghubungi Revan.


"Gimana? Diangkat?"


"Nggak aktif Mas, gimana dong?" Rea ikutan panik.


"Ya sudah, besok kita hubungi lagi. Sekarang, benahi dulu pakaian kita lalu pulang." ajak Bara.


Rea mengangguk, akan tetapi saat mereka hampir selesai berbenah hujan deras mengguyur.


Rea dan Bara saling pandang kemudian menghela napas kasar.


"Hujan, Rea. Kita tidak mungkin nekat pulang dalam keadaan hujan deras, kau ingat kan jarak parkiran mobil dari sini lumayan jauh?"


"Aku tahu, Mas. Terus gimana?"


"Aku telepon Papa dulu," ucap Bara, sedikit menjauh. Rea pun melakukan hal yang sama berusaha menghubungi Revan meski harus mengulang berkali-kali.


"Mas Revan dimana? kenapa sulit dihubungi dari tadi?" cerca Rea tak sabar, ia agak menjauh dari Bara karena tak ingin sang kakak tahu bahwa saat ini dirinya sedang bersama Bara.


"Aku baru pulang Rea, mobil masuk bengkel kerjaan numpuk tadi, mana ponselku mati." Terdengar helaan napas Revan.


"Mba Najira, Mas. Mba Najira masuk rumah sakit, barusan Papanya Mas Bara memberi kabar. Bisakah kamu..."


"Apa! Najira? di Rumah sakit mana?" pekik Revan.


"Permata Medika, masih belum sadarkan diri. Mas Revan langsung kesana saja, besok mungkin Rea baru bisa jenguk Mba Najira," ucap Rea.


"Oke Rea." Telepon Revan terputus, ia menghampiri Bara yang juga sudah selesai.


"Gimana, Mas?" tanya Rea, terlebih hujan semakin deras saja.


"Ya gak gimana-gimana, tadi Papa udah nyuruh orang jaga Najira."


"Syukurlah, tapi kok bisa sih?" penasaran Rea. Bara hanya mengedikkan bahu tak ingin tahu.


"Kita nunggu hujan reda apa gimana, Mas?" tanya Rea.


"Kita tetap menginap, kalaupun pulang tetap percuma karena jam besuk rumah sakit sudah tutup. Nanti aku akan terus pantau kondisi Najira dari orangnya Papa."


"Tapi, Mas Revan menuju kesana gimana?"


"Gampang, nanti aku bisa mengaturnya Rea!" ucap Bara berusaha menenangkan gadisnya.


***


Revan, ia langsung menuju Rumah Sakit Permata Medika setelah mendapat kabar dari Rea. Panik luar biasa menyelimuti dirinya, di tengah malam setengah berlari ia menuju meja Resepsionis Rumah Sakit.


"Pasien bernama Najira, Sus?" panik Revan.


"Silahkan ikut saya," ucap orang berbaju hitam yang sengaja menunggu kedatangan Revan.


Revan pun mengangguk, tubuhnya semakin lemas mengekor laki-laki itu yang tak ia tahu siapa.


Hingga langkah terhenti di depan ruang rawat kelas atas dimana Najira berada.


"Bagaimana keadaan kekasih saya, Dok?" tanya Revan saat seorang Dokter keluar dari ruang rawat.


"Pasien kehilangan banyak darah dan masih belum sadarkan diri, satu lagi janin dalam kandungannya tidak selamat," ucap Dokter seraya menepuk pundak Revan sebelum pergi.


"Hah?" gumam Revan, dengan tatapan mata kosong dan tubuh mulai luruh lemas.