
Dari gunung, kita belajar bahwa sesuatu yang indah sangat sulit untuk diraih...
Butuh perjuangan keras untuk merengkuhnya, sebab melihat dari jauh saja tak akan pernah cukup...
Kita harus menjadi terjal untuk menikmati setiap inci keindahannya.
Begitupun kamu, aku harus memantaskan diri lebih dulu, agar kelak kita menjadi sepasang yang saling memberi dan menerima cinta, bukan saling menuntut~
***
"Bagaimana hasilnya?" tanya Najira, saat Revan datang ke butik siang itu membawakan makan siang untuk Najira.
"Hasil rapat, aku naik jabatan tapi hanya sebagai manager," ujar Revan menjelaskan.
"Bukan itu, tapi pembicaraanmu di Bandung sayang?"
"Soal itu, Rea dan Bara akan menikah dalam waktu dekat..." Revan menjeda ucapannya, ia bisa melihat raut wajah Najira berubah seketika.
"Kok bisa? apa Rea hamil?" tanya Najira.
"Ha?? Tidak, hanya saja kedua orang tua Bara kemarin datang ke Bandung. Mereka ingin sesegera mungkin menikahkan Bara dan Rea," ujar Revan.
"Ouhhh." Najira terdiam, jadi Rosa benar-benar menepati ucapannya waktu itu. Najira jadi ingat perdebatannya dengan Rosa, meski begitu ada rasa tidak ikhlas dalam lubuk hatinya melihat Bara menikah lebih dulu.
Sebenarnya, mengikhlaskan itu tidak ada dalam dirinya, yang ada hanya keterpaksaan yang menjadi biasa baginya. Jalani aja dulu, perlahan nanti bayangan lalu akan hilang sendirinya.
"Makanlah lebih dulu," pinta Revan.
"Mas sudah makan?"
"Sudah honey, tadi sebelum kesini, kamu makan dulu. Aku sengaja pesan makanan favorit kamu."
"Mas, kamu ini. Bukannya makan apapun kalau sama kamu itu favorit aku," ujar Najira tersenyum.
Revan hanya terkekeh, ia membiarkan Najira makan sementara matanya terus memperhatikan wajah ayu itu.
**
Najira mengajak Revan untuk melihat kebaya pengantin hasil rancangannya. Rencannya, kebaya itu akan digunakan untuk akad mereka nanti.
"Bagus nggak, Mas? Aku cantik gak pakai ini, impianku buat menikah dengan kebaya hasil desainku akhirnya terwujud."
"Iya, aku bangga sama kamu."
"Hm, dan ini jass yang akan kamu pakai nanti, pasti terlihat gagah dan tampan, kamu cobain gih Mas, aku pengen lihat!"
Revan melihat jam di pergelangan tangannya, lantas mengangguk.
"Oke, tapi bentar lagi aku harus balik ke kantor!" ujar Revan, Najira mengangguk.
"Bagus banget kan, Mas. Keliatan banget gantengnya," puji Najira.
"Kamu kok puji aku terus, Na. Nanti aku gak konsen kerja loh, mikirin omongan kamu."
"Hahaha, ya jangan dipikirin. Lagian bukannya biasa aku muji kamu, Mas."
"Udah ah, kan jadi gak sabar cepet-cepet kita nikah, Na. Tapi kamu gak apa-apa kan kalau Rea sama Bara dulu yang nikah?"
Najira menggeleng, "gak apa-apa, itu hak mereka. Bagus kalau segera menikah, bahaya loh pacaran sama duda, bisa habis adik kamu."
"Sama kaya aku, lama-lama bahaya juga kalau gak nikah-nikah sama kamu," ujar Revan.
Revan akhirnya pamit, ia kembali ke kantor meski enggan ditinggalkan.
Beruntung kantor ia bekerja tak jauh dari tempat Najira, ia bisa sering mengunjungi kekasihnya diwaktu istirahat dan pulang bekerja.
***
Di kantor Alnav group, Tama izin hari ini dikarenakan sakit setelah mengantar Aron dan Rosa ke Bandung tanpa istirahat, sementara Bara dibuat kewalahan dengan ketidakhadiran Tama.
"Iya, Pa."
"Papa dan Mama sudah mengatur semua, kamu dan Rea tinggal ke butik untuk fitting baju."
"Serius, Pa?" tanya Bara tak percaya.
"Hm, kamu harus membayar mahal ini. Tidak mudah membujuk orang tua Rea, kamu tahu kan!"
Bara menghela napas.
"Papa minta apa? Papa kan udah kaya, masa masih mau morotin Bara?"
"Papa sama Mama minta cucu, kalian jangan sampai menunda. Kalau kami tahu, kamu ataupun Rea ingin menundanya. Ya, kami terpaksa akan memisahkan kalian lagi," ujar Aron.
"Hah, semudah itu?"
"Mudah bagaimana maksudmu, Papa bilang seperti itu juga demi kamu. Usia kamu sudah berapa sekarang? mau kamu sudah tua baru punya anak, sementara istri kamu masih cantik?"
"Eh, ya nggak gitu juga. Lagian aku yakin Rea itu setia sama aku, dia gak akan melirik-lirik yang lain." Bara percaya diri, karena menurut Bara, Rea memang gadis yang luar biasa, lain dari yang lain.
"Jangan menaruh ekspetasi terlalu tinggi pada manusia, sebaik apapun sifatnya. Bara, belajarlah dari pengalaman, Rea mungkin mencintaimu, tapi bukan berarti resiko meninggalkan itu nggak ada, bukan! Rawatlah apa yang kamu miliki saat ini, jangan sampai kejadian masalalu terulang lagi."
"Iya iya, Pa. Duh, bijak banget deh. Bara doain Mama makin sayang."
"Hm, dan lagi. Sore ini juga kalian harus ke butik, butik Nara." tegas Aron.
"Oh, No! Nggak, Bara nggak mau pakai baju dari butik Najira!" tolak Bara.
"Terserah, cari sendiri kalau begitu. Yang jelas, akhir bulan ini kalian akan menikah."
Bara membola, dia memang perlu campur tangan kedua orang tuanya untuk mempercepat pernikahan dengan Rea, tapi cukup terkejut dengan hasilnya sebab Aron dab Rosa secepat itu bisa membuat keputusan dengan kedua orang tua Rea.
Rasanya Bara menjadi semakin tak sabar mengajak Rea mencoba beberapa baju pengantin terbaik.
Sore sepulang kerja, dengan semangat ia melajukan mobil menuju kosan Rea. Ia sengaja tak mengirim pesan lebih dulu karena ingin mengejutkan Rea. Sayang, sore itu jalanan sedang padat-padatnya hingga membuat Bara berdecak kesal sekaligus tak sabar.
"Damn!" umpat Bara saat sebuah truk memakan jalannya hingga ia terperanjat. Bara yang melaju kencang, banting stir ke kiri hingga mobilnya menabrak pembatas jalan.
Badan depan mobil remuk sementara Bara dilarikan ke rumah sakit oleh warga setempat.
Aron yang mendapat kabar perihal kecelakaan Bara hanya bisa menatap lemas tubuh sang anak yang terbaring luka-luka dan tak sadarkan diri.
"Pa, astaga bagaimana keadaan Bara, Pa?" tanya Rosa yang datang dengan raut wajah cemas dan tangis.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan Dokter, Ma."
"Bagimana dok?" tanya Aron tak sabar.
Dokter itu menghela napas, memandang Aron dan Rosa bergantian.
"Saya minta maaf, tapi pasien masih belum sadar." Setelah berkata seperti itu, Dokter juga meminta Aron dan Rosa agar melambungkan doa-doa, sebab Bara dalam keadaan kritis.
"Hiks, Bara. Baru juga mau menyambut bahagia, ada saja cobaanmu sayang," ucap Rosa tak kuasa untuk tak menangis ia ikut lemas setelah mendengar keterangan dari dokter.
"Ma, tolong kabari Rea!" pinta Aron.
Rosa semakin histeris, sebab tak sampai hati untuk mengabari Rea tentang keadaan Bara saat ini.
.
.
.
Dear all,
Maaf ya Mas Baranya aku bikin lecet dikit biar ada taburan bawangnya dikit😌