SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 70



Tengah malam, Bara terbangun. Ia menatap wajah cantik sang istri yang tertidur pulas di dekapannya.


Menghela napas pelan, semakin di lihat Rea semakin membuatnya resah meski dalam keadaan lelap. Gairahnya naik hanya dengan tidur memeluk Rea, akan tetapi ia tak bisa melakukan apapun.


Ia hanya bisa menatap tubuh sang istri dengan lemas. Lalu, melangkah pelan ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.


Bara bukan laki-laki yang egois, ia memilih menyiksa dirinya di kamar mandi dengan guyuran air dingin.


Esoknya, Rea terbangun pagi-pagi sekali, ia bukan hanya pusing dan lemas melainkan merasakan mual luar biasa di perutnya.


"Mas, bentar perutku mual banget."


Bara yang tengah bersiap pun menoleh dan melihat Rea meringis dan berusaha berjalan ke kamar mandi.


"Biar ku bantu," ujarnya menuntun Rea ke kamar mandi, seketika Rea memutahkan isi perutnya dan berhasil membuat Bara panik.


"Bentar aku cari minyak kayu putih dulu." Bara memijat-mijat tengkuk Rea agar sedikit membaik.


"Tidak perlu, Mas. Kau hanya perlu terus memijat, ini sudah lebih baik."


"Tidak ada yang keluar? apa yang kamu rasakan?" tanya Bara khawatir. Jujur ini pertama kali dalam hidupnya hingga Bara juga sedikit bingung.


"Hanya mual dan pusing, tapi memang tidak ada yang keluar meski aku memuntahkannya," ujar Rea.


"Tapi apa masih kuat berkendara? apa kita istirahat disini saja?"


"Kita pulang ke rumah Ibu ya, Mas?" mohon Rea. Disaat seperti ini, ia teringat dengan Neya dan mendadak hatinya mellow.


"Baiklah, apapun permintaan kamu!" Bara menyunggingkan senyum.


Rosa dan Aron mencarinya ke kamar, sebab kedua orang tua Bara itu akan langsung ke Jakarta siang nanti sementara Alex dan Neya setelah sarapan pagi akan pulang bersama Revan dan Najira.


"Ada apa sayang? kenapa Rea terlihat tidak baik-baik saja?" tanya Rosa begitu Bara membukakan pintu kamar hotel.


"Sudah panggil Dokter?" tanya Aron.


Bara mengangguk, sementara Rea tertunduk takut akan respon kedua orang tua Bara jika tau dirinya sudah hamil.


"Rea, apa Bara menyakitimu?" tanya Rosa mendekat.


Rea mendongkak, menggeleng.


"Nggak, Ma. Aku hanya kecapekan kok, Ma!" Elak Rea.


"Mama apa sih! Sejak kapan aku suka menyakiti wanita?"


"Jujurlah pada kami, walaupun kami sudah bisa menebak masalah kalian sebelum jujur," ujar Aron.


Bara dan Rea saling tatap, lagi dan lagi Papanya itu selalu tahu apa-apa yang terjadi padanya dalam sekejap.


"Tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Hanya Rea ingin tinggal beberapa hari di rumah ibu, toh kami baru menikah bukan? Bara tak enak jika langsung membawa Rea pulang ke Jakarta."


"Memang harus begitu Bara, tinggalah beberapa hari di Bandung. Urusan kantor, biar Papa dan Tama yang handle."


"Hya, jangan lupa ajak Rea jalan-jalan juga sayang. Mama tunggu kabar baik kalian," ujar Rosa.


"Hm, iya." Jawab Bara dan Rea hampir bersamaan.


"Ayo keluar, kita sarapan. Papa sudah memesan resto hotel untuk sarapan bersama," ajak Aron.


Lagi Bara dan Rea mengangguk.


Susana di resto itu cukup tegang, bagaimana tidak? tepat di hadapan kursi Bara dan Rea adalah Najira dan Revan dan hal itu tak luput dari perhatian Rosa. Namun, semua berjalan nikmat dan semestinya hingga Aron dan Rosa berpamitan kepada orang tua Rea untuk lanjut pulang ke Jakarta.


"Terima kasih, Jeng. Kapan-kapan boleh lah saya kesini," goda Rosa.


"Tentu boleh, kapanpun itu. Iyakan, Yah?"


Alex mengangguk dan tersenyum.


Setelah jam sebelum sarapan, Rosa sempat berpapasan dengan Najira. Kebetulan, ia sudah tak tahan untuk mengumpati mantan menantunya itu.


"Kamu lihat kan, siapa pemenangnya? Bara yang menikah lebih dulu dari pada kamu. Memang, selain mereka pasangan yang sempurna, saya juga sudah tidak sabar untuk mendapat cucu, jadi... Jangan berharap memiliki celah untuk merusak kebahagiaan anakku," ujar Rosa.


"Hahaha, Tante. Rea itu masih terlalu kecil, dan Tante jangan lupa satu hal bahwa orang yang mendampingiku adalah Revan. Tante tidak takut aku menghasut laki-laki itu agar bicara dengan Rea untuk menunda kehamilannya kah? jangan terlalu membanggakan apa yang Tante dapatkan hari ini, karena... Orang lain bisa saja sedang merencanakan hal jahat untuk merusaknya," ujar Najira.


"Kau-, kau sungguh tak takut karma? saya hanya bisa berdoa, kelak kamu tidak akan bernasib menyedihkan dan merasakan apa itu pengkhianatan. Tapi, satu hal bahwa Tuhan itu tidak tidur dan karma tak semanis kurma."


"Aku tidak perduli akan hal itu." Najira mengibaskan tangannya ke atas, ia tak mau berurusan panjang dengan mantan mertuanya.


***


"Rea, tahan ya? kalau mual bilang aja," ujar Bara mengemudi membawa Rea di sampingnya.


"Hm, sudah jauh lebih baik Mas. Cuma kalau pagi memang bakal seperti kemarin kayaknya."


"Gak apa-apa, yang penting kamu dan anak kita sehat," ujar Bara, ia fokus pada stir kemudi agar segera sampai rumah kedua orang tuanya.


Tak butuh waktu lama untuk sampai, kini mobil Bara berhenti tepat di depan rumah Rea tepatnya di belakang mobil Revan depan sana.


"Sayang, Ibu seneng pas kalian mutusin tinggal disini beberapa hari."


"Iya, kebetulan. Karena sudah begini, tidak keberatan bukan jika Najira tinggal disini sampai Revan kembali ke Jakarta?" tanya Alex seketika membuat semuanya diam kecuali Revan sebab laki-laki itu yang membujuk ayahnya.


Rea mengikuti langkah Najira ke dapur, sementara yang lain duduk di ruang tamu.


"Rea, apa kau keberatan jika aku membuatkan mereka semua minum?"


"Tidak, itu terserah Mba Najira tapi untuk Mas Bara biar aku sendiri yang buatkan."


"Oh, baiklah. Aku tahu, kau masih membenciku karena hal ini bukan? tenang saja, aku tak akan mengganggu kalian!" tegas Najira membuat Rea semakin kesal.


Rea kembali, meletakkan teh di hadapan Bara hingga memancing keheranan Alex dan Neya.


Bukan hanya hari itu, tapi juga berlaku di hari-hari berikutnya.


Di dalam kamar, Bara meraih Rea ke dalam pelukan.


"Kenapa, kau terlihat kesal sekali sayang?" tanyanya meski sudah tahu siapa penyebab Rea kesal.


"Aku hanya sedikit kesal dengan Mba Najira yang mencuri perhatian Ayah dan Ibu. Lihatlah, mereka bahkan tertawa lepas dan mengobrol bersama di teras."


"Kamu cemburu?" tanya Bara.


Rea menggeleng, ia tak cemburu hanya kesal.


Bara menghadap Rea, menatap istrinya dengan senyum sebab dari kemarin berusaha menahan diri agar tidak memakan sang istri. Namun, melihat kondisi Rea membaik cenderung emosi membuat gai rahnya semakin tertantang.


Bara menelusupkan telapak tangan di belakang leher Rea, merapatkan tubuh agar lebih dekat.


"Jangan memikirkan apapun yang membuatmu kesal sayang!" bisik Bara. Rea mengangguk, ia pasrah saat Bara meraup bibirnya dengan penuh gai rah dan mendorong tubuhnya pelan ke atas ranjang.


Malam panjang yang seharusnya terjadi kemarin baru akan mulai mereka tuntaskan.