SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
102. Sugar season 2



Brakkkk!


Pyarrr!


Karla melempar semua barang-barang di atas nakas. Hingga pecah berserakan di lantai.


Kesehatan Papanya menurun saat mendengar kabar ia di DO. Hanya dia, tidak dengan Galen. Harusnya mereka sama-sama kena, tapi entah kenapa pihak kampus malah mengarahkan kesalahan hanya pada pihak Karla. Jihan, mamanya mengurung Karla di kamar sebagai hukuman intropeksi diri.


"Makanya, jangan banyak tingkah kamu, Karla! Sudah tau hidup kita itu susah, makin kamu tambah susah dengan kelakuan. Sadar La, kita ini bukan titisan CEO yang gampang melakukan apapun dengan uang. Malu, punya malu kan?" sang Mama mengomeli di balik pintu.


"Mama harusnya bangga, aku cari cara cepat biar kita cepet kaya. Keluarga Galen itu bukan keluarga sembarangan, Ma! Dia bisa beli apapun itu, bahkan jika kita minta mobil!" sahut Karla disela amukannya.


"Tapi sebagai wanita kamu juga harus punya malu dan harga diri. Kalau sampai abang kamu tahu kamu kaya gini? Habis kamu!"


"Aku bosan hidup kaya gini, Ma!"


Jihan berdecak pelan, ia meninggalkan kamar Karla dengan perasaan dongkol. Anak bungsunya itu memang kelewat manja, apalagi selama ini sang suami selalu saja menuruti kemauannya.


Jika sudah begini, ia mau mengeluh pun percuma. Terlalu malu hingga ia kehilangan muka karena ulah anaknya sendiri.


Karla menghentikan amukannya kala mendengar notif ponsel yang membuat matanya berbinar cerah.


Galen, meskipun pada dasarnya Karla kesal karena di DO, ia masih bisa tetap tersenyum saat nama Galen memenuhi layar ponselnya.


"Sok-sokan mau buang aku, padahal udah keenakan!" serunya percaya diri.


"Ya, Galen?"


"Hm, temui aku di caffe XX sekarang!" perintah Galen di seberang sana. Namun, meski dengan nada tak mengenakan, Karla tetap bahagia.


"Oke, aku siap-siap dulu."


Karla berdandan secantik mungkin, ia harus bisa menggoda Galen kali ini dengan lekuk tubuhnya. Bukankah cinta berawal dari manisnya madu ranjang, pikir Karla.


Segera ia melompat jendela dengan susah payah. Namun, rumah dua lantai itu lebih mengerikan dari perkiraannya.


"Gimana turunnya?" gumam Karla. Berfikir sejenak, ia menatap pohon mangga yang mepet bahkan tingginya hampir sama dengan pagar balkon kamarnya.


"Wait, untuk kali ini jadi monyet dulu demi cinta." Karla berdecak, lalu berusaha turun lewat pohon mangga.


Keringat dingin membasahi sebagian wajahnya, akan tetapi hal itu tak membuat Karla urung pergi menemui Galen.


"Gara-gara Mama ngurung aku nih, jadi gini!" ia lantas memesan taksi online untuk segera sampai di caffe yang dimaksud Galen.


Taksi merambat melewati jalanan kota yang sedikit macet. Setelah turun dan membayar tangihannya, Karla gegas masuk ke area caffe XX dimana Galen berada.


Namun, langkahnya terhenti kala bukan Galen yang berada disana. Karla melihat dari kejauhan Tante Liora sedang menunggunya seorang diri.


Dengan tingkat pede sekecamatan, ia berusaha meyakinkan diri jikalau Galen akan mengajaknya menikah, atau membahas hal penting hingga harus melibatkan Mamanya. Atau mereka mau dinikahkan langsung minggu depan? tak ada yang tak mungkin kan?


"Tante," sapa Karla tersenyum manis.


"Duduk!" perintah Liora menunjuk kursi depan dengan dagu. Ia harus sesegera mungkin membereskan gadis pengacau hidup Galen satu ini. Mereka bukan dari kalangan manusia yang setara dari segi harta dan tahta.


"Galen mana, Tante?" tanya Karla.


"Galen? Kamu nyari Galen?" tanya Liora datar. Ia meneguk minumannya hingga tandas. Tak ada basa-basi bagi Liora, ia bahkan hanya memesan dua minuman untuknya dan Karla.


"Mau minum dulu? Sebelum kita bicara?"


Glekkk...


Karla menelan ludah, perasaannya tak enak. Entah kenapa, wajah Mama dari Galen itu sama sekali tak menunjukkan keramahan.


Dengan ragu ia mencicipi minuman itu.


"Berapa uang yang kamu butuhkan untuk menyingkir dari kehidupan Galen?" tanya Liora.


"M-maksud Tante apa?"


"Maksud saya? Berapa saya harus membayar kerugian kamu. Sebagai perempuan, tentu kamu cukup sadar diri tidak bisa dibandingkan dengan keluarga saya." Liora menatap tajam, ia merutuki bibirnya yang kejam. Sebenarnya bukan perkara kasta ia menolak Karla, melainkan tingkah dan attitude gadis itu yang di luar batas nalar.


"Saya nggak butuh uang! Saya cuma butuh Galen bertanggung jawab menikahi saya," akunya percaya diri.


"Cih, menikah? Apa kamu sedang bermimpi di siang bolong?" Liora bersedekap dada.


"Lima puluh juta! Menyingkir dari hidup Galen atau kamu gak akan dapat apa-apa!" tegas Liora.


Karla menaikkan alisnya, "hanya segitu harga sebuah keperawanan?" tanyanya menantang.


Oke! Kalau dia tidak bisa menikah dengan Galen, tapi ukuran lima puluh juta benar-benar merendahkan harga dirinya. Apalagi Galen anak seorang pengusaha kaya.


"Terus? Menurutmu? Berapa harga yang pantas untuk seorang ja lang. Kamu bukan Alesya, kalian beda kelas! Dibanding dengan kamu, Alesya jauh lebih diatasmu!"


Karla menyeringai, "lebih pintar dalam mencari yang berduit maksud tante?"


"Alesya emang beda sih, dia dapatnya langsung CEO, yang mungkin bisa kasih dia black card anti limit. Tapi apa Tante mikir? Membandingkanku dengan seorang simpanan justru membuat citra Tante semakin buruk? Tante mengukur semuanya sesuai kelas. Dan Galen itu kelasnya bukan Alesya, Tante!"


"Kamu tuh ya!" Liora mengepalkan tangannya.


"Kalau begitu, kamu nggak akan dapat apapun! Ingat, kami orang yang bisa melakukan segalanya. Termasuk membuatmu hilang dari hidup ini," bisik Liora sebelum akhirnya pergi.


"Sia lan!" maki Karla.


Aturannya dia ambil uang dari Mamanya Galen tadi, tapi kenapa malah membiarkannya pergi begitu saja bahkan dengan kebencian yang semakin menumpuk.


Dengan tergesa, ia menyusul Liora yang masih berada di area caffe.


"Seratus juta Tante, aku gak akan muncul lagi di hadapan Galen!" tawarnya.


"Delapan puluh juta! No tawar-tawar?" Liora mengernyitkan alis.


"Oke, deal."


Liora lantas mengambil amplop coklat dari tasnya, "sisanya saya transfer! Berikan nomor rekening kamu!" ujar Liora.


Karla mengangguk, ia memberikan nomor rekeningnya pada Liora. Transfer sisa uang pun sudah berhasil Karla dapatkan.


"Tepati janji kamu, ingat itu."


Liora melenggang pergi, meskipun entah Wilson akan marah nantinya atau tidak ia menghabiskan uang sebanyak itu.


***


Baru dua hari menjadi istri Reivan, Alesya tak benar-benar bisa melupakan Galen. Saat sendiri, kembali teringat kenangan pahit manis perjalanan cintanya dengan laki-laki itu.


Apalagi saat hujan seperti ini, rerintikannya pernah menjadi saksi betapa ia sangat menyukai sosok Galen yang romantis.


Sudah hampir satu jam lebih berdiam diri di kamar. Ale tak tahu harus melakukan apa! Sore tadi, Arsen mengantarnya pulang lebih dulu dengan dalih Reivan masih sibuk dengan kerjaannya.


Tak ingin banyak tanya, Ale memilih bungkam.


*Seandainya sejak awal tak kuyakinkan diriku


Tutur kata yang sempurna, tak sebaik yang kukira


Andai ku tahu semua akan sia-sia


Takkan kut'rima cinta sesaatmu


Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?


Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang


Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu


Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan


Tak akan kut'rima cinta sesaatmu


Sial-sialnya ku bertemu dengan cinta semu


Tertipu tutur dan caramu


Seolah cintaiku (cintaiku)


Puas kaucurangi aku?


(Mahalini - Sial*)


Alesya menyanyi, dengan nada yang entah. Mungkin jika orang lain yang mendengar akan menyangkanya teriak-teriak tak jelas. Sebab suara Alesya jauh dari ekspetasi penyanyi idol.


Suara Alesya cempreng-cempreng manja, membuat lagu yang harusnya sedih itu jadi salah kaprah. Namun, Alesya lega meluapkan sakit hatinya seorang diri di dalam kamar.


"Sudah selesai?" Reivan bertanya setelah puas menyaksikan konser dadakan Alesya, dimana sisir ia jadikan mic dan ranjang kamar Reivan ia jadikan panggung.


Bukannya malu, ia malah memarahi Reivan.


"Dasar ganggu banget, gak tau orang lagi sedih apa? Siapin tisu kek," gerutunya mencebik lalu meletakkan sisirnya ke atas nakas dan meninggalkan Reivan. Alesya masuk ke dalam kamar mandi, bukan untuk mandi. Ia tahu Reivan baru pulang.


"Mas, air udah sia--"


"Apa?" Reivan sudah meringsek masuk dan menutup pintu tanpa membiarkan Alesya keluar.


"Sial-sialnya ku bertemu cintaaaa---" Reivan membungkam bibir Ale dengan telapak tangannya.


"Suara kamu bikin sakit telinga, Aleee!"