
Pagi-pagi sekali Bara terbangun, matanya mengerjap beberapa saat lalu tersadar bahwa ia sampai tertidur di kamar kos Rea. Dan satu hal yang membuat hatinya menghangat adalah saat melihat tubuhnya berbalut selimut tipis berdua dengan Rea. Rasa-rasanya Bara enggan terbangun dan memilih berlama-lama di posisi itu. Melihat wajah polos Rea saat terlelap di pagi hari adalah salah satu rangkaian masa depannya.
"Pagi calon istri," gumam Bara seraya menyingkirkan anak rambut yang menutup sedikit wajah Rea.
"Terima kasih sudah berada di sisiku, menemani saat terberatku!" Bara masih bergumam. Membangunkan Rea membuatnya tak tega terlebih langit di luar sana masih sedikit gelap karena jam masih menunjukkan pukul setengah lima.
Lalu dengan sedikit senyum, ia manarik Rea ke dalam pelukan.
"Eummm..." Rea menggeliat sebentar, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di dekapan Bara, seperti menemukan kenyamanan di dalamnya.
"Bangun, Rea." Beberapa saat, Bara mengguncang tubuh Rea saat menyadari langit sudah nampak cerah, sorot sinar matahari bahkan mulai menelusup masuk.
"Heummm," gumam Rea setengah terpejam.
Cup!
Bara mencium bibir tipis itu sekilas hingga berhasil membuat si empu langsung terbangun dan membuka mata lebar-lebar.
"Oh, jadi sekarang banguninnya pakai cium, hm?" goda Bara.
"Aku dah bangun dari tadi Mas, cuma masih merem." Elak Rea.
"Mana ada bangun sambil merem, Re. Kuliah nggak hari ini?" tanya Bara.
"Kok males ya, Mas." Rea malah kembali menyenderkan kepalanya di da da Bara.
"Mana boleh males, ayo bangun. Males-malesannya kalau udah jadi istriku Rea, baru boleh. Aku yang kerja kamu yang ngabisin duit."
"Masssss..." Rea mengubah suaranya menjadi manja.
"Mau bolos hari ini, males banget dengerin mulut orang-orang."
"Ya jangan di dengerin, emang mereka ngomong apa sama kamu, hm? belum tau siapa pawangnya?" ucap Bara.
"Nggak ada apa-apa, tapi ya gitu pasti ada lah orang yang gak suka sama aku."
Meski malas, Rea akhirnya bangkit dari tidurnya kemudian meraih handuk dan baju ganti. Berjalan lemas memasuki kamar mandi. Pun dengan Bara yang memilih memasuki kamar kosnya sendiri, kos yang bagi Bara lebih mirip tempat persinggahan karena Bara lebih sering pulang ke rumah.
Bara sudah selesai mandi, dan keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Van, lama nggak jumpa." Bara menyapa Devan yang baru pulang dan masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Hei, Ra. Apa kabar?"
"Baik, kamu sendiri? gimana tawaranku waktu itu?" tanya Bara. Obrolan singkat soal pekerjaan membuat keduanya sedikit akrab, dan Bara merasa Devan cukup berpotensi untuk kerja di Alnav Group.
"Ya, itu dia. Aku menunggumu, ehm aku berminat kerja di Alnav Group."
"Wah kabar baik, nanti sore boleh lah ngobrol sambil ngopi, aku bakal jelasin syarat-syaratnya." ajak Bara.
"Boleh-boleh. Btw rapi banget Ra, mau kemana?" tanya Devan.
Belum sempat Bara menjawab, Rea sudah keluar seraya menenteng tas bersiap untuk berangkat kuliah.
"Mau nganter ayang, duluan ya!" Bara menggandeng tangan Rea dan berjalan beriringan menuju mobil.
"Ck! kalah start lagi. Baru juga dipantau, udah ada yang punya." Devan menatap lesu ke arah Rea yang tampak tersenyum bersama Bara.
***
"Ngomong-ngomong dua temanmu udah berangkat, Re?" tanya Bara saat mobil sudah hampir sampai kampus Rea.
"Udah duluan Mas."
Bara mengangguk-angguk, kemudian menepikan mobilnya tepat di gerbang masuk kampus.
"Sudah sampai sayang, nanti pulangnya sendiri ya? Aku ada meeting sama clien, mungkin sore baru bisa ketemu kamu."
"Iya, biasanya juga sendiri Mas." Rea mengerucutkan bibirnya.
"Oh, iya ya. Lupa!"
"Yaudah, aku turun. Babay Mas Bara."
"Salim dulu, sama calon suami," goda Bara.
Rea seketika kembali menoleh dan meraih tangan Bara dan menciumnya.
"Hati-hati ya, Re." pesan terakhir Bara sebelum akhirnya Rea benar-benar turun dan melangkah jauh meninggalkan mobilnya.
Bara membuka sedikit kaca mobilnya hingga tampak beberapa mahasiswa yang berada disana saling berbisik.
Saat punggung Rea hilang dari pandangan, barulah Bara melajukan kembali mobilnya.
Baru saja Rea berjalan beberapa langkah, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Kanaya berjalan terburu ke suatu tempat.
"Bukannya itu arah gudang kampus?" gumam Rea. Ia sempat melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian memutuskan mengikuti Kanaya.
"Haiii, ngapain neng kaya maling?" seru Amy melirik curiga ke arah Rea.
"Stttt, Amel mana?" tanya Rea menarik tangan Amy dan mengisyaratkan agar sahabatnya itu terdiam.
"Amel, dia gak masuk."
Rea mengangguk, lantas menuntun Amy dan memintanya diam.
Samar terdengar suara tak asing di telinga Rea.
"Kamu harus nurut, kalau nggak aku bakal bilang ke Rea kalau kamu yang nyebarin gosip di kampus!" Tekan Danis seraya memegang kasar dagu Kanaya.
"Auuu, sakit Dans!" Kanaya mengaduh.
Sementara di balik tembok Rea dan Amy mengatupkan bibir.
"Kanaya, pantes dia..." Rea terdiam.
"Sakit ya, bukannya ini yang kamu mau?" Ucap Danis kemudian meraup bibir Kanaya dengan kasar.
Rea semakin membulatkan mata saking terkejutnya melihat adegan itu.
"Danis memang breng sek!" batin Rea dengan tangan mengepal, ia bukan cemburu bukan! hanya merasa, sial sekali pernah mencintai laki-laki itu.
"Astaga!" gumam Amy yang sama-sama tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ayo balik kelas," ajak Rea.
Amy tak mengerti kenapa Rea ingin pergi? bukankah lebih bagus muncul dan membongkar kebusukan mereka?
"Kok pergi sih, Re. Baguskan kalau kita labrak mereka?" tanya Amy saat Rea menarik tangannya menjauh.
"Nanti, sekalian aku balikin gaun dari Kanaya. Pinter banget tuh orang, ngasih gaun cuma-cuma, sok khawatir kemana aku pergi sampai nanya-nanya ke Mas Revan cuma buat nutupin busuknya dia." Rea mendumel sepanjang jalan, bahkan ketika kakinya sampai di kelas.
"Sabar-sabar, dari awal aku dan Amel juga ngerasa Kanaya itu nggak baik, pasti ada udang di balik gorengan."
"My, kesel aku."
"Udah-udah, nanti kita labrak aja. Sekalian bawa Masmu, biar matanya Kanaya itu melek kalau pacarnya temen aku ini kece badai." hibur Amy.
Sejak kejadian pagi tadi membuat mood Rea memburuk, terlebih saat melihat wajah munafik Kanaya yang bersikap baik padanya. Rea semakin muak dan ingin segera meluapkan kekesalannya.
"Mas, nanti sore keluar yuk?" Rea mengirim pesan kepada Bara.
"Kemana?" balas Bara, hanya selang beberapa detik.
"Ada sedikit masalah, bantu aku menyelesaikannya."
"Oke sayang, sampai ketemu nanti sore." balas Bara.
Rea tersenyum, langkah selanjutnya adalah meminta Danis dan Kanaya menemuinya nanti.
***
Sore itu, meski sedikit mendung tak memutus semangat Rea menunggu Bara di depan kos. Sambil memastikan bahwa gaun yang diberikan Kanaya dalam keadaan baik-baik saja tak tersentuh olehnya.
"Ayo, My. Kamu juga ikut!" pinta Rea meminta Amy bersiap-siap. Bersama dengan itu mobil Bara berhenti di depan gerbang. Pria dewasa itu nampak masih keren meski seharian bekerja.
"Mas, perasaan tadi pagi gak pakai jass?" tanya Rea yang tak mampu menyembunyikan raut terkesimanya.
"Kenapa? ganteng ya?" goda Bara.
"Iya ganteng, yaudah Mas siap-siap gih. Aku ajak Amy boleh kan? soalnya ini mau ngelarin masalah bukan jalan berdua," jelas Rea panjang lebar.
"Iya-iya, kebetulan aku ada janji juga sama Devan."
"Hah, siapa Devan?" Rea mengerutkan kening.
"Itu!" tunjuk Bara pada Devan yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku mandi bentar Rea, kalau ngobrol terus nggak akan berangkat nanti," ucap Bara kemudian bergegas masuk kamar kosnya.
Tak berselang lama, Bara siap pun juga Devan.
"Sorry, Dev. Boleh kan rame-rame gini?" tanya Bara.
"Santai, Ra. Anggap aja adaptasi sebelum healing bareng-bareng," canda Devan.
"Boleh tuh, kapan-kapan agendakan."
Amy dan Rea saling tatap pasrah. Rea duduk di depan bersama Bara sementara Amy dan Devan di belakang bersama rasa canggung. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di caffe tempat Rea janjian.
"Re, kamu nentengin apa sih?" tanya Bara.
"Gaun, mau aku balikin ke yang punya Mas, ayo!"
Rea sengaja meminta Danis dan Kanaya datang, ia yakin kedua orang itu akan datang jika dirinya yang meminta. Benar saja, baru duduk sebentar tampak Kanaya datang dengan napas tersengal.
"Huhhh, sumpah macet! sorry telat Re."
"Hm, Danis mana?" tanya Rea.
"Kamu nyuruh Danis kesini juga?" tanya Kanaya terkejut.
"Hai Re..." Danis terdiam kala mendapati Bara di sisi Rea, Kanaya, Amy dan bahkan satu laki-laki lagi disana.
"Ada apa ini kok rame-rame?" tanya Danis mengontrol emosi.
"Gak usah duduk, kita lagi double date. Aku cuma mau ngasih ini," ucap Rea seraya menyodorkan paperbag pemberian Kanaya beberapa hari yang lalu.
"Loh, Re?" Kanaya mengerutkan keningnya heran.
"Heran ya? aku cuma mau bilang sama kamu dan Danis, berhenti berpura-pura! kalian cocok kok, dan gak usah berlagak munafik lagi di depanku."
"Iya, Rea bener. Kami juga udah tau apa yang kalian lakukan tadi pagi di gudang kampus."
Deg.
Kanaya terdiam, pun dengan Danis yang berusaha meredam kekesalan.
"Aku pikir kita teman? tapi, sedari awal aku memang ragu, kamu itu beneran teman atau bukan. Yang pasti satu hal, nggak semua teman bisa kamu beli dengan materi terlebih untuk memakhlumi kebusukan kamu, Kay!"
"Aku nggak tau apa-apa, hei." protes Danis, sempat melirik tajam ke arah Kanaya.
Bara melipat tangannya di dada seraya memengangi dagu, sementara Devan hanya bisa menyimak lantaran tak mengerti masalah mereka.
"Kalian berdua silahkan pergi. Oh ya, satu lagi dan dengar baik-baik. Mas Bara, ini pacarku! Kenapa emang kalau aku ke kampus dianterin dia? kamu keberatan sampai bilang ke orang-orang kalau aku ini cewek simpanan?"
Kanaya mengepalkan tangan.
"Ya, kenapa? bukannya bener kamu emang simpanan om-om?"