Sincerity

Sincerity
Penuh kejutan part 2



Sudah 2 hari Helena menjalankan ujian di sekolahnya. Hari ini adalah hari ketiga ia melaksanakan ujian tersebut.


Sebenarnya, sudah 3 hari Helena tidak mendapat pesan ataupun panggilan telepon dari kedua orangtuanya yang sedang berada di New York. Helena telepon pun tidak ada yang tersambung. Ia juga sudah mencoba menelepon Kokonya. Namun, tetap saja tidak diangkat.


Kemarin, Helena sudah menelepon sekretaris Papinya untuk menanyakan tentang kabar kedua orangtuanya dan sebab mereka tidak mengangkat telepon darinya. Sekretaris tersebut menjawab jika semuanya baik-baik saja dan Helena tidak perlu khawatir. Namun, tetap saja jawaban itu tak membuat hati Helena merasa lega, ia tetap saja merasa khawatir dan terus kepikiran.


'Ck, ini kenapa sih dari kemarin deg-degan, khawatir. Apa gue yang overthinking? Semoga Mami Papi baik-baik aja deh' batin Helena.


"Hi, Helena!" sapa seseorang yang tak lain adalah Greisy.


Ya, mereka sudah berjanjian untuk bertemu di restoran tersebut karena Helena yang meminta belajar bersama dengan Greisy, atau lebih tepatnya ia meminta kekasih Kokonya itu untuk mengajarkan pelajaran yang menurut Helena sulit dipahami. Sebenarnya, ia juga ingin bertemu dengan Xylon dan meminta kekasihnya itu untuk mengajarkannya sebagai alasan bertemu. Namun, Xylon menolaknya karena ia tidak ingin jika ujung-ujungnya malah berkencan dan bukannya belajar. Padahal, Helena bukanlah tipe orang yang akan terganggu konsentrasinya hanya karena cinta atau pacaran. Justru kalau begini, ia malah merindukan Xylon.


"Hi, Greisy!" sapa balik Helena.


"What's wrong with you?" ujar Greisy yang sudah duduk di hadapan Helena.


"What's wrong with me?" tanya Helena memastikan.


"Of course, emangnya siapa lagi yang aku ajak bicara?" kata Greisy.


"Oh, i'm okay. Kenapa tanya kayak gitu?"


"Karena kamu kelihatan lagi sedih. Why?"


Greisy yang menyadari raut wajah lesu Helena sejak tadi pun, memutuskan untuk bertanya langsung.


"Cerita aja. Who knows, i can help you," sambungnya.


"Koko Denzel ada telepon kamu, nggak?" tanya Helena.


"Hm ... Ada. Tapi, sehari yang lalu. Katanya, dia sibuk dan nggak banyak yang kita obrolin," jelas Greisy.


Helena nampak terdiam mendengarnya. Ia merasa, kenapa Denzel mau berbicara dengan kekasihnya dibandingkan dengan adiknya sendiri?


Sebanyak apapun pekerjaan atau sesibuk apapun Denzel, jika memang ia tak dapat berbicara dengan Helena. Kokonya itu pasti akan mengabarinya sebelum Helena mengirim pesan.


"Hm ... Koko nggak kasih kabar apapun ke aku, Mami Papi juga nggak bisa dihubungin. Ci Shelly udah telepon mereka juga. Tapi, nggak ada satupun yang aktif," curhat Helena yang terus kepikiran karena beberapa hari keluarganya yang ada di New York tak dapat dihubungi.


"Didn't you say they all have work and studies to do? So maybe they are very busy. You also have to focus on studying, don't think about anything just yet ....(Bukankah kamu mengatakan mereka semua memiliki pekerjaan dan studi yang harus dilakukan? Jadi mungkin mereka sibuk banget. Kamu juga harus fokus belajar, jangan pikirin apa-apa dulu ....)" tutur Greisy sembari menggenggam tangan Helena.


"I'm going to the toilet for a bit!" ujar Greisy yang sudah bangkit dari duduknya hendak pergi ke toilet. Helena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah Greisy pergi untuk ke toilet, Helena membuka tasnya dan mengambil sebuah buku pelajaran yang harus ia baca untuk ujian selanjutnya.


Drrrttt... Drrrttt...


Di saat tengah membaca buku, sebuah suara dering ponsel mengalihkan fokusnya yang sedang belajar. Helena melihat bahwa ponsel Greisy tertinggal di atas meja.


Namun, yang membuat Helena merasa senang bahwa Denzellah yang menelepon.


Tanpa berpikir panjang, Helena langsung mengangkatnya dan hendak berbicara sebelum Denzel mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus penasaran.


"Halo, Greisy?" sapa Denzel di seberang sana.


"Greisy, did Helena ask something about me or Mami Papi? (Greisy, apakah Helena menanyakan sesuatu tentang aku atau Mami Papi?)"


"Aku sengaja blokir nomor Helena dulu buat nutupin kecelakaan yang menimpa Mami Papi. Jadi, aku minta tolong ke kamu supaya Helena maupun Ci Shelly nggak nyari tau yang sebenarnya. Walaupun, aku udah nyuruh beberapa anak buahku untuk ngurus kasus ini"


Deg


'Kecelakaan?' batin Helena yang merasa begitu terkejut ketika mendengar bahwa Mami Papinya mengalami kecelakaan. Ia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Kemudian, Helena membuka isi pesan antara Kokonya dan Greisy. Persetan dengan privasi, karena yang terpenting baginya saat ini adalah informasi tentang kedua orangtuanya.


Dibukanya pesan dari Denzel yang mengirim sekitar dua hari yang lalu pada Greisy dan ia pun mulai membacanya.


...Denzel...


^^^| Aku udah teleponin kamu dari^^^


^^^tadi, kenapa ga diangkat?^^^


| Sorry, Greisy.


| My parents had an accident


(Orang tuaku mengalami kecelakaan)


| Therefore, I can't contact you for now


(Oleh karena itu, aku gak bisa menghubungi kamu untuk saat ini)


^^^| I'm sorry to hear that^^^


^^^| I hope they get well soon and^^^


^^^not experiencing severe pain^^^


^^^(aku berharap mereka segera sembuh dan^^^


^^^gak ngalamin nyeri hebat)^^^


| Ya


| I hope so too


^^^| How are their conditions?^^^


| Mereka koma


| Please don't tell Helena


or say something about


the incident that happened to our parents


(Tolong jangan beri tahu Helena


atau katakan sesuatu tentang


| Bcs aku gak mau dia khawatir


terus datang ke New York dan ninggalin


ujian sekolahnya.


^^^| No problem^^^


^^^| I will try to cover this up^^^


^^^from Helena^^^


^^^(aku akan mencoba untuk nutupin ini^^^


^^^dari Helena)^^^


| Thank you, Sayang


^^^| Sama sama♥️^^^


| Then I want to take care of


some important things


| Keep well


^^^| Ok^^^


^^^| Kamu juga^^^


Helena langsung meneteskan air matanya air matanya dan menjatuhkan ponsel Greisy begitu saja. Seketika itu juga, Helena merasa lemas seakan ada sesuatu yang menguras seluruh tenaganya.


'Jadi, Mami Papi kecelakaan udah dari dua hari yang lalu dan gua sama Ci Shelly nggak tau apa-apa soal ini?' batin Helena. Saat ini ia tengah menangis dengan wajah yang ia tutupi oleh kedua telapak tangannya. Pesetan jika saat ini ia sedang berada di tempat umum. Pantas saja, sejak beberapa hari terakhir ia selalu saja merasa khawatir.


Tak lama setelah itu, Greisy kembali dari toilet dan mendapati Helena yang tengah menangis dengan wajah yang ditutupi oleh kedua telapak tangannya.


"Helena!" panggil Greisy. Namun, saat ia ingin menyentuh bahu Helena, ia tak sengaja menginjak sesuatu. Dilihatnya benda yang diinjak, rupanya ponsel miliknyalah yang ada di bawah kakinya itu.


Greisy memungut ponselnya lalu melihat sebuah pesan yang kekasihnya kirim.


Greisy membuka pesan tersebut. Ia mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari Denzel. Isi pesannya adalah 'Kenapa kamu matiin teleponnya?'


Greisy dibuat bingung. Ia menatap ke arah Helena dan ia pun langsung mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


Kemudian, Greisy menyalakan pesan rekam suara di ponselnya lalu kembali memanggil Helena.


"Helena!"


Yang dipanggil pun menoleh, tetapi dengan tatapannya yang tajam mengarah pada Greisy.


Seketika, yang ditatap menjadi gugup. Tetapi, Greisy tetap bertanya pada Helena untuk memastikan.


"Kamu angkat telepon aku, ya?" ujarnya.


"Ya!" sahut Helena.


"Maaf karena langgar privasi kamu. Tapi, aku nggak akan diam aja setelah tau apa yang terjadi sama Mami Papi aku!" sambungnya dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Setelah itu, Helena bangkit dari tempat duduknya sembari berkata, "Aku udah tau semua. Now, I have permission to go home!"


Greisy menahan tangan Helena.


"Are you going to leave your school exams for going to New York? (Apakah kamu akan meninggalkan ujian sekolahmu untuk pergi ke New York?)" ujarnya.


"Mau nggak mau, harus begitu, kan?"


"No, kamu harus selesaikan ujiannya. Baru setelah itu, kamu bisa pergi ke sana!"


"Who are you to stop me like this? (Siapa kamu untuk menghentikanku seperti ini?)" ujar Helena.


"We are friend. But, if you don't think so, no problem. (Kita adalah teman. Tapi, jika menurutmu tidak, tidak masalah.)" sahut Greisy.


"I made a promise to Denzel. So, I beg of you to help me not to break that promise. Please calm down! God is with us. We should pray for the safety of your parents. After all, your exams are only a few days away. So, finish your exam first, then we will go to New York. I promise, Helena! (Aku berjanji pada Denzel. Jadi, aku mohon kepada kamu untuk membantu aku untuk gak ngelanggar janji itu. Tolong tenang! Tuhan bersama kita. Kita harus berdo'a untuk keselamatan orang tuamu. Lagi pula, ujian kamu hanya beberapa hari lagi. Jadi, selesaikan ujianmu dulu, lalu kita akan pergi ke New York. Aku berjanji, Helena!)"


Sambungnya yang memberitahu sekaligus menasihati Helena sebisa mungkin supaya gadis itu mau menuruti ucapannya.


Helena terdiam mencerna semua perkataan Greisy. Ia tak merespon, Helena langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan Greisy begitu saja tanpa sepatah katapun. Namun, langkahnya harus terhenti saat ia melihat Roy yang tengah bersama seorang wanita muda yang sedang bermesra-mesraan. Ia pun dengan tatapan penuh emosi, menghampiri Papi kandungnya itu dan langsung menggebrak meja.


Brakk


Roy maupun gadis muda itu tersentak kaget. Mereka langsung menatap Helena. Sementara Greisy, ia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Helena. Ia pun langsung menghampiri gadis itu sebelum membuat keributan karena tatapan dari pengunjung restoran yang lain pada Helena dan hal itu harus segera Greisy cegah sebelum Helena kena tegur manajer restoran tersebut.


"Helena?" ujar Roy yang merasa terkejut dengan kehadiran putrinya.


"Masih inget namaku, Pi? Kalau masih inget, apa Papi nggak kepikiran apa yang bakal terjadi dengan Papi ngelakuin ini?" sentak Helena dengan nada cukup tinggi.


"Helena, dengerin Papi dulu, Sayang!" Roy mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada putrinya itu.


"Dengerin apa? Papi tuh nggak pernah berubah, ya? Apa Papi udah nggak cinta sama Carine? Kasian Carine Bailey, dia susah-susah ngerebut Papi dari Mami dan sekarang, suaminya malah main di belakangnya," cetus Helena dengan frontal.


Roy yang hendak mengangkat suara pun langsung dipotong oleh Helena.


"Oh, Papi nggak usah pikirin Carine, istri Papi itu. Tapi, pikirin tentang aku sama Selena, bisa nggak? Nggak bisa, kan? Karena yang Papi pikirin itu cuma wanita. Selingkuh aja terus, ganti-ganti perempuan. Apa Papi mau kalau aku sama Selena sampai punya suami kayak Papi?" sambung Helena.


Beruntung, saat itu restoran tengah sepi dan hanya ada beberapa pengunjung yah menyaksikan keributan ini.


Greisy yang sudah berada di samping Helena pun, langsung menenangkan gadis itu agar tidak berbuat lebih.


"Hel, cukup! Lihat, banyak orang yang ngeliatin kamu!" ujarnya.


"Biarin aja, nggak peduli aku!" sahut Helena yang masih dengan nada bicara yang tinggi.


"Don't be like this, Helena! We go home first. After that, you are free to want to scream or throw a tantrum. But please, not here, this is a public place. You're a big girl, you have to understand. Don't get emotional like this, or you'll lose! (Jangan seperti ini, Helena! Kita pulang dulu. Setelah itu, kamu bebas ingin berteriak atau membuat ulah. Tapi tolong, jangan di sini, ini tempat umum. Kamu sudah besar, kamu harus mengerti!)" tutur Greisy yang berhasil menghentikan Helena.