Sincerity

Sincerity
Nggak akan pernah berubah!



"Oh ya? emang sebelum waktu itu kita pernah ketemu?" tanya Helena yang merasa sedikit bingung karena ia sendiri baru kali ini bertemu dengan Xylina secara sengaja dan berbincang-bincang dengannya langsung.


"Oh, kamu nggak inget ya? waktu itu kamu masih kecil, kita pernah ketemu sekali," jawab Xylina memberitahu.


"Tapi kita nggak ketemu lagi ya, setelah itu?" tanya Helena kembali.


"Iya, soalnya aku kuliah." Xylina pun kembali menjelaskan secara singkat saat ia bertemu dengan Helena ketika gadis itu masih berusia 8 tahun. Namun, ia baru sekali bertemu dengannya. Sebab, Xylina harus melanjutkan kuliahnya di Amerika pada saat itu. Tetapi, ia masih ingat sedikit wajah Helena, makanya ketika ia dan Helena bertemu di Singapore, Xylina merasa familiar dengan wajahnya.


"Oh gitu ...." Helena beroh ria mendengarnya. Walaupun ia sedikit bingung karena ia sendiri saja lupa kalau pernah bertemu dengan Xylina saat ia masih kecil.


"Oh ya Hel, kenalin itu suaminya Xylina, namanya Tyler dan itu Meisha, anak mereka dan calon keponakan kamu," ujar Fiona memperkenalkan Tyler dan juga Meisha pada Helena sekaligus menggoda gadis itu.


Helena tersenyum canggung lalu menyapa Tyler dan Meisha. "Hi, nice to meet you!"


"Ya, Hi. Nice to meet you too," balas Tyler yang juga tersenyum ramah pada Helena.


"Hi, Meisha!" sambung Helena yang menyapa Meisha.


"Hi," balas gadis kecil itu yang sebenarnya kebingungan ingin memanggil Helena dengan sebutan apa.


"Dah, sekarang kita makan!" seru Freddy yang membuat mereka semua langsung menyantap makanan mereka masing-masing tanpa sepatah katapun.


Selesai makan malam bersama, mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Helena yang baru saja mengenal Xylina pun sebenarnya masih sangat canggung. Namun, ia berusaha menghilangkan kecanggungannya, daripada nanti dia akan menyesal karena tidak bicara banyak dengan idolanya.


Cukup lama Helena berada di rumah keluarga Rodriguez, Helena melihat jam tangannya dan berbisik pada Xylon yang ada di sampingnya bahwa ia ingin pulang karena sudah merasa cukup lama di rumah keluarga kekasihnya.


"Xylon, aku harus pulang. Ini udah jam sembilan"


"Oke, aku ke toilet dulu." Xylon pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke toilet terlebih dahulu sebelum mengantar kekasihnya pulang.


"Tante, Om, semuanya. Aku pulang dulu ya, ini udah jam sembilan atau nanti Mami marah aku pulang lewat dari jam segitu," pamit Helena pada keluarga Rodriguez.


"Oh ya, Hel. Sebentar ya!" ucap Fiona yang sepertinya ingin memberikan sesuatu kepada Helena.


"Yuni!!!" sambungnya yang memanggil salah satu asisten di rumahnya.


Tak lama asisten yang bernama Yuni pun datang menghampiri Fiona. "Iya, Nyonya"


"Tolong ke kamar saya dan ambilin paper bag yang ada di meja rias saya, ya!" perintah Fiona.


"Baik, Nyonya." Yuni pun langsung melaksanakan perintah dari Nyonya besarnya dan segera pergi ke kamar majikannya itu untuk mengambil barang yang dimaksud oleh Fiona.


"Sebentar ya, Hel!" ujar Fiona menatap Helena untuk memintanya menunggu sebentar.


"Iya, Tante," sahut Helena.


Tak lama, Xylon kembali setelah dari toilet dan mengajak Helena pulang.


"Helena Jefferson, come on!" serunya.


Helena menganggukkan kepalanya dan hendak bangkit dari duduk. Namun, sebuah suara menghentikannya.


"Hah? Helena Jefferson? Jefferson? serius? Jefferson?" ujar Xylina memastikan.


"Budeg!" ucap Xylon mengatai sang Kakak.


"Eh serius, tadi nama lengkap Helena tuh Helena Jefferson?" tanya Xylina dengan raut wajah terkejut sekaligus memastikan sesuatu.


"Iya, Ci," jawab Helena.


"Nyonya, ini paper bagnya." Yuni tiba-tiba kembali dari kamar Fiona dan Freddy lalu menyerahkan paper bag yang ia bawa pada majikannya.


"Makasih, Yun! kamu boleh pergi." ucap Fiona sambil menerima paper bag tersebut.


"Kalau gitu, saya permisi, Nyonya!"


"Iya"


Setelah diberi izin, Yuni pun pergi dari sana menuju ntah ke mana.


Karena tadi sedikit tidak fokus saat Yuni datang, Xylina kembali melanjutkan percakapannya.


"By the way, Helena. Marga kamu kayak marga pacarnya temen aku," ucap Xylina.


"Emang nama pacar temen Cici siapa?" Helena pun bertanya karena ia sedikit penasaran saat mendengar ucapan dari Xylina.


"Roy, namanya Roy Jefferson!" Xylina pun memberitahu nama dari kekasih temannya pada Helena.


Deg


Jantung Helena seakan berhenti berdetak saat mendengarnya. Firasat gadis itu sudah tidak enak kala Xylina memberitahu.


"What do you mean Cindy's boyfriend, your friend we met this afternoon? (Apa maksudmu pacar Cindy, temanmu yang kita temui sore ini?)" tanya Tyler memastikan.


"Iya," jawab Xylina.


Fiona dan Freddy terkejut saat mendengarnya. Karena yang mereka tahu, Roy Jefferson itu sudah menikah, dan istrinya adalah Carine Bailey, yang bukan lain adalah sepupu dari Freddy.


Xylon yang melihat wajah Helena yang shock pun langsung mengajak kekasihnya untuk segera pulang.


"Hel, ayo. Nanti Tante Laura marah," ucapnya.


"Sebentar." Helena sepertinya sudah penasaran dengan Roy Jefferson yang dimaksud oleh Xylina.


"Ci, boleh aku liat fotonya? kalian pasti foto-foto, kan?" ujar Helena yang sepertinya ingin memastikannya sendiri karena ia benar-benar takut jika Roy Jefferson yang dimaksud Xylina adalah Papinya. Meskipun kemungkinannya sangat besar, karena tidak ada lagi nama Roy Jefferson di negaranya.


"Oh, ada." Xylina pun menyalakan ponselnya dan membuka galeri untuk mengecek foto-fotonya dengan Cindy dan Roy tadi sore.


"Nih." Ia pun menyerahkan ponselnya pada Helena yang ada foto dirinya, Tyler, Cindy dan yang pasti Roy saat pertemuan mereka di restoran.


"Ngomong apa sih kamu, Xylina!" ujar Fiona yang merasa tidak enak dengan Helena dan ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu.


"Huh? emang aku salah apa?" Xylina merasa heran dengan reaksi Helena, Xylon dan kedua orangtuanya itu. Ia juga merasa penasaran karena Helena yang begitu terkejut saat melihat foto di ponselnya.


"Kamu salah kali, mungkin maksudnya istri, bukan pacar. Tuan Jefferson itu udah punya istri!" ujar Freddy yang tidak mau ada kesalahpahaman.


"Papa nggak percaya? liat aja fotonya," sahut Xylina.


"Coba, Hel. Om mau liat," ucap Freddy yang penasaran dengan foto tersebut.


Helena pun menyerahkan ponsel Xylina pada Freddy dengan tangan yang sudah gemetar dan menahan tangis.


"Ih masa si Cindy mau sama Om-om duda," cibir Xylina.


"Lagian, tadi Papa bilang kalau Roy Jefferson itu udah punya istri? udah cerai nggak sih? masa Cindy pacaran sama laki-laki yang udah beristri? atau ... Cindy selingkuhannya Pak Roy itu?" sambungnya yang masih penasaran.


Setetes air mata jatuh ke pipi mulus Helena yang langsung dihapus oleh gadis itu.


'Dasar mak-mak, mulut nggak bisa dikontrol,' batin Freddy menatap tajam putrinya.


"Eh terus masa katanya mereka- mmmmppppphh!!!"


Ketika hendak kembali berbicara, tangan Xylon berhasil membekam mulut Kakaknya agar tidak semakin banyak bicara yang akan membuat kekasihnya merasa sedih.


"Helena, ini dari Tante, cepet pulang dan hati-hati di jalan. Kalau nggak, nanti diomelin Mami kamu." ucap Fiona sembari memberikan paper bag yang asistennya bawakan tadi pada Helena.


Helena menerimanya dan mengucapkan terimakasih kepada Fiona. Setelah itu, ia berpamitan pada seluruh anggota keluarga Xylon dan keluar dari rumah itu menuju mobil kekasihnya.


Setelah Helena dan Xylon pergi, Freddy dan Fiona menatap tajam putrinya yang sangat cerewet itu.


"Ke-kenapa pada ngeliatin aku?" tanya Xylina yang merasa aneh dengan kedua orangtuanya.


"Kamu ini sebenarnya nggak peka banget, ya? kamu nggak liat Helena yang udah ngerasa sedih itu?" ujar Fiona yang sudah geram.


"Ya nggak tau, makanya sekarang aku tanya. Emang ada apa sama Helena? emang dia sedih? aku nggak liat mukanya tadi sebelum pergi," sahut Xylina masih dengan santainya tanpa mengerti maksud sang Mama.


Tyler yang peka pun, langsung menyentuh tangan istrinya sebagai teguran. Xylina menatap ke arah suami yang berada di sampingnya dengan raut wajah penuh tanya.


"Why?" tanya Xylina.


"Why are you suddenly stupid? Roy Jefferson is Helena's real Father! (Kenapa kamu tiba-tiba bodoh? Roy Jefferson adalah ayah kandung Helena!)" seru Freddy.


"What?" Xylina menutup mulut tak percaya. Seketika, ia merasa sangat bodoh, benar-benar bodoh. Tapi, ini juga bukan kesalahannya. Ia tidak mengetahui tentang hal ini.


"Makanya jangan ngerocos aja!" timpal Fiona yang ingin sekali mencubit putrinya yang sangat cerewet itu.


"B-but, i don't know! why are you just telling me now? (T-tapi, aku gak tahu! kenapa baru memberitahuku sekarang?)" ujar Xylina yang merasa bersalah.


"Oke, Papa jelasin sekarang sama kamu," ucap Freddy.


"Kamu pasti tau Carine Bailey yang sepupu Papa, kan?" sambungnya.


"Tau, yang sombong dan sok cantik itu, kan?" jawab Xylina sekaligus menghina Carine yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Ya pokoknya itu. Nah, Carine itu istri dari Tuan Jefferson!"


"K-kok, kok aku nggak tau?"


"Wajar kamu nggak tau, Papa juga nggak dateng ke acara pernikahan mereka"


"Jadi, Helena anak tiri Tante Carine itu?"


"Iya"


Xylina mengangguk-anggukkan kepalanya tanda sudah mengerti.


"Tapi, itu artinya Papinya Helena sampai sekarang suka selingkuh? dan Cindy temen aku itu selingkuhannya dong?" Xylina kembali bertanya mengenai Papi kandung Helena yang merupakan kekasih sahabatnya.


"Ya nggak tau, bukan urusan Papa," jawab Freddy tak acuh.


"You better rest and don't think negative thoughts!" ujar Tyler menyela pembicaraan agar Xylina sebaiknya pergi tidur. Karena ia sangat mengerti jika Xylina diberitahukan sesuatu yang mengejutkan, istrinya itu akan berpikir berlebihan sampai-sampai tidak bisa tertidur.


"Iya, Tyler is true. Papa juga mau tidur. Ayo, Ma!" ucap Freddy lalu mengajak istrinya untuk ikut tidur di kamar. Fiona pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke lantai atas bersama sang suami menuju kamar mereka untuk beristirahat.


Xylina dan Tyler juga pergi ke kamar mereka yang juga akan beristirahat. Apalagi, putri kecil mereka sudah tertidur sejak tadi di kamar sendirian yang membuat Tyler ingin segera pergi kamar mereka menemani putri kecilnya.


***


di perjalanan, Helena terus menatap ke arah jendela sembari menangis mengingat kelakuan Papinya yang belum juga berubah itu.


"Hiks ... hiks,...." isaknya.


Xylon yang mendengar isakan Helena pun, tangan kirinya tergerak untuk membelai rambut kekasihnya.


Helena menatap sang kekasih yang masih mengelus kepalanya lalu Helena berkata, "Aku tau habis ini kamu bakal ngeluarin kata-kata bijak kamu. Tapi untuk sekarang, tolong kamu ngertiin aku. Aku malu banget sama keluarga kamu, ya walaupun aku tau Tante Fiona dan Om Freddy nggak bakalan ngejelek-jelekin aku. Tapi, yang aku pikirin tuh, kenapa Papi belum berubah juga? aku kira dia udah sadar dan berubah, kamu bohong Xylon! Papi itu nggak akan pernah berubah!"


"Iya, kamu paham banget apa yang kamu maksud, Sayang. Ini semua di luar dugaan kita, kamu Do'a in aja supaya Papi kamu cepat-cepat sadar dengan sikapnya. Aku cuma mau bilang sama kamu, untuk jangan benci sama Papi kandung kamu sendiri. Kamu ngerti kan, maksud aku?" tutur Xylon yang tidak ingin jika masalah ini terus menganggu pikiran Helena. Apalagi, gadis itu akan ujian sebentar lagi dan malah banyak pikiran akhir-akhir ini.


"Iya, aku ngerti. Aku cuma malu punya Papi kayak Papi Roy, apa dia nggak mikirin anak-anaknya apa? dia nggak mikirin perasaan Carine, istrinya? aku nggak paham kenapa Papi suka banget main cewek," geram Helena yang bahkan secara tidak langsung membela Carine yang notabenenya sangat ia benci itu.


Xylon hanya diam mendengarnya. Ia tidak tahu lagi ingin bicara apa. Satu hal yang pasti, mereka sudah sampai di kediaman keluarga Williams. Helena pun turun dari mobil kekasihnya sebelum Xylon turun dan akan membukakan pintu mobil untuk dirinya.


"Aku langsung masuk, thanks for tonight!" ucap Helena sebelum keluar dari dari mobil Xylon dengan membawa paper bag yang Fiona berikan padanya.


Setelah memastikan kekasihnya benar-benar masuk, Xylon pun kembali melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah mewah keluarga Williams untuk kembali ke rumahnya.