
Lisa berjalan santai menuju halte bus. Sore ini ia pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan pokok untuk 1 bulan kedepan. Gadis itu juga membeli bahan-bahan membuat kue untuk dijualnya nanti. Gadis itu berangkat menggunakan bus umum.
"Kak Vano pasti seneng aku beliin Chiki kesukaan dia. Lumayan lah buat nungguin dia kalok bergadang ngerjain tugas kantor." Gumam Lisa senang.
Di perjalanan, tubuh Lisa di tabrak keras oleh seorang laki-laki. Lisa sempat meringis kesakitan saat laki-laki itu menabraknya. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena ditutupi oleh masker hitam.
"Mas kalok jalan pelan-pelan dong!" Tegur Lisa.
"Halah, nggak usah banyak ngomong! Anak kecil kaya kamu mana tau apa-apa!" Bentak pria itu lalu melanjutkan acara berlarinya dengan tergesa-gesa.
"Aneh."
"Maling! Ada maling! Tolong!" Teriak seorang wanita sambil membawa barang belanjaannya. Lisa yang melihat itu lalu mendekati wanita yang berteriak tadi.
"Tante ada apa? Kok teriak maling segala?"
"Itu. Tadi huh,,,huh,,,huh,,, dompet Tante di maling sama orang yang tadi nabrak kamu." Sahut wanita itu sambil ngos-ngosan.
"Jadi yang tadi nabrak aku malingnya?" Wanita itu hanya mengangguk, "kalok gitu Tante diem aja di sini. Biar aku yang ngejar malingnya. Aku nitip barang belanjaan aku dulu ya sama Tante." Lisa berlari menghampiri sang pencuri yang berada tak jauh darinya.
"Woy maling berhenti!" Teriak Lisa keras. Sampai akhirnya ia melihat sebuah batu yang tak begitu besar. Dengan cepat ia mengambilnya dan melemparnya ke arah si pencuri. Dan...
Bughh,,,, batu yang dilempar Lisa tepat bengenai betis si pencuri. Bisa Lisa lihat pencuri tersebut berlari dengan terpogoh-pogoh. Tak melepas kesempatan Lisa lalu mengejar si pencuri, direbutnya dompet yang sedari tadi pencuri itu pegang dengan erat.
"Om kembaliin dompet ibuk tadi. Nggak baik mencuri tau." Ucap Lisa berusaha mengambil dompet tersebut dari genggaman si pencuri.
"Kamu anak kecil nggak usah ikut campur! Berani kamu macam-macam, saya lukain kamu pake pisau ini, mau?!" Ancam pencuri tersebut sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil yang sedari tadi ia simpan di saku celananya.
"Nggak peduli. Aku cuma mau om kembaliin dompet yang om curi!" Sahut Lisa tak mau kalah. Ia terus merebut dompet yang ada di tangan pencuri tersebut. Hingga lengannya tak sengaja mengenai pisau kecil yang sedari tadi pencuri tersebut pegang.
"Auuh, tangan aku!" Hilang sudah kesabaran Lisa, gadis itu menendang si pencuri tepat di selangkangannya.
"Sial!" Desis pencuri tersebut. Dompet yang ia pegang pun jatuh ke tangan Lisa.
"Akhirnya." Pandangan Lisa beralih pada si pencuri yang terus memegang selangkangannya. Ia meringis pelan membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan si pencuri.
"Aduh om maaf ya. Aku nggak sengaja. Lagian om sih, isi nyuri dompet orang segala." Ucap Lisa.
"Kamu nggak bakalan ngerti nak. Om ngelakuin ini semua karena ada anak om yang lagi kelaparan di rumah. Mereka belum makan dari kemarin, sedangkan om nggak punya uang sama sekali." Sahut si pencuri lirih. Hati Lisa tersentuh, ia lalu mengambil sesuatu di dalam saku bajunya.
"Ini ada rejeki dari aku buat anak-anak om. Aku ngasihnya ikhlas kok om." Ucap Lisa sembari memberikan beberapa lembar uang kepada bapak tersebut.
"K-kamu yakin nak?"
"Iya. Om ambil aja. Semoga uangnya cukup buat makan anak-anak om ya. Maaf udah ngelukain om tadi." Sahut Lisa tulus.
Bapak tersebut menerima uang yang diberikan Lisa padanya, "makasih ya nak. Selain kamu cantik, hati kamu juga cantik. Om harap kamu bisa dapet kebahagiaan kedepannya. Maaf udah ngelukain kamu, lengan kamu jadi berdarah gitu gara-gara om."
"Nggak masalah om. Aku tau om nggak sengaja."
"Yaudah, om pergi ya nak. Bilang sama ibuk tadi, om minta maaf udah nyuri dompet dia." Ucap bapak tersebut tak enak.
"Iya om. Salam buat anak-anak om ya!" Ucap Lisa sedikit berteriak melihat bapak yang ditolongnya sudah berjalan sedikit jauh dari tempatnya berada.
"Syukur deh. Makasih tuhan udah kasih Lisa kesempatan buat nolong orang." Gumam Lisa tulus. Setidaknya itu merupakan hal kecil yang bisa ia lakukan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan darinya.
"Nak kamu nggak papa?" Tanya wanita yang Lisa selamatkan dompetnya. Wanita itu tampak terengah-engah sambil membawa barang belanjaannya dan juga Lisa. Melihat itu Lisa merasa tak enak, ia lalu mengambil alih barang belanjaannya dari si wanita.
"Maaf Tante, gara-gara aku Tante jadi kerepotan bawa barang belanjaannya." Ucap Lisa.
"Sama sekali enggak. Yang ada Tante ngerepotin kamu karena udah mau repot-repot buat ambil dompet dari maling tadi. Oh iya, malingnya mana?" Tanya wanita itu saat melihat tak ada tanda-tanda sosok maling yang sudah mengambil dompetnya.
"Malingnya aku biarin pergi Tante. Dia ngelakuin itu juga ada sebabnya. Dan ini dompet Tante. Tante bisa cek isinya, siapa tau ada yang ilang." Lisa memberikan dompet si wanita kepada pemiliknya
"Nggak usah. Tante percaya kok, kamu anak baik-baik. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Nama Tante Junghae." Yaa, wanita yang ditolong Lisa adalah Jeon Junghae.
Lisa tersenyum manis, "nama aku Lisa Tante. Salam kenal, nama Tante lebih ke Korean gitu ya." Lisa terkekeh pelan saat mengatakannya.
"Tante kan memang asli Korea. Tinggal di Indonesia juga karena suami Tante asli orang Indonesia, jadi Tante mau nggak mau harus ikut suami dong." Lisa hanya mengangguk menanggapi, bibirnya sedikit meringis saat lengannya yang terluka terkena bajunya yang sedikit menjuntai.
"Yaampun Lisa! Kamu luka? Maaf ya nak, Tante nggak liat. Gimana kalok sekarang kamu ke rumah Tante, biar bisa diobatin." Ucap Junghae khawatir melihat lengan Lisa yang mengeluarkan darah.
"Nggak usah Tante, aku bisa obatin nanti di rumah. Lagian lukanya kecil kok, nggak seberapa." Tolak Lisa halus, bukannya bagaimana. Ia harus segara pulang. Dia takut saat Vano pulang nanti dia tidak ada di rumah.
"Nggak seberapa kata kamu? Enggak Lisa, enggak. Tante bakalan tetep obatin kamu. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih Tante sama kamu." Junghae tetep kekeuh dengan ucapannya.Lisa hanya bisa mengangguk pasrah. Menolak juga tak akan mempan, wanita di depannya ini pasti akan terus memaksa.
"Yaudah, sekarang kita ke mobil ya? Barang-barangnya biar supir Tante aja yang bawa."
πππ
"Auhh, isshhh." Lisa meringis saat lukanya diberi obat oleh Junghae.
"Kamu tahan ya nak. Tante tau ini sakit, tapi kalok enggak di obatin bisa infeksi nanti." Junghae terus mengobati lengan Lisa dengan sabar. Lisa yang di perlakukan seperti itu merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Ingin rasanya ia menangis sekeras-kerasnya dan memeluk Junghae, menganggap wanita itu sebagai ibunya. Namun ia sadar, wanita ini sudah memiliki anak, suami, dan pastinya keluarga.
"Aku pulang."
Pandangan keduanya beralih pada seorang pemuda yang baru saja datang dari pintu utama. Lisa membeku di tempat, ia mengenal pemuda itu. Pemuda dengan mata tajam yang menatap dirinya dan Darra saat mereka menanyakan dimana ruang kepala sekolah berada. Yaa, kalian bisa tebak bukan? Julian.
"Kenapa?" Tanya Julian dengan mata tajamnya tak lepas menatap Lisa yang kini menunduk takut.
Junghae yang mengerti pertanyaan putranya tersenyum tipis, "dia udah nyelametin mamah dari maling yang ngambil dompet mamah. Kalok nggak ada dia mungkin uang mamah udah habis di ambil sama maling tadi." Jelas wanita itu.
"Maafin anak Tante yang Lisa. Di memang gitu anaknya, dingin."
"Ehh, nggak papa Tante. Kalok cowok kan memang sifatnya kaya gitu." Sahut lisa.
"Owh iya. Orang tua kamu pasti bangga banget punya anak pemberani kaya kamu." Ucap Junghae senang.
Lisa menunduk, "orang tua aku udah nggak ada Tante. Waktu aku kecil mereka ninggalin aku sama kakak aku berdua di sini."
"Maaf. Tante nggak bermaksud buat kamu sedih." Ucap Junghae tidak enak.
"Nggak papa kok Tante. Kalok boleh tau, Tante cuma punya anak 1 aja?"
"Nggak. Tante punya anak 2. Yang cowok tadi namanya Julian, dia anak pertama. Dia dingin banget anaknya, padahal ya Tante nggak ngidam yang aneh-aneh waktu dia masih ada di rahim Tante. Nah, kalok anak Tante yang kedua namanya Sofia. Dia anaknya cerewet banget, Tante sampe pusing kalok udah adu mulut sama dia." Jelas Junghae semangat.
Lisa mengerutkan dahinya heran, Sofia bukan nama yang asing ditelinganya. Bagaimana tidak? Teman sebangkunya bernama Sofia bukan?
'Mungkin kebetulan aja.'
"Wah, pasti rumah Tante rame terus ya?"
"Nggak begitu juga. Suami Tante harus kerja ngurus kantornya. Sedangkan anak-anak Tante udah pada gede. Mereka udah punya kegiatan masing-masing. Tante juga kadang-kadang harus pergi ngejenguk nenek sama kakenya Julian di Bandung sebulan sekali." Jelas Junghae.
Mereka berbicara sangat banyak, mulai dari kesukaan Lisa memasak, membuat kue, dan menjualnya ke dagang-dagang di dekat rumahnya. Junghae yang memang suka menonton acara memasak di televisi berkeinginan untuk belajar memasak dari Lisa. Keduanya berbicara hingga berjam-jam lamanya.
"Janji ya kamu mau ajarin Tante buat kue?" Tanya Junghae.
"Iya Tante. Oh iya, aku pulang dulu ya Tante, udah mau malem. Aku takut nanti nggak ada angkot lewat." Pamit Lisa sopan.
"Yah udahan aja kamu. Iya deh nggak papa. Lain kali ke sini lagi ya. Jangan panggil Tante dong, panggil mamah aja oke?"
"Eh, i-iya tan- maksud aku mamah."
"Nah gitu dong. Daripada kamu nunggu angkot, biar Julian aja yang nganter ya?" Saran Junghae pada Lisa.
Lisa menggeleng kecil, "nggak usah mah. Lisa pulang sendiri aja. Baru jam 8, masih ada angkot yang lalu lalang di jalan." Tolaknya halus, ia hanya tak ingin merepotkan orang lain karena dirinya. Walaupun saat ini ia tak memiliki uang untuk membayar angkot, tapi setidaknya ia bisa berjalan kaki karena jarak rumahnya yang mungkin tak terlalu jauh dari sini.
"Yaudah, kamu pulangnya hati-hati ya. Jangan lupa Dateng kesini kalok sempat. Kita buat kue bareng-bareng." Lisa mengangguk, ia berpamitan pada Junghae lalu mulai keluar dari rumah megah keluarga Dirgantara itu.
Setelah kepergian Lisa, Junghae merapihkan alat-alat yang tadi ia gunakan untuk mengobati gadis itu. Kebetulan juga Julian turun dari kamarnya sambil mengenakan jaket bertuliskan 'Im badboy' di bagian punggungnya.
"Kamu mau kemana nak?"
"Keluar."
"Yaudah, jangan malem-malem pulangnya. Nanti mamah kunci pintunya, kamu tidur di luar loh sama pak Bejo di pos kamling." Ucap Junghae memperingati.
"Hmm."
Julian mengendarai motor sportnya di sekitar kompleks rumahnya, berharap gadis yang mengunjungi kediamannya tadi berjalan tak jauh dari sini. Julian tau Lisa sudah pulang dan pastinya gadis itu pulang menggunakan angkot. Bukannya bagaimana, Julian tau betul tidak ada angkutan umum yang melintas di sekitar kompleks rumahnya di jam segini.
Setelah mengendarai motornya beberapa menit, pandangan Julian akhirnya melihat seorang gadis yang sedang duduk di halte bus sembari mengotak-atik ponselnya. Julian bisa melihat Lisa yang berdecak sebal sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku baju. Tanpa pikir panjang, Julian menghampiri Lisa dengan motor sportnya itu.
Brumm,,,brruumm,,,
Lisa mengernyit saat sebuah motor sports keluaran terbaru berhenti tepat di depannya. Pikirannya mulai kemana-mana melihat seorang lelaki yang mulai membuka kaca helmnya. Dari matanya, sepertinya Lisa pernah lihat.
"Naik!" Perintahnya.
"Tap-tapiβ"
"Naik. Sekarang!"
Dengan gelagapan Lisa berjalan perlahan menuju orang itu. Lisa mengenalnya, suaranya, matanya, Lisa mengenalnya. Dia Julian.
"Yakin kak Julian mau nganterin aku pulang?" Tanya Lisa sekali lagi.
"Ck. Gue bilang naik, Lisa!" Kini suara Julian terdengar lebih lembut.
"Ehh, iya-iya. Aku naik sekarang." Lisa mulai menaiki motor milik Julian.
"Pegangan."
"Nggak usah aku biβ" belum sempat Lisa menyelesaikan ucapannya, Julian menarik kedua tangannya dan melingkarkannya di pinggang pemuda itu.
"Ehh." Pekik Lisa terkejut akan perbuatan yang dilakukan Julian. Pipinya memerah, jantungnya berdetak berulang kali. Ohh ayolah, siapa yang tidak baper saat seorang pemuda memperlakukan kita seperti itu.
Julian mulai mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Jalanan mulai sepi karena banyak orang lebih memilih mendiamkan diri mereka di rumah. Julian melihat keadaan Lisa di belakang melalui kaca spion, gadis itu masih saja gugup dengan pipi yang masih memerah. Julian tanpa sadar menarik kedua ujung bibirnya ke atas, tipis memang tapi tidak dengan hatinya. Entahlah apa yang dirinya rasakan tapi hatinya merasa sangat nyaman saat berada di dekat gadis itu.
'manis.'
Akhirnya Julian mengantar Lisa dengan selamat sampai dirumahnya. Jika dibandingkan dengan rumah julian yang megah, maka rumah milik Lisa sangat sederhana. Rumah dengan halaman yang penuh dengan bunga mawar dan anggrek kesukaan Lisa, ada kolam ikan kecil dengan ikan mas di dalamnya, rumah yang sangat minimalis namun bisa membuat penghuninya nyaman tinggal di sana.
Lisa turun dari motor Julian sembari menenteng beberapa bungkusan. "Makasih ya kak udah mau nganterin aku. Kalok kakak butuh apa-apa bilang aja sama aku. Semoga aku bisa bantu kakak deh, itung-itung sebagai ucapan terima kasih aku buat kakak. Sekali lagi makasih yang kak." Ucapnya panjang lebar disertai senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
Julian mengangguk, "hmm. Masuk! Udah malem!" Pemuda itu mengacak rambut Lisa gemas. Hal itu tentu saja membuat Lisa malu setengah mati, ia menundukkan kepalanya lalu berlari kecil memasuki rumah.
Julian tersenyum kecil, sepertinya membuat Lisa blushing setiap hari adalah hobinya sekarang. Ia menghidupkan motornya lalu kembali kerumah dengan perasaan yang campur aduk.
πππ