
"Mama, Papa... Agnez minta maaf...hiks... hiks... hiks... Kak Eric, aku minta maaf...."
Sesuai dengan apa yang Agnez janjikan pada Helena, selesai makan di restoran bersama Rasya, Agnez meminta pria itu untuk mengantarnya pulang. Tapi sebelum itu, Agnez mengambil barang-barangnya yang ada di apartemen Rasya. Dan kini, Agnez tengah berada di ruang keluarga rumahnya bersama Papa, Mama dan Kakaknya untuk meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan selama ini.
Agnez menangis karena ia pikir keluarganya masih marah dan tidak mau memaafkan. Karena sejak ia minta maaf tadi, orangtuanya maupun kakaknya belum membuka suara satupun.
Tiba-tiba, Adaline mendekat pada Agnez lalu memeluk putrinya dan membelai surai panjang Agnez penuh kelembutan.
"Harusnya kamu jangan kabur, sayang. Mama sama Papa cuma minta Agnez untuk minta maaf sama Helena dan Xylon serta keluarganya. Agnez gak perlu pergi dari rumah," tuturnya.
"Hiks... hiks... maaf Ma, maaf.... Agnez udah bikin malu keluarga kita, maaf..." Agnez semakin terisak setelah mendengar penuturan sang Mama, rasa bersalahnya makin besar pada keluarganya. Ia memang bodoh, sudah salah paham selama ini terhadap orang-orang di sekitarnya dan menyalahkan Helena. Sebab, dulu Agnez berpikir jika orang-orang di sekitarnya hanya memuji-muji Helena, menyayangi Helena, bahkan Kakaknya sendiri lebih membela Helena dibandingkan dengan dirinya yang merupakan adik Eric. Namun, setelah menyadari semuanya, Agnez memang terlalu dibutakan oleh rasa obsesi terhadap Xylon dan iri dengan kebahagiaan yang Helena dapatkan. Padahal wajar, Helena orang yang baik pada siapapun dan pantas mendapatkan kasih sayang dari banyak orang. Sedangkan dirinya hanya gadis sombong, kasar dan keras kepala yang mungkin dengan sikapnya ini sudah menyusahkan banyak orang.
Setelah itu, Hadley bangkit dari duduknya dan ikut memeluk putrinya.
"Pa... Agnez minta maaf..." Agnez semakin terisak karena ia pikir jika Papanya tidak memperdulikannya sama sekali dan hanya memikirkan pekerjaannya. Tapi setelah mendengar cerita Helena, Agnez merasa sangat beruntung memiliki Hadley dan Adaline sebagai orangtuanya.
"Papa juga minta maaf kalau kamu merasa Papa dan Mama nggak peduli sama kamu dan terlalu sibuk dengan urusan kantor. Tapi kamu harus tau Agnez, Papa dan Mama kerja keras untuk kamu dan Kak Eric," tutur Hadley.
"Iya, Pa. Agnez salah, Agnez salah paham. Maafin Agnez..."
"Iya, Nak. Untuk seterusnya, Papa janji akan selalu meluangkan waktu buat keluarga"
"Mama juga," timpal Adaline.
Agnez hanya mengangguk lemah sebagai jawaban, ia menatap ke arah sang Kakak yang duduk berseberangan dengannya, hanya meja sebagai pembatas. Eric juga menatap ke arah sang adik dengan tatapan yang sulit diartikan dan membuat Agnez tidak tahu, apakah kakaknya ini sudah memaafkannya atau tidak.
"Ma, Pa. Bukannya Agnez harus istirahat?" ujar Eric.
"Oh iya, kamu bener," sahut Adaline.
"Ayo, Sayang. Kamu harus istirahat." sambungnya yang menyuruh Agnez untuk beristirahat dan dijawab anggukan oleh gadis itu.
"Biar Eric yang antar Agnez ke kamarnya, Ma!" seru Eric yang menawarkan diri untuk mengantarkan adiknya ke kamar.
"Ya udah." jawab Adaline.
"Kalau gitu, Agnez istirahat dulu ya Ma, Pa!" Agnez pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lift rumah.
"Iya, Sayang!" sahut Hadley dan Adaline.
Eric pun merangkul adiknya yang membuat Agnez menatap ke arah sang Kakak dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Kak Eric udah maafin aku?"
"Kalau belum, Kakak gak bakal mau nganterin anak bandel kayak kamu walaupun cuma ke kamar!" jawab Eric diiringi dengan kekehannya sambil mengacak-acak rambut sang adik.
Setelah mereka berdua sudah memasuki lift, Adaline dan Hadley tersenyum melihat anak-anak mereka saling menyayangi satu sama lain.
*****
Pagi hari, Helena tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa, ia turun untuk sarapan bersama keluarganya. Dilihatnya jika Laura, Adelard dan Shelly sudah berada di meja makan. Lalu Kevin? bocah itu sedang liburan di Amerika dan menginap di rumah Kakek dan Neneknya, alias orang tua dari Adelard. Oleh karena itu, saat pergi ke Bali, Kevin tidak ikut ke sana karena sudah berada di di Amerika beberapa hari sebelumnya.
"Morrniiiiiinnngggg.... Mami, Papi, Cici!" seru Helena dengan nada yang dibuat-buat sebab hari ini ia begitu bersemangat karena hubungannya dengan Agnez sudah baik.
"Ya, morning too!" sahut mereka.
"Mi, Pi! mau tau sesuatu nggak?" ujar Helena sembari mendudukkan dirinya di kursi makan.
"Apa?" tanya Adelard dan Laura serentak.
"Agnez already apologized to me and our friendship is back!!!" ucap Helena dengan raut wajah yang memang benar-benar menunjukkan kebahagiaan.
"Oh ya?" ujar Laura memastikan.
"Iya," sahut Helena.
"Bagus kalau dia udah minta maaf," ucap Adelard.
"Hu'um"
Beberapa menit kemudian, mereka telah menghabiskan sarapannya masing-masing dan berangkat untuk melakukan kegiatan mereka hari ini. Adelard pergi bekerja, Shelly pergi kuliah dan Helena pergi ke sekolahnya.
......................
di Sekolah, Helena masuk ke dalam kelasnya dan terlihat sudah ada Yena, sahabatnya yang sedang mengobrol dengan murid lain.
"Morning guys!!!" sapa Helena pada teman-temannya.
"Hi, morning too," sahut mereka yang menyapa balik Helena.
"Hi, Kim Yena!" Helena menepuk bahu Yena sambil menaruh tasnya di mejanya.
"Hi, Hel!" balas Yena.
"Do you know? Agnez will back to school!" ujar Helena yang begitu senang.
"Jinjja?"
"Sure, and please, don't be angry with Agnez. Forgive her, she has changed too! (Tentu, dan please, jangan marah sama Agnez. Maafin dia, dia juga udah berubah!)" pinta Helena karena waktu itu, Acha dan Yena sempat mengatakan kekesalan mereka pada Agnez.
Yena tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tak lama, Acha dan Agnez datang bersamaan dan sepertinya, Acha juga sudah menerima Agnez kembali karena tadi malam, Helena mengirim pesan pada Acha dan Yena tentang Agnez. Setelah itu, mereka berdua pun akhirnya memaafkan Agnez jika Helena juga sudah memaafkannya.
"Agnez is back!" seru Helena.
Agnez hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian, Yena menghampiri dan merangkulnya sembari berkata, "After school, we celebrate this with Helena's money! (Setelah sekolah, kita rayain ini dengan uang Helena!)"
"Yeay! eh w-what the f*ck?!" Helena sedikit terkejut mendengarnya. Tapi tidak apa-apa, ia juga akan tetap mentraktir walaupun Yena tidak memintanya. Sebab, Helena memang ingin merayakan ini.
Jam istirahat, tetapi entah kenapa Agnez selalu berbulak-balik ke toilet karena muntah.
"Gak capek apa, bolak-balik toilet?" tanya Helena saat Agnez sudah duduk kembali di hadapannya.
"Nggak tau kenapa, dari kemarin gua nggak enak badan," jawab Agnez.
"You want to go to UKS?" ujar Acha yang dijawab gelengan oleh Agnez.
****
Kini, jam menunjukkan waktu pulang. Seperti yang sudah direncanakan, pulang sekolah mereka akan pergi ke cafe untuk merayakan kepulangan Agnez.
"Mau cafe mana?" tanya Helena sebelum mereka pergi.
"Cafe di apartemen gue ajalah," jawab Yena.
"Oke, yok!"
Ketika mereka akan masuk ke dalam mobil Helena, tiba-tiba Agnez berhenti dan membuat Helena maupun yang lainnya bertanya-tanya, ada apa dengannya.
"Nez, kenapa Lo?" tanya Helena yang menghampiri sahabatnya.
Agnez menatap Helena sejenak lalu tiba-tiba...
"Agnez!!!" seru Helena, Yena dan Acha serempak saat Agnez yang tiba-tiba menubruk ke arah Helena yang berada di depannya akibat pingsan.
Orang-orang sekitar yang melihat hal itupun langsung mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
"Woy, Nez! jangan nge-pranklah, berat!" ujar Helena sembari menepuk-nepuk pipi Agnez yang tak mendapat respon apa-apa.
Yena dan Acha pun ikut membantu mencoba membangunkan Agnez namun sama saja. Agnez tidak bergerak sedikitpun.
"What happened?" Rasya yang baru saja akan menuju parkiran motornya, dibuat penasaran dengan kerumunan yang ada di parkiran mobil. Sebagai OSIS, ia pun pergi ke sana untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namun, ketika ia sampai di sana malah melihat Agnez yang tengah pingsan.
"Rasya-Rasya! help Agnez!" seru Helena meminta tolong pada Rasya.
Rasyapun mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Agnez.
"Where's Agnez's car? (Dimana mobil Agnez?)" tanya Rasya celingukan mencari mobil Agnez.
"The driver hasn't come yet. Just put her in my car! (Supirnya belum datang. Taro aja dia di mobil gue!)" ucap Helena.
Rasya menurut dan membawa Agnez masuk ke dalam mobil Helena.
Helena pun masuk ke dalam mobil bagian depan untuk mengemudi dan diikuti oleh Acha yang duduk di samping bangku Helena dan Yena yang duduk di belakang untuk menemani Agnez. Sementara Rasya, ia mengikuti menggunakan motornya.
****
Hospital
Saat ini, Agnez tengah diperiksa oleh dokter. Helena dan yang lainnya tengah menunggu di depan ruang pemeriksaan.
"Ck, dari kemarin dia emang udah sakit dan sekarang sekolah. Jadi mungkin dia kecapean," ucap Rasya yang menceritakan secara singkat mengenai kondisi Agnez.
Helena, Yena dan Acha menatap ke arah Rasya.
"Apa dia muntah-muntah?" tanya Helena.
'Kalau dia beneran hamil gimana? gak mungkin, pasti cuma sakit biasa' batin Rasya yang berusaha menepis pikirannya mengenai omongan Agnez sebelumnya.
Tak lama, dokter keluar dan membuat Helena serta yang lainnya mendekat ke arah dokter tersebut untuk mengetahui keadaan Agnez.
"Dok, gimana keadaan temen saya?" tanya Helena.
"Sepertinya, Nona Agnez kecapean karena kondisinya yang tengah hamil," jawab Dokter.
"Hamil?"
Ternyata, apa yang dikatakan Agnez memang benar. Seketika, tubuh Rasya menjadi lemas dan ia seperti orang yang linglung.
'Agnez hamil dan pasti gua disuruh tanggung jawab' batinnya.
"Nona Agnez juga mengalami stress dan itu tidak baik bagi kesehatan bayinya. Ditambah, usia Nona Agnez masih muda, apa dia hamil diluar nikah?" ujar Dokter yang tak disahuti oleh siapapun di antara mereka. Helena menatap tajam ke arah Rasya.
"Makasih Dok, Dokter boleh pergi!" ucap Helena pada dokter tersebut dan mengusirnya secara halus.
"Baik, saya permisi." kata Dokter yang langsung pergi dari sana.
Setelah dokter itu pergi, Helena menarik tangan Rasya dan membawanya ke tempat yang cukup sepi karena Helena yang ingin mengatakan sesuatu.
"Yena, Acha! kalian masuk aja ke dalam, temenin Agnez. Gua mau ngomong sama manusia ini!" tuturnya sebelum membawa Rasya pergi.
******
"Rasya! gua mau nanya satu hal sama Lo!" ujar Helena.
"Kalian seriusan tinggal bareng waktu Agnez kabur dari rumah?" sambungnya yang kemudian bertanya pada Rasya untuk memastikan. Sebenarnya, Helena sudah mengetahui hal itu dari Xylon. Namun, ia masih harus memastikan sendiri dengan bertanya pada Rasya, karena ini menyangkut masa depan sahabatnya.
"Ya! kita tinggal bareng, karena gua nggak mungkin biarin dia sendirian!" jawab Rasya.
Helena menghela nafasnya kemudian kembali berkata, "Lo tau apa yang udah Lo lakuin sama Agnez. Jadi, gua harap Lo tau harus gimana. Rasya, Lo bakal tanggung jawab, bukan?"
Rasya hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Helena yang membuat gadis itu bertambah marah.
"Rasya!" seru Helena yang tak mendapat jawaban dari pria itu.
"Nggak, Helena! gua gak mungkin ngorbanin masa depan gua, gua gak bisa!" ujar Rasya menegaskan jika ia tak bisa bertanggung jawab pada anak yang ada di dalam kandungan Agnez. Sebab, banyak impian yang harus ia raih, dan jika ia bertanggung jawab pada Agnez dan anaknya, ia akan mengorbankan semua impiannya itu, pikir Rasya.
"Haishhh!!!" Helena tak habis pikir dengan apa yang pria itu katakan.
"Denger ya, Sya! demi impian Lo itu, Lo nyakitin Agnez dan anak Lo sendiri. Lo cuma ambil keuntungan dari Agnez karena sebelumnya Lo juga pernah mau ngelakuin hal itu ke gua. Lo tuh... ck, gua sampai gak tau lagi mau nyebut Lo dengan kata apa yang pas dengan perbuatan Lo ini. Yang pasti, Lo tuh udah gila!" kesal Helena mendorong Rasya.
"Gua udah mencoba berubah, tapi-"
"Tapi apa? katanya Lo OSIS, OSIS g*bl*k kali ya? nggak punya otak banget! Agnez itu bukan bubble gum, yang habis manis terus dibuang! Lo tuh orang pinter, berasal dari keluarga ternama juga, tapi sikap Lo? cih, malu-maluin keluarga, malu-maluin sekolah juga tau gak?"
"Harusnya Lo juga bilang kayak gini ke sahabat Lo, si Agnez. Dia juga bukan cewek baik-baik. Dia yang sengaja pakai baju yang buat gua kehilangan kendali, gua itu cowok normal, Helena!" sentak Rasya yang tak terima disalahkan.
"Oke. Gua setuju kalau ini juga kesalahan Agnez, tapi kalian lakuin ini berdua dan kalian berdua punya tanggung jawab sama anak kalian. Masa depan Lo itu anak Lo, Sya! kasian anak kalian yang gak salah apa-apa, tega banget Lo, sumpah. Sshhh, gua harap Lo mau tanggung jawab, sebelum Om Hadley dan Kak Eric kasih Lo pelajaran yang bikin hidup Lo hancur dan nggak bisa ngeraih impian-impian yang lo bilang itu!" geram Helena yang mengingatkan Rasya sebelum pria itu benar-benar mengambil keputusan yang salah lalu langsung pergi meninggalkan Rasya yang masih mematung di sana.
******
Helena masuk ke dalam ruangan Agnez yang rupanya sudah ada walikelas mereka juga ada Adaline dan Hadley di sana. Ia menatap ke arah kedua sahabatnya, Acha dan Yena yang seolah-olah menanyakan apakah mereka memberitahu yang sebenarnya pada orangtua Agnez atau tidak. Kemudian, Helena duduk di sofa dekat Acha dan Yena. Acha dan Yena mengeluarkan ponsel mereka dan membuka aplikasi pesan.
Helena mengecek ponselnya yang bergetar karena ada pesan masuk. Rupanya, Yena membuat grup chat untuk menanyakan sesuatu, karena tak mungkin mereka berbicara saat ada walikelas mereka dan orang tua Agnez di sini.
...BENTAR BENTAR!...
...Kim Yena created this group...
^^^Helena^^^
^^^| Lo pada gak ember kan?^^^
Acha
| ya enggaklah
Yena
| kita bilangnya Agnez
kena tifus
^^^Helena^^^
^^^| Nice^^^
Acha
| eh Helena
| tadi Lo sama Rasya
bicarain apa?
^^^Helena^^^
^^^| gua cuma bilang sama^^^
^^^dia buat gak ngasih tau^^^
^^^siapapun soal kehamilan Agnez^^^
Yena
| bagus
| kalau orang-orang pada
tau, sekolah kita bakal
dijudge jelek
Acha
| True
| tapi kenapa harus
ngejauh dulu sih?
^^^Helena^^^
^^^| ada hal yang harus^^^
^^^gua bicarain sama dia^^^
^^^| PRIVACY^^^
^^^| nanti kalian bakal tau^^^
^^^secepatnya^^^
Yena
| Ok
Acha
| Ok
^^^Helena^^^
^^^| dah^^^
^^^| taro hp^^^
...Helena left...
...Acha left...
...Yena left...
Kemudian, Helena berpikir bagaimana cara membicarakan hal sebesar ini pada keluarga Agnez. Lalu bagaimana reaksi Agnez setelah mengetahui bahwa dirinya tengah berbadan dua?
Helena berpikir, jika ia harus membicarakan hal ini di rumah Agnez nanti agar tidak terjadi keributan di rumah sakit.
TBC
Ok, sampe sini dulu. Jangan lupa likenya kakak~