Sincerity

Sincerity
Melepas rindu



Keesokan harinya..


Sepulang sekolah, Helena pergi ke sebuah tempat dimana Harry, adiknya itu dimakamkan.


"Happy birthday Harry Jefferson. Maaf, aku baru dateng. Banyak masalah yang harus aku hadapin, makanya baru bisa ngunjungin kamu sekarang, di saat ulang tahun kamu." lirih Helena sembari mengusap-usap batu nisan makam sang adik.


Helena menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Kamu tau? tadi malam aku ketemu Papi, iya Papi Har... Papi yang dulu pernah ninggalin kita, yang gak peduli sama kita, yang gak ada disaat kita butuh dan gak ada disaat nafas terakhir kamu"


"Enggak-enggak. Kamu jangan mikir Papi kita itu jahat ya! Papi itu orang tua kita. Orang tua yang harus kita sayang dan hormatin. Papi gak jahat, cuma ada orang yang ngerebut Papi dari kita, hiks... hiks... aku kangen kamu! kenapa kamu gak dateng ke mimpi aku lagi? Kamu gak kangen ya sama aku?"


"Oh ya kamu udah tenang di alam sana, Xylon bilang kalau Tuhan itu sayang sama kamu, makanya kamu dipanggil duluan. Jadi, kamu udah gak ngerasa sakit kanker lagi dan gak perlu sedih sama masalah hidup yang berat ini lagi Har... hiks... hikss..."


Helena terisak di samping makam sang adik sembari menenggelamkan wajahnya pada tangan yang berada di atas kedua lututnya.


Kemudian tiba-tiba, seseorang menyentuh bahunya sembari berujar, "Helena..." membuat gadis itu mendongak untuk melihat siapa yang sudah memanggilnya.


"Pa-papi?" ucapnya saat melihat bahwa Roylah yang datang dan menyebut namanya.


"Iya, nak. Ini Papi," sahut Roy.


Helena yang sudah sangat merindukan Papinya pun langsung berhambur kepelukan Roy dan menangis sesegukan dalam dekapan sang Papi.


"Maafin Papi, Hel... Maafin Papi."


Roy benar-benar sangat menyesal hingga ia tidak tahu lagi cara meminta maaf dan menebus semua kesalahannya pada anak dan mantan istrinya itu. Ia juga ikut menangis karena setelah 10 tahun lamanya baru bisa memeluk putri sulungnya kembali. Sesekali ia mencium pucuk kepala Helena dan membelai surai hitam putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Papi minta maaf sama kamu, Hel. Papi bersalah, Papi tega udah melantarkan kamu dan juga Harry." ucapnya yang terus meminta maaf karena terlalu diselimuti dengan rasa bersalahnya.


"Hiks... Helena juga minta maaf sama Papi... Helena udah bersikap gak sopan sama Papi, Helena pura-pura gak kenal sama Papi, Helena minta maaf karena udah pernah benci Papi... Helena anak durhaka, hiks... hiks..." Helena juga meminta maaf pada Roy atas sikapnya selama ini. Bagaimana ia bersikap kasar dan tidak sopan, membenci dan bahkan berpura-pura tidak mengenal Papinya sendiri. Helena merasa sebagai anak, ia sudah durhaka.


"Engga, Helena. Kamu gak salah benci Papi, karena itu semua wajar. Kamu gak suka ngeliat Mami kamu disakiti, kamu gak suka ngeliat kejahatan di depan mata kamu. Kamu cuma bersikap sebagai manusia biasa yang sebenarnya hati kamu itu lembut, Papi tau itu."


"Helena kangen sama Papi hiks..."


"Papi juga kangeeeeen... banget sama Helena, tapi Papi terlalu malu buat ketemu anak Papi sendiri." Roy pun melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata putrinya itu dan mengecup kening Helena.


"Sekali lagi Papi minta maaf, Helena..." ucap Roy yang lagi-lagi meminta maaf yang dijawab anggukan oleh Helena dan kembali memeluk putrinya.


Setelah beberapa saat, Roy melepas pelukannya lalu matanya beralih pada makam putra kecilnya, Harry. Putra yang dulu mengatakan bahwa dia sangat merindukan Roy, bahkan Roy tidak sempat bertemu dan memeluk disaat-saat terakhirnya.


Roy pun berjongkok dan menyentuh batu nisan putranya dengan air mata yang sulit berhenti keluar dari matanya itu.


"Papi datang nak, selamat ulang tahun. Harry apa kabar? Harry kangen Papi kan? sekarang Papi udah datang"


"Harry, Papi minta maaf nak, Papi gak ada disaat kamu butuh Papi dan kangen sama Papi"


"Udah Pi... Harry pasti seneng Papi dateng kesini. Jadi, Papi jangan nyalahin diri Papi lagi, yang penting sekarang Papi udah sadar akan kesalahan Papi dan menyesal dengan itu semua." ujar Helena yang berusaha menenangkan Roy agar tidak terus menyalahkan dirinya sendiri. Yang berlalu, biarlah berlalu. Tidak ada gunanya jika terus menyalahkan diri sendiri dan berbicara dengan kalimat yang sama dengan penuh penyesalan, karena itu semua tidak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Yang tersisa, hanya penyesalan yang tak bisa diubah. Tetapi, selagi di berikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk mengubah diri menjadi lebih baik, maka segeralah berubah dan belajar dari masa lalu dan juga pengalaman untuk menjadi manusia yang bijaksana dalam menjalani kehidupan.


"Harry, kamu jangan lupa datang ke mimpi aku, Mami sama Papi ya!" ucap Helena yang kembali berjongkok dan menyenderkan kepalanya pada bahu Roy sembari menatap makam sang adik.


Roy pun merangkul Helena dan mengusap-usap bahu putrinya itu.


Terlihat dari kejauhan, seorang pria tengah memerhatikan mereka dengan seulas senyuman terukir di wajah tampannya.


Pria itu adalah Xylon. Awalnya, Xylon ingin mengejutkan Helena dengan kedatangannya ke pemakaman Harry saat gadis itu memberitahunya jika akan ke sana sepulang sekolah. Namun ketika Xylon datang, ia urungkan niatnya untuk ke sana. Sebab, ia ingin membiarkan Helena dan Papinya saling melepas rindu. Karena merasa tidak ingin mengganggu kebersamaan antara ayah dan anak itu, akhirnya Xylon memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke kantor untuk mengerjakan pekerjaannya saja. Agar besok, pekerjaannya tidak terlalu banyak.


...****************...


Setelah bertahan cukup lama beberapa menit pada posisi tersebut, Helena dan Roy berdiri dan hendak pergi dari pemakaman tersebut.


"Hari ini Papi sibuk gak?" tanya Helena sebelum mereka melangkahkan kakinya. "Kalau gak sibuk, kita ke Mall yuk, Pi!" sambungnya yang mengajak Roy pergi ke Mall dan berharap, Roy tidak sibuk dan mau menuruti keinginannya.


"Oke, ayo! hari ini Papi bakal beliin apapun yang Helena mau," sahut Roy yang tentu saja menyetujui permintaan Helena. Lagipula, sudah 10 tahun ia tidak liburan dengan putri sulungnya itu.


"Yes!!! tapi pakai mobil Helena ya? soalnya Helena mau tunjukkin ke Papi, kalau sekarang anak Papi ini udah bisa nyetir sendiri"


Roy tersenyum dan membelai kepala putrinya. Setelah itu, ia merangkul Helena sembari berkata, "Oke, siapa takut?"


Helena tersenyum senang mendengarnya, sudah lama ia menanti-nanti dimana dia dan Roy pergi menghabiskan waktu berdua.


Namun, sebelum mereka benar-benar pergi dari pemakaman, mereka berpamitan terlebih dahulu pada makam Harry dan mencium batu nisannya. "Papi pergi dulu ya Nak... next time, Papi janji bakal ke sini lagi." Setelah itu, Roy dan Helena pun pergi dari kawasan pemakaman tersebut dan menuju mobil Helena. Tapi sebelum itu, Roy sudah meminta pada supirnya untuk membawa mobilnya pulang karena hari ini ia akan pergi dengan putrinya.


Saat mereka sudah sampai di mall, benar saja apa yang Roy katakan. Roy membelikan apapun yang Helena inginkan dan tentu saja hal itu tidak akan Helena sia-siakan, gadis itu benar-benar membeli banyak barang yang ia sukai tanpa memikirkan harga. Tetapi Roy tidak memarahinya, ia justru malah senang karena bisa memenuhi kebutuhan putrinya dan bisa memberikan sesuatu kembali pada Helena setelah 10 tahun ia tidak memberikan apapun padanya. Kini, ia tebus semuanya hari ini.


Tuhan itu Maha Adil. Jika merasa belum mendapatkan apa yang kita mau, itu artinya bukan waktu yang tepat untuk Tuhan memberikan apa yang kita inginkan tersebut. Namun, manusia sering kali mengeluhkan keinginannya yang belum juga terkabul. Padahal, Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dari apa yang kita minta. Karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Tuhan itu lebih mengetahui apa yang baik dan buruk untuk kita.


...•••••••••...


^^^"Iya, hari ini aku udah baikan sama Papi. Makasih, ini karna kamu juga yang udah nasehatin aku, hehe"^^^


...Malam harinya, Helena menelepon Xylon untuk saling mengabari dan bercerita tentang bagaimana ia dan Papinya sudah berbaikan hari ini....


^^^"Ini gombal bukan?"^^^


"Bukan, ini tulus!"


^^^"Oke... haha"^^^


"Aku pengen jalan sama kamu,


tapi kayaknya kamu capek"


^^^"Aku kalau diajak ke London^^^


^^^malam ini juga, gaskeun. Malah jadi^^^


^^^semangat, capeknya jadi ilang"^^^


"Oh gitu? ya udah siap-siap.


Kita ngedate malam ini"


^^^"Kamu sendiri gak capek? ^^^


^^^kan habis kerja seharian?"^^^


"Kayak kamu yang langsung semangat


kalau diajak jalan. Aku juga langsung


semangat kalau ketemu kamu"


^^^"Fix, sekarang gombal!"^^^


"Enggak, aku mau melepas rindu"


^^^"Apa banget, kayak gak pernah^^^


^^^ketemu setahun"^^^


"Katanya kalau lagi kasmaran gini"


^^^"Oke, hari ini aku melepas rindu ^^^


^^^dua kali jadinya. First, me and Papi.^^^


^^^Second, you and i"^^^


"Oke. Malam ini kamu harus lakuin


dua hal jadinya. First, say I miss you.


Second, say I love you"


^^^"Dih? hahahahaha"^^^


...Bukannya mengatakan apa yang Xylon minta, Helena malah mengalihkan pembicaraan dan langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak....


^^^"Sana buruan siap-siap, terus jemput^^^


^^^aku. Aku tunggu!"^^^


Tuutt...


di sisi lain, Xylon hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat Helena mematikan teleponnya sepihak.


Setelah itu, ia pun langsung bersiap-siap untuk menjemput sang kekasih berkencan.


Ketika ia turun, Xylina yang kebetulan sedang melewati tangga dan melihat penampilan adiknya pun tak ingin membiarkannya lewat begitu saja. "Uhuk... uhuk... ada yang mau ngedate. Rapi banget, wangi banget."


"Kaget." sentak Xylon yang merasa terkejut ketika Xylina muncul tiba-tiba.


"Udah gede ya, adek gue. Hahahaha," kata Xylina sembari terkekeh.


"Haha, udah tua ya Cici gue," balas Xylon.


"Enak aja!"


"Lagian kayak setan, suka ganggu"


"Kok makin ngelunjak?!" Xylina merasa kesal karena disamakan dengan makhluk 'setan'. Namun, Xylon tidak meresponnya.


"Si monkey!"