Sincerity

Sincerity
Part 8| Wejangan buat Julian



Sinar matahari kini berganti dengan cahaya bulan yang sangat indah. Bagi Lisa, malam ini adalah malam yang amat sangat membosankan. Bagaimana tidak? Sejak Julian menjadikannya kekasih, pikiran Lisa tidaklah tenang. Saat ia kembali ke kelas, guru memberikannya ulangan mendadak. Dan malam ini Lisa tidak bisa tidur karena ucapan Julian pada dirinya di rooftop tadi.


'Aku bakalan buat kamu cinta sama aku suatu saat nanti. Jangan ngebantah kalok nggak mau aku hukum. Ngerti?'


"Arrghh, kak Julian kok ngomongnya serius banget sih. Aku kan jadi baperr." Ucap Lisa frustasi.


"Curhat sama Darra deh."


Lisa lalu mengambil ponselnya di atas nakas dan mencari kontak dengan nama 'Darra lucnut'


Darra lucnut


Darra sayang.


Yuhuu, gue mau curhat.


Beberapa menit kemudian, Darra pun membalas pesan yang diberikan Lisa padanya.


Apa? Tentang kak Julian?


Kok Lo tau sih? Lo dukun ya?


Kalok iya kenapa?


Masalah buat Lo?


Sinis banget idup Lo. Lagi dapet?


Enggak sih,


Mood gue lagi anjlok aja.


Kenapa?


Kok jadi Lo yang nanya sih?!


Cepet cerita, kepo gue!


Lo jangan kejut ya?


Iya iya Oneng. Cepet cerita!


Iya iya.


Gue pacaran sama kak Julian.


Yang bener Lo?!


Kok nggak bilang sih?


Gimana gue mau bilang?


Lo nya aja sibuk sama


Kak Delvin.


Hehe, sorry.


Btw Lo tadi di bully


Sama kak Areta?


Iya, tapi gue nggak kenapa²


Ogeb apa gimana?


Di bully Lo bilang gpp?


Aneh sih Lo!


Terserah gue dong.


Oke balik ke topik.


Jadi Lo resmi pacaran


Sama kak Julian?


Iya. Dan Lo tau?


Dia nembak gue dengan cara


Yang nggak elit banget.


Memang gimana?


Dia nyuruh gue jadi pacarnya,


Bukannya nembak terus nunggu


Jawaban gue. Gila nggak tuh?


Kasian deh Lo. Siapa suruh


Deket² sama kak Julian.


Terus gue harus gimana?


Gue belum ada perasaan


Sama dia.


Ya jalanin aja dulu Lis.


Siapa tau kedepannya


Lo mulai suka sama dia.


Kayaknya nggak mungkin.


Kenapa?


Kak Julian itu egois, kasar, dingin


Cuek. Dia bukan tipe gue.


Tapi gue liat,


Setiap kak Julian sama Lo


Dia tulus, keliatan dari


Matanya.


Serius?


Ngapain gue boong sama Lo?


Udahlah Lis, terima aja.


Sekasar-kasarnya cowok


Sama pacarnya, percaya deh


Dia itu sayang.


Jadi maksud Lo,


Gue harus terima


kak Julian gitu?


Kalok gue jadi Lo,


Tapi Lo bukan gue.


Jadi keputusan ada di Lo.


Gue ikutin kata Lo.


Thx ya, Lo emang temen


Curhat terbaik gue.


Emang siapa lagi selain gue?


Sombong Lo!


Harus. Udah deh, gue mau


Belajar dulu.


Semangat belajarnya.


Thx lisakuu😘


Lisa menaruh ponselnya kembali ke atas nakas. Dia membaringkan tubuhnya di kasur dan memandang langit-langit kamar miliknya.


"Aku nggak tau kenapa kak Julian ngelakuin ini. Tapi, aku akan coba nerima kak Julian sebagai pacar aku. Good night kak Julian."


Perlahan namun pasti, Lisa menutup matanya untuk pergi ke alam mimpi.


🍁🍁🍁


Di kediaman Dirgantara, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati waktu luang mereka. Keluarga Dirgantara memang jarang memiliki waktu berkumpul bersama. Baik kepala keluarga sampai anak bungsu memiliki kesibukannya masing-masing. Mulai dari Gavin yang setiap harinya sibuk mengurus pekerjaan kantornya, Junghae yang jarang berada di rumah untuk mengurus butik miliknya, Julian yang sibuk dengan dunianya, dan si bungsu Sofia yang selalu pergi hangout dengan teman seperjuangannya.


"Mah,pah." Panggil Julian kepada kedua orang tuanya.


Sontak Gavin dan Junghae yang sedang menikmati acara kesukaan mereka memandang ke arah Julian penuh tanda tanya.


"Kenapa sayang? Tumben?"


"Julian mau papah ganti baju khusus di kelas tari." Ucap Julian to the point. Gavin menaikkan satu alisnya bingung.


"Kenapa sama bajunya? Kainnya nggak bagus? Kamu nggak nyaman?" Tanya Gavin pada anaknya.


"Bajunya jelek, kainnya jelek, terlalu terbuka, bagusan di pake lap pel."


Gavin yang mendengar itu terkekeh pelan. Apa anaknya masih waras? Ah, jangan tanyakan kewarasan Julian. Pertanyaan yang cocok untuk pemuda itu adalah,,,


"Kamu pikun?"


"Maksud kamu bilang anak kita pikun apa?!" Tanya Junghae tak terima.


"Eh, bukan gitu sayang." Gavin mengelak, "maksud aku, kan dulu Julian sendiri yang milih bajunya. Sekarang dia minta di ganti." Lanjutnya.


Sofia mengangguk setuju mendengar penuturan sang papah tercinta. "Bener tuh mah. Bang Julian aja yang plin-plan. Dulu bilang pilihannya dia nggak pernah salah. Eh, sekarang malah minta di ganti." Ucap Sofia mengompor-ngompori.


"Bener Julian?"


"Bajunya terlalu terbuka."


Junghae makin curiga, "bukannya kamu sendiri yang bilang bajunya lebih bagus terbuka biar orang yang make lebih leluasa geraknya?"


"Seinget papah kamu juga bilang baju yang kamu pilih nggak akan di ganti sebelum kamu lulus?" Double kill dari Gavin.


"Abang juga santai-santai aja tuh makenya. Orang-orang yang ikut kelas tari juga nggak ada yang ngeluh." Tripell kill.


Oke, Julian makin terpojok. Apa ia harus mengatakan jika hal ini ia lakukan agar Lisa tidak memperlihatkan asetnya di depan semua orang? Ayolah, Julian tidak terima jika orang-orang melihat aset berharga Lisa, itu juga termasuk aset miliknya. Kan sekarang Lisa milik Julian? Jadi Julian nggak salah dong.


Melihat wajah kakaknya yang terdiam gugup, Sofia menampilkan smirknya. Ancang-ancang dirinya untuk mengadukan perbuatan Julian disekolah sudah di nantikannya sejak beberapa hari yang lalu. Namun baru sempat hari ini.


"Mah, pah. Aku kayanya tau deh kenapa kak Julian mau ganti model baju kelasnya." Julian menatap tajam Sofia, bukannya takut gadis itu malah makin menampilkan senyum jahilnya kepada sang kakak.


"Apaan sih? Mamah jadi kepo nih."


"Kak Julian lagi suka sama cewek mah. Kemarin aja ceweknya sakit, langsung di bawa ke UKS sama kak Julian. Terus—"


"Iya terus terus?"


"Terus temen aku ada yang bilang kalok ceweknya itu masuk kelas tari, udah pasti dong bajunya kebuka dan ngeliatin postur badannya."


Gavin dan Junghae mengangguk mengerti. Tatapan mereka kini beralih pada Julian yang sibuk mengotak-atik ponsel pintarnya. Berharap agar kedua orang tuanya tidak menanyakan sesuatu yang nantinya akan membuat dirinya sendiri malu.


"Julian anak mamah udah gede ternyata."


"Anak aku juga sayang."


"Iya tau anak kamu. Anak kita berdua. Puas?!" Gavin menyengir.


Julian menoleh, "apa?"


"Kalok boleh tau pacarnya siapa sih? Kok hebat banget bisa luluhin hati kamu yang sekeras batu batako ini?" Tanya Junghae yang membuat Julian mendelik tajam menatap wanita itu.


"Jangan digituin matanya, nanti lepas. Kalok lepas, nanti buta. Kalok buta, pacar kamu nyari yang lain nanti." Ejek Gavin.


"Nih ya mah, pah. Mungkin kak Julian lagi sariawan atau lagi malu. Tapi yang pasti cewek ini aku jamin bikin mamah sama papah suka deh." Ucap Sofia.


"Siapa sih Sofia. Jangan bikin jantung mamah dag dig dug gini dong." Junghae makin penasaran siapa gadis yang sudah berhasil membuat Julian yang dinginnya melebihi es di kutub utara itu meleleh.


"Lisa. Orang yang udah bantuin mamah waktu di maling copet."


"YANG BENER KAMU?!" Teriak Junghae senang. Jika gadis yang Sofia katakan bukan Lisa, Junghae akan menyuruh Julian untuk membawa gadis itu ke rumah dan mengintrogasinya sampai ke akar-akar. Bukannya bagaimana, Julian itu kan tampan, suaranya bagus walaupun jarang ngomong, body goals, mana rela Junghae jika Julian dekat dengan gadis yang hanya memanfaatkan apa yang ada dalam diri anaknya itu. Ohh big no!


"Sayang jangan teriak-teriak juga dong. Memangnya si Lisa itu siapa sih?" Tanya Gavin ingin tau.


"Aku lupa bilang sama kamu. Lisa itu anak yang udah nolongin aku waktu di copet. Dia juga pinter banget loh masaknya pah, mamah jadi pingin belajar banyak dari dia." Jelas Junghae mengingat bagaimana baiknya Lisa saat menolong dirinya yang dicopet beberapa hari yang lalu.


"Ohh jadi namanya Lisa. Pasti cantik anaknya." Gavin menoleh pada Julian yang menatapnya datar, "papah bangga sama kamu nak. Gitu dong, nyari pacar yang sebalas dia belas sama mamah kamu. Kan enak tuh di ajak susah bisa di ajak senang-senang juga bisa." Ucapnya.


"Kapan-kapan ajak Lisa ke sini ya. Mamah kangen sama dia, mau buat kue baru lagi."


Julian mengangguk. Baru saja pantatnya ingin lepas dari sofa, Gavin mengatakan hal yang mau tak mau membuat dirinya harus kembali duduk ke tempatnya.


"Ekhmm, mumpung kamu ada di sini papah mau ngasih sedikit wejangan buat kamu." Gavin merubah sikap duduknya yang awalnya bersila kini duduk dengan tegak layaknya seorang penasihat handal.


"Apa?


"Kamu kan udah punya pacar. Jangan dingin-dingin lah sama pacar kamu. Apalagi cuek, sesayang apapun Lisa ke kamu dia pasti bakalan capek ngadepin sikap kamu yang dinginnya minta ampun, ngomong aja sekata dua kata. Sesekali gombalin gitu biar dia baper. Kaya papah dulu, iya nggak sayang?" Tanya Gavin pada Junghae yang sedang memainkan rambut Sofia.


"Hmm."


"Dengarkan? Kalok kamu mau belajar cara gombali cewek, papah siap deh jadi guru kamu dua puluh empat jam non stop."


Julian memutar bola matanya malas, siapa bilang dia akan bersikap dingin pada Lisa. Memang benar apa yang dikatakan Gavin, Julian itu dingin pada semua orang tapi tentu saja pengecualian untuk Lisa kekasih manisnya itu. Tanpa Gavin minta pun ia akan melakukannya.


"Julian bukan playboy kaya kamu." Sontak ucapan Junghae membuat Sofia tertawa cengengesan, sedangkan Julian menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga.


"Ya ampun sayang, salah aku apalagi sih? Aku kan cuma mau ngasih wejangan buat Julian biar dia langgeng sama pacarnya. Apa salah?" Ucap Gavin memelas pada sang istri tercinta.


"Julian punya caranya sendiri buat ngungkapin perasaannya dia. Kamu nggak usah ikut campur! Urus aja tugas kantor kamu biar anak istri di rumah bisa makan enak tiap hari." Cerocos Junghae tak kalah sengitnya.


"Plus bisa shopping setiap hari. Iya kan bang?"


"Serah!" Julian bangkit dari duduknya lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya sebelum pergi ke kamar.


"Dah sayang. Jangan lupa doa ya sebelum tidur." Ucap Junghae sedikit keras.


"Jangan lupa telpon pacar kamu dulu biar tidurnya nyenyak." Tambah Gavin.


"Bodo amat."


🍁🍁🍁