
...Hello readers, mohon supportnya untuk novel aku ya.. yuk klik likenya sekarang. jangan lupa Votenya dan save sbg favorit!!...
...thankyou so much buat yang udah like dan baca novelku teruss!!...
...Sukses selalu buat kalian!!...
...Happy reading...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xylon dan Adelard mengeluarkan ponselnya bersamaan untuk menghubungi anak buah mereka.
"Xylon, udah cukup kamu bantu anak-anak om. Om gak mau ngerepotin kamu lagi, kamu juga harus fokus sama pekerjaan kamu. Jadi, jangan khawatir, om udah disini. Kamu pulang aja karena Om yakin kalau kamu pasti capek," ujar Adelard yang tidak ingin merepotkan Xylon terus.
"Ini kemauan saya Om, jadi Om jangan ngerasa ngerepotin. Lagian anak buah saya ada di rumah sakit ini, jadi biar mereka yang urus urusan disini," sahut Xylon jujur. Ia benar-benar tidak keberatan sama sekali membantu mereka, apalagi ini juga demi gadis yang ia cintai.
"Makasih banyak ya." Adelard menepuk bahu Xylon.
"It's my pleasure, Om"
"Kalau gitu, Om mau telepon rumah sakit sanah untuk ngurus perawatan Shelly dan Helena, biar mereka langsung nyiapin operasi buat Helena," pamit Adelard.
"Iya, silahkan," sahut Xylon.
Adelard pun pergi untuk menelepon anak buahnya, begitupun dengan Xylon.
Setelah itu, Xylon masuk ke dalam ruangan dimana Helena berada dan terlihat Helena masih menahan sakitnya.
Helena melihat kedatangan Xylon dengan mata yang sudah basah karena menangis kesakitan.
"Xylon..." lirih Helena.
Suster pun ikut menoleh ke arah Xylon dan terpesona melihat ketampanan laki-laki itu, seperti gadis-gadis lainnya saat melihat Xylon. Namun sesaat, suster tersebut langsung sadar dan pamit keluar dari kamar itu.
Setelah Suster pergi, Xylon menghampiri Helena dan sedikit menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan gadis itu.
"Sabar ya Hel... sebentar lagi Papi kamu dateng dan kita bakal pergi ke rumah sakit terbaik di Jakarta supaya kamu segera dioperasi dan sembuh," tuturnya.
Helena mengangguk lemah mendengarnya.
Cup
Xylon mengecup singkat kening Helena.
"Inget! masih ada party yang harus kita datangin, masih ingetkan?"
"Party?"
Helena berpikir sejenak dan langsung teringat akan pesta yang pernah Xylon bicarakan.
(Kalian ingat kan waktu itu Xylon pernah ajak Helena ke party pengusaha-pengusaha itu? nah kalau gak inget silahkan baca lagi chapter 10, jauh juga ya btw hahahaha)
"Iya, inget," ucapnya.
"Bagus, kalau gitu kamu harus cepet sembuh supaya bisa dateng ke sana," ujar Xylon.
"Hm," sahut Helena dengan deheman.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampakkan dokter tadi beserta 3 orang perawat lainnya untuk membawa Helena masuk ke ambulance dan dokter itupun memberika hasil lab pemeriksaan Helena.
...****************...
Helena sudah sampai di rumah sakit yang sudah Adelard tentukan.
Saat Helena dioperasi, Xylon tidak berada di sana untuk menunggunya, melainkan ia pergi ke suatu tempat yaitu markasnya.
Xylon menemui Rasya yang berada di markasnya tersebut.
Sesampainya ia di sana, terlihat disebuah Ruangan Rasya tengah diikat di sebuah kursi dengan keadaan masih tertidur.
"Kalian yakin gak ada siapapun lagi yang terlibat dan mencurigakan?" ujar Xylon pada anak buahnya.
"Tidak ada tuan muda, saya sudah pastikan jika hanya Rasya dan Kakaknya saja yang terlibat dalam kasus ini," sahut Dev mewakili yang lain.
"Gavin, gimana BLee Corp?" tanya Xylon beralih pada Gavin, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya.
"Beres tuan," jawab Gavin.
"Sekarang Rasya mau kita apain, tuan?" tanya Dev.
"Hm... lepasin, dia juga gak berguna," perintah Xylon.
"Anda serius, tuan?" tanya Gavin memastikan pendengarannya.
"Hm, lagian rencana saya dan Helena belum selesai sampai disini"
Ya, Xylon sengaja menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Rasya karena ia juga harus menyingkirkan 2 orang lagi yang sudah menganggu hidup Helena dengan menggunakan laki-laki itu.
"Baik tuan," sahut Gavin dan Dev serempak.
di sisi lain
Agnez terkejut saat mendengar berita kehancuran perusahaan BLee Corp, ia terus menghubungi Rasya dan khawatir jika dirinya juga akan ikut hancur.
"Ck, Rasya kenapa handphonenya gak aktif sih." gerutunya sembari terus mencoba menelepon pria itu.
Karena kesal, Agnez melempar ponselnya ke ranjang lalu mendudukkan dirinya dengan kasar di pinggir ranjang.
"Huh, gimana kalau gua juga ketauan ikut terlibat?" gumamnya.
Agnez mengacak rambutnya frustasi, pusing memikirkan hal ini.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Agnez mengambil kembali ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
"Tante Carine?"
Saat melihat bahwa Carine lah yang menelepon, Agnez pun langsung mengangkatnya.
...📞📞📞📞...
^^^"Agnez!"^^^
"Iya, halo Tan"
^^^"Kamu udah denger berita tentang^^^
^^^Alden kan?"^^^
"Iya, kita harus gimana buat nolongin
^^^"Harus gimana apanya? itukan^^^
^^^udah jadi rencana dia, salah dia^^^
^^^udah bertindak ceroboh"^^^
"Tante parah banget, itukan
keponakan Tante"
^^^"Ya tau, gak usah diperjelas"^^^
^^^"Sekarang kita harus mikirin^^^
^^^*rencana lain buat hancurin^^^
^^^Helena* dan Xylon"^^^
"Agnez takut, kalau misalnya kita
ketauan, terus beakhir di penjara
kayak Kak Alden, gimana?"
^^^"Kita jangan sampai seceroboh^^^
^^^Rasya dan Alden!"^^^
"Iya Tante, terus kita harus gimana?"
^^^"Kamu bilang, Xylon udah lebih deket^^^
^^^sama kamu kan? dan Xylon juga^^^
^^^udah bisa nerima kamu"^^^
"Iya, Tante bener"
"Agnez bakal coba ngerayu Xylon"
...(Agnez tersenyum miring karena sudah tidak sabar menjalankan rencananya.)...
^^^"Bagus, Tante bakal urus Helena"^^^
"Oke"
...📞📞📞📞...
Sambungan telepon pun terputus, kini Agnez sudah tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya. Ia pikir jika berita hancurnya perusahaan BLee Corp adalah perbuatan keluarga Williams. Ia tidak tahu bahwa itu semua adalah ulah Xylon.
"Gue harus bisa bikin Xylon benci Helena dan biar dia sendiri yang nyingkirin tuh cewek. Huh, gara-gara Helena orang-orang yang gua sayang dia rebut dan mereka selalu aja mentingin Helena, apa bagusnya sih tuh cewek, berkuasa banget. Gue yang udah sering berkorban dari dulu malah terasingkan. apa-apa Helena, apa-apa Helena, bosen gua dengernya." gerutu Agnez yang menjadikan hal itu sebagai alasan ia untuk membenci Helena.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Agnez terkejut dan segera membuka pintu kamarnya.
"Kakak? baru pulang?" tanya Agnez saat melihat bahwa ternyata kakaknya yang mengetuk pintu.
"Hm, boleh Kakak masuk?"
"Bolehlah, masuk aja."
Agnez mempersilakan Eric masuk ke dalam kamarnya. Eric pun masuk dan duduk di sofa yang berada di kamar adiknya.
"Ada apa kak?" tanya Agnez saat sudah duduk di samping Eric.
"Kakak mau ngomong sama kamu tentang Xylon," jawab Eric.
"Ko Xylon? kenapa emangnya?" tanya Agnez
"Kakak minta kamu buat jauhin Xylon," ucap Eric.
"Lho kenapa kak? bukannya Kakak udah tau dari dulu kalau aku suka sama Xylon?"
"Iya Kakak tau, tapi ini semua demi kebaikan kamu"
"Ta-tapi kenapa?"
"Xylon udah punya Helena dek, kamu harus jauhin dia kalau kamu sahabat Helena," jelas Eric.
"What do you say? Kakak suruh aku jauhin Xylon demi Helena?!" nada bicara Agnez sudah mulai tinggi.
"Iya, dan kamu harus dengerin ucapan Kakak"
"Gak mau!" tolak Agnez.
"Agnez!!"
"Adek Kakak tuh sebenernya siapa sih? aku atau Helena? Kakak tega ya ngorbanin perasaan adek sendiri demi orang lain? sumpah, semenjak Helena dateng semua orang jadi gebl*k dan buta karena sikap sok baik Helena padahal dia munafik!" hardiknya.
"Hei, Kakak cuma gak mau kamu sakit hati nantinya, makanya Kakak kasih tau kamu dari sekarang sebelum terlambat. Kenapa kamu jadi ngomong seenaknya?" tutur Eric yang masih sabar menyikapi adiknya.
"Apa? Kakak juga jangan munafik! Aku tau, Kakak itu tertarik sama Helena kan?"
"Agnez!!! jaga ucapan kamu!!" ujar Eric.
"Udahlah Kak, Agnez males ngomong sama Kakak."
Agnez pergi ke ranjang dan berbaring lalu memakai selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa sopan kayak begitu kalau Kakak lagi ngomong?" ujar Eric.
"Ngantuk!" sahut Agnez.
Eric menghembuskan nafas kasar dan pergi dari kamar adiknya.
Saat Eric keluar dan menutup pintu, ia membalikkan badannya dan terkejut.
"Mama?" ucapnya.
"Ada apa Eric? kenapa ribut-ribut?" tanya Mamanya.
Eric terdiam dan langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan sang Mama.
TBC
jangan lupa like, vote dan komen yang menarik ♥