Sincerity

Sincerity
Kemarahan Hadley dan Adaline



di sisi lain, Xylon baru saja melakukan meeting di sebuah restoran mewah dan baru saja keluar dari ruang VVIP hendak kembali ke kantornya. Namun, saat matanya menangkap sosok pria yang ia kenal bersama seorang wanita yang kelihatannya masih muda dan tampak seperti pasangan romantis, membuat Xylon sedikit terkejut dan refleks menghentikan langkahnya.


"Hah? itu? itu tuan Jefferson?" gumam Xylon yang bertanya pada dirinya sendiri dengan mata yang masih tertuju di mana Roy dan seorang wanita muda duduk berhadapan.


"Woah iya, tuan. Itu tuan Jefferson!" ucap Gavin yang mendengar gumaman bosnya itu dan ikut melihat apa yang dilihat Xylon lalu membenarkan dugaan bosnya, jika pasangan yang mereka lihat adalah Roy Jefferson dan seorang wanita muda, ntah siapa.


"Hei, anda juga lihat, ya?!" ujar Xylon.


"Iya, tuan. Sepertinya itu selingkuhan tuan Jefferson," sahut Gavin yang menduga-duga wanita yang bersama Roy itu adalah selingkuhannya. Xylon juga memikirkan hal yang sama seperti Gavin. Namun, Xylon tidak ingin salah menduga dan kalaupun itu benar, ia hanya bisa berharap ayah kandung dari kekasihnya itu segera berubah.


Xylon pun segera melanjutkan langkahnya dan pergi dari restoran tersebut dengan pikiran yang masih tertuju pada Roy dan wanita tadi.


...----------------...


Sore hari tiba, Agnez sudah diperbolehkan untuk pulang dan beristirahat di rumahnya. Sementara Helena, ia masih tidak tenang karena terus memikirkan bagaimana cara memberitahu keluarga Stewart soal kehamilan Agnez. Karena saat di rumah sakit, Helena sudah berbicara pada dokter yang menangani Agnez untuk tidak membicarakan kehamilan sahabatnya pada keluarga Agnez terlebih dahulu, biar ia yang berbicara karena Helena tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit jika Hadley dan Adaline yang marah kepada Agnez.


'Rasya nggak terima. Terus, kalau gua kasih tau orang tua Agnez dan Kak Eric, mereka juga nggak nerima gimana? gimana caranya biar mereka semua nerima anak Agnez? gimana kalau mereka ngusir Agnez? terus nanti, gimana nasib anaknya Agnez?' batin Helena yang terus memikirkan nasib sahabatnya itu di masa depan.


"Helena, Yena dan Acha! Tante ucapin makasih banyak buat kalian karena udah bantuin Agnez dan selalu nemenin dia." Adaline mengucapkan terimakasih pada Helena, Acha dan Yena karena selalu ada dan menemani Agnez.


"No problem Tante, Agnez kan bestie kita," sahut Yena mewakilkan Acha dan Helena.


"Iya, Yena bener Tante!" timpal Acha.


"Tante, Om! Helena mau bicara sama kalian, ini penting banget soal Agnez," ujar Helena.


Acha dan Yena menatap Helena dan yang ditatap pun menganggukkan kepalanya seolah menjawab bahwa ia sudah siap mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tua Agnez.


"Mau bicarain apa?" tanya Hadley menunggu sahabat putrinya itu mengatakan apa yang ingin ia bicarakan.


Tampak Helena menghela nafasnya sebelum memulai pembicaraan.


"Tapi, Om sama Tante janji jangan kasarin ataupun ngusir Agnez. Tante sama Om harus sabar dan tabah, nggak boleh bikin Agnez stress, ya?" Helena meminta Adaline dan Hadley berjanji padanya terlebih dahulu sebelum ia benar-benar akan mengatakan kehamilan Agnez.


"Ya ampun, kayaknya serius banget. Ada apa?" ujar Adaline.


"Janji dulu! gimana, Om? Tante?"


"Iya, janji!" sahut Adaline dan Hadley serempak. Mereka tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala melihat Helena yang seperti anak kecil saat meminta mereka berjanji.


"Ck, kok malah senyum-senyum?!"


"Haha, habisnya kamu lucu. Kayak anak kecil aja," ucap Adaline.


"Terserah Tante. Intinya Om sama Tante udah janji sama Helena."


"Ya udah, mau ngomong apa emangnya? serius banget, pake janji-janji segala," kata Hadley yang sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin Helena bicarakan.


"Sebenarnya, Agnez itu nggak tifus. Dia-"


"Dia hamil Om, Tante!"


Baru saja Helena akan mengatakan kehamilan Agnez. Tetapi, suara Yena memotongnya dan langsung memberitahu Adaline dan Hadley mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Agnez.


"GIMANA BISA? KALIAN BERTIGA JANGAN BOHONG!" Hadley berdiri berbicara dengan nada tinggi karena ia benar-benar terkejut dan tidak percaya mendengar soal kehamilan putrinya.


"Ka-kalian nggak salah kan? A-Agnez gak mungkin hamil. Dia ... dia ... hiks, hiks ...." Adaline sudah tidak kuat lagi setelah mendengar kabar buruk itu dan menangis sejadi-jadinya, tak menyangka jika putrinya sendiri bisa seperti itu.


"Iya Tante! Agnez lagi hamil, bukan tifus! kita sengaja rahasiain ini dulu karena tadi masih di rumah sakit," jelas Acha yang menegaskan kembali ucapan Yena sebelumnya.


"Kalian ini salah pasti, kalian pasti udah salah!" seru Hadley yang masih tidak mau mempercayai perkataan Helena, Yena dan juga Acha.


Helena yang mengetahui hal ini akan terjadi dan Helena sudah yakin jika kedua orang tua Agnez tidak akan mempercayai perkataan mereka semudah itu. Ia pun langsung mengeluarkan selembar kertas di tasnya yang berisikan pernyataan tentang kehamilan Agnez pada Hadley. "Ini buktinya, Om."


Hadley menerima kertas tersebut dan membacanya. Ia benar-benar emosi sampai membuang kertas tersebut begitu saja dan pergi menaiki tangga menuju lantai atas dengan tergesa-gesa dan yang pasti penuh amarah.


Adaline yang sudah tahu ke mana suaminya akan pergi pun langsung menyusul Hadley dan diikuti oleh Helena, Yena dan juga Acha.


Sesampainya di depan kamar Agnez, Hadley langsung menendang pintu kamar putrinya dengan kencang hingga Agnez terbangun dari tidurnya dan menatap pintu kamarnya yang memperhatikan Papanya yang raut wajahnya penuh amarah. Agnez bangun dari tidurnya karena Hadley yang mendekat dan tiba-tiba mencengkram tangannya dan memaksanya berdiri.


"Papa apa-apaan sih, sakit Pa!" sentak Agnez yang merasakan sakit dipergelangan tangannya akibat cengkeraman sang Papa yang begitu kuat.


"Jawab pertanyaan Papa, Agnez. SIAPA AYAH DARI ANAK YANG LAGI KAMU KANDUNG SEKARANG, HAH?!" tanya Hadley dengan nada tinggi yang membuat Agnez tersentak kaget.


"KAMU ITU HAMIL!" seru Adaline yang baru saja datang bersama Helena, Acha dan Yena dan langsung berseru mengatakan kebenaran tersebut pada putrinya.


Deg


Jantung Agnez seakan berhenti berdetak kala mendengarnya. Dugaannya selama ini benar, ia terpaku dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Jika ia memang benar hamil, maka hancurlah masa depannya, pikir Agnez.


"Ma-mama ...." Agnez tak mampu berkata-kata lagi, ia benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan orang tuanya lakukan padanya. Ia sudah siap akan hal itu karena ini semua adalah kesalahannya.


"Kenapa Agnez? KENAPA?! KAMU BELUM PUAS BIKIN MALU MAMA SAMA PAPA, IYA?!" Hadley kembali berteriak dan menatap penuh amarah pada putrinya.


Agnez menangis dan tak mampu menjawab ucapan Papanya lagi. Ia sendiri juga sudah tidak memiliki harapan untuk masa depannya. Agnez benar-benar menyesal dan merutuki kebodohannya sendiri di masa lalu yang membuatnya harus menerima akibatnya sekarang.


"GAK TAU MALU!" Adaline sudah sangat kesal dan menghampiri Agnez.


Plakk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Agnez yang membuat gadis itu terjatuh di ranjangnya.


"Hiks ... hiks ... Agnez minta maaf Ma, Pa! Agnez juga nggak mau hal ini terjadi ...."


Agnez manangis dengan wajah yang menunduk ke bawah karena tak berani menatap kedua orangtuanya saat itu.


"KAMU-"


"STOP TANTE, OM!"


Adaline yang baru saja akan menampar putrinya kembali pun harus tertahan karena Helena.


"HELENA, DIEM KAMU! JANGAN ADA YANG IKUT CAMPUR!" seru Hadley mengingatkan agar Helena maupun yang lainnya tidak ikut campur.


"Tapi Tante sama Om udah janji sama aku, kalian nggak boleh kasarin Agnez. Walau bagaimanapun, dia lagi hamil. Tolong jangan bikin dia stress!" ucap Helena mengingatkan Hadley dan Adaline dengan janji mereka sebelumnya.


"Untuk hal ini, Om harus langgar janji karena Agnez udah benar-benar kelewatan. Jadi, kamu udah cukup bantuin Agnez. Tolong keluar sekarang juga!" ujar Hadley menunjuk pintu kamar Agnez sambil menyuruh Helena keluar dari kamar putrinya karena ia benar-benar sudah sangat emosi.


"Iya Helena, tolong kamu dan yang lainnya pulang aja. Agnez harus kami urus karena udah bener-bener bikin malu keluarga!" Adaline menimpali ujaran suaminya itu.


"Siapa yang bisa ngubah masa lalu? Agnez udah berubah! ini mungkin takdir dia dan hasil dari perbuatannya di masa lalu. Sekarang di saat-saat Agnez udah berubah, Om dan Tante nggak mau ngedukung dia? aku tau kehamilan Agnez sekarang bakal bikin malu keluarga Stewart. Tapi Agnez sendiri juga nggak bisa berbuat apa-apa. Rasya nggak mau nerima anaknya dan Agnez, terus kalian juga? gimana Agnez mau bertahan hidup? dia juga butuh support dari Om sama Tante. Ini semua udah terlanjur terjadi, waktu gak bisa diputar lagi. Kita semua harus nerima karena mungkin suatu hari, kehamilan Agnez ini membawa suatu kebahagiaan yang gak pernah kita duga-duga. Siapa tau, kan?"


"Kalaupun Om sama Tante ngegugurin kandungan Agnez, hal itu ngelanggar undang-undang, bukan? lagian kalian nggak takut dosa apa kalau ngegugurin bayi yang bahkan belum berbentuk manusia? Om sama Tante kan orang tuanya Agnez, masa kalian tega sama anak di dalam kandungannya, cucu kalian sendiri!"


"Bukan maksud Helena buat nasehatin apa yang baik dan buruk buat Om sama Tante, Helena bukan mau menggurui. Tapi yang terjadi udah terjadi. Helena cuma nggak mau bayi Agnez kenapa-kenapa dan kita harus support Agnez, Helena yakin dia lagi rapuh, serapuh-rapuhnya."


Helena menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya agar Hadley dan Adaline bisa sedikit tenang. Helena juga sangat paham dengan apa yang keluarga Stewart rasakan saat ini. Namun sebagai manusia biasa, mereka tidak bisa mengubah masa lalu. Apalagi, Agnez sudah berubah sekarang dan hal itu jangan sampai membuat Agnez kembali ke jalan yang salah karena merasa dunia tidak adil padanya dan dia tidak mendapat dukungan dari keluarganya lagi.


Adaline hanya diam dan berlalu begitu saja meninggalkan yang lainnya di dalam kamar Agnez.


"Tadi, kamu bilang Rasya, dia ayah kandung dari anak yang ada di dalam perut Agnez bukan? Siapa nama lengkapnya?" tanya Hadley yang sepertinya masih merasa emosi.


"Ra-Rasya Elvis ... Bailey," jawab Helena sedikit takut dengan aura dari Papanya Agnez itu.


Setelah Helena mengatakan nama lengkap Rasya, Hadley juga langsung pergi dari kamar putrinya.


Acha, Yena dan Helena saling menatap. Kemudian, mereka menghampiri Agnez yang masih menangis sesenggukan sambil menundukkan kepalanya.


"Nez ..." panggil Helena lembut dan menyentuh bahu sahabatnya.


Agnez pun langsung memeluk Helena dan menangis sejadi-jadinya. "Gua nyesel Helena ... gua nggak tau harus gimana lagi untuk jalanin kehidupan gua," lirih gadis itu.


Helena mengusap lembut punggung Agnez. Yena juga langsung duduk di sisi Agnez satunya dan membelai rambut sahabatnya itu.


"Kita ada buat Lo, Lo nggak sendiri, Nez!" ucap Acha yang berusaha agar Agnez tidak begitu rapuh karena ia dan yang lainnya akan terus mendukungnya sebagai sahabat.


Agnez hanya mengangguk lemah menjawabnya. Ia bahkan sudah memikirkan bagaimana nanti ia akan pergi ke sekolah dan melanjutkan kehidupannya. Agnez berharap, Rasya mau menikahinya dan mereka berdua bisa memulai semuanya dari awal.


Agnez beruntung memiliki sahabat seperti Helena, Acha dan Yena. Mungkin, jika ia berteman dengan orang-orang yang munafik, mereka akan meninggalkannya saat mengetahui hal ini dan tidak mau berteman dengannya lagi. Tapi ketiga sahabat Agnez ini berbeda, mereka benar-benar memiliki hati yang baik dan masih mau menerima dirinya sebagai sahabat setelah perbuatan bodohnya di masa lalu.


"Thankyou," ucap Agnez berterimakasih dengan nada yang pelan kepada sahabat-sahabatnya.


TBC