
Carine yang sejak tadi terus menarik suaminya pun akhirnya dilepas paksa oleh Roy karena ia merasa malu terus ditarik-tarik oleh istrinya.
"Carine, apa-apaan kamu?!" kesalnya yang mencoba untuk tidak berteriak karena masih berada di acara pesta tersebut.
"Ayo kita pulang, aku mau bicara sama kamu!" ujar Carine.
"Oke, oke. Tapi bisa kan gak usah narik-narik?"
"Enggak!"
"Carine!"
"Mas!"
Roy pun menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya menuruti permintaan sang istri.
"Oke, aku pamit dulu sama rekan-rekan kerja aku," ucap Roy.
"Iya, jangan lama-lama!"
Setelah selesai berpamitan untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan dirinya tidak enak badan, Roy kembali menghampiri istrinya. Mereka pun berjalan menuju mobil mereka yang di kemudikan oleh supir.
Sesampainya di kediaman mereka, Roy dan Carine turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah mewah mereka.
"Tadi di mobil aku tanyain mau ngomong apa malah diem. Sekarang kita udah di rumah, jadi kamu mau ngomongin apa?" ujar Roy saat keduanya sudah berada di ruang keluarga.
"Apa yang kamu omongin sama Laura dan suaminya tadi pas di acara sana?" Carine langsung to the point untuk membicarakan apa yang ingin ia tanyakan sejak tadi.
Tampak Roy kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar pertanyaan istrinya yang ternyata tidak penting sampai mereka harus pergi dari acara itu.
"Begini ya, aku cuma bicarain masa lalu kita dan minta maaf sama Laura. Aku juga bicara tentang anak aku, Helena. Udah sepuluh tahun aku gak ketemu sama Helena. Dia udah besar dan aku harus minta maaf juga sama anakku, Rine! aku harus nebus semua kesalahan aku dan jadi Ayah yang bertanggung jawab!" Roy menjelaskannya pada Carine dengan sebaik mungkin agar istrinya mau mengerti.
"Tapi Mas, ngapain kamu merjuangin itu semua, sedangkan Helena aja benci sama kamu?!" seru Carine yang berusaha agar suaminya tidak melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan, yaitu berdamai dengan Helena dan membagikan hartanya pada gadis itu.
"Apa maksud kamu, huh? dengar ya! Helena itu juga anak aku, sama seperti Selena, Helena juga punya hak buat dapatin kasih sayang dari aku, paham kamu?" kesal Roy yang kini sudah bangkit dari duduknya diikuti Carine.
"Mas, maksud aku bukan begitu! kamu jangan salah paham. Aku cuma gak mau kalau kamu gak dihargain sama anak kamu sendiri walaupun kamu udah minta maaf, kamu lihat sendirikan kejadian di hotel waktu itu? dia malah pura-pura gak kenal dan bersikap kasar sama kamu?"
Carine pun tidak menyerah untuk membuat suaminya berada dalam genggamannya kembali. Ia pun menggunakan kejadian saat Helena selesai bertemu dengan Greisy di Jeffer Hotel agar Roy mau mendengarkan ucapannya.
"Waktu itu Helena masih sakit hati sama aku. Tapi aku yakin, anak aku itu gadis yang baik dan orang yang pemaaf. Aku yakin dia bisa nerima aku dan maafin aku sepenuhnya," tutur Roy.
"Tapi-" Carine hendak berbicara, tapi Roy langsung pergi begitu saja.
"Akhhhh, kurangajar!" umpat Carine saat suaminya sudah tak terlihat lagi.
"Gimana coba biar dia gak nemuin Helena? ck, mana Rasya udah berubah dan gak akan bisa bantuin aku lagi," sambungnya dengan kesal.
Sementara Adelard dan Laura baru saja sampai di kediaman mereka dan langsung masuk ke dalam. Terlihat Helena yang sedang menyantap makanan karena belum sempat makan malam tadi.
"Helena..." panggil Laura lembut.
Gadis itupun menengok dan dilihatnya sang Mami sedang berjalan mendekat ke arahnya bersama Papinya.
"Mami? Papi? Kok kalian udah pulang?" tanya Helena.
"Iya, soalnya Papi mau bicarain sesuatu sama kamu." jawab Adelard sambil mendudukkan dirinya di kursi makan yang kosong dekat Helena dan diikuti oleh Laura.
"Hm, pasti Papi ngomongin soal Papi Roy kan?" tebak Helena.
"Yup, kamu bener." sahut Adelard membenarkan.
"Oke sebentar, aku taruh piring dulu." izin Helena yang kemudian menaruh piring bekas makannya ke wastafel. Setelah itu, ia kembali dan duduk di tempatnya semula dan menatap kedua orang tuanya.
"Apa yang mau Papi bicarain?" tanyanya.
"Papi mau tanya sama kamu Hel, apa kamu udah maafin tuan Roy Jefferson? apa kamu benci dia sampai saat ini?" tanya Adelard yang langsung membuka topik pembicaraan.
Helena terdiam sembari memikirkan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Adelard.
Tak lama, ia menghela nafasnya dan kembali berbicara.
"Buat aku, Papi Roy emang salah dan wajar aku marah sama dia bukan? tapi aku sebagai anak, aku gak bisa benci sama orang tua aku sendiri, Pi! aku maafin semua kesalahan Papi Roy dan udah mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu kok, lagian kalau masa lalu itu gak terjadi, aku gak bakal punya Papi, Ci Shelly, Ko Denzel dan Kevin. Sampai kapanpun aku gak akan benci sama Papi Roy dan aku udah maafin dia. Sumpah, aku udah maafin Papi Roy, Pi!" jelas Helena penuh keyakinan.
Adelard dan Laura tersenyum mendengar penuturan Helena.
"Papi tau kalau kamu itu pemaaf dan bisa mengontrol emosi. Papi bangga dan beruntung punya anak yang baik dan bijaksana seperti Helena," puji Adelard.
"Aku juga beruntung punya Papi." balas Helena tersenyum pada Adelard.
Kemudian, ia menatap ke arah sang Mami dan menggenggam tangannya.
"Apa Mami juga udah maafin Papi Roy?" tanya Helena pada Laura yang sejak tadi hanya menyimak.
Laura tersenyum lalu menjawab, "Sebelum kamu tanyain hal itu, Mami udah maafin Papi kamu dan juga udah lupain semuanya."
Helena manggut-manggut dan mereka bertiga terdiam sesaat hingga Adelard kembali berbicara.
"Mending kita istirahat dan Helena, kamu jangan bergadang, ya?" ujarnya yang menyuruh mereka berdua beristirahat dan meminta Helena agar tidak bergadang karena besok gadis itu harus pergi ke sekolah.
"Iya, Pi!" sahut Helena menuruti ucapan Adelard.
Kemudian, mereka bangkit dari kursi masing-masing dan berjalan menaiki tangga menuju kamar masing-masing.
Setelah kedua orangtuanya masuk ke dalam kamar mereka, Helena masuk ke kamarnya sendiri dan berjalan menuju balkon untuk melihat pemandangan sembari mencari udara segar dan memperbaiki suasana hatinya.
Helena menikmati pemandangan dan menghirup udara di malam hari. Pikirannya kembali teringat dengan Papinya, Roy.
"Kayaknya gue kejam banget sampai terus ngehindar dari Papi." gumamnya yang merasa bersalah karena pernah bersikap tidak sopan pada Roy.
"Kenapa gua lebay banget? seakan cuma gua doang yang punya masalah?"
"Kenapa lu lebay sih Helena??"
"Gua gak boleh gini, ishhh"
"Udahlah ya, itu semua masa lalu"
"Gue harus secepatnya meet sama Papi dan ngilangin beban yang selama ini selalu gua simpen"
"Gue harus bisa damai lagi sama Papi"
Helena terus bergumam dengan mata yang menatap ke arah depan.
Seketika, ia teringat Xylon yang juga berjasa baginya karena memberikan nasihat dan menjadi tempat curhatnya.
Helena pun mengambil ponselnya yang berada di tas yang ia bawa tadi saat ke acara pesta lalu mengirim pesan pada kekasihnya itu.
Tapi rupanya, Xylon telah mengirimnya pesan terlebih dahulu.
...My Rich bf ♥...
| Have a nice dream Helena
| Jangan overthinking soal tadi
^^^| Iya Xylon, thanks for today^^^
| Anytime sayang
^^^| Love u^^^
| Love u more cantik
^^^| Btw kamu balik ke party itu?^^^
| iya
| sekarang kamu tidur sana
| udah jam berapa coba?
^^^| Hm^^^
^^^| Bawel^^^
| Yang penting ganteng
^^^| Apa sih^^^
^^^| prik banget^^^
| Tidur sayang
^^^| Iya, kenapa si emangnya?^^^
^^^| Mau selingkuh ya nyuruh-nyuruh^^^
^^^aku tidur terus?^^^
| fitnah
^^^| becanda anak ganteng^^^
^^^| Hehe^^^
^^^| ya udah aku mau istirahat^^^
| Ok
| Good night honey
^^^| too ♥^^^
Setelah selesai berbalas pesan dengan sang kekasih, Helena pun langsung bersiap tidur karena hari ini sangat melelahkan. Ia juga harus bersiap untuk pergi ke sekolah besok.
...꧁꧂...
di Jeffer Hotel, Xylon tersenyum melihat isi pesannya dengan Helena.
'I love you' batin Xylon.
"Woy chattan Ama siapa tuh senyum-senyum?" ujar kenzie yang menepuk pundak Xylon.
"Bukan urusan lo!" ketus Xylon.
"Itu mulu lo kata-katanya! kalo gak 'bukan urusan lo' pasti bilang 'bacot'," ucap Kenzie sedikit kesal karena Xylon terus memberikan jawaban yang sama ketika dirinya datang menganggu Xylon.
"Up to me," kata Xylon.
"Yeh si anj*r, ngelunjak!"
"Ko Xylon! Helena baik-baik aja kan?" tanya Alya memastikan pada Xylon, apakah sahabatnya baik-baik saja atau tidak.
"Iya," jawab Xylon dengan singkat.
"Tadi kenapa Helena pergi? apa dia masih sakit hati sama omongan gue?"
Kini, giliran Sandra yang bertanya.
"Engga, Helena orangnya baik. Jadi pasti dia maafin lo," jawab Xylon
"Syukur deh, tadi gua liat dia pergi dan sekarang dia kemana?"
"Urusan pribadi, sekarang udah pulang"
"Oh gitu." ucap Sandra sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham.
To be continued