Sincerity

Sincerity
Penyesalan Agnez



Awalnya mereka ingin berkencan seperti mengunjungi beberapa tempat romantis. Namun, Mami Laura berpesan bahwa Helena harus pulang tidak boleh lewat dari jam 9 malam. Alhasil, mereka hanya pergi makan malam yang kebetulan Helena belum makan malam karena ketiduran setelah jalan-jalan dengan Papinya.


"Kayaknya kamu punya bakat deh," ucap Helena di sela-sela makannya.


"Bakat aku banyak!" jawab Xylon dengan percaya diri. Tapi apa yang dikatakannya memang benar.


"Maksud aku, bakat tentang dating!" sanggah Helena sebelum kekasihnya ini semakin percaya diri dan mengatakan hal-hal yang menjengkelkan.


"Kamu pinter cari tempat dating yang bagus, restoran yang romantis. It's a talent in my opinion," sambungnya.


"Oh... itu aku minta cariin ke Gavin." kata Xylon dengan santai sembari melanjutkan suapannya yang malah membuat gadis didepannya ini membulatkan mata.


Plakkk


"Kok mukul?" tanya Xylon menatap Helena yang baru saja memukul lengannya.


"PHP!" ujar Helena.


"Hah?" Xylon tidak mengerti, sejak kapan ia memberikan harapan palsu pada Helena?


"Iyalah, aku udah ngira kamu yang nyari itu semua. Udah ngarep, udah seneng, ternyata Kak Gavin yang nyariin!" kesal Helena yang malah membuat Xylon tertawa.


"Hahahahahaha, makanya jangan barharap itu dari aku, honey!" ujar Xylon masih dengan tawanya.


"Haishh." Karena kesal, Helena hendak kembali menyuap makanannya ke dalam mulut. Namun, matanya malah salah fokus dengan 2 orang yang juga makan di meja yang tak jauh dari mereka.


Xylon yang melihat kekasihnya malah diam tiba-tiba dengan sendok yang masih berada di hadapan wajahnya pun mengikuti arah sorot mata Helena dan menangkap keberadaan 2 orang yang tengah diperhatikan oleh kekasihnya.


"Agnez?" gumam Xylon dan Helena bersamaan.


Kemudian, Helena bangkit dari duduknya yang membuat Xylon bisa menebaknya lalu bertanya, "Kamu mau samperin mereka?" sembari menahan lengan gadis itu.


"Iya, Agnez harus pulang, Xylon!" jawab Helena sembari melepaskan tangan kekasihnya yang menahannya itu. Xylon pun membiarkannya, karena jika melarang pun, ia takut Helena malah akan marah dan mendiamkannya.


Helena berjalan mendekati meja dimana Agnez dan Rasya berada. Sementara kedua manusia yang melihat kedatangan Helena itupun terkejut dan mematung sesaat sampai suara Helena menyadarkan mereka. "Agnez, Rasya!" membuat Rasya menatap ke arah Helena. Sementara Agnez, ia hanya bisa menunduk karena masih merasa bersalah pada Helena.


"Helena, kenapa Lo ke sini?" tanya Rasya.


"Gua mau ngomong sama Agnez," jawab Helena.


"Nez! bisa kita bicara sebentar?" sambungnya yang beralih bertanya pada Agnez yang sejak tadi hanya diam saja.


Agnez pun bangkit dari tempat duduknya, karena ia juga ingin berbicara dengan Helena dan meminta maaf sahabatnya.


"Sya, gua bicara dulu sama Helena," izinnya pada Rasya yang dijawab anggukan oleh pria itu.


****


Saat ini, mereka berada di ruangan VIP yang sudah Helena pesan sebelumnya. Untuk beberapa menit, keduanya saling terdiam dan memikirkan dari mana mereka harus memulai pembicaraan.


Ting-!!


Sebuah pesan masuk pada ponsel Helena. Gadis itupun membuka pesan tersebut dan ternyata dari Xylon yang menanyakan keberadaannya.


...My Rich bf ♥...


| sayang


| kamu kemana sama Agnez?


^^^| ruang VIP^^^


^^^| gapapa kan kamu nunggu^^^


^^^sebentar?^^^


^^^| aku mau bicara berdua sama^^^


^^^Agnez soalnya^^^


| Iya gapapa


Setelah berbalas pesan dengan Xylon, Helena pun langsung menaruh kembali ponselnya dan menatap Agnez dengan serius.


"Nez!" panggilnya pada Agnez yang membuat gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Helena penuh penyesalan.


"Nez! Please, Lo harus pulang!" pinta Helena. "Kasian keluarga Lo. Nyokap Lo, Bokap Lo, Kak Eric, mereka semua nungguin Lo pulang!" sambungnya.


"Oh ya? daripada mereka nungguin gua pulang, seharusnya mereka jemput gua aja! tapi ini nggak, kenapa? karena semuanya gak ada yang peduli sama gua. Cuma Rasya yang peduli sama gua. Bahkan, cowok yang gua sukain dari lama gak peduli sama sekali tentang gua. Gak ada yang sayang sama gua, Helena!" Agnez menangis saat mengatakannya, ia merasa jika dari dulu dirinya tidak pernah dipedulikan oleh siapapun. Tidak ada yang mengharapkan kehadirannya, ia merasa jika hanya Rasya yang benar-benar peduli padanya disaat ia sedang kesusahan seperti sekarang.


"Oke, Lo bilang kayak gitu sekarang. Tapi, Lo inget ya, Nez. Bukan keluarga Lo yang ngusir Lo dari rumah. Tapi Lo sendiri yang pergi dengan keadaan marah. Jadi kalau mereka jemput, apa Lo bakal mau diajak pulang? nggak, kan?" tutur Helena yang menjelaskannya pada Agnez agar sahabatnya itu tidak berpikiran yang tidak-tidak.


"Mereka, keluarga Lo. Mereka semua cuma biarin Lo tenang dulu dan intropeksi diri. Nyokap Lo itu sampai nangis-nangis kangen sama Agnez katanya waktu gua dateng ke rumah Lo." sambungnya sambil menggenggam tangan Agnez.


Agnez terdiam, ia mencerna setiap ucapan Helena. Memang benar, dirinya telah salah paham. Ia juga menginginkan pulang. Tetapi, Agnez masih belum berani untuk bertemu kedua orangtuanya.


"Tapi Helena-"


Agnez hendak berbicara. Namun, Helena segera memotongnya dan memberitahu sesuatu kepada Agnez.


"Lo jangan pernah berpikir orang tua Lo gak sayang sama Lo ya! asal Lo tau, sebenarnya ada beberapa orang yang ngawasin dan jagain lu diem-diem. Itu semua orang suruhan Bokap Lo sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang orang tua Lo. Bokap Lo juga udah tau bukan tentang rumor itu? dan Lo penasaran gak, kenapa orang-orang gak tau kalau itu semua rencana Lo?"


"Kenapa?" tanya Agnez.


"Karena.... Bokap Lo yang dateng ke kantor Bokap gua, Papi Roy. Dia yang mohon-mohon supaya dia tutupin kasus ini demi Lo dan minta supaya anaknya nggak dihukum." Helena memberitahu Agnez tentang apa yang Papinya katakan hari ini mengenai rumornya dan Xylon yang pernah tersebar akibat ulah Agnez waktu itu.


Flashback on


Ketika di dalam perjalanan pulang selesai berbelanja, Roy bertanya pada Helena mengenai persahabatannya dengan Agnez dan menceritakan kalau dia yang ikut membereskan rumor Helena dan Xylon waktu itu.


"Helena, apa kamu temenan sama anak yang namanya Agnez Stewart?"


"Iya, Papi tau dari mana?" sahut Helena sembari fokus menyetir yang kemudian bertanya balik pada Roy dari mana Papinya ini mengetahuinya.


"Tuan Hadley, Papanya Agnez nemuin Papi."


"Terus?" Helena mulai penasaran dengan apa yang diucapkan Papinya itu.


"Beliau mohon-mohon sama Papi biar anaknya gak dihukum dan tutupin semua ini dengan rapat. Soalnya, dia udah minta sama tuan Adelard, tapi tuan Adelard gak ngerespon apa-apa. Mungkin beliau marah karena rumor itu. Jadi, Tuan Hadley nemuin Papi. Terus, kamu ada masalah apa sama Agnez emangnya, sampai-sampai dia ngelakuin hal itu?" jelas Roy yang kemudian bertanya tentang masalah putrinya dengan Agnez.


"Aku nggak pernah ada masalah apapun sama dia, Pi!" jawab Helena jujur.


"Kalau emang Helena nggak ada masalah apapun sama putrinya tuan Hadley, kenapa sampai ada rumor ini? apa lagi melibatkan Xylon Rodriguez."


"Ya udah, apapun masalah yang kamu hadapin sekarang. Papi yakin, bukan kamu yang mulai menciptakan masalah itu"


"Pasti, Pi. Makasih Papi udah percaya sama Helena"


"Papi ini ayah kamu. Papi pasti percaya sama anak Papi sendiri."


Helena tersenyum dan menoleh sekilas pada Roy lalu kembali fokus pada jalanan dihadapannya.


Flashback Off


"Jadi gak bener kalau gak ada yang sayang dan peduli sama Lo itu gak bener!" Helena menegaskan pada Agnez, jika apa yang sahabatnya pikirkan mengenai ketidak pedulian orang-orang padanya itu tidaklah benar.


Agnez yang mendengar semua yang Helena ceritakan pun menangis sesenggukan. Ia merasa sangat bodoh telah melakukan hal-hal konyol yang membuat keluarganya merasa sedih dan malu.


"Maafin gua, Hel... maafin gua... hiks... hiks..." lirihnya sembari terisak. Kemudian, Helena mendekat dan memeluknya sembari mengusap-usap punggung Agnez dan berharap, sahabatnya itu sedikit tenang.


"Tapi gua udah jahat sama Lo, Hel..." ucap Agnez yang masih menangis.


"Gapapa, Nez. Gua paham, paham banget. Lo kayak gini karena ngerasa dunia nggak adil sama Lo, ya kan? gua tau Lo udah nyesel, jadi santai aja. Gue kan sahabat Lo, gue nggak akan marah kalau Lo udah minta maaf, apalagi tulus." tutur Helena yang masih menenangkan Agnez.


Setelah itu, Helena melepas pelukannya dan menghapus air mata sahabatnya. Ia menatap Agnez lalu bertanya, "Sekarang, apa Lo masih cinta sama Xylon?" dan dijawab dengan tegas oleh Agnez. "Nggak. Gua nggak pernah cinta sama dia, gua cuma terobsesi sama Ko Xylon."


Helena bernafas lega mendengarnya. Sebab, ia tidak perlu merasa tidak enak lagi pada Agnez dan masalah diantara mereka sudah berakhir.


"Then, siapa orang yang Lo suka sekarang?" tanyanya lagi dan kali ini, Agnez hanya terdiam.


"Nez!" ujar Helena karena tidak mendapat jawaban.


"Gak ada," sahut Agnez pelan.


"Bohong, kenapa lama jawabnya?"


"Gua gak tau"


"Gua tau!" kata Helena yang membuat Agnez sedikit terkejut.


"Rasya, bukan?" tebak Helena.


"Hah??? bu-bu-"


Lagi-lagi perkataan Agnez terpotong karena ucapan Helena.


"Jangan bohong! gua tau dari cara Lo bilang kalau Rasya itu selalu ada buat Lo, yang artinya Lo gak bisa kehilangan dia. Lagian ya, kalian itu sering bersama dan nggak mungkin kalau nggak ada benih-benih cinta, impossible. Apalagi kalian itu sama-sama straight! so, fix banget Lo fall in love sama Rasya!"


Agnez dibuat tak berkutik lagi oleh sahabatnya ini. Memang Helena adalah sahabatnya, ia sangat mengetahui apa yang dialami dan dirasakan Agnez. Bukan hanya pada Agnez saja, Helena juga bersikap seperti itu pada sahabatnya yang lain.


"Lo sahabat gue banget, Lo tau semuanya tentang gua," ucapnya.


"Hahaha, ya udah. Semoga Rasya juga suka sama Lo dan kalian bisa bersama." kata Helena penuh harapan sembari merangkul sahabatnya.


"Oh ya, Xylon sama Rasya pasti nungguin. Keluar yuk!" ajaknya yang merasa kalau mereka berdua sudah cukup lama berada di sana dan pasti Xylon juga sudah menungguinya.


Agnez menganggukkan kepalanya, merekapun pergi keluar dari ruang VIP tersebut dan pergi ke meja makan mereka sebelumnya.


Setelah sampai di meja masing-masing, Helena meminta maaf pada Xylon karena telah membuatnya menunggu lama. Begitu juga dengan Agnez yang meminta maaf pada Rasya.


Terlihat dari kejauhan, Rasya begitu perhatian pada Agnez yang membuat Helena merasa senang.


'Mungkin kali ini cinta Lo bakal terbalas, Nez' batin Helena.


"Tuhkan, udah disini matanya masih ke sana," ujar Xylon yang menyadarkan Helena.


"Ehehehehehe, maaf." Helena meminta maaf sambil cengengesan.


"Jadi, si Agnez gimana?" tanya Xylon.


"Agnez udah sadar, dia nyesel. Dia juga udah minta maaf sama aku," jawab Helena yang menjelaskan secara singkat.


"Beneran dia nyesel?"


"Iya"


"Kamu percaya dan maafin?"


"Iyalah!"


"Kenapa?"


"Agnez minta maafnya tulus dan udah nyesel, masa iya aku gak maafin"


"Ya, aku gak mau kalau kamu diapa-apain lagi"


"Aku tau kamu khawatir, tapi aku pastiin dia bener-bener berubah!"


Setelah mengatakan hal itu, Helena melanjutkan makan malamnya yang sempat terjeda lama.


Beberapa menit kemudian, Helena telah menghabiskan makanan yang ia pesan tadi. Kini, mereka hendak pulang. Tapi sebelum itu, Helena menghampiri Agnez dan memintanya agar benar-benar pulang malam ini.


"Nez, Lo harus pulang malam ini juga, ya?"


Agnez bangkit dari duduknya lalu memeluk Helena dan berkata, "Iya Hel... thanks ya!" kemudian, ia melepas pelukannya.


"Sama-sama, gua duluan"


Agnez mengangguk sebagai jawaban.


Setelah itu, Xylon merangkul Helena dan mereka berdua pergi dari restoran tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hayo yang belum like, di like sekarang!!!


jangan lupa vote dan simpan di favorit.


Tolong bantuin author buat salin link novel ini dan bantu share~


Makasih banyak buat semuanya yang udah baca sampai sini!!!!


Stay tuned ya~