Sincerity

Sincerity
Permainan Xylon & Helena



...Hello readers, mohon supportnya untuk novel aku ya.. yuk klik likenya sekarang. jangan lupa Votenya dan save sbg favorit!!...


...thankyou so much buat yang udah like dan baca novelku teruss!!...


...Sukses selalu buat kalian!!...


...Happy reading...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini... kapan?" tanya Shelly dengan suara yang serak menahan tangis.


"Tadi sore," jawab Helena


"Kamu... Alden suka sama kamu?"


"Gak tau, yang pasti dia bukan cowok baik-baik!"


"Mami setuju, sekarang Mami minta kamu putus sama Alden!" ujar Laura lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kedua putrinya di ruang keluarga.


"Hel... aku... aku gak bisa pisah sama Alden. Aku cinta sama Alden," ucap Shelly sembari menggoyang-goyangkan tangan Helena.


"What's wrong with you Ci? kurang bukti? aku harus gimana lagi? aku udah ngelakuin ini itu supaya Cici aku gak disakitin orang lain, tapi yang disayang malah susah dikasih tau!"


"Tapi aku..."


"Jujur ya, dia udah sering deketin aku tapi aku selalu ngehindarin tu cowok karena aku gak mau sampai dia sentuh aku sedikitpun, iwh ilfeel tau gak?! terus juga, Cici liat CCTV tadi? dia sama aku aja begitu yang notabenenya Adek dari pacarnya sendiri, apalagi sama orang lain!"


"Aku..."


"Huh, terserah!" Helena pergi sebelum Shelly selesai bicara. Karena ia sudah tahu apa yang akan Shelly katakan.


"Dikasih tau susah banget. Harus kejadian itu terjadi dulu kali ya biar nyesel." gerutunya sembari menaiki tangga.


Shelly terdiam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia merasa bimbang.


Di satu sisi ia sangat mencintai Alden dan tidak ingin kehilangan pria itu. tapi di sisi lain, ia merasa kecewa dengan Alden.


Akhirnya, Shelly pergi menuju lantai atas untuk ke kamarnya.


Ia membating kuat pintu kamarnya dan melemparkan tasnya ke sembarang arah lalu menjatuhkan dirinya ke ranjang dan menangis.


Shelly memukul-mukul bantalnya sambil terisak.


"Kurangajar!!" teriak Shelly.


Shelly terus menangis.


Setelah dirasa cukup tenang, ia kembali teringat perintah Laura yang menyuruhnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Alden.


Shelly pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi kekasihnya itu.


Namun, sudah 7 kali Shelly menghubungi pria itu, Alden tetap tidak bisa dihubungi.


Shelly mengacak rambutnya frustasi. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Mungkin gua harus temuin dia langsung," gumamnya.


......................


Pagi hari, Helena baru saja selesai sarapan lalu ponsel bergetar menandakan pesan masuk.


Ia pun segera menekan notif pada layar handphonenya dan muncul pesan dari Rasya.


...Rasya...


| Morning Hel


| gue udah di depan rumah Lo


^^^| Oke^^^


^^^| tunggu ya^^^


Setelah membalas pesan dari Rasya, Helena pamit pada orangtuanya untuk berangkat sekolah.


"Engga, udah dijemput soalnya," jawab Helena


"Sama siapa?" kini, Adelard yang bertanya.


"Rasya," jawab Helena


"Wisss... udah ganti lagi aja cowoknya"


"Apasih Pi, just friend kok"


"Hahaha, yaudah hati-hati!"


"Iya, bye!" pamit Helena sembari sedikit berlari meninggalkan kedua orangtuanya yang masih di meja makan.


"Bye! hati-hati!!" sahut Adelard dan Laura.


*****


"Hi Sya! nunggu lama? Sorry ya!" ucap Helena saat sudah berada di dekat Rasya.


"Gak kok, nih helmnya. gua pakein ya," ucap Rasya dan meminta izin Helena untuk memakaikan dia helm.


Helena menganggukkan kepalanya sembari berusaha tersenyum manis dan di balas senyuman juga oleh Rasya.


Setelah memakai helm, Helena naik ke motor sport Rasya.


"Pegangan ya!" ujar Rasya.


Helena pun menurut saja dan melakukan seperti yang diperintahkan pria itu. Sebenarnya Helena tidak ingin melakukannya. Tapi demi misinya, ia ikuti saja perintah Rasya.


Setelah itu, Rasya pun melajukan motornya hingga mereka tiba di sekolah bersamanya dengan mobil Xylon yang juga baru sampai di parkiran SMA internasional Rodriguez.


Terlihat, Agnez baru saja keluar dari mobil Xylon dengan wajah gembira.


Xylon pun juga ikut turun dari mobilnya dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan Helena.


Mereka saling memandang dan Helena sedikit menunjukkan smirknya lalu berjalan menuju kelas bersama Rasya.


'Ada-ada aja permainannya' batin Xylon sembari menatap kepergian Helena.


Sebenarnya, Xylon tidak ingin mengikuti permainan konyol ini. Namun, demi gadis yang ia cintai, ia mengikuti saja agar Helena senang meskipun ia sedikit kesal karena Helena harus sering-sering dekat dengan Rasya dan dirinya harus lebih dekat dengan Agnez. Lagipula Xylon perlu menggunakan Agnez untuk mengetahui setiap rencana Rasya, Carine dan Alden.


"Koko!" panggil Agnez membuyarkan lamunan Xylon.


"Huh?"


"Aku masuk ya! nanti jemput aku lagi kan?"


"Iya"


"Oke, bye aku ke kelas dulu"


"Hm"


Agnez pergi menuju kelasnya dan Xylon pun kembali masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan parkiran sekolah.


di perusahaan XRueZ Group, Xylon baru saja selesai rapat tentang laporan perusahaan dan pemecatan karyawan yang sudah sering melakukan kesalahan juga membuat rugi perusahaan.


Kini, Xylon berada di ruangannya bersama Gavin.


"Tuan, ini jam tangan yang ada minta dan sudah dipasang alat pelacak dan perekam suara," ucap Gavin lalu menyerahkan jam tangan tersebut.


"Hm," jawab Xylon hanya berdehem lalu menerima jam tangan tersebut.


'Untung juga Helena bikin rencana ini' batin Xylon.


"Kamu boleh balik ke ruangan kamu," ucap Xylon


"Baik tuan, saya permisi." pamit Gavin lalu keluar dari ruangan Xylon menuju ruangannya sendiri.


TO BE CONTINUED


LIKE!!!!!