
"Hiks... Hiks..." Helena duduk sembari menangis di samping hospital bed menunggu Shelly membuka matanya.
Sesekali Helena mengusap kening sang kakak yang terbaring lemah itu. Helena terus teringat kejadian tadi dan tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan kakak tirinya.
"Maaf... hiks... maaf aku terlambat nolongin Cici... hiks..." isak Helena.
"Ini bukan salah kamu Hel, ini salah si Alden-Alden itu," tutur Kenzie agar Helena tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
"Iya bener, yang terjadi udah terjadi Hel... sekarang kita fokus aja untuk menghadapi masa depan," timpal Eric.
"Dengerkan? udah jangan nangis lagi, kamu gak inget apa yang aku bilang? kamu harus jadi supporter buat Ci Shelly." ucap Xylon yang sejak tadi merangkul Helena dan menepuk-nepuk bahunya agar gadis itu sedikit tenang, pikirnya.
Helena hanya mengangguk menanggapi semua ucapan mereka.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampakkan sosok kedua orangtuanya, Laura dan Adelard. keduanya pun langsung menghampiri Shelly dan Helena.
"Mami? Papi?" ucap Helena.
Melihat hal itu, Xylon dan yang lainnya keluar dari kamar tempat Shelly dirawat untuk memberi waktu Helena dan keluarganya saling berbincang.
"Ada apa sebenarnya Hel? kenapa Cici kamu bisa sampai begini? Hiks..." ujar Laura yang tak tahan melihat keadaan Shelly lemah di atas hospital bed.
Walaupun Shelly adalah anak tirinya, tetapi kasih sayang Laura tidak hanya pada anak-anak kandungnya saja. Laura juga sangat menyayangi Shelly dan Denzel. Sehingga mereka tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu.
"Shelly... Shelly di-diperk*sa Mi," lirih Helena.
"Apa?" Adelard maupun Laura sama-sama terkejut mendengarnya.
"Hiks... Shelly......" tangis Laura semakin pecah dan sesekali ia mencium tangan dan pipi Shelly. Sementara Adelard, wajahnya sudah terlihat menyeramkan dan siap membunuh siapapun yang telah menghancurkan hidup putrinya.
"Pa-papi tenang... Xy-Xylon udah ngurus semuanya Pi..." Helena menahan tangan Adelard yang akan pergi dan berusaha menenangkannya akan tidak terbawa emosi. Ya, meskipun Helena juga sempat terbawa emosi, tetapi Alden juga mendapat hukumannya.
"Hukum berjalan Pi, aku dan yang lainnya juga udah kasih pelajaran buat Alden, Aku juga yakin sebentar lagi perusahaan BLee Corp hancur," sambungnya.
"Tapi Papi gak akan terima masa depan Shelly hancur, Papi gak akan puas kalau belum menghajar pria br*ngs*k itu dengan tangan Papi sendiri," ujar Adelard yang kemudian berjalan ke arah pintu dan akan membukanya.
"Papi..." suara lirih menahan Adelard dan ia pun membalikkan tubuhnya untuk menatap pemilik suara itu.
"Pi... ja-jangan pergi... j-jangan ti-tinggalin Shelly..."
Shelly sudah terbangun dan saat ia melihat Adelard yang akan pergi, ia pun menahannya. Sudah cukup kekerasan-kekerasan dan pertengkaran terjadi dihadapannya, ia tidak ingin sampai hal itu terjadi lagi.
Adelard pun menghampiri sang putri. Helena berdiri dan sedikit menjauh agar Adelard bisa lebih dekat dengan Shelly.
"Sayang, iya Papi gak akan pergi." ucap Adelard mengusap kening Shelly dan menggenggam tangannya sembari mengecup punggung tangan putrinya itu.
"Udah cukup Pi, jangan ada berantem-berantem lagi... hiks... ini semua salah aku yang gak pernah dengerin omongan Helena, aku yang keras kepala Pi..." lirih Shelly
"Iya sayang, Papi gak akan pergi. kamu jangan sedih lagi, disini udah ada Papi, Mami dan Helena," tutur Adelard.
Helena menunduk sembari menguatkan diri berusaha menahan tangisnya.
Shelly mengangguk lemah dan menatap ke arah sang Mami yang masih menangis. Perlahan, tangannya mengusap air mata Laura dan tersenyum lembut.
"Mami... don't be cry, i'm promise i'm okay," ucap Shelly meyakinkan maminya kalau ia baik-baik saja.
Laura mengangguk sembari berkata, "Iya sayang, Mami tau kalau kamu kuat." lalu memeluk Shelly.
Setelah beberapa saat, Laura pun melepas pelukannya dan mengecup kening putri sulungnya cukup lama dan setelah itu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kamu istirahat biar kita cepat pulang ya?" ujar Laura yang dijawab senyuman disertai anggukan oleh Shelly.
Kemudian, Shelly menatap ke arah Helena yang sedang menundukkan kepalanya.
"Hel..." panggilnya dengan lembut.
"Y-ya?" sahut Helena yang langsung mengusap air matanya dan menatap ke arah Shelly.
"Maafin Cici yang gak pernah dengerin kamu ya..." ujar Shelly meminta maaf karena tidak mau mendengarkan Helena sebelumnya.
"Forget it, yang terjadi udah terjadi. itu semua masa lalu, jangan dipikirin lagi ya?" tutur Helena.
"Thankyou," ucap Shelly.
"Whenever you need me (Kapanpun kamu membutuhkanku)," jawab Helena.
Adelard menatap kedua putrinya bergantian. biarpun mereka saudara tiri, tetapi sikap saling menyayangi dan menjaga sudah seperti saudara kandung bahkan rela berkorban demi keselamatan saudaranya masing-masing. Adelard sangat bangga kepada Helena.
Adelard berdiri di hadapan Helena lalu mengusap darah yang sudah mengering di wajah cantik Helena.
"Kamu juga luka nak, kenapa belum diobatin?" tanya Adelard dengan wajah sendu.
"Ah ini.. gapapa Pi, nanti juga sembuh," jawab Helena meyakinkan.
"Tapi aku gapapa, serius"
Helena terus meyakinkan Adelard bahwa dirinya baik-baik saja. Helena merasa bahwa ini hanyalah luka kecil yang akan segera sembuh.
"Hel, tadi kamu berantem dan kamu juga kena pukul, tendangan, kamu yakin kalau kamu baik-baik aja?" ujar Shelly.
"Apa? Helena, kamu..." ucapan Laura terpotong.
"I'm okay guys, aku keluar dulu ya mau nyamperin temen-temennya Koko, kasian mereka udah nungguin dari tadi." kata Helena yang hendak keluar kamar.
"Oh iya Hel, say thankyou to them, mereka juga udah nolongin Cici," ujar Shelly sebelum Helena keluar.
"Iya Ci," sahut Helena yang kemudian pergi menemui Xylon dan yang lainnya diluar kamar.
Saat Helena keluar, Galang langsung memeluk Helena yang dibalas pelukan oleh gadis itu dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Xylon. Mau larang tapi dia bukan siapa-siapanya Helena, akan tetapi ia tidak suka melihat hal ini.
"Aku udah bilang berapa kali kalau aku gapapa kak," ucap Helena yang kemudian melepas pelukannya.
Kenzie dan Eric pun ikut menghampiri mereka. Kenzie juga memeluk Helena namun hanya sebentar.
"Thankyou Kak Galang, Ko Kenzie, Kak Eric dan Xylon karena udah nolongin aku sama Ci Shelly. kalau aja kalian gak nolongin, kita pasti udah mati di tempat," ucap Helena tulus.
"Apa sih Hel, kita cuma bantu gitu doang, disini yang heronya itu kamu. You're the best." kata Kenzie yang tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya yang dibalas senyuman oleh Helena.
"Iya, kita itu nolongin kamu atas kehendak kita sendiri, jadi santai aja dan gak perlu berterimakasih terus," tutur Eric.
"Sekali lagi maka-"
"Makasih lagi makasih lagi," cetus Galang memotong ucapan Helena yang akan mengatakan terimakasih lagi.
"Sorry, by the way tolong rahasiain ini dari semua ya?" ujar Helena.
"Iya, tenang aja," sahut Galang mewakili yang lain.
"Termasuk Ko Denzel," lanjut Helena.
"Iya, eh why?" tanya Kenzie.
"Kalian lupa? tahun kemarin dia sempet ketinggalan banyak mata kuliah karena bantu ngurus perusahaan waktu itu yang hampir bangkrut dan dua bulan lagi wisuda. Takutnya, kalau dia denger kabar ini terus pulang dan ketinggalan mata kuliah lagi," jelas Helena.
"Ah iya, sampe lupa tuh anak mau lulus," kata Galang.
"Yaudah, kalian pulang dan istirahat aja. Mami Papi udah disini," ucap Helena.
"Bener?" Eric memastikan.
"Iyalah," jawab Helena.
"Yaudah kalau gitu kita pamit dulu ke Tante Laura dan Om Adelard," ucap Eric dan yang lainnya lalu masuk ke dalam kamar Shelly dan berpamitan dengan kedua orang tua Helena.
"Xylon? gak pulang?" ujar Helena.
"Enggak," sahut Xylon
"Pulang aja kan kamu harus kerja dan gak boleh capek-capek,"
"Nanti, ada yang mau aku omongin sama kamu,"
"Apa? ngomong sekarang aja"
"Nanti."
"Oke"
Tak lama, Eric dan yang lainnya keluar dari kamar inap Shelly dan berpamitan pada Helena.
"Hel, kita pulang ya," ucap Galang.
"Iya, hati-hati guys!" jawab Helena.
"Inget, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, telepon kita aja." ujar Kenzie sembari mengelus kepala Helena.
"Iya, don't worry," sahut Helena tersenyum.
"Eh Xyl, gak balik Lo?" tanya Galang.
"Enggak, duluan aja," jawab Xylon.
"Yaudah"
Setelah itu, merekapun berjalan meninggalkan Helena dan Xylon lalu meninggalkan rumah sakit.