Sincerity

Sincerity
Say I Love you dulu



Mendengar ujaran Xylon yang hanya memberi waktu 20 detik untuknya turun, Helena langsung bergegas menuju lantai bawah.


Helena turun menggunakan lift rumahnya, saat ia keluar dari lift tersebut, ternyata sudah ada Xylon dan Shelly yang tengah berbincang-bincang di ruang tamu.


'Cepet banget nyampenya' batin Helena sambil berjalan menatap ke arah Xylon.


"Eh itu Helena, Gue tinggal ya." ujar Shelly yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


Saat Shelly sudah memasuki lift, Xylon dan Helena saling menatap satu sama lain dan membuat Helena maupun Xylon canggung untuk membuka suara duluan.


"Ekhem," Xylon berdehem untuk mencairkan suasana.


"Mau sampe kapan berdiri di situ?"


"Eh? i-iya." Helena langsung duduk dan mengambil bantal sofa dibelakangnya dan menaruh di atas paha karena memang saat ini ia memakai daster piyama yang pendeknya sampai paha.


Helena berusaha mengatur nafasnya.


'Sialan, kenapa nervous sih, kebiasaan' batinnya


Ia merasa gugup karena terus ditatap intens oleh Xylon.


"Apa kabar?" ucap Xylon basa-basi


"Baik," jawab Helena


Keduanya kembali terdiam sejenak sampai Helena bangkit dari duduknya dan menghampiri Xylon.


Xylon terlihat bingung saat Helena mendekatinya dengan wajah yang seperti anak kecil saat sedang bersedih, Helena pun mengulurkan tangannya.


"Kenapa?" tanya Xylon


"Minta maaf," ucap Helena


Xylon merasa sangat gemas melihat cara Helena meminta maaf seperti anak kecil.


Ia menerima uluran tangan Helena dan mereka pun berjabat tangan.


"Maaf," lirih Helena yang kembali meminta maaf pada Xylon.


Xylon menarik Helena agar duduk di sampingnya.


Jarak antara mereka sangat dekat lalu Xylon mengambil bantal sofa yang berada di dekatnya untuk ditaruh di atas paha Helena.


Xylon menggenggam tangan Helena sambil menatap gadis itu begitu dalam.


"Jangan minta maaf terus, bosen dengernya," ucap Xylon


"Terus harus bilang apa? kan gue yang salah," ujar Helena


"Say I Love you Xylon baru aku maafin"


"Gak"


"Mau dimaafin gak?"


"Hm"


"Say I Love you dulu"


"Dih maksa"


"Gak mau dimaafin nih?"


"Terserahlah mau dimaafin atau gak"


Xylon terkekeh mendengarnya


"Ck, jangan deket-deket ah nanti ada yang dateng terus nyangkanya kita pacaran," ucap Helena sambil bergeser agar jaraknya tidak terlalu dekat dengan Xylon.


"Biarin aja, bagus malah," ucap Xylon


Helena melirik Xylon dengan sinis lalu memutar bola matanya.


Xylon tersenyum lalu Helena pun teringat sesuatu yang penting dan harus segera dibicarakan dengan Xylon.


"Kita ke rooftop gimana?," ujar Helena


"Boleh," sahut Xylon


Merekapun menaiki lift untuk pergi ke rooftop.


Saat sudah berada di rooftop, Helena langsung menatap Xylon dengan serius.


"Gimana masalah rumor hari ini? udah diberesinkan?" tanya Helena dengan raut wajah khawatir


"Cie khawatirin gue," goda Xylon


"Bener-bener ya!!!!! gua lagi serius malah bercanda"


"Don't worry Helena, semuanya udah beres tinggal cari tau pelakunya," ucap Xylon


"Pelakunya Agnez," ujar Helena


"Bukan," sahut Xylon


"Terus siapa?"


"Oh iya"


'Gua udah negative thinking sama sahabat sendiri' -Helena


"Kira-kira siapa ya," gumam Helena yang masih bisa didengar oleh Xylon.


"Udah gak usah dipikirin, ini masalah aku," ucap Xylon agar Helena tidak ikut campur dengan masalahnya, ia tidak mau menyusahkan Helena dan lagipula dengan kekuasaan Xylon, ia dapat menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan mudah.


"Mau bantu....., please, ya? ya?" bujuk Helena.


"Kenapa mau bantuin hm? kamu lupa aku siapa?" ujar Xylon


"Iya tau Xylon Rodriguez," sahut Helena


"Nice, jangan nyusahin diri kamu sendiri, aku bisa nyelesain ini dan jangan khawatir," tutur Xylon


"Oh iya, Kamu tau nama lengkap temen cowok kamu itu?" sambungnya yang bertanya pada Helena.


"Yang mana?" Helena bertanya balik


"Yang waktu kita ketemu di restoran, pas kamu bilang tugas OSIS," jelas Xylon


"Oh Rasya?"


"Hm"


"Apa ya, kalau gak salah Rasya Elvis Bailey"


"Ternyata bener," gumam Xylon sembari smirk saat mengetahui dugaannya dan Gavin benar.


"Kenapa smirk kayak gitu?" tanya Helena


Xylon tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Helena.


seketika, Helena pun menyadari sesuatu.


"Apa Rasya orangnya?" tebak Helena


"Kayaknya," jawab Xylon


"Kok gitu? emang kalian ada masalah apa?"


"Masalah yang udah lama, sekarang keluarganya bales dendam"


Helena manggut-manggut, ia tidak ingin mengetahui lebih karena itu masalah pribadi Xylon dan keluarganya.


Merekapun terdiam sembari menikmati angin malam dan pemandangan indah dari atas rooftop.


Xylon menatap Helena yang tengah menikmati suasana malam, pandangan Xylon beralih ke leher Helena, ia tak dapat melihat kalung pemberiannya di leher gadis itu.


"Helena," panggil Xylon


"Hm?" Helena menengok ke arah Xylon yang memanggilnya.


"Kalung X for H mana?" tanya Xylon


"Oh, Hm... i-itu... gua bakal kasih tau tapi jangan marah ya?"


"Hm"


"Waktu itu kan gua kira Lo itu f*ckboy, jadi gua lepas paksa terus rusak deh hehe," ucap Helena sembari cengengesan.


Xylon terdiam dan tak percaya dengan apa yang Helena katakan.


"Marah ya? jangan marah dong, kan itu waktu kita berantem, sekarang kan udah damai," bujuk Helena


Xylon masih diam dan tak menggubris bujukan Helena.


"Xylon maaf.... itu pasti milyaran kan harganya? maaf..." lirih Helena yang sudah mengeluarkan air matanya. Ia yakin Xylon merasa sangat kecewa.


Melihat Helena yang menangis, Xylon mendekat lalu membawa gadis itu ke pelukannya.


"It's Ok, itu bukan apa-apa Helena... jangan nangis, itu cuma kalung." ucap Xylon menenangkan Helena


Awalnya memang Xylon merasa kecewa karena ia membelikan kalung itu khusus untuk Helena dengan penuh cinta, tetapi ia pikir itu bukan masalah selagi hubungannya dengan Helena membaik, apalagi saat ini Helena sudah mulai hangat dengannya.


"Gak marah kan?" tanya Helena mendongakkan kepalanya menatap wajah Xylon.


"Listen to me! bagi aku, yang paling penting itu kamu udah gak marah sama aku dan kita bisa lebih Deket lagi. Jadi untuk masalah kalung, aku bakal beliin kamu yang lebih bagus," tutur Xylon


"Gak usah, yang waktu itu aja, itu kan hadiah pertama Lo ke gua," ucap Helena


"Yaudah kalau gitu," Xylon menganggukkan kepalanya.


Merekapun saling menatap satu sama lain dan kemudian Xylon berkata, "I Love you my Helena"


Helena hanya diam dan tersenyum tipis. Sebenarnya ia ingin sekali menjawab pernyataan cinta Xylon, tetapi ia masih belum yakin dengan perasaannya.


To be continued


Hello readers, mohon supportnya untuk novel aku ya.. yuk klik likenya sekarang. jangan lupa Votenya..


thankyou so much buat yang udah like dan baca novelku teruss!!


Sukses selalu buat kalian!!