Sincerity

Sincerity
Chapter 17



malam hari di perusahaan-perusahaan XRgueZ Group.


Xylon masih setia dengan berkas-berkasnya, hari ini jadwalnya benar-benar sibuk.


Tok tok tok


"masuk" ucap Xylon


setelah Xylon memberi izin, Dev pun langsung masuk ke ruangan bosnya.


"permisi tuan, jet pribadi sudah siap" ujar Dev


"ya baiklah" sahut Xylon


"Arsa! bawa semua berkas-berkas ini" sambungnya memerintah pada sang asisten.


"baik tuan" sahut Arsa mengambil berkas-berkas yang ada dimeja dan membawanya.


Setelah itu Xylon keluar dari ruangannya.


ya, malam ini Xylon akan pergi ke London karena ada suatu hal.


perusahaan cabangnya yang ada di London sedang bermasalah oleh karena itu Xylon memutuskan untuk pergi kesana malam ini juga.


Selain itu, ia juga akan melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan terbesar di Inggris.


diperjalanan, Xylon masih harus mengecek semua berkas-berkasnya dan menandatanganinya.


"tuan, apa anda tidak lelah? semuanya masih bisa dikerjakan nanti tuan. Anda juga perlu istirahat" ucap Arsa


"agar cepat selesai" sahut Xylon dingin


"baiklah kalau begitu"


***


Sementara itu


dikediaman helena dan keluarganya, nampak Helena yang sedang memikirkan sesuatu


'duh gimana cara ngomongnya ke mami??' -helena


'oh, gue pake kata-kata bijak aja biar mami ngertiin, ah pinter banget sih lu hel'


Helena pun mencari keberadaan maminya.


"sel, liat mami gak?" tanya helena pada Selena yang sedang berada di kamarnya.


"ruang keluarga kali" jawab Selena


"oke thanks"


"hm"


Helena pun keluar dari kamar Selena


"tutup lagi pintunya!!!! ishhhhh kebiasaan" Selena pun terpaksa menutup pintu kamarnya kembali.


Helena pun turun untuk menemui maminya.


Nampak Lily sedang bersantai di ruang keluarga.


Helena pun menghampiri maminya itu.


"malam mi" ucap Helena kemudian duduk di samping maminya.


"malam sayang" sahut Lily yang menatap putrinya sekilas lalu kembali menatap handphonenya.


"mami, i want to ask about your opinion"


"pendapat? pendapat apa?"


"mami bilang kita itu harus bisa saling memaafkan, benerkan?"


"yes, true. kenapa emangnya?"


"nothing. hm kan gini mi, roda dunia itu berputar kan mi? ada saatnya di titik terendah dan ada saatnya juga bakal dititik teratas, kayak kita kan mi?"


"iya kenapa? sebenernya kamu mau ngomongin apa?" ujar Lily yang kemudian menaruh handphonenya lalu menatap Putrinya.


'duh sabar dong mi, aku kan lagi ngerangkai kata-kata and membuka topik biar mami gak langsung marah kalau aku to the point' batin helena


"engga mi, aku pengen nanya misalnya ada orang yang udah nyakitin kita tapi orang itu udah nyesel dan mau berubah terus dia juga udah minta maaf sama kita, kita harus terima maafnya kan mi? walaupun dulunya dia udah nyakitin kita?dan kita harus hargain penyesalan dia kan?"


"iya kamu bener, terus?"


"apa mami udah maafin papi Edwin?"


mendengar ucapan Helena, Lily pun langsung terdiam.


'waduh kecepetan gue ngomongnya, harusnya lebih bertele-tele biar mami pikirin kata-kata gue dulu' batin Helena ketika melihat maminya hanya diam saja.


"hm, kamu ngomong begitu ada apa emangnya? kamu ketemu sama dia? terus dia nyesel?" tanya Lily


"iya" jawab Helena


"tadi sore aku ketemu papi di makam Harry, dan papi bilang sampaikan permintaan maafnya ke mami, mungkin papi mau ketemu mami tapi masih belum siap ditambah mami udah nikah lagi jadi mungkin papi mikirnya kalau mami gak mau ketemu sama papi"


Lily menghela nafasnya lalu kembali melanjutkan ucapannya


"mami udah maafin dia dari lama, bahkan sebelum dia mau minta maaf sama kita. mami juga udah gak permasalahin masalah itu. semuanya udah jadi masa lalu, lagian dia udah gak ada hubungannya lagi sama mami dan mami harap dia beneran mau berubah" ucapnya


"jadi mami udah maafin papi?"


Lily tersenyum dan menganggukkan kepalanya


Helena pun ikut tersenyum bahagia.


akhirnya pikiran yang menjadi bebannya bertahun-tahun sudah hilang, masalah itu sudah selesai.


Nampak adelard sedang berdiri di ruang keluarga dan menyimak pembicaraan ibu dan anak itu.


Helena yang menyadari kehadiran adelard pun langsung terkejut.


"papi? sejak kapan papi berdiri di situ?" ujar Helena


adelard tersenyum lalu menghampiri Lily dan Helena


"hm.. sejak kapan ya.." adelard pura-pura sedang berpikir


"papi.. maaf.." lirih Helena


"lho kok kamu minta maaf?" adelard mengelus kepala Helena


kemudian ia ikut duduk disamping helena. jadilah Helena duduk diantara adelard dan Lily.


"soalnya tadi aku bahas.." ucapan Helena terpotong


"udah udah.. justru papi seneng, papi awalnya malah pengen nasihatin kamu supaya ngerti dan bisa maafin tuan Edwin,tapi kamu udah berpikir dengan kepala dingin lebih dulu, papi bangga sama kamu Helena" ucap Adelard


mata Helena berkaca-kaca, beruntung sekali ia memiliki ayah sambung seperti adelard. Helena begitu menyayangi adelard.


Helena memeluk adelard


"thankyou for everything papi" lirihnya


adelard tersenyum lalu membalas pelukan Helena.


"sama-sama sayang, kamu itu juga anak papi" ucapnya lalu mengecup pucuk kepala Helena.


Lily tersenyum lalu mengelus kepala putrinya


"Ekhem" deheman seseorang menghancurkan suasana


"kak hello disayang banget yaa" sindir Brian


"sini dong dek" ujar Lily


"gak ah, mau main PS"


"freak" umpat helana


adelard terkekeh melihat Brian


"yaudah kalau gitu papi mau istirahat ya" ujar adelard


"sayang, ayo ke kamar" sambungnya pada Lily


"gak ah nanti aja" sahut Lily


"udah lama kita engga ekhem sayang" adelard tersenyum smirk


"apa sih" Lily menatap tajam Adelard


sementara Helena berusaha menahan tawanya


'andai gue masih polos' -helena


"I'm waiting for you in our bedroom honey!!" ujar adelard yang langsung pergi dari situ sambil tertawa.


begitu juga Helena, ia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.


"sana mi, ditungguin papi tuh kasian papi nunggu, nunggu gak di kasih kepastian gak enak lho mi" ucapnya


"apa sih, bapak anak sama-sama gila" sentak Lily


"hahahahahaha"


TBC


jangan lupa like dan votenya ♥