Sincerity

Sincerity
Part 3| Julian Marah?



Lisa dan Darra sudah selesai mengganti pakaian mereka. Keduanya berjalan kembali menuju kelas dengan berbagai macam pandangan yang diberikan kepada keduanya. Selama di koridor, mereka menjadi bahan perhatian baik siswa maupun siswi.


"Gila! Bodygoals benget mereka berdua."


"Si Lisa sama Darra cantik banget pake pakaian kaya gitu. Keliatan aura orang kayanya."


"Cewek jelek kaya mereka berdua di bilang cantik? Bodygoals? Dari mananya coba?"


"Masih cantikan kak Areta dibanding keduanya. Udah cantik, most wanted, kaya, jago dance lagi."


"Lisa cantik banget, gue gebet aja deh."


"Si Darra cantiknya nggak nyantai gila!"


Begitulah bisik-bisik orang selama di koridor saat melihat keduanya. Hingga akhirnya mereka sampai di kelas dan mamasukkan seragam mereka ke dalam tas.


"Siapa sih yang milih model baju kaya gini? Gue nggak nyaman banget sumpah!" Gerutu Lisa mencoba menutupi setengah bagian perutnya yang terbuka.


Bagaimana tidak? Baju yang mereka pakai memang sedikit terbuka, terutama di bagian perut. Kelas tari memang sengaja menggunakan baju yang sedikit terbuka agar tubuh mereka lebih leluasa dalam bergerak. Dengan atasan baju crop top berwarna hitam yang tidak terlalu ketat dipadukan dengan celana track pants berwarna hitam dengan garis putih memanjang dibagian pinggirnya.


"Sama, gue juga. Kalok gue masuk angin gimana? Baru tau gue kalok disini ada kelas tambahan setelah jam pulang sekolah." Sahut Darra tak kalah kesalnya.


Memang di KSHS, sekolah membuat peraturan baru dimana setiap hari Selasa dan Jumat para murid diwajibkan mendapat kelas tambahan mulai dari kelas olahraga, menyanyi, model, menari, teater, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar murid-murid yang memiliki bakat akademik bisa menunjukkannya melalui kelas yang mereka pilih sendiri. Setiap kelas juga memiliki bajunya masing-masing dan semua siswa maupun siswi yang mengikutinya wajib memakai baju tersebut. Setiap semester, kelas tambahan akan diatur ulang agar siswa dan siswi bisa mengetahui setiap ruangan yang ada di sekolah.


Lisa dan Darra lebih memilih mengikuti kelas tari dibandingkan tarik suara. Lisa yang memang lebih suka menari dibandingkan menyanyi. Sedangkan Darra suaranya cukup bagus untuk mengikuti kelas tersebut, tetapi karena mentalnya yang kecil membuat dirinya lebih memilih mengikuti kelas tari dibandingkan tarik suara.


"Tinggal lima menit lagi kelas bubar. Gimana kalok kita ke lapangan? Pengumuman kelas tambahannya kan diumumin di sana." Tanya Darra.


"Boleh. Gue juga males di kelas."


Mereka pun berjalan munuju lapangan sekolah. Disana sudah ada beberapa murid yang menunggu di pinggir lapangan untuk mengetahui letak kelas mereka dimana. Lisa dan Darra pun lebih memilih duduk di salah satu bangku taman yang kosong.


🍁🍁🍁


Di sisi lain, Julian dan sahabatnya sudah selesai mengganti baju mereka. Kini keempatnya berada di rooftop sekolah sambil bersantai ria melihat lapangan sekolah yang sudah mulai penuh dengan para murid.


"Gue bingung deh sama bonyok Lo, Yan. Mereka buat kelas tambahan gini nggak mikir apa kita capek apa enggaknya. Emang sih biar bisa tau kelebihan kita apa. Tapi nggak bisa pake cara lain apa?" Gerutu Aksa kesal, rencananya hari ini ia ingin pergi ke mall bersama adiknya Akmal untuk membeli beberapa lego, tapi harus tertunda karena ada kelas tambahan.


"Bacot Lo! Nikmatin aja, bisa liat cecan kan Lo!"


"Bodo! Nggak denger gue. Btw baswe, si murid perpindahan pelajar masuk kelas apa ya? Semoga aja masuk kelas tari deh biar bisa ketemu pluss liat body bohay mereka." Aksa terkekeh setelah mengatakannya, pikiran jahatnya sudah berkeliaran kemana-mana.


Buughhtt,,,,


Delvin melemparnya dengan kaleng bekas minumannya tepat di wajah Aksa.


"Bngst Lo, Vin! Maksud Lo apaan hah?"


"Ngomong di filter ****! Si Lisa sama Darra cewek baik-baik. Palingan juga mereka masuk kelas tarik suara sama gue." Sahut Delvin percaya diri.


"Omongan Lo berdua nggak bermutu!" Ucap Alvaro dingin sembari memainkan ponselnya.


"Ngikut aja Lo bule lokal!"


Pandangan Aksa beralih ke arah lapangan, matanya berkeliling mencari gadis yang tadi ia bicarakan bersama sahabatnya. Dan yah, ketemu. Mereka sedang tertawa ringan sembari memukul pundak satu sama lain. Pandangannya kini beralih pada pakaian yang dikenakan kedua gadis itu.


'Buset, cantik banget. Gue bersyukur karena gue orang pertama yang ngeliat pemandangan indah sebelum sahabat-sahabat gue. Rejeki anak soleh mah nggak pernah kemana.'


"Yatuhan, indahnya ciptaanmu." Gumam Aksa yang masih bisa di dengar oleh ketiga sahabatnya.


"Liat apa Lo?" Tanya Delvin kepo.


"Liat kebawah!"


Delvin mengikuti arah telunjuk Aksa yang tertuju pada Lisa dan Darra yang sedang tertawa bersama. Mereka tampak cantik dengan senyuman di wajah mereka.


"Cantik banget yatuhaan."


Merasa penasaran akhirnya Alvaro dan Dalvin menengok kebawah. Dan benar saja, pemandangan indah mereka dapat saat melihat Lisa dan Darra tertawa senang.


"Fikss gue mau Lisa atau Darra jadi gebetan gue." Ucap Aksa semangat.


"Enak aja Lo tutup panci! Dari pertama ketemu, Darra itu udah punya gue! Awas aja Lo berani ngerebut dia dari gue."


"Yaudah gue sama Lisa aja."


Julian masih memandangi Lisa yang sedang asik bercerita ria dengan Darra. Mulai dari mata bulatnya, hidung mancungnya, dan sampailah mata pemuda itu di bibir Lisa yang membentuk lengkungan ke atas. Lisa tersenyum, dan Julian menyukai senyuman itu. Entah sejak kapan dirinya menjadi penggemar senyuman Lisa, tapi yang pasti Julian selalu ingin melihatnya.


Matanya beralih pada pakaian yang Lisa kenakan. Julian bisa menebak Lisa dan Darra masuk ke kelas yang sama dengannya. Kelas tari. Ada satu hal yang sedari tadi mengganggu pengelihatan Julian pada gadis itu, bajunya. Baju gadis itu terlalu terbuka, dan Julian tak suka itu. Banyak laki-laki yang menatap gadis itu terang-terangan, namun Lisa hanya cuek saja. Ingin rasanya Julian mencongkel mata laki-laki yang sudah melihat tubuh gadisnya. Apa tadi? Gadisnya, ayolah Julian, Lisa bukan milikmu!


Lamunan Julian akhirnya buyar karena tepukan keras di pundaknya. "Woy! Bengong-bengong wae Lo, Jul!" Pemuda itu menatap tajam ke arah Aksa.


"Hehe, sorry. Abisnya Lo bengong kaya orang kesurupan. Kan Dedek jadi takut." Ucap Aksa dengan nada manjanya.


"Berhenti nggak! Jijik gue liat Lo kaya gitu!"


🍁🍁🍁


"Oke, selanjutnya Lisa. Silahkan maju kedepan dan tunjukkan kemampuan menari kamu." Ucap Miss Yoona kepada Lisa.


Dengan gugup Lisa melangkahkan kakinya ke arah Miss Yoona. Telinganya bisa mendengar banyak cibiran yang menyumpah serapahi dirinya agar mengalami sesuatu yang buruk saat menari nanti. Lisa terdiam, pandangannya beralih pada Darra yang setia memberikannya semangat.


"Kamu mau pakai lagu apa?"


Lisa tersenyum manis, "lagu Attention-Charlie Puth."


Miss Yoona mengangguk, "nyalakan musiknya!"


Lagu mulai di putar. Lisa menutup matanya dan menarik nafas pelan untuk mengurangi rasa gugupnya. Tubuhnya mulai menari mengikuti irama lagu favoritnya itu. Gerakan tubuhnya yang luwes dan indah membuat semua pasang mata yang berada di ruangan itu menatap kagum kearahnya.


"Itu beneran Lisa? Si cewek dari sekolah kampung itu kan?"


"Bodynya bagus banget."


"Kulitnya pasti mulus tuh."


"Keren banget dancenya."


"Kayanya si Areta punya saingan baru nih."


"Beruntung banget dia. Si Areta lagi keluar kota, kalok dia tau udah habis si Lisa di tangannya."


Begitulah bisik-bisik beberapa siswa dan siswi di ruangan itu. Ada yang memuji kemampuan dance Lisa, tapi ada yang mencela gadis itu karena gerakan dancenya hanya untuk menarik perhatian para laki-laki.


"Sstt, Julian. Si Lisa keren banget dancenya, belom lagi bodynya. Kalok gini gue makin semangat buat deketin dia." Bisik Aksa di telinga Julian.


Lain halnya yang Julian tidak menjawab bisikan Aksa padanya. Mata hitamnya terlalu asik untuk melihat penampilan gadis di depannya. Julian akui gadis itu memiliki body yang bagus dan kulit yang bersih tanpa luka di sana. Julian juga mengakui gerakan dance Lisa yang sangat amat apik. Namun ada satu hal yang membuatnya kesal setengah mati. Apalagi kalau bukan beberapa pasang mata, aaah bukan beberapa pasang mata lagi tapi semua pasang mata melihat ke arah gadis itu. Julian tidak bisa menerimanya.


'Liat aja Lisa. Lo udah buat gue emosi karena perbuatan Lo hari ini!'


Tunggu! Ada apa dengan Julian?


Prok,,,prok,,,,prok,,,,prok,,,


Suara tepuk tangan memenuhi ruangan saat Lisa selesai menunjukkan kemampuan menarinya. Namun, tak sedikit pula yang mencibir secara terang-terangan gadis itu.


Lisa kembali duduk di tempatnya, salah satu tangannya ia gunakan untuk menghapus keringat di dahinya.


"Lo keren banget Lis! Kemampuan dance Lo makin hari makin mantep aja. Ajarin gue ya?"


"Iya-iya. Gue mau ke kamar mandi dulu ya. Panggilan alam hehe." Darra mengangguk. Lisa lalu permisi pada Miss Yoona untuk pergi ke kemar mandi, tak lupa ia juga membawa botol minuman jika nantinya ia merasa haus saat berjalan ke kamar mandi.


Melihat Lisa yang keluar dari kelas, Julian berinisiatif untuk menghampiri gadis itu. Tanpa ijin, Julian melongos pergi keluar dari kelas dengan Miss Yoona yang hanya bisa menggeleng kepalanya heran.


'Anak pemilik sekolah mah bebas. Apalah daya ku yang cuma seorang guru?'


Kita kembali pada Lisa yang bersenandung ria di sepanjang koridor. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang menariknya paksa hingga tubuhnya terbentur tembok. Kalian mau tau siapa pelakunya? Julian.


"Kak Julian?"


"Kenapa? Kaget?"


"Kak Julian ke-kenapa ada di sini? Bukannya kakak ada di kelas ta-tadi?" Tanya Lisa menahan rasa gugupnya. Jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja saat ini. Belum lagi Julian yang mengurung tubuhnya menggunakan kedua tangan cowok itu.


"Udah puas ngegodain cowok-cowok brengsek di dalem sana hmm?"


Lisa mengernyitkan dahinya heran, "maksud kakak?"


"Lo sengaja kan dance kaya tadi supaya cowok-cowok yang awalnya nge bully Lo jadi suka ngeliatin Lo termasuk body Lo itu?" Ohh good, dalam sejarah seorang Julian mengatakan kalimat yang lumayan panjang pada seorang gadis.


"Aku nggak pernah ngelakuin itu kak. Memang irama lagunya kaya gitu. Aku rasa juga gerakan aku tadi nggak terlalu seksi kok." Sahut Lisa membela dirinya.


"Cewek murahan kaya Lo mana mau ngaku. Hebat banget cara Lo buat ngegoda cowok-cowok di dalem sana dengan gerakan Lo itu?" Ucap Julian dengan nada meremehkannya.


Plaakk,,,


Lisa tak bisa menahannya lagi, tidak masalah jika Julian membencinya sejak pertama kali bertemu. Tapi perkataan pemuda itu membuat hatinya sakit. Murahan katanya? Menggoda cowok-cowok brengsek di dalam sana katanya? Bukankah berarti Julian salah satunya, mengingat dirinya juga ada di kelas tersebut?


"Kak, aku nggak masalah kakak ngehina aku miskin atau apapun. Aku juga nggak masalah kakak benci aku sejak pertama kali kita ketemu di koridor sekolah. Tapi aku mohon, jaga mulut kakak! Aku bukan cewek murahan, aku cewek baik-baik kak!" Lisa mengatakannya dengan air mata yang perlahan menetes dari mata bulatnya. Bibirnya bergetar menahan Isak tangis.


Mendengar perkataan Lisa, Julian menyadari sesuatu. Bahwa dirinya sudah kelewatan dalam mengeluarkan semua emosinya pada Lisa. Tak seharusnya ia mengatakan itu. Julian menatap mata Lisa yang berkaca-kaca, tangannya refleks mengelus pipi kiri Lisa lembut. Namun hal itu segera di tepis oleh Lisa.


"Jangan sentuh cewek murahan kaya aku kak, nggak jijik? Lain kali kalok ngomong dipikir dulu, jangan sampe omongan kakak nyakitin perasaan orang lain." Setelah mengatakan itu Lisa melongos pergi tanpa menghiraukan tatapan bersalah Julian padanya.


"Arrggghhh! Kenapa Lo **** banget sih!"


🍁🍁🍁