
Ketika Roy hendak mengejar Helena juga, seseorang menahannya.
"Tuan Jefferson!" ucap orang tersebut yang ternyata adalah Adelard.
"Biar saya yang bicarakan ini pada Helena," sambung Adelard
Roy berpikir sejenak, tidak mudah juga untuk berbicara pada Helena saat ini, jadi Roy pun menyetujuinya.
"Baik," jawab Roy.
di sisi lain, Helena berlari menuju kolam renang hotel dan menangis tanpa suara. Ia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh, tetapi sekuat apapun ia menahannya, hatinya tidak mendukung untuk tidak bersedih dan pada akhirnya, air matanya pun mulai mengalir tanpa henti.
"Helena!" panggil seseorang yang tak lain adalah Xylon.
Namun, Helena tidak menggubrisnya. Ia masih saja menangis.
Seketika, Helena kembali teringat akan masa lalunya.
Xylon mendekat ke arah Helena lalu menyentuh bahu kekasihnya.
Helenapun membalikkan badannya dan langsung memeluk Xylon.
"Xylon, hiks.... hiks..." lirihnya dalam dekapan sang kekasih. Xylon mengeratkan pelukannya dan mengelus rambut Helena dengan lembut untuk menenangkannya.
Helena melepas pelukannya dan menatap Xylon.
"Kamu tau? dia itu Papi kandung aku," ucapnya
Xylon mengangguk lalu menjawab, "Aku tau, Hel."
"Dia itu pengkhianat, gak bertanggung jawab hiks... dia..."
Flashback On
sekitar 10 tahun yang lalu, saat Helena masih berusia 7 tahun, ia terbangun dari tidurnya saat malam hari. Karena mendengar suara ribut dari luar kamar, gadis kecil itu segera melihat apa yang sedang terjadi.
Saat ia keluar dari kamar dan turun menggunakan lift, ia dikejutkan dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Selain itu, terdapat seorang wanita yang tengah menonton pertengkaran tersebut di samping Papinya.
Helena melihat ke arah Papinya, orang yang ia rindukan selama ini.
Sudah lebih dari dua bulan papinya tidak pulang dan sekarang ketika pria itu pulang, Helena malah harus melihat kejadian ini.
Papinya menghancurkan semua barang-barang yang ada didekatnya.
Laura begitu frustrasi, sehingga Helena kecil menghampiri sang Mami dan memeluknya karena ketakutan melihat Papinya yang sedang mengamuk.
"Mami... hiks..." lirihnya sambil menangis memeluk lutut Maminya.
Laura sedikit berjongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan putri kecilnya lalu mengelus sayang kepala Helena sembari berkata, "Maafin Mami sayang..." lalu memeluk sang putri sembari menangis terisak.
Harry, yang tak lain adalah adik Helena yang berumur 5 tahun itu juga terbangun dari tidurnya dan meminta kepada salah satu asisten yang menjaganya untuk mengantarkannya ke bawah. Awalnya asisten tersebut menolak, karena takut Laura akan memarahinya. Namun, melihat Harry yang menangis, membuatnya tidak tega. Akhirnya, asisten tersebut menggedong Harry menuju lantai bawah.
Ketika Harry dan asistennya sudah berada di lantai bawah, bocah kecil itu dikejutkan dengan apa yang terjadi. Ia melihat ke arah Papinya, sama seperti Helena, Harry juga sangat merindukan Roy.
"Papi? Papi udah pulang?" Ia turun dari gendongan asisten itu dan hendak menghampiri Roy. Namun dengan cepat, Laura menahannya.
"Jangan Sayang, dia bukan Papi kamu lagi" ujar Laura.
"Why Mami? Harry kangen sama Papi," ucap bocah laki-laki itu.
"Mami mohon sama kamu Harry, nanti Mami jelasin semuanya sama kamu kalau kamu sudah besar, kamu nurut ya sama mami?" tutur Laura.
Harry pun mengangguk lalu ia memeluk Maminya yang sedang menangis itu.
"Mami... Harry takut" ucap Harry yang semakin mempererat pelukannya pada Laura.
"Jangan takut sayang, ada Mami disini." Laura mencoba menenangkan putranya itu.
Roy pergi mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper setelah itu ia pergi bersama wanita muda itu.
Saat itu Helena sudah mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Gadis kecil itu sering kali ikut Maminya pergi ke psikiater dan mendengarkan Maminya yang sering menangis karena sang Papi yang menurutnya sangat jahat. Bahkan, Helena kecil sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bisa berkumpul dengan Papinya, ia hanya ingin selalu bersama sang Mami, apapun yang terjadi.
Flashback Off
"Habis kejadian itu, Mami Papi cerai dan kita pindah ke Singapore karna Harry sakit kanker otak stadium akhir hikss..."
"Sampai akhirnya Harry meninggal. Aku sama Mami terpukul banget dan kita balik ke Indonesia buat pemakaman Harry, dan akhirnya kita menetap di Jakarta. Papi gak ada disaat-saat aku dan Harry butuh. sampai akhirnya Papi Adelard dateng di kehidupan aku dan Mami. Papi adelard baik banget, Papi Adelard udah kayak Papi kandung aku sendiri dan Mami nikah sama Papi Adelard. Akhirnya aku bisa ngerasain kasih sayang seorang ayah lagi berkat Papi Adelard hiks... hiks..." Helena yang sudah tidak kuat bercerita pun kembali menangis.
Xylon membawa Helena kembali ke dekapannya lagi. "Udah Helena.. kalo kamu gak kuat ceritain, jangan dipaksa." ucap Xylon lalu mengecup pucuk kepala Helena.
Helena menangis dalam dekapan Xylon sampai beberapa menit kemudian Helena menjadi sedikit tenang.
***
di acara pesta, Roy dan Adelard begitu cemas dengan Helena. Roy sangat menyesal dengan apa yang ia perbuat.
"Tuan Jafferson, anda harus sabar. Gak mudah untuk buat Helena nerima ini semua, tapi saya pasti bakal berusaha kasih penjelasan pada Helena," ujar Adelard
"Iya tuan Williams, saya mengerti dan saya yang salah. Terimakasih sudah menjaga putri saya, memberikan kasih sayang seorang ayah pada Helena dan merawat dia seperti putri anda sendiri." sahut Roy yang mengucapkan terimakasih kepada Adelard yang telah menganggap Helena sebagai putri kandungnya sendiri.
"Anda jangan bicara seperti itu tuan Jefferson, saya sudah anggap Helena sebagai anak saya sendiri, jadi anda tidak perlu mengucapkan terimakasih," ucap Adelard tulus.
'Hm, kalo gak salah tadi Xylon ngejar Helena, pasti mereka lagi bareng. apa telepon Xylon aja buat mastiin?' batin Adelard bermonolog.
"Kalau gitu saya permisi dulu tuan Jefferson, saya harus telepon Xylon buat mastiin keberadaan Helena," ujar Adelard.
"Iya," sahut Roy.
Adelard pun mencari tempat untuk menelepon Xylon.
Sementara di area belakang hotel, Xylon masih memeluk Helena dan menenangkannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Xylon mengambil ponsel yang ada di sakunya lalu melihat siapa yang meneleponnya.
Setelah melihat ternyata Adelard lah yang menelepon, Xylon pun melepas pelukannya dan mengangkat telepon.
...📞📞📞📞📞...
"Halo Xylon, Helena ada
sama kamu?"
^^^"Iya Om, Helena ada^^^
^^^sama saya"^^^
"Yaudah kalo gitu, jaga dia baik-baik kalo sampe dia lecet sedikitpun,
om sendiri yang bakal
patahin tulang kamu"
^^^"Iya om tenang aja, saya bakal^^^
^^^jagain putri Om"^^^
"Yaudah kalo begitu om tutup
telphonenya"
^^^"Iya"^^^
...📞📞📞📞📞...
Setelah sambungan telphonenya mati, Xylon kembali menatap Helena.
"Siapa? Papi Adelard?" tanya Helena
"Hm," Xylon menjawab dengan deheman.
"Kamu tau? sebenarnya aku gak suka sama marga itu! Jefferson, haha. Berarti nama aku sama kayak pria itu dan sama juga kayak istrinya yang murahan," ucap Helena
"Sssttt.. jangan bilang gitu, dia Papi kandung kamu!"
"Gak peduli! kalo emang dia Papi kandung aku, terus kemana pas aku dan Harry butuh? dia juga gak peduli kan?"
"Semua orang butuh waktu untuk berubah Helena, mungkin sekarang Papi kamu udah sadar dengan semua perbuatannya dan kamu harus bisa maafin," tutur Xylon.
"Setau aku, kamu itu orangnya pemaaf. Tapi kenapa kamu gak mau maafin Papi kamu sendiri?" sambungnya.
Helena membalikkan tubuhnya menghadap ke arah kolam renang.
"Sebenernya aku udah maafin Papi Roy, tapi aku masih kecewa sama Papi dan aku juga udah berusaha buat ngelupain semuanya. tanpa di minta pun aku udah maafin Papi aku, dan aku juga udah ambil pelajarannya," ucapnya
"Tapi aku gak tau gimana perasaan Mami, aku juga harus jaga perasaan Mami dan Mami itu udah benci banget sama Papi Roy. Aku gak mau ngecewain keduanya Xylon!" sambung Helena.
"Hm aku ngerti, kamu coba bujuk Mami kamu, karna kamu itu anak kandung tuan Roy, tuan Roy pasti kangen banget sama kamu Helena... kamu juga sama kan?" ujar Xylon yang tidak mendapat respon dari Helena.
Kemudian, air mata gadis itu kembali mengalir.
"Aku kangen Harry, Xyl..." lirihnya
Xylon pun kembali memeluk Helena dari belakang dan mengeratkan pelukannya.
"Udah, jangan nangis lagi ya? Tuhan sayang sama Harry, makanya Harry dipanggil lebih dulu." ucap Xylon, lalu ia membalikkan tubuh Helena agar menghadapnya dengan tangan yang mengusap air mata di pipi mulus gadis itu dan mencium keningnya lalu tersenyum menatap sang kekasih.
"Tadi kita mau dansa kan?" ujar Xylon mengalihkan pembicaraan.
"Udah gak mood," sahut Helena.
"Hmmm... tapi aku pengen dansa sama kamu, gimana?"
"Sama yang lain aja, gak bisa?"
"Yakin? aku dansa sama cewek lain, kamu gak marah?"
"Ck, tapi males balik ke acara itu!" sanggah Helena.
"Ya udah, kalau gitu kita dansa disini," ucap Xylon.
"Maksudnya?" tanya Helena
Xylon tersenyum lalu meraih tangan Helena dan menaruh di pundaknya. Kemudian, ia langsung meraih pinggang Helena dan tangan yang satu bertautan dengan tangan Helena lalu ia mulai berdansa.
Helena yang kebingungan pun hanya bisa mengikuti gerakan laki-laki Xylon sambil menatap wajah tampan kekasihnya.
"Suara dari dalam masih kedengeran jelas, jadi kita bisa dansa di sini," ucap Xylon.
Helena mengerti, ia pun menikmati gerakan dansa mereka dengan suara musik dari dalam yang masih terdengar oleh keduanya.
"Helena..." panggil Xylon dengan lembut.
"Hm?" sahut gadis itu dengan deheman.
"You look so beautiful tonight," puji Xylon.
"And you are so handsome with this suit," balas Helena.
Xylon tersenyum.
"Jadi, kamu terpesona sama aku? haha," ucapnya menggoda sang kekasih.
"Ck, harusnya aku gak muji ya?"
"Aku bercanda, Helena..." ucap Xylon.
"Iya, aku tau," jawabnya.
Kemudian, Helena menghentikan gerakan dansanya dan menatap dalam Xylon yang juga tengah menatapnya.
"Thank you for always being there for me and being my place to lean on, I love you more, Xylon (Terima kasih karena selalu ada buat aku dan menjadi tempatku bersandar, I love you more, Xylon)." ucap Helena yang benar-benar tulus.
Xylon tersenyum dan kembali memeluk kekasihnya yang begitu cantik dan manis walaupun make up yang sudah sedikit berantakan akibat menangis tadi.
"I will always love you, my Helena," balas Xylon.
......................
Sementara suasana di dalam, Adelard yang baru selesai menelepon Xylon dan hendak kembali pun terkejut saat Laura yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kaget!" ucap Adelard sembari mengelus dadanya.
"Dimana Helena, Pi?" tanya Laura.
"Sama Xylon, kamu tenang aja ya?" jawab Adelard lalu menangkup wajah istrinya dan memintanya untuk tenang.
Laura menganggukkan kepalanya. Ia yakin putrinya itu pasti merasa hancur saat bertemu kembali dengan Papi kandungnya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Yang aku takutin beneran terjadi, aku yakin Helena lagi nangis sekarang. Aku mau anak aku, Adelard!" ujar Laura.
"Iya, setelah Helena tenang, kita temuin dia. Nanti juga kita bakal ketemu di rumah dan bicarain masalah ini sama Helena, kamu jangan khawatir." tutur Adelard.
"Laura!" panggil Roy menghampiri kedua pasangan itu.
Adelard dan Laura menoleh ke arah sumber suara dan menatap Roy untuk menunggu apa yang akan pria itu katakan.
"Apa kita bisa bicara berdua?" tanya Roy pada mantan istrinya.
Laura menatap ke arah Adelard untuk meminta izin. Adelard pun dengan senang hati tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengizinkan. Karena walau bagaimanapun, Roy dan Laura butuh waktu untuk bicara berdua
"Tapi aku mohon, kamu ikut ya?" bujuk Laura pada sang suami agar ikut menemaninya.
"Sayang, masalah ini antara kamu dan tuan Jefferson. Apa aku sopan nyimak pembicaraan kalian berdua?" tutur Adelard agar istrinya mengerti.
"Sopan kok, karena kamu suami aku. Aku mohon kamu ikut sebagai penguat aku," bujuk Laura kembali.
"Oke, tapi apa tuan Roy keberatan?" tanya Adelard yang meminta pendapat pada Roy.
"Tentu tidak, tuan Williams," jawab Roy.
Setelah itu, Roy, Laura dan Adelard pergi ke tempat yang sedikit jauh dari ruangan tempat acara itu diadakan agar lebih nyaman membicarakan masalah pribadi.
"Laura, aku... aku benar-benar minta maaf sama kamu dan anak-anak kita. Aku tau perbuatan aku yang dulu itu benar-benar susah untuk dimaafin. Tapi kamu harus percaya, aku udah berubah dan ingin memperbaiki kesalahan aku yang dulu sama Helena. Aku tau Harry anak kita udah gak ada dan aku benar-benar nyesel karena gak ada saat kalian butuh aku. Tapi aku mohon sama kamu, maafin aku. Aku benar-benar nyesel." ucap Roy penuh penyesalan.
Laura menghela nafasnya sebelum berbicara dan menatap Roy dengan serius.
"Walaupun aku sempat kecewa dan sakit hati, aku tetap maafin kamu. Aku ikhlas lahir batin, karena semua itu ada hikmahnya. Hikmahnya adalah aku punya suami sebaik dan sepenyayang kayak Adelard, dan kamu punya Carine. Kita udah punya keluarga masing-masing dan hidup bahagia dengan pilihan kita. Jadi, aku mohon jangan ungkit masa lalu lagi, karena kejadian itu udah lama aku lupain." tutur Laura lalu menatap Adelard sambil tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya pada sang suami.
Kemudian, ia kembali menatap Roy dan melanjutkan ucapannya.
"Aku udah maafin kamu, dan tolong kamu jangan ragu untuk ketemu putri kamu sendiri, Helena. Dia pasti udah maafin kamu juga, dia kangen sama kamu dan pasti pengen peluk Papinya."
"Tapi aku gak yakin. Setiap kali aku coba buat deketin dia, Helena langsung pergi dan matanya berkaca-kaca. Aku yakin dia udah terlalu benci sama aku," ucap Roy.
"Gak mungkin. semarah-marahnya Helena, dia pasti gak akan bisa benci sama Papinya sendiri. Dia cuma butuh waktu buat buang kenangan pahit masa lalunya dan mencoba buka lembaran baru buat masa depannya saat ini," tutur Laura kembali.
"Itu benar, tuan Jefferson. Bukannya saya sudah berjanji pada anda untuk membicarakan masalah ini nanti dengan Helena? anda tidak perlu khawatir. Helena anak yang baik dan mudah mengerti, jadi tidak perlu waktu lama untuk membuat Helena paham dan menerima semua ini," ujar Adelard menimpali.
"Iya, saya percaya bahwa Helena itu anak yang baik, semua itu karena didikan kalian." sahut Roy yang hanya bisa dibalas senyuman oleh Laura dan Adelard.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC
Jangan lupa like dan share~