Sincerity

Sincerity
Lamaran untuk Agnez



Hari ini adalah hari di mana Rasya akan melaksanakan tanggung jawabnya terhadap Agnez dan bayi yang ada di dalam perut gadis itu. Saat ini, Rasya berada di rumah mewah milik keluarga Stewart untuk membicarakan pernikahannya dengan putri mereka di ruang tamu.


Ditemani Helena dan Xylon, Rasya meminta restu kepada Hadley dan juga Adaline untuk menikahi Agnez.


"Ada apa? udah sadar sama perbuatan rendah kamu itu? makanya udah berani datang ke sini," ujar Adaline dengan ketusnya.


"Saya tau, Nyonya Stewart. Saya tau kalau saya itu udah salah karena menghancurkan hidup Agnez," sahut Rasya. "Tapi, kedatangan saya ke sini, bertemu dengan Tuan dan Nyonya Stewart dengan maksud dan tujuan yang baik. Saya ingin minta restu untuk menikahi Agnez, sekaligus bertanggung jawab dengan kondisinya yang sekarang," sambung Rasya.


"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu? sebelumnya, kamu kabur dan susah dicari, bukan?" tanya Hadley sekaligus menyindir pemuda itu karena masih merasa marah.


"Kemarin, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri sebelum mengambil keputusan sebesar ini. Awalnya emang saya nggak mau bertanggung jawab karena takut kehilangan semua impian-impian saya kalau mengurus anak dan istri. Tapi, kata-kata Helena buat saya sadar dan hari ini, saya bisa di sini dengan alasan pertanggung jawaban itu karenanya." kata Rasya dengan di akhir kalimat ia ucapkan sembari menatap ke arah Helena seolah-olah matanya itu menggambarkan rasa terima kasihnya pada gadis itu dan ada arti lain dari tatapan tersebut.


Xylon yang juga sama-sama pria pun sebenarnya sangat paham jika masih ada cinta di mata Rasya untuk Helena. Namun, ia juga tidak perlu mengkhawatirkannya seperti dulu, karena mustahil bagi Rasya untuk mendekati Helena kembali, apalagi pemuda itu akan menikah. Jadi, ia bisa tenang tanpa harus memikirkan yang tidak-tidak.


"Oh, jadi ini semua karena Helena yang minta, bukan karena hati kamu yang mau?" seru Eric yang baru saja menuruni tangga dan mendengar ucapan Rasya itu.


Sepertinya, Eric salah paham dengan apa yang dimaksud oleh Rasya. Sehingga, pemuda itupun harus menjelaskannya agar Hadley dan Adaline tidak ikut salah paham dengan ucapannya.


"Maksud saya, Helena yang meyakinkan saya untuk hal ini. Helena sebagai temannya Agnez pasti nggak mau temannya disakitin. Sebelum Helena minta, saya dan Agnez memang sudah terikat dan memang saya sudah nyaman dengan Agnez. Untuk alasan saya waktu kabur dan nggak mau tanggung jawab, itu semua karena kekhawatiran dan saya bener-bener nyesel sama semua itu. Jadi, Helena itu hanya meyakinkan dan menasehati saya, bukan saya yang ikutin apa yang Helena mau dan perintahnya. Jadi, tolong semuanya jangan salah paham." Rasya pun akhirnya menjelaskan maksudnya dan berharap keluarga Stewart bisa memahami setiap penuturannya itu.


Eric yang duduk di sofa berhadapan langsung dengan pria yang akan bertanggung jawab terhadap adiknya itu, menatap tajam Rasya. Sama seperti Papanya, ia masih sangat marah dan benci pada pemuda itu. Namun, karena Rasya ingin bertanggung jawab, kemarahannya bisa sedikit berkurang.


Semua orang terdiam untuk beberapa saat, hingga suara asisten rumah tangga mereka datang memberitahu sesuatu.


"Tuan, Nyonya besar! ada tamu yang datang. Katanya mau ngobrol sama Tuan dan Nyonya besar," ujar asisten tersebut.


"Bilang kalau kita lagi nggak nerima tamu! lagian kamu nggak liat apa, kalau sekarang saya dan keluarga saya lagi kedatangan mereka?!" cetus Adaline dengan maksud kata mereka yang tentu saja Rasya, Helena dan juga Xylon.


"M-m-maaf, Nyonya. Ta-tapi,..."


"Saya datang ingin melamar Agnez untuk keponakan saya, Rasya." seru seorang pria yang tiba-tiba datang bersama seorang wanita yang merupakan istrinya dan juga beberapa orang di belakangnya yang membawa barang-barang seperti seserahan.


Pria dan wanita itu tak lain adalah Roy dan juga Carine. Ya, mereka datang tidak bersamaan dengan Rasya, karena mereka harus mengurus beberapa hal penting terlebih dahulu.


"Tuan Roy?" Hadley bangkit dari duduknya dan bertanya-tanya mengapa seorang Roy Jefferson tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Stewart!" ujar Roy menyapa si pemilik rumah.


"Selamat pagi, ada keperluan apa anda datang kemari, Tuan?" Hadley pun menanyakan maksud dan tujuan Roy datang ke rumahnya.


"Bukannya tadi saya sudah bilang? Saya datang ingin melamar Agnez untuk keponakan saya, Rasya." Roy pun akhirnya mengulangi kembali ucapannya dan alasan ia datang ke rumah keluarga Stewart.


"Keponakan?" Hadley maupun Adaline dan Eric sama-sama terkejut lalu mereka menatap Rasya untuk meminta penjelasan.


Yang ditatap pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Carine adalah Tante saya yang berarti saya juga keponakannya Roy Jefferson."


"Oh, berarti sepupunya Helena?" ujar Eric menatap ke arah Helena.


"Nggak tau." sahut Helena sembari mengangkat bahunya, tak acuh. Ia bahkan tidak menganggap Carine sebagai ibu sambungnya.


"Silahkan duduk, Tuan dan Nyonya Jefferson," Hadley pun akhirnya mempersilahkan Roy dan istrinya itu untuk duduk.


Asisten yang tadi menghampiri merekapun langsung pergi ke arah dapur dan membuatkan 2 minuman untuk Roy dan juga Carine.


Setelah kedua pasangan itu duduk, Haldey dan Adaline ikut duduk kembali dan mulai membicarakan soal pernikahan Agnez dan juga Rasya. Anak buah Roy pun menaruh barang-barang yang mereka bawa di tangan masing-masing ke atas meja.


"Saya langsung bicara pada intinya aja ya. Jadi, segala persiapan pernikahan putri anda dan juga keponakan saya, sudah siap. Saya dan istri saya datang kemari ingin menanyakan apakah Tuan dan Nyonya menerima lamaran ini?" ujar Roy tanpa berbasa-basi.


"Kami sebagai orang tua dari Agnez, pasti menerima lamaran ini demi kebaikan anak kami," sahut Adaline.


"Oke, ini sebagai seserahan lamaran dari pihak laki-laki," ucap Carine yang sebenarnya masih setengah hati dengan melakukan lamaran ini.


"Persiapannya udah selesai semua dan pernikahannya kita laksanain hari ini juga," sambungnya.


"Hari ini?" kaget Adaline dan juga Hadley.


"Iya, lebih cepat lebih baik," jawab Rasya.


"Agnez lagi di kamar, masih tidur. Kata dokter, dia harus banyakin istirahat," jawab Adaline yang diangguki oleh suaminya.


"Kalau gitu, gimana? pernikahannya mau hari ini atau besok?" ujar Roy yang kembali menanyakan persetujuan keluarga Stewart, karena ia yakin jika mereka pasti merasa terkejut mendengar rencananya untuk menikahkan Rasya dengan Agnez hari ini juga.


"Tapi, untuk gaun dan tempatnya-"


Baru saja Adaline akan bertanya, Roy sudah memotongnya.


"Seperti yang istri saya bilang tadi, semua persiapannya udah selesai termasuk gaun dan tempatnya. Saya hanya butuh persetujuan dan masukan dari kalian, mau kapan pernikahannya dilaksanakan?" jelas Roy.


"Hm, kalau menurut saya, acaranya lebih baik diadakan besok, karena Agneznya harus saya kasih tau dulu," sahut Hadley.


"Oke, jadi keputusannya mereka akan menikah besok di Jeffer Hotel yang ada di daerah C dan kalau anda mau undang siapapun, ya silahkan saja," ucap Roy.


Hadley manggut-manggut mendengarnya.


"Tuan dan Nyonya Jefferson! Ayo diminum minumannya!" Adaline baru tersadar sejak Roy dan Carine datang tapi belum sempat minum. Akhirnya, ia pun meminta mereka untuk meminum minuman yang telah disiapkan.


"Iya bener, makanannya juga. Terlalu asik ngobrol jadi lupa nawarin," timpal Hadley yang merasa tidak enak dengan mereka.


"Nggak masalah, saya juga lupa." sahut Roy yang lalu mengambil cangkir yang berisi minuman di atas meja lalu meminumnya diikuti sang istri yang juga langsung mengambil minuman tersebut.


"Hoaamm...."


Terdengar suara menguap dari Helena yang memang dirinya kurang suka dengan pembicaraan serius karena akan merasa kantuk seperti ini.


Roy menaruh cangkir tersebut lalu menatap ke arah sang putri yang sejak tadi belum ia sapa ataupun ajak bicara.


"Hi, Sayang. Malam bergadang? masih pagi udah ngantuk," ujar Roy.


"Nggak kok, aku nggak bergadang," sahut Helena.


Carine menatap tak suka pada Helena. Namun, yang ditatap tidak memedulikan tatapan darinya karena Helena hanya menganggap wanita itu sebagai orang gila yang tidak harus ia peduli ataupun pikirkan.


"Hoaaaam...."


Lagi-lagi Helena menguap dan ia benar-benar mengantuk sekarang. Xylon yang melihat kekasihnya sudah merasa kantuk pun meraih bahu Helena dan menyandarkan kepala gadis tersebut pada bahunya.


Semua orang tercengang melihat keberanian Xylon yang jelas-jelas ada orang tua Helena di sana dan seolah-olah pria itu sudah terbiasa.


"Gila, berani banget kalian mesra-mesraan depan orang!" seru Eric pada kedua pasangan tak malu itu.


"Lah? daripada senderan ke Rasya? milih mana, hayo?" sahut Helena yang memang duduk di tengah-tengah Xylon dan juga Rasya. Tidak mungkinkan, ia bersandar pada calon suami orang?


"Iya juga sih, lagian jam segini udah ngantuk," celetuk Eric.


"Helena mau kopi?" tanya Hadley dengan nada candaan.


"No, thanks," jawab Helena.


"Oooo... oghey." ucap Hadley sembari manggut-manggut.


Roy hanya bisa tersenyum melihat sikap putrinya itu. Memang Helena sangat mirip dengannya, mau itu dari wajah ataupun sikap dingin pada orang lain dan tidak suka berbicara bertele-tele.


"Nanti kalau masih nempel-nempel gitu, Papi nikahin kalian lama-lama," ujarnya disertai ancaman yang berupa candaan.


Helena pun langsung kembali duduk tegap mendengarnya. Ia merasa malu sebab, karena omongan Papinya ia ditertawakan oleh yang lain kecuali Carine.


Xylon juga hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan dari calon mertuanya itu. (Azzekk😜)


Setelah dirasa cukup lama mereka berada di rumah keluarga Stewart, Roy dan Carine pergi dari sana karena Roy yang harus pergi ke kantornya.


Helena dan Rasya pun pergi ke kamar Agnez karena Helena yang mendapat pesan dari sahabatnya jika dia sudah bangun tidur dan Helena juga harus mengabarkan rencana pernikahan sahabatnya dan Rasya besok pada gadis itu.


Sedangkan Xylon, ia lebih memilih berbincang-bincang dengan sahabatnya yaitu Eric dibanding pergi ke kamar Agnez, yang alasan sebenarnya adalah pria itu merasa malas untuk pergi ke sana.