Sincerity

Sincerity
Prolog



Sinar bulan kini tergantikan oleh cahaya matahari pagi yang cerah. Semua orang berlalu-lalang melakukan kegiatan pagi mereka di hari Minggu ini. Ada yang bersantai di rumah, bahkan ada yang memilih untuk pergi berkunjung ke tempat wisata yang keren bersama keluarga atau orang tersayang mereka.


Lain halnya dengan gadis yang masih meringkuk di ranjangnya dengan diselimuti selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Sesekali tubuhnya bergerak kecil mencari posisi ternyaman agar tidurnya tidak terganggu. Sungguh suasana hari Minggu yang damai untuk seorang gadis SMA sepertinya.


Tok,,,tok,,,tok


Ohh ralat, suasananya berbeda sekarang. Ketukan pintu kamarnya terdengar sangat keras dan memaksa. Apa yang mengetuknya tidak merasakan sakit di tangannya? Bahkan itu tidak bisa di katakan ketukan melainkan pukulan hingga terdengar sangat keras di telinga gadis itu.


Dengan sangat berat hati, si gadis bangun dari tidur nyenyaknya dan berjalan gontai menuju pintu untuk melihat siapa yang sudah membangunkan tidur panjangnya yang hanya bisa terjadi di hari Minggu saja.


Krieet,,, decitan pintu terdengar bersamaan dengan wajah cowok yang menjadi dalang dari suara yang membuat telinga si gadis ingin pecah saat mendengarnya.


"Lisa, kamu baru bangun?"


Lalisa Aina Pratama. Tinggi yang ideal, wajah bak Barbie, kulit putih nan mulus adalah karakteristik gadis itu. Dirinya terkenal memiliki sifat yang mudah bergaul, pintar, dan hiperative. Usianya kini baru 16 tahun. Lisa sangat suka menari, ia bahkan meluangkan waktunya setiap hari untuk mengasah kemampuannya itu. Membuat kue juga salah satu hobinya, dengan hobinya itu Lisa bisa menghasilkan uang untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya.


Lisa mengangguk, mulutnya serasa kaku untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya itu. "Kenapa sih kak? Aku belum puas nih tidurnya!" Keluh Lisa kesal.


"Niatnya sih mau ngebiarin kamu tidur. Tapi kakak dapet surat ini dari sekolah kamu." cowok itu memberikan sepucuk surat kepada Lisa yang diterima gadis itu dengan ogah-ogahan. Palingan surat lomba antar sekolah lagi, pikirnya.


"Kakak udah baca?"


"Belum sih. Kakak lagi masak jadi nggak bisa baca suratnya. Kamu aja yang buka, nanti kalok udah kasih tau kakak. Oke?" Jawab cowok itu.


"Siap! Kak Vano."


Ervano Aileen Pratama. Cowok dengan tinggi badan yang sempurna untuk ukuran cowok sepertinya, bibir yang merah tipis alami, kulit yang putih nan bersih membuat siapa saja gadis yang mau menjadi kekasihnya. Cowok yang biasa di panggil Vano ini sangat menyayangi adiknya melebihi apapun, karena hanya Lisa yang ia miliki di dunia ini. Jadi dia akan sedikit possesive mengenai adiknya itu. Vano kini sudah bekerja, diumurnya yang masih muda ia sudah bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia sebagai seorang sekretaris andalan sang bos.


Vano mengacak rambut Lisa gemas, "yaudah kakak mau lanjut masak. Kamu kalok mau tidur lagi, tidur aja. Tapi jangan kelamaan, nanti perut kamu nggak isi apa-apa kerena nggak makan." Ucap Vano lembut.


"Iya kakaknya Lisa yang paling ganteng mengalahkan Stevan William." Ucapan Lisa hanya dibalas kekehan oleh Vano, pemuda itu lalu kembali ke dapur untuk memasak. Sedangkan Lisa kembali ke tempat tidur setelah menutup kembali pintu kamarnya.


"Ini surat apaan ya? Kok nggak kayak biasanya?" gumam Lisa bingung.


Karena penasaran, Lisa pun membuka surat tersebut dan membaca kalimat per kalimat yang tertera di surat itu dengan teliti. Mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang di jelaskan di dalam surat tersebut. Hatinya serasa dihantam beribu-ribu bunga saat ini.


"Gila ini beneran!" Tanyanya tak percaya.


"Gue nggak salah baca kan? Atau tukang pos nya yang salah ngirim alamat?" Dilihatnya bagian atas surat yang berisi kepad siapa surat ini diberikan. Dan benar saja, namanya benar-benat tertulis di situ.


"KAK VANO!" Lisa berteriak sekencang-kencangnya.


Pintu kamarnya lagi-lagi di perlakukan secara kasar oleh orang yang sama. Dan kali ini Vano mendobraknya, padahal Lisa tidak mengunci pintunya hanya menutupnya saja.


"Kak Vano ihh, pintu kamar aku rusak nanti!"


"Kamu kenapa teriak sih? Kakak pikir kamu kenapa-napa tadi." Tanya Vano khawatir.


Lisa hanya tertawa cengengesan. Sepertinya dia sudah berlebihan. Ia lalu memberikan surat yang tadi ia baca kepada Vano, membiarkan cowok itu membacanya juga.


"Kamu beneran bakalan sekolah disana?" Vano tak percaya dengan yang dibacanya.


Surat itu mengatakan untuk memilih Lisa dan sahabatnya sebagai murid perpindahan pelajar hingga mereka lulus ke jenjang yang lebih tinggi. Lebih mengejutkannya lagi sekolah itu akan memberikan beasiswa kepada lisa dan sahabatnya untuk kuliah di universitas terbaik di Korea jika terbukti nilai mereka berada di tingkat 3 besar paling tinggi saat ujian nanti. Sekolah yang akan mereka tempati tidak main-main. Korean Senior High School atau biasa disingkat KSHS.


Siapa yang tidak mengenal Korean Senior High School? Sekolah yang hampir seluruh siswanya adalah anak-anak luar negeri terutama Korea. KSHS merupakan salah satu sekolah bergengsi di Indonesia dengan segala fasilitas dan keamanan yang sangat tinggi. Tidak sembarang orang bisa masuk dan bersekolah disana. Hanya anak dengan ekonomi keluarga tinggi dan anak yang memiliki kepintaran di atas rata-rata yang bisa masuk kesana. Dan Lisa salah satu siswa yang berhasil masuk ke sekolah bergengsi itu.


Lisa mengangguk senang, tujuannya untuk bisa melanjutkan mimpi ke Korea hampir dekat dan dia tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja.


"Tapi kakak nggak yakin." Vano menunduk, ada rasa tak rela jika Lisa harus bersekolah di tempat bergengsi seperti itu.


"Kenapa kak? Ini kan impian aku."


"Bukan gitu, kakak takut aja kamu bakalan di bully di sana. Apalagi mereka semua orang kaya, sedangkan kita cuma orang berkecukupan. Kakak khawatir sama kamu." Ucap Vano mengeluarkan kekhawatirannya pada Lisa.


"Kakak tenang aja. Di sekolah yang lama aku juga sering di bully, tapi aku baik-baik aja kan? Setiap sekolah pasti ada yang namanya bully. Aku yakin kok, kalok aku nggak buat masalah disana. Mungkin aku bakalan baik-baik aja sampek lulus nanti." jelas Lisa membuat hati Vano sedikit tenang.


"Ngerti kak."


"Sini peluk dulu!" Vano merentangkan tangannya dan membawa Lisa ke dalam dekapannya. Apapun yang menjadi kebahagiaan adiknya akan ia lakukan dengan senang hati.


"Kakak sayang kamu."


"Aku lebih sayang kakak."


 


🍁🍁🍁


 


Bugh,,,,bugh,,,,bugh,,,,


Hanya itu suara yang terdengar di ruangan yang sunyi itu. Cowok dengan kekuatan tubuhnya terus memukul samsak yang ada dihadapannya dengan brutal. Tak ada kilatan marah di matanya, melainkan mata yang tenang.


Beberapa pelayan yang memperhatikan kegiatan cowok itu hanya bisa bergidik ngeri. Untung samsak yang menjadi korban pukulannya, bukan mereka. Setidaknya mereka berpikir untuk sekarang, bukan besok atau kedepannya.


"AMBILIN GUE SAMSAK YANG BARU! CEPET!" Terikannya dengan nada memerintah.


Segera seorang pelayan mengambilkannya samsak baru dan menggantungnya di hadapan sang majikan muda. Tentu saja dengan tatapan takut. Iya takut, takut dirinya yang menjadi samsak sang majikan muda tentunya. Ia lalu kembali ke samping temannya yang juga berdiri tak jauh dari cowok itu.


"Gue kira Lo yang bakalan jadi samsaknya." Bisik temannya sambil terkekeh pelan.


"Sstt, nggak usah banyak ngomong. Nanti tuan muda Julian denger!"


Jeon Julian Dirgantara. Cowok dengan bola mata hitam segelap malam, otot yang kekar, tinggi badan yang ideal, dan jangan lupakan wajah tampannya. Anak sulung dari pasangan Gavin Juvaenal Dirgantara dan Jeon Junghae ini merupakan anak yang terkenal keras dan suka memerintah. Belum lagi sikap dingin dan cueknya menambah nilai plus di mata banyak wanita.


"YA AMPUN JULIAN!" Teriakan seorang wanita yang Julian yakini adalah mamanya. Dengan sekali pukulan, samsak dihadapannya jatuh dengan keadaan yang mengenaskan.


"Keluar!" Perintah Junghae pada dua pelayan pribadi anaknya. Ia lalu mendekati Julian dan memasang wajah kesal sekaligus khawatir.


"Kamu itu udah mamah bilangin berkali-kali, jangan mukul samsak keras-keras! Udah berapa samsak yang kamu pukul sampek rusak gini? Nggak kasian apa sama samsaknya?" omel Junghae melihat samsak yang sudah tergeletak mengenaskan di atas lantai.


Jangan tanya bagaimana reaksi Julian. Dia hanya memutar bola matanya malas. Bagaimana bisa mamanya itu lebih mengkhawatirkan keadaan samsaknya yang bahkan tidak bisa bicara dan tidak melihat kondisi tangannya yang membiru akibat beberapa kali memukul samsak itu.


"Kenapa diem? Nggak bisa ngomong? Ck, mamah tau suara kamu bagus, tapi nggak usah irit ngomong juga! Takut suaranya ilang, iya?" Lagi-lagi Julian hanya membalasnya dengan deheman saja.


Perhatian Junghae beralih pada tangan Julian yang membiru, "astaga Julian! Ini kenapa tangannya biru gini? Aissh, ayo mamah obatin dulu!" Tanya Junghae khawatir, ia lalu menarik anaknya ke salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Sedangkan Julian hanya ikut saja saat mamah tersayangnya menarik dirinya. Sadar juga akhirnya, batinnya menggerutu.


"Lain kali kalok mau nyari kerjaan pas libur, kamu kan bisa ngelakuin hal lain. Nggak perlu mukul samsak juga Julian." Nasihat Junghae sembari mengobati luka lebam di kedua tangan anaknya itu.


"Nggak bisa."


"Kenapa? Kamu suka banget ya mukul-mukul. Gimana kalok samsaknya mamah ganti pake bantal guling aja? Kan empuk, kamu mau pukul sampek beribu kali pun nggak bakalan rusak. Tangan kamu juga nggak bakal lebam-lebam kaya gini. Gimana?" Saran Junghae.


"Nggak usah."


"Ngomongnya irit banget sih. Kaya ngomong sama siapa aja."


Bukannya menjawab, Julian malah bangkit dari duduknya. "Aku ke kamar. Besok sekolah." Setelah mengatakan itu ia lalu pergi meninggalkan Junghae yang menatap kepergiannya heran.


"Heran deh, sikapnya dia turun temurun dari siapa sih. Mamah sama papanya aja nggak sedingin dia kalok ngomong. Apa waktu hamilin dia aku salah makan ya?"


 


🍁🍁🍁