
"Huh, selesai juga."
Lisa mengelap tangannya yang basah setelah mencuci piring bekas sarapannya. Gadis itu lalu berjalan menuju meja makan dan mengambil tas dan juga kotak makan bergambar Minion di atas meja.
Jika kalian tanya di mana Vano, maka jawabannya pemuda itu sudah berangkat pagi-pagi buta ke kantor. Lisa bisa mengerti, bekerja sebagai sekretaris andalan tidaklah mudah. Dan itulah yang Vano rasakan.
Lisa keluar dari rumah minimalisnya, tak lupa ia mengunci pintu sebelum pergi ke sekolah. Saat berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Julian yang sedang duduk santai di salah satu kursi yang tersedia di teras rum
ah.
"Kak Julian kok ada di sini? Dari kapan kak? Lama ya nunggunya? Kenapa nggak ngetok pintu aja?" Tanya Lisa bertubi-tubi.
Bukannya menjawab, Julian bangkit dari duduknya dan mengacak rambut Lisa gemas, "nanya apa ngomong? Satu-satu bisa kan, nggak kasian mulutnya?" Tanyanya sambil terkekeh pelan melihat tingkah Lisa yang malu-malu.
"Ehh."
"Jemput kamu. Dari jam enam. Nunggunya nggak terlalu lama. Belom muhrim jadi nggak boleh berduaan di dalem, takut khilaf."
Sontak ucapan Julian membuat Lisa membeku di tempat, 'perasaan baru kemarin bilang lo-gue, kok sekarang pake aku-kamu sih?' batin Lisa bertanya-tanya.
"Bingung kenapa aku ngomongnya pake aku-kamu? Nggak papa kan? Owh, atau mau aku panggil kamu baby? Honey? Ahh, sayang mau?" Goda Julian.
"Kak Julian isshh."
"Kak Julian kok beda banget sih? Aku pikir kakak orangnya dingin banget, cuek, datar." Ucap Lisa.
"Kurang lagi satu."
"Apa?"
"Egois." Lisa menaikkan alisnya bingung. "Maksud kakak?"
"Nanti juga kamu tau."
Lisa menggelang kepalanya heran, "kak Julian beda banget ya. Kaya punya kepribadian ganda gitu."
"Terserah, ayo berangkat." Julian menarik tangan Lisa menuju ke mobil. Lisa sih mau-mau aja, lumayan bukan dapet tumpangan gratis ke sekolah?
Di perjalanan tak ada yang mau membuka suara. Lisa lebih memilih melihat pemandangan kota Jakarta lewat jendela mobil, sedangkan Julian sibuk menyetir sambil sesekali mencuri pandang ke hadapan Lisa.
Entah apa yang sudah gadis itu perbuat hingga membuat seorang Julian rela bangun pagi-pagi buta hanya untuk menjemput gadis itu, rela tidak sarapan dan menahan laparnya agar ia tidak terlambat menjemput Lisa di rumahnya, dan yang lebih hebatnya lagi Julian yang biasanya membuat orang menunggu kini rela menunggu seorang gadis di teras rumahnya.
Sesampainya di sekolah, Julian mengantarkan Lisa menuju kelasnya. Banyak yang memandang mereka iri, tepatnya pandangan mereka mengarah pada Lisa.
"Si Lisa udah miskin nggak punya harga diri ya."
"Ganjen banget sih sama kakak kelas."
"Mungkin dia mau deketin kak Julian buat ngambil hartanya doang. Ck, cara yang selalu di lakuin sama cewek murahan kaya dia salah satunya."
Lisa menundukkan kepalanya sedih, banyak caci maki yang selalu ia dapatkan saat dirinya ingin menjalin pertemanan dengan seseorang. Seperti saat ini contohnya. Julian yang sadar dengan perilaku Lisa langsung berhenti di hadapan gadis itu hingga membuat Lisa tertabrak dada bidangnya.
"Auhh." Ringis Lisa. "Kak Julian kenapa berhenti?" Tanyanya.
"Kamu dengerin omongan mereka yang nggak bermutu itu?" Bukannya menjawab Julian malah balik bertanya.
"Bu-bukan gitu kak."
"Nggak usah bohong. Mulai sekarang, jangan dengerin mereka. Anggap aja suara mereka itu nyamuk. Kalok kamu berani, tampar aja mulutnya sama kaya kamu mukul nyamuk. Sampe mati juga nggak masalah." Ucap Julian lembut, tangannya terulur mengelus rambut Lisa sayang.
"Sadis banget." Gumam Lisa.
"Mereka lebih sadis. Udah cuekin aja. Ayo jalan." Julian kembali menarik tangan Lisa menuju kelas gadis itu. Membiarkan berbagai tatapan melihat ke arah mereka secara terang-terangan.
🍁🍁🍁
"Owh jadi cewek ini yang berani main-main sama gue?"
Tanya seorang gadis sambil menatap foto yang diberikan salah satu temannya. Foto itu di ambil diam-diam oleh orang suruhannya selama ia tidak sekolah beberapa hari yang lalu.
Gadis itu tersenyum penuh arti. Wajahnya yang cantik kini berubah sidikit menyeramkan dengan seringai licik yang menghiasi wajahnya. Pikiran kotornya sudah membuat banyak sekali rencana untuk melakukan sedikit permainan dengan gadis yang ada di foto tersebut.
"Apa yang mau Lo lakuin sama si cewek kampung itu?" Tanya Soohyun, gadis blasteran Korea-Indonesia.
"Lo mau ladenin?" Kini Gina yang bertanya, gadis dengan rambut di cat berwarna coklat dan kalung tengkorak melingkar di lehernya.
Gadis itu bangkit dari duduknya, matanya berkeliling mencari seseorang yang berada di foto tersebut. Dan Yap, dapat. Targetnya sudah ada di depan mata.
"Nggak ada salahnya kan, ngeladenin orang yang mau main sama kita?"
"Ini baru Areta kita."
Yah, kalian pasti tidak asing dengan gadis yang bernama Areta bukan? Beberapa siswa dan siswi pernah menyebut namanya. Pasti kalian bertanya-tanya, apa Areta sebegitu terkenalnya di sekolah sampai seluruh siswa dan siswi mengenalnya? Jawabannya Yap.
Areta Putri Wiratama, anak tunggal di keluarga Wiratama ini terkenal dengan sikap angkuh dan suka membully, terlebih lagi jika orang yang dibullynya adalah orang-orang yang ada hubungannya dengan Julian. Jangan tanya seberapa obsesinya gadis itu dengan Julian, jika ada yang ketahuan menyatakan perasaannya pada Julian maka bersiaplah orang itu menerima permainan dari Areta dan teman-temannya.
"Ajak dia ke tempat biasa."
🍁🍁🍁
Jam istiragat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Seperti biasa, Lisa akan memakan kotak bekal makan siangnya di kelas bersama Darra.
Tok,,,tok,,,tok,,, seorang gadis dengan kaca mata bulat mengetuk pintu kelas X IPA 1 pelan. Matanya mencari seseorang di kelas tersebut.
"Ak-aku mau nyari Lisa. Apa dia ada?"
Wonwoo mengangguk, "LISA LO DI CARI!"
"Lo bisa jangan teriak nggak? Tampang jutek tapi suaranya melengking kaya terompet taun baru Lo!" Ucap salah satu temannya.
"Serah!"
Di sisi lain, Lisa sedikit tersentak saat Wonwoo memanggil namanya. Gadis itu segera menutup kotak bekal makannya dan memasukkannya ke dalam kolong mejanya.
"Gue pergi dulu." Darra mengangguk sambil melanjutkan acara makannya.
Lisa menatap gadis yang kini hanya menundukkan kepalanya sembari memainkan jari-jari tangannya.
"Emm, Lo kenapa nyari gue?" Tanya Lisa
"It-itu, Lo di panggil kak Ju-julian di taman belakang sekolah." Sahut gadis itu gugup.
Lisa mengerutkan dahinya bingung, 'tumben kak Julian nyuruh gue ketemuan sama dia. Pasti mau minta balas budi nih karna udah nganterin gue ke sekolah. Tau gini gue naik angkot aja ke sekolah.' gerutu Lisa dalam hati.
"Li-lisa, Lo denger gue kan?"
"Ehh iya, gue denger. Thanks ya." Lisa lalu berlalu dari hadapan gadis itu.
Sesampainya di taman belakang, tidak ada sosok Julian pun disana. Apa gadis berkaca mata bulat tadi membohonginya? Lisa memilih untuk menunggu Julian beberapa menit, namun pemuda itu belum datang juga. Lisa menyerah, dia pun berbalik berniat untuk kembali ke kelas.
"DIEM LO DI SANA LISA!" Teriak Areta.
Lisa lagi-lagi membalikkan badannya. Alisnya mengerut melihat seorang gadis dengan pakaian sekolah minim dan kedua teman-teman gadis itu mendekatinya.
Mata Lisa memicing melihat name tag yang tertera di pakaian sebelah kiri gadis itu. "Kak Areta?" Gumamnya.
Areta tersenyum, "gue yakin Lo udah kenal sama gue. So, gue nggak perlu ngenalin diri gue secara spesial di depan cewek gatel kaya Lo!"
"Apa salah aku kak?" Tanya Lisa bingung, ia tidak pernah membuat masalah dengan kakak kelas di depannya ini.
"Salah Lo? Guys, jelasin!"
Gina melangkah mendekati Lisa, "Lo mau tau salah Lo?" Lisa mengangguk.
"Pertama, Lo udah caper sama orang-orang di sekolah. Kedua, Lo cuma orang miskin yang beruntung sekolah di sini. Ketiga, Lo berusaha ngegantiin posisi Areta di kelas tari. Keempat, Lo itu udah berani deketin Julian. Terakhir, Lo terlalu gatel di depan Julian." Jelas Gina.
"Sekarang Lo udah tau kesalahan Lo?"
"Tapi kak, aku sama sekali nggak ada niat buat gantiin posisi kakak di kelas tari. Aku juga nggak niat buat deketin kak Julian. Aku jug—"
"Halah banyak bacot Lo!" Areta melangkahkan kakinya mendekati Lisa, tangan kanannya ia gunakan untuk menarik kerah baju Lisa. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menjambak rambut Lisa hingga kepala gadis itu tertarik ke belakang.
Lisa meringis menahan sakit di kepalanya saat Areta dengan kasar menjambak rambutnya. Bahkan Lisa bisa merasakan beberapa helai rambutnya lepas dari kulit kepalanya.
"Kak, sa-sakit." Lisa meringis saat Gina menarik ikat pinggang miliknya dan membuat perutnya sangat sakit.
"Ini belum seberapa. Soohyun tetep awasin sekitar. Jangan sampe ada yang liat!" perintah Areta.
Kini pandangan Areta kembali beralih pada Lisa yang masih meringis menahan sakit. "Gina, Lo bantu aja ngawasin sekitar sama Soohyun. Gue mau main-main berdua sama si curut."
Gina mengangguk, ia lalu berjalan meninggalkan Areta dan Lisa berdua. "Bye curut. Selamat menikmati permainan Areta."
"Sekarang cuma ada Lo sama gue." Areta mendorong bahu Lisa keras hingga gadis itu tersungkur di tanah.
Plaak,,,
"Itu buat Lo yang berani masuk ke sekolah ini."
Plaak,,,
"Itu buat Lo yang udah berani-beraninya ngerebut posisi gue di kelas tari."
Plaak,,,
"Itu buat Lo yang udah nyari sensasi di sekolah ini."
Lisa meringis menahan rasa sakit yang menjalar di kedua pipinya. Matanya berkaca-kaca. Kepalanya masih sakit akibat jambakan yang diberikan Areta dan Gina tadi.
Plaak,,,
"Dan itu buat Lo yang udah berani deketin Julian."
Areta lalu berdiri tepat di hadapan Lisa, kaki kanannya sudah siap ingin menginjak perut gadis itu. "Dan ini hadiah terakhir buat Lo. Gue harap Lo secepatnya keluar dari sekolah ini dan jalanin hidup Lo kaya orang miskin lainnya."
Areta siap menginjak perut Lisa, namun hal itu terhenti saat suara seseorang menghentikan aksinya.
"Kalok sampe kaki Lo nginjek perut Lisa barang sejengkal aja. Siap-siap Lo mati di tangan gue. A-R-E-T-A!"
Tubuh Areta membeku, suara ini adalah suara yang ia rindukan sekaligus ia takuti. Perlahan Areta membalikkan tubuhnya, memastikan agar suara tadi bukanlah suara orang yang ia pikirkan. Jika benar, habis sudah riwayatnya.
Deggg,,,
Julian menatapnya dengan senyuman yang amat sangat mengerikan. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal geram. Sontak hal itu membuat Areta bergidik ngeri. Pikirannya sudah kesana-kemari memikirkan sesuatu yang menakutkan akan terjadi pada dirinya. Di depan sana, Julian sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman yang tidak bisa di artikan.
🍁🍁🍁