
Flashback On
Helena sedang menunggu Rasya di depan rumahnya agar anggota keluarga yang lain tidak bawel dan mengejeknya. Sesuai janji Rasya, pria itu akan mengajak Helena ke suatu tempat dan memberinya kejutan.
Hingga akhirnya, sebuah mobil mewah pun datang yang sudah dipastikan bahwa itu adalah Rasya.
Rasya pun turun dari mobilnya dan menghampiri Helena.
"Hi! cantik banget, are you ready for suprise?" ujar Rasya.
"Hahaha, gak tau deh. Emang kita mau kemana sih?" sahut Helena yang kemudian bertanya kemana mereka akan pergi.
"Let's see." ucap Rasya sembari membukakan pintu mobil untuk Helena.
Helena pun masuk ke dalam mobil Rasya sembari mengucapkan terimakasih dan tersenyum manis yang dibalas senyuman juga oleh Rasya.
Sepanjang jalan, mereka hanya berbincang-bincang. Helena benar-benar melakukan aktingnya dengan baik dan tanpa tahu kemana Rasya akan membawanya juga kejutan apa yang akan laki-laki itu berikan.
"Jauh banget Sya," ucap Helena
"Iya, soalnya spesial banget." sahut Rasya yang menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.
Akhirnya setelah perjalanan satu jam, mereka sampai di sebuah hotel kecil yang daerahnya terlihat sepi.
"Hotel?" tanya Helena.
"Iya, surprisenya di atas. tenang aja, aku gak bakal ngapa-ngapain kok, disana juga ada orang yang kamu kenal." sahut Rasya sambil membuka seatbeltnya.
"Who?"
"Let's see"
"Oke"
Helena pun membuka seatbeltnya dan turun dari mobil Rasya. Kemudian, keduanya berjalan masuk ke dalam hotel tersebut yang sepertinya tidak ada pengunjung lain selain dirinya dan Rasya. Hanya saja ada beberapa pekerja yang lewat sesekali.
Helena pun hanya mengikuti kemana Rasya membawanya. Namun, tiba- Helena melihat gadis yang tak adalah Shelly berjalan memasuki lift.
'Cici? ngapain dia? jangan-jangan mau ketemuan sama Alden. Wah, udah dibilangin berapa kali coba, ish... bandel' ucapnya salam hati.
"Rasya! gua ada ketinggalan sesuatu di mobil, tunggu sebentar ya?" ujar Helena.
"Barang apa?" tanya Rasya.
"Tas gua ada di mobil lu, gua lupa ambil. terus juga ada barang yang penting di tas itu," jawab Helena. Ya, gadis itu memang sengaja meninggalkan tasnya agar sewaktu-waktu bisa di jadikan alasan seperti sekarang ini.
"Barang penting? barang apa?"
"Itu... mmmm.... pembalut"
"Oh... nih." Rasya memberikan kunci mobilnya pada Helena.
"Thanks, tunggu ya!"
"Iya, cepetan"
"Ya!"
Saat berada di parkiran, Helena masuk ke dalam mobil Rasya dan membuka tasnya.
Helena mencari sesuatu yang menurutnya sekarang benar-benar ia butuhkan.
"Nah, ketemu." gumamnya saat menemukan obat tidur dalam tasnya.
Helena sengaja membawa obat tidur untuk jaga-jaga jika ada seseorang yang akan jahat padanya.
Setelah itu, Helena membuka obat tersebut agar nanti bisa langsung dimasukkan ke dalam minuman Rasya. Ia merasa harus melakukan hal ini karena firasatnya sudah tidak enak. Helena juga harus mencari tahu tentang Shelly yang berada di hotel ini karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada sang kakak.
Kemudian, Helena menyimpan obat tersebut ke dalam kantong celananya lalu membuka aplikasi chat untuk menelepon Shelly.
...📞📞📞📞...
"Halo? kenapa hel?"
^^^"Ci? Cici di hotel **** ya?"^^^
"Kok tau?"
^^^"Aku lagi di hotel **** sama Rasya^^^
^^^sekarang. Cici mau ketemu siapa^^^
^^^malam-malam di hotel?"^^^
"Alden. kamu sendiri kenapa
malem-malem gini mau di ajak
cowok ke hotel?"
^^^"**Aku ada rencana sesuatu, tapi aku^^^
^^^gak bisa** jelasin itu sekarang. yang pasti^^^
^^^Cici gak usah khawatir, aku^^^
^^^bisa jaga diri kok"^^^
^^^"Oh iya, Cici bakal putusin Alden^^^
^^^sekarang kan?"^^^
"Iya, semoga ini yang terbaik ya"
"Tapi gak tau kenapa feeling Cici
gak enak Hel... Cici takut"
^^^"Cici jangan khawatir, aku ada disini^^^
^^^dan aku juga bawa lima orang^^^
^^^bodyguard diem-diem"^^^
^^^"Cici jangan matiin teleponnya,^^^
^^^supaya Cici bisa langsung kasih^^^
^^^tau aku kalau Cici di apa-apain.^^^
^^^tapi, jangan sampe Alden tau kalau^^^
^^^Cici lagi teleponan sama aku ya!"^^^
"Iya oke, makasih Helena dan
maafin Cici kalau..."
^^^"Stop, Cici itu adalah Kakak aku.^^^
^^^Jadi udah seharusnya kita saling^^^
^^^melindungi"^^^
"Iya..."
^^^"Cici dimana sekarang?"^^^
"Kamar no 70"
^^^"Sendiri?"^^^
"Iya, nungguin Alden belum dateng"
^^^ke mobil"^^^
"Kamu hati-hati! walau kamu
bisa jaga diri, tetep bikin Cici khawatir"
^^^"Iya, Cici juga. kalau ada apa-apa langsung^^^
^^^teriak aja"^^^
"Iya"
...📱📱📱📱...
Helena langsung cepat-cepat memakai earpods bluetooth yang berada di tasnya saat melihat Rasya sedang berjalan ke arah mobil. Ia memakai earpods untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Shelly dan ia juga ingin mendengarkan percakapan antara Alden dan Kakak tirinya itu.
Untuk menutupi earpods yang terpasang di telinganya, Helena menggunakan kupluk Hoodienya agar Rasya tidak melihat earphonennya.
Untungnya, Helena memakai outfit simple yaitu hanya memakai Hoodie dan celana jeans panjang agar jika terjadi sesuatu, ia mudah berlari ataupun melawan.
Setelah selesai dengan semua itu, Helena terkejut saat Rasya mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Helena pun keluar sambil menyengir menatap Rasya.
"Hehe, lama ya?" ujar Helena.
"Iya, ngapain aja sih? padahal cuma ngambil tas doang," gerutu Rasya.
"Ya sorry, soalnya tadi mami telepon buat nanyain lagi dimana, mau pulang jam berapa, gitu-gitu deh," jelas Helena.
"Oh iya, kata nyokap gue juga dia nitip martabak pas kita pulang, pengen banget dia dibeliin Lo," sambungnya yang tentu saja berbohong tapi terlihat seperti sungguhan.
"Oke, nanti kita beli martabak pas jalan pulang. Yaudah yuk masuk." ujar Rasya yang langsung menggandeng tangan Helena dan keduanya pun kembali masuk ke dalam hotel tersebut.
...****************...
Kini, mereka sudah berada di sebuah kamar hotel dengan minuman yang sudah tersedia diatas meja.
"Helena, kupluknya gak dilepas?" ujar Rasya yang sejak tadi melihat Helena yang tetap memakai kupluk Hoodienya itu.
"Enggak, soalnya gue ngerasa kece, keren gitu kalau begini," sahut Helena.
"Yaudah senyaman kamu aja"
"Eh iya, Lo bilang ada orang yang gue kenal disini, mana coba? cuma kita berdua doang, PHP lu!"
"Ya orang itu gua." sahut Rasya santai lalu menaruh satu kakinya di atas kaki yang lain.
"Dih, garing. gua lagi serius Rasya!" seru Helena
"Gua juga serius," sahut Rasya.
"Berarti lu bohongin gue dong?"
"Ya gak bohonglah, gua cuma pengen nikmatin malam ini berdua aja. U and I." Rasya tersenyum dan perlahan mendekati Helena.
"Ck, gak lucu!" ujar Helena sembari mendorong kecil Rasya hingga pria itu tertawa dan hendak mencium Helena. tapi seketika Helena langsung bersyukur karena ponsel Rasya berdering yang menyebabkan pria itu gagal menciumnya.
'Semoga yang nelfon panjang umur, sehat selalu, dapat banyak kebahagiaan. Aamiin' batin Helena yang mendo'akan orang yang sudah menelepon Rasya.
Rasya berdecak sebal dan segera merogoh ponselnya di saku celana.
Helena melihat sekilas layar ponsel Rasya yang ia sedikit terkejut karena yang menelepon Rasya adalah Agnez.
"Sebentar ya, minum aja dulu." ucap Rasya yang dijawab anggukan oleh Helena dan ia pun langsung keluar kamar untuk menjawab telepon.
"Nah, kesempatan." gumam Helena saat Rasya sudah benar-benar keluar dari kamar. Kemudian, Helena memasukkan 1 pil obat tidur yang tadi ia buka di dalam mobil pada gelas Rasya. Setelah itu, ia mengambil gelas yang berada dihadapannya yang merupakan minuman yang Rasya sediakan untuk dibawa ke kamar mandi dan membuang setengah isinya lalu membasahi sedikit bibirnya agar terlihat habis meminum minuman tersebut.
Helena melakukan semua itu karena firasat yang mengatakan jika Rasya telah mencampur sesuatu ke dalam minumannya. Oleh karena itu, ia membuang setengah isi minuman tersebut karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Diluar kamar, Rasya tengah menerima telepon dari Agnez.
...📞📞📞📞...
"Eh Sya, Lo udah ngelakuin itu
ke Helena?"
^^^"Belum. Lagian lu sialan pake telepon^^^
^^^gua! padahal tadi dikit lagi^^^
^^^bisa dapetin dia"^^^
"Ya mana gue tau kalau sekarang
Lo mau ngelakuin itunya"
^^^"Ck, yaudah sekarang gua mau masuk^^^
^^^lagi. Lo udah berhasil jebak^^^
^^^Xylon?"^^^
"Belum juga. Gua masih mikir
gimana caranya"
^^^"Yaudah, gua tutup teleponnya"^^^
"Ya"
...📞📞📞📞...
Setelah menutup teleponnya, Rasya segera masuk kembali ke kamar dan mendapati Helena yang masih setia duduk di sofa dengan memegang gelas yang ia sediakan.
Rasya sedikit menyunggingkan senyum miringnya karena merasa sebentar lagi rencananya akan berhasil.
Ia pun duduk di samping Helena dengan senyuman yang terus melekat di wajahnya.
"Ih Rasya, kok minuman lu cuma diminum dikit sih? giliran gue disuruh minum. Minumlah, gue jadi gak enak kalau lu gak ikut minum," ucap Helena.
"Nanti aja," jawab Rasya.
"Yaudah gue juga gak mau habisin minumannya," ancam Helena
"Iya iya, ini gue minum." Rasya pun mengambil minumannya dan langsung meneguknya hingga habis.
"Senang? sekarang Lo," ujar Rasya yang menyuruh Helena menghabiskan minumannya.
'Duh, coba aja efek obatnya langsung bekerja. gua cari alesan apa nih?' batin Helena sambil memikirkan alasan apa untuk tidak minum.
"Ntar dulu ah, masih kembung. Baru juga gue minum," sahut Helena.
"Dikit lagi ini abis." Rasya menyodorkan gelas pada Helena dan memaksanya untuk meminumnya.
"Nanti aja," ucap Helena sembari menghindari gelas tersebut.
'Aneh, harusnya udah bergairah' batin Rasya yang merasa aneh karena belum ada efek apapun pada Helena.
"Dikit lagi Helena..." Rasya terus saja memaksa Helena agar meminum minuman tersebut.
"Gak mau ih!" Helena langsung menendang minuman yang berada di tangan Rasya dan membuat pria di sampingnya merasa kesal.
"Heh, gua udah baik-baik ya sama Lo!" bentak Rasya.
"Gua juga udah nolak baik-baik, kenapa Lo maksa? gua kan udah bilang nanti," balas Helena yang ikut membentak.
"Helena! gua bakal kasih pelajaran buat Lo." Rasya langsung saja mengangkat tubuh Helena dan melemparnya ke atas ranjang lalu menindihnya.
"Rasya! are you crazy?" Helena terus memberontak agar bisa terlepas dari Rasya.