Sincerity

Sincerity
Meminta persetujuan



Kediaman keluarga Jefferson


Rasya tengah berada di dalam kamarnya yang sudah tersedia di rumah Roy jika pemuda itu menginap di sana.


Rasya tengah berada di atas ranjang dengan kaki yang ia selonjorkan serta kedua tangannya yang dilipat di depan dada sembari bersandar pada sandaran tempat tidur.


Rasya sedang berpikir dan mencoba memahami situasi yang saat ini tengah ia hadapi.


Kata-kata Helena terus terngiang-ngiang di telinganya.


Kemudian, ia mencoba mengirim pesan pada Helena melalui aplikasi pesan pada ponselnya.


^^^| Apa jadinya kalau gue^^^


^^^nggak bertanggung jawab?^^^


^^^7.58 PM^^^


Pesan dikirim oleh Rasya dan sepertinya ponsel Helena sedang tidak aktif. Sebab, sudah lebih dari 20 menit pesannya belum terbalaskan.


"Ck, apa Lo marah karena gua yang g*bl*k ini?" gumam Rasya sembari menatap pesan yang belum dibalas maupun dibaca oleh Helena.


"Harusnya Lo tau, Hel. Gua tuh beneran cinta sama Lo. Kelakuan gua di masa lalu ke lo, semata-mata karena frustasi gue yang nggak bisa dapetin lo, Helena. Gua tau kalau gua salah. Tapi, sampai sekarang gua masih berharap kalau lu bakal jadi milik gua. Gua tau itu semua nggak akan terjadi, apalagi sekarang Agnez hamil karena gua dan gua harus tanggung jawab seperti yang Lo mau," gumamnya kembali.


Setelah menunggu beberapa menit lagi, Helena pun membalas pesannya dengan kata-kata yang semakin membuatnya merasa harus benar-benar melakukan pertanggung jawaban terhadap Agnez dan bayinya.


| Harusnya kalau Lo orang yang


berpendidikan dan dari keluarga


terpandang, Lo udah tau apa yang


harus dilakuin.


| oh, orang tua Lo nggak ngajarin


tentang pentingnya tanggung


jawab ya?


8.41 PM


| biar gua kasih tau sama lo


| kalaupun Lo tinggalin Agnez dan


bayinya demi impian Lo itu, apa


Lo udah yakin impian Lo bakal kecapai?


| kalau nyatanya takdir berkata lain,


bisa apa Lo nanti?


| Yang ada bakal nyesel!


8.42 PM


| mending yang udah ada di depan


mata aja, kalau masa depan


yang harus Lo jalanin itu sama Agnez


dan anak kalian


| kalau Lo mau tanggung jawab, gua janji


bakal bantuin Lo dan Agnez sebisa gua.


| gua janji dan Lo pastinya tau, kalau


Helena Jefferson itu orang yang bertanggung


jawab dan selalu pegang janjinya.


8.43 PM


^^^| besok ke rumah Agnez, gua^^^


^^^mau bicara sama Lo, Agnez dan^^^


^^^keluarganya buat pernikahan^^^


^^^gua sama Agnez.^^^


^^^| dan Lo udah janji bakal ngebantu^^^


^^^8.45 PM^^^


| gini dong dari tadi


| gua gak perlu cape" ngomong


panjang lebar


| nyusahin Lo!


| untung temen


8.48 PM


^^^| jadi Lo masih anggep^^^


^^^gua temen Lo?^^^


^^^8.49 PM^^^


| kalau bukan temen gua


terus lu siapa anjir?


| babu gue gitu?


8.49 PM


^^^| 😁😁^^^


^^^8.49 PM^^^


| ya udah


| gua off hp ya, mau istirahat


8.50 PM


^^^| sebentar^^^


^^^| gua mau ngomong sama lu^^^


^^^8.51 PM^^^


| tentang?


8.51 PM


^^^| gua telepon lu ya?^^^


^^^8.51 PM^^^


| harus banget di telepon ya?


8.52 PM


^^^| harusnya gua bicarain ini^^^


^^^secara langsung, tapi kayaknya^^^


^^^gak ada kesempatan buat gua^^^


^^^omongin ini ke lo^^^


^^^| seenggaknya kalau gak^^^


^^^ngomong langsung, gua bisa^^^


^^^telepon lo buat bicarain hal ini^^^


^^^8.52 PM^^^


| ya udah


8.54 PM


Setelah mendapat persetujuan dari Helena, Rasya menekan ikon panggilan dan tak lama, Helena langsung menjawab panggilan telepon darinya.


...📞📞📞📞...


"Ya, Sya. Lo mau ngomong apa?"


Helena langsung pada intinya menanyakan hal apa yang ingin Rasya bicarakan sampai harus meneleponnya.


^^^"Hel, gua mau minta maaf sama Lo^^^


^^^atas kejadian di hotel waktu itu,^^^


^^^gua hampir berbuat gak sopan^^^


^^^sama lu karena obsesi gua."^^^


"Itu aja?"


^^^"....."^^^


"Kalau cuma sekedar minta maaf,


Lo bisa chat gua"


^^^"Tapi menurut gua itu gak sopan"^^^


"Sopan aja sih ke gua mah, lagian


gua juga gak masalah mau minta


maaf dengan cara apapun. Asalkan,


orang itu tulus dan bener-bener mau


berubah"


"Tapi Lo jangan ubah sikap asik Lo itu!"


^^^"Kenapa?"^^^


dan humoris"


...Rasya tersenyum tipis mendengarnya....


"Gua juga minta maaf karena


gak bisa balas perasaan lo dulu


dan udah nolak Lo di depan


banyak orang"


"Lo tau bukan, gua malu dan


gak cinta sama Lo"


"Bukan maksud gua untuk permaluin


Lo di depan temen-temen sekolah


kita waktu itu. Tapi, gua cuma nggak


mau nantinya pada salah paham


dan ngiranya gua nerima Lo"


"Gua cuma gak mau nanti orang-orang


anggap gue sebagai pacar Lo


kalau gua nerima waktu itu"


"Gua harap Lo paham maksud


gua"


^^^"Hm, gua paham setelah ngalamin^^^


^^^semua kejadian ini, Hel."^^^


^^^"Gua akan berubah setelah ini"^^^


"Gua yakin Lo itu sebenernya


orang yang baik dan akan jadi


lebih baik"


^^^"Thanks"^^^


"Ya"


Untuk beberapa saat, mereka saling diam tanpa sepatah katapun, sampai akhirnya Helena kembali berbicara dan menanyakan keberadaan Rasya.


"Sya, Lo di mana?"


^^^"...."^^^


"Sya?"


"Rasya?"


"Lo gak tidur, kan?"


"Ini bukan sleep call, lho ya!"


^^^"Hah? iya, sorry"^^^


"Kurang ajar! LO TIDUR YA, PAS


GUA LAGI NGOMONG???"


^^^"Nggak"^^^


"Terus, kenapa nggak jawab?"


^^^"...."^^^


"Rasya!!!"


"Jawab napa! gua matiin


lama-lama teleponnya"


^^^"Lagian kenapa Lo nanyain?"^^^


^^^"Kangen gue ya?"^^^


"Gak usah ge'er ya!"


"Mau married kok masih


genit sama cewek lain!"


^^^"Haha, bercanda"^^^


^^^"Gua di rumah Tante gua, kenapa?"^^^


"Ituloh, Papanya Agnez sama


Kak Eric and anak buah mereka


lagi pada nyariin Lo!"


^^^"Oh"^^^


"Jawaban apaan anjir, just 'Oh'?


'Oh' doang? nyebelin Lo emang!"


^^^"Lo kasih tau mereka, kalau^^^


^^^besok gua sama keluarga gua^^^


^^^bakal ke rumah keluarga Stewart untuk^^^


^^^lamar Agnez. Malam ini gua mau^^^


^^^bicarain sama Om dan Tante gua"^^^


"Oke"


"Hoam,...."


Terdengar suara Helena yang menguap dan yang pasti gadis itu sudah mengantuk. Rasya pun memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya agar Helena bisa beristirahat.


^^^"Ngantuk Mpok?"^^^


"Iye"


^^^"Tidur sana, maaf udah ganggu^^^


^^^malam-malam"^^^


"Oke"


...Tutt......


Sambungan telepon pun langsung diputuskan begitu oleh Helena. Rasya pun menaruh ponselnya kembali di atas nakas dan belum ada keinginan untuk tidur. Sebab, ia masih harus menunggu Roy pulang untuk membicarakan tentang dirinya dengan Agnez pada pamannya.


Tok tok tok


Tak lama setelah ia termenung, suara ketukan pintu di kamarnya menyadarkan Rasya dari lamunan. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka pintu dan ternyata seorang pelayan yang mengetuk pintunya.


"Tuan Rasya, Tuan Roy sudah datang. Nyonya Carine menyuruh saya memanggil anda," ucap pelayan tersebut yang memberitahu kedatangan Roy.


Rasya pun mengangguk dan menutup pintu kamarnya lalu turun ke lantai bawah menggunakan lift rumah untuk menemui Roy.


......................


Ruang tamu


"Om!" panggil Rasya pada Roy saat ia sudah berada di ruang keluarga. Kemudian, Rasya duduk dekat Carine dan Roy yang berada di kursi singlenya.


"Selena di mana?" tanya Rasya menatap Carine.


"Tidur, kenapa?" jawab Carine yang lalu bertanya balik pada keponakannya itu.


"Oh, bagus. Ada yang harus Rasya omongin sama Om dan Tante. Ini serius dan Rasya harap kalian setuju sama keputusan Rasya," ucap Rasya.


"To the point!" Roy yang sudah bisa melihat dari raut wajah Rasya pun tidak ingin berbasa-basi lagi karena ia yakin apa yang akan Rasya katakan itu sangat serius dan memerlukan bantuannya.


Rasya menghela nafas sebelum benar-benar bercerita pada Roy dan Carine. Setelah itu, ia menatap keduanya serius dan kembali berbicara.


"Rasya minta restu Om dan Tante sebagai pengganti Mama Papa yang udah nggak ada. Rasya minta restu buat pernikahan Rasya dan Agnez, karena Rasya harus tanggung jawab dengan anak yang ada di dalam kandungan Agnez."


"APA???" Roy dan Carine sama-sama terkejut ketika mendengarnya. Tak menyangka jika Rasya yang notabenenya adalah pemuda bijaksana, baik, cerdas dan merupakan ketua OSIS dari sekolah internasional terbaik di tanah air malah menghamili seorang gadis dan akan menikahinya.


Rasya terdiam, ia tahu apa yang Om dan Tantenya itu rasakan. Ia salah dan akan memperbaikinya dengan dukungan dan persetujuan dari mereka.


"Rasya, jangan bercanda kamu! apa-apaan kamu ngehamilin anak orang, kamu udah bikin malu Tante!!!" bentak Carine yang kini sudah bangkit dari duduknya.


"Siapa yang bercanda?!" balas Rasya yang ikut kesal, ia sedang serius malah dikira sedang bercanda.


"Rasya, kenapa bisa?" kini, giliran Roy yang berujar.


"Maaf, Om. Ini semua terjadi gitu aja," sahut Rasya.


"Kenapa harus Agnez sih? kamu tau sendiri, dia cewek nggak bener dan kurang ajar!" seru Carine yang masih tak bisa menerimanya.


"Carine! ini semua udah terjadi, kita gak bisa ngelakuin apa-apa lagi selain bertanggung jawab sama kehamilan Agnez. Kita udah janji sama Kak Dalen buat jaga dan bertanggung jawab atas Rasya juga Alden. Jadi, besok kita pergi ke rumah keluarga Stewart dan bukan hanya ngelamar Agnez, besok juga Rasya akan langsung nikah sama Agnez," tutur Roy yang memang sudah menganggap Rasya sebagai anaknya sendiri. Ia juga paham bagaimana perasaan Rasya saat ini. Oleh karena itu, Roy lebih memilih mendukung keputusan Rasya jika memang keponakannya itu benar-benar menyesal akan sikapnya daripada memarahinya yang tidak akan menyelesaikan masalah.


"Rine?" ujar Roy kembali karena istrinya tidak merespon.


"Terserah, aku bisa apa?" sahut Carine yang langsung pergi dari ruang keluarga meninggalkan Rasya dan juga Roy di sana.


Rasya menatap kepergian sang Tante dan tak bisa berkutik lagi. Karena apa yang dikatakan oleh Carine adalah benar. Rasya sudah mempermalukan keluarga dan ia tidak bisa menyangkal hal itu.


Kemudian, Roy bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Rasya. Roy menghampiri Rasya lalu memeluk keponakannya itu guna memberi kekuatan serta dukungannya.


"Kamu harus sabar, semua akan segera berakhir dan mungkin, ini semua yang terbaik buat kamu!" tuturnya lalu melepas pelukannya itu.


Rasya menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Makasih, Om. Makasih banyak udah selalu ada buat Rasya dan Kak Alden selama ini."


"Kalian anak-anak Om juga, sama seperti Helena dan juga Selena. Kamu istirahat dan bersiap buat besok." ucap Roy lalu pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya, karena ia juga perlu beristirahat.


"Huh? Helena? Helena ... Helena itu? gua nggak salah denger?" gumam Rasya setelah Roy benar-benar pergi dari ruang keluarga.


Ia benar-benar terkejut saat Roy mengatakan jika Helena adalah anaknya. Selama ini, ia memang tidak mengetahui asal usul Omnya itu dan yang Rasya tahu hanyalah Selena sebagai anak Roy dan Carine, tanpa mengetahui anak Roy yang lain. Selain itu, ia juga tidak ada niat untuk mencari tahu tentang hal itu dan orang tuanya juga tidak ada yang memberitahu dirinya saat Carine menikah dengan Roy waktu itu.


"Haish,.... jangan-jangan ... oh, pantesan nama lengkap Helena ada marga Om Roy," gumamnya kembali yang baru tersadar dengan nama lengkap Helena dan Roy yang marganya sama yaitu Jefferson.