Sincerity

Sincerity
What's wrong with Helena?



Selesai breakfast, mereka bersiap untuk pergi jalan-jalan karena besok mereka harus kembali pulang ke Jakarta. Lagi pula Helena dan teman-temannya yang masih berstatus pelajar jadi harus sekolah. Begitupun dengan teman-teman Xylon yang harus kuliah, berbeda dengan pria itu yang sudah lulus terlebih dahulu.


Kini, mereka berada di sebuah Mall terbesar dan terkenal di kota Denpasar, Bali. Di sana, mereka benar-benar memborong barang-barang yang mereka sukai tanpa memikirkan harganya. Kenapa? apa karena mereka semua orang-orang terpandang dan mempunyai banyak uang? Oh tentu bukan cuma alasan itu yang membuat mereka berfoya-foya, tetapi ini semua karena pajak jadian yang sudah dijanjikan oleh Xylon. Oleh karena itu, mereka mengambil barang tanpa ada beban sama sekali.


"Buset, Lo mau pindahan Ko?" ujar Helena yang terkejut melihat begitu banyak barang-barang yang Kenzie beli dengan pajak Xylon.


"Mumpung gratisan," sahut Kenzie santai.


"Gila, keliatan banget miskinnya." ledek Xylon sambil merangkul pundak Helena.


"Ck, lepas!" Helena mengguncang pundaknya dengan keras agar Xylon melepaskan rangkulan yang berada di pundaknya itu.


Xylon menatap Helena dan menaikkan satu alisnya dengan raut wajah bertanya-tanya mengapa Helena bersikap seperti itu.


"Alay anjir," cetus Helena yang mengerti maksud Xylon, lalu ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sang kekasih yang sedang kebingungan dengan sikapnya.


"Yah mampus, hahahahahahaha," ledek balik Kenzie dengan gelak tawanya.


"Anj*** taro balik barang-barang lu atau bayar sendiri!" kesal Xylon lalu segera menyusul Helena.


"Lah? ogah amat," ucap Kenzie menatap kepergian Xylon.


......................


'What's wrong with Helena?' Xylon bertanya-tanya di dalam hatinya.


Saat ini, Helena terlihat sedang melihat-lihat pakaian bersama teman-temannya.


"Eh, kalau ada Kak Eric enak kali ya?" ucap Helena sambil mengambil salah satu baju yang menarik baginya.


"Iya, makin rame jadinya," jawab Alya.


"Gue kangen Kak Eric, gue gak bisa jauh dari dia," ucap Helena kembali dengan raut wajah yang benar-benar terlihat sedih karena tidak ada Eric saat ini.


"Dih, kan lu udah ada Xylon," ujar Viorenza yang tidak mengerti dengan sahabatnya itu, untuk apa memikirkan pria lain jika sudah punya pasangan?


"Walaupun ada Xylon nih ya, gue tetep gak bisa kalau gak ada Kak Eric," jelas Helena.


"Maksud kamu apa?"


Xylon yang sejak tadi mendengar ucapan Helena pun langsung angkat bicara saat Helena mengatakan hal itu, apa maksud gadis ini sebenarnya?


"Apaan sih," ketus Helena memutar bola matanya.


'Lah kok malah ngajak gelud sih Hel?' batin Natasya yang yang melihat sikap sahabatnya itu.


'Nyari masalah aje' ucap Alya dalam hati.


"Kamu kenapa sih sebenarnya?" tanya Xylon yang benar-benar tak habis pikir dengan Helena.


Apa karena Eric tidak ada, makanya ia bersikap seperti itu? Tapi kenapa? Sebenarnya Helena mencintai siapa? Xylon atau Eric?


Helena tidak menggubrisnya dan malah pergi begitu saja. Malas berdekatan dengan pria itu.


"Eh, Helena kenapa?" tanya Xylon pada teman-teman pacarnya.


"Lah ya gak tau, stress kali," jawab Viorenza asal.


"Dia suka sama Eric?" tanya Xylon kembali.


"Ya gak mungkinlah, tapi mungkin sih, eh gak tau deh," jawab Natasya ambigu.


Xylon berdecak dan langsung pergi begitu saja karena percuma ia bicara dengan mereka.


Xylon mengejar Helena yang kini sedang memilih-milih sepatu. Ia langsung menarik tangan Helena begitu saja hingga badan gadis itu berbalik dan menabrak dada bidangnya.


"Apaan sih!" Helena yang kesal langsung melepaskan cengkeraman tangan Xylon dengan kasar.


"What's wrong with you, Hel?" ujar Xylon yang masih bersabar.


"Gak, gapapa," sahut Helena tak acuh.


Xylon menghela nafasnya, ia pun memutuskan untuk tidak menganggu gadis itu dulu karena mungkin mungkin memang benar jika Helena tengah PMS. Tapi kenapa harus Eric yang menjadi alasan Helena sedih dan marah-marah padanya begini?


"Terus, kenapa kamu tadi bilang gue tetep gak bisa kalau gak ada Kak Eric?" tanya Xylon dengan wajah yang garang.


Helena menatap tajam pria itu dan menjawab, "Fakta, aku emang gak bisa jauh-jauh dari Kak Eric. Jujur aja nih ya, aku pernah cinta sama dia dan aku selalu pengen jadi bagian dari hidupnya!"


"Kalau gitu kenapa kamu mau terima aku?" tanya Xylon dengan nada sedikit tinggi karena masih menahan amarahnya.


"Tapi sekarang aku nyesel udah nerima kamu sih, ternyata kamu lebay banget orangnya dan ya... gak bisa bikin aku nyaman, selalu bikin aku risih," ketus Helena.


Xylon tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Helena barusan, ia terdiam dan mencerna setiap perkataan gadis itu.


"Kamu jangan bercanda, Hel!" ujar Xylon yang tidak percaya dengan ucapan-ucapan pedas Helena, ia berpikir jika Helena hanya mengerjainya atau bercanda. Xylon tidak memercayai perkataan gadis itu.


"Terserah, kalau kamu gak terima dibilang gitu ya udah, mau putus juga gapapa," sahut Helena.


"Kamu-" Xylon hendak berbicara, namun Helena langsung saja memotong ucapannya dengan berkata, "Aku tau kalau kamu yang bikin handphone aku jadi rusak ginikan?" sambil menunjukkan layar ponselnya yang tak bisa membuka aplikasi sosial media manapun.


Mendengar hal itu, Xylon terdiam sejenak. "Iya," jawabnya.


"Maksudnya apa? kamu ngekang aku gitu? nyesel aku mau sama kamu, posesif!" sentak Helena.


"Kamu gak tau yang sebenernya," jawab Xylon.


"Dengerin ya, aku bakal jelasin kalau kita udah pulang, kamu nikmatin aja dulu liburannya, ya?" tutur Xylon berusah lembut.


"Minggir!" cetus Helena yang langsung saja berjalan meninggalkan pria itu dan menabraknya agar tidak menghalangi langkahnya. Ia benar-benar malas mendengar satu katapun dari mulut pria itu.


"Penjelasan-penjelasan, Basi!" gerutu Helena yang masih didengar Xylon.


Setelah itu, Xylon tidak lagi mengejar Helena, ia membiarkan saja gadis itu pergi. Pria itu menghela nafasnya karena jujur, ia sendiri juga merasa kesal dan tidak ingin membuat keributan dengan menghalangi langkah Helena.


"Gak jelas," umpatnya.


Teman-teman Helena yang mendengar pertengkaran mereka juga tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Helena barusan.


"Gila, itu Helena?" ujar Bella pada pada yang lain.


"Stress tuh anak," sahut Viorenza.


"Kayaknya cuma becanda deh dia," ucap Natasya, karena ia yakin sekali Helena bukan tipe orang yang akan menyakiti hati orang lain dengan perkataan-perkataan yang pedas seperti tadi.


"Gua juga mikir gitu, tapi pure kek real anjir," timpal Alya.


"Eh, si new couple kenapa ribut-ribut dah?" tanya Kenzie yang ikut bergabung dengan mereka.


"Lo ya nda tau, kok nanya saya," jawab Natasya dengan ketus.


"Hehe, ntar kita jangan gitu ya Sya?" ujar Kenzie.


"Maksud?" tanya Natasya yang tak mengerti dengan ucapan Kenzie barusan yang hanya dijawab dengan senyuman oleh pria itu dan ia langsung pergi begitu saja.


"Cieee," goda Vio dan Bella. sedangkan Alya, ia malah tertawa melihat wajah Natasya yang kebingungan dicampur dengan rasa kesal.


...----------------...


Sementara Helena, ia berjalan dengan raut wajah dingin dan saat di dekat Shelly yang tengah mengobrol dengan Fiona dan Laura, ia langsung tersenyum lebar dan menahan tawanya.


"Anjay!!!" seru Shelly sambil bertepuk tangan kecil, Helena pun terkekeh.


"Bagus gak, acting aku?" tanya Helena.


"Gila, bagus banget!" jawab Shelly jujur.


"Ada-ada aja." ucap Fiona yang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Hehehe, thankyou Tante, udah bantuin," ucap Helena.


"Sama-sama, cantik." jawab Fiona mengusap lembut rambut Helena.


TBC


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


LIKE


VOTE


KOMEN


FAVORITIN!!


jangan lupa komen yang menarik~