Sincerity

Sincerity
Part 5| Minta Maaf



Hari ini kelas X IPA 1 mendapat jam pelajaran olahraga. Berhubung hari ini pak Marco sedang ijin tidak bisa mengajar karena satu dan lain hal, jadi seluruh siswa diinzinkan untuk melakukan olahraga yang mereka senangi. Ada yang bermain voli, berlari mengelilingi lapangan, bermain lompat tali, dan tentu saja ada beberapa siswi yang lebih memilih duduk di samping lapangan sembari bergibah ria.


Lain halnya dengan Lisa dan Darra, keduanya lebih memilih menyibukkan diri mereka bermain basket bersama. Hanya mereka berdua, tidak ada yang lain. Sofia lebih memilih untuk berdiam diri di kantin bersama temannya karena gadis itu belum sarapan. Jangan tanya bagaimana yang lain, mana mau mereka berteman dengan Lisa dan Darra mengingat status keluarga keduanya.


"Lisa, coba kalok bisa Lo ambil nih bola dari tangan gue." Tantang Darra sembari memantulkan bola basket di tangannya.


"Apa yang bakal Lo kasih kalok gue bisa ngerebut tu bola dari tangan Lo?" Tanya Lisa dengan nada meremehkan.


"Gue akan buatin puding coklat kesukaan Lo."


"Oke, gue terima dengan senang hati."


Mereka terus bermain memperebutkan bola basket. Tawa keduanya nyaris membuat beberapa siswa terpesona dengan keduanya.


"Woy Dar, curang Lo!"


"Siapa yang curah sih, siapa suruh Lo pendek Maimunah!"


"Enak aja Lo bilang gue Maimunah, nggak ngaca Lo kaya mimi peri?"


"Ap— LISA AWAS!!"


Bughhh,,,


Lisa merasakan kepalanya di pukul dengan benda yang lumayan keras. Dan ternyata itu bola voli yang dipakai laki-laki di kelasnya untuk bermain. Lisa memegang kepalanya yang serasa berputar di tempat, pandangannya kabur, belum lagi ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Untung ada Darra yang segera membantunya berjalan menuju wastafel.


"Lisa, Lo mimisan." Ucap Darra membantu Lisa membersihkan darah yang sedari tadi mengalir dari hidung gadis itu.


"Dar, kepala gue sakit." Lisa meringis merasakan kepalanya yang berdenyut kencang.


"Sabar Lis, ayo kita ke UKS. Lo harus kuat, jangan pingsan disini. Siapa yang mau ngangkat Lo. Lo kan berat Lisa." Ucap Darra lirih. Sedangkan Lisa mengumpat dalam hati mendengar ucapan sahabatnya.


'Gue lagi sekarat mau pingsan dia malah ngejek gue. Curiga gue itu muka beneran sedih apa bohongan.'


Tidak ada yang mau mendekati keduanya, mereka memilih untuk tetap diam di tempat sembari berbisik ria melihat Lisa dan Darra dalam keadaan yang sulit. Teman macam apa mereka?


"Darra!"


"Kak Delvin?"


"Minggir!" Ucap Julian lalu mengangkat tubuh Lisa dan membawanya ke UKS, Lisa yang diperlakukan seperti itu ingin menolak namun sayang, keadaan tubuhnya tidak mendukung.


Hal itu juga tak lepas dari pandangan siswa dan siswi yang kebetulan berada di luar kelas. Banyak yang mencibir kelakuan Lisa yang dia nggap hanya mencari perhatian sang most wanted, ada yang iri dengan gadis itu karena bisa di gendong oleh Julian, dan banyak lainnya.


"Kak Delvin, Lisa mau di bawa kemana?" Tanya Darra tak lepas memandang kepergian sahabatnya.


"Tenang aja, Julian bawak dia ke UKS."


Darra mengangguk, "yaudah, aku ke UKS dulu ya kak. Nyusul Lisa, kasian nggak ada yang nemenin."


Belum sempat Darra melangkahkan kakinya menjauh, Delvin sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya dan mengajaknya pergi dari lapangan.


"Kak Delvin mau ngajak aku kemana? Aku harus ke UKS, Lisa sendirian di sana."


"Lo tenang aja, Lisa udah ada Julian. Mendingan Lo sama gue ke kantin beliin Lisa makan siang. Gue yakin tu cewek belom sarapan tadi pagi, mangkanya mimisan." Ucap Delvin santai.


"Tapi kak—"


"Udah ikut aja. Lo juga perlu makan." Setelah mengatakan itu, Delvin kembali menarik pergelangan tangan Darra dan mengajaknya ke kantin.


Di sisi lain, setelah merebahkan tubuh Lisa di bangkar UKS, Julian segera memanggil petugas piket yang barjaga di UKS untuk mengobati Lisa.


"Kamu Lisa kan?" Tanya petugas tersebut yang ternyata seorang gadis.


Lisa mengangguk, "iya kak, aku Lisa."


"Kamu bisa ngadep ke atas nggak? Aku mau kasih hidung kamu tissu buat ngeredain darahnya."


Lisa mendongakkan kepalanya ke atas, lalu ia bisa merasakan ada benda yang menyumpal kedua hidungnya. Kepalanya masih sedikit sakit akibat pukulan bola voli yang mengenai kepala belakangnya.


"Kamu bisa hadap depan lagi kok."


"Kalok kamu ngerasa darahnya udah berhenti, bisa di lepas. Aku ke ruang guru dulu ya, mau ngumpul data siswa yang dapet giliran piket besok." Ucap gadis itu lagi.


"Iya, makasih ya kak."


"Sama-sama. Aku pergi dulu."


Setelah itu hanya ada Lisa dan Julian. Lisa lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjang UKS dan menutup matanya, setidaknya rasa sakit di kepalanya bisa sedikit menghilang. Namun, baru beberapa detik ia menutup matanya. Ada sebuah tangan yang mengelus puncak rambutnya halus. Dan kalian tau siapa pelakunya? Tentu saja Julian.


"Kak Julian?"


"Udah baikan?" Tanya Julian halus, Lisa yang mendengarnya saja sedikit takut dengan perubahan suara pemuda di depannya ini.


"Eh, u-udah kok kak. Emm, makasih ya udah bantuin aku ke UKS."


"Hmm." Setelah itu tak ada pembicaraan di antara keduanya. Lisa yang bingung ingin melakukan apa dan Julian yang bingung mau memulainya dari mana.


"Lisa."


"Iya kak?"


"Gue mau—"


"Mau apa kak?"


'Ayo dong Julian, Lo cewek apa cowok minta maaf aja susahnya minta ampun.'


"Gue mau minta maaf soal kemarin."


'Keluar juga kata keramat gituan dari mulut gue.'


"Nggak masalah kok kak. Aku udah maafin. Tapi buat kedepannya, aku saranin jangan diulangin lagi. Omongan kakak bisa bikin orang sakit hati lho kak." Ucap Lisa sambil menunjukkan senyumannya.


"Gue minta maaf, Lisa."


"Iya kak, iya. Aku udah maafin."


"Yakin?"


"Iya yakin."


Julian langsung menghujami Lisa dengan pelukan. Entahlah, perasaan Julian lebih tenang saat mendengar Lisa sudah memaafkannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mengontrol ucapannya jika berada di depan Lisa, jika gadis itu sampai mendengarnya berkata yang tidak-tidak. Yang ada Julian akan selalu di hantui rasa bersalah pada gadis itu.


"Kak Julian. Le-lepasin, nanti ada yang liat." Ucap Lisa berusaha melepaskan pelukan Julian darinya.


Mendengar itu Julian langsung melepas pelukannya, "sorry."


"Udah tiga kalo lho kakak bilang maaf terus. Nggak capek?" Tanya Lisa heran.


"Kalok permintaan maafnya buat Lo, Sampek seribu kali pun gue nggak bakalan pernah capek buat bilangnya."


Oke fiks, Lisa tidak bisa menahan malunya. Apa Julian sedang menggombalinya sekarang? Atau arwah pemuda itu tertukar dengan arwah penunggu sekolah? Mungkin opsi pertama lebih cocok walaupun Lisa tidak bisa memastikannya.


Julian mengacak rambut Lisa gemas, "Lo lucu kalok lagi blushing gitu. Gue suka. Jangan tunjukkin ke orang lain, cukup tunjukin di depan gue aja."


"Apaan sih kak Julian." Pemuda itu hanya terkekeh menanggapinya.


Brakk,,,


"Bangke!" Umpat Julian pelan, sangat pelan. Bahaya jika Lisa mengetahuinya.


"YA AMPUN LISA. TEMEN SEBANGKU GUE! LO NGGAK PAPA? GUE TADI NANYA SAMA TEMEN-TEMEN LO KATANYA MIMISAN, JADI GUE KE UKS BUAT NGELIAT KEADAAN LO. SYUKUR DEH LO BAIK-BAIK AJA." Teriak Sofia memecah ruang UKS yang tadinya sunyi itu.


"Ck berisik!"


"Eh, ada bang Julian. Pantes gue cari-cari buat minta duit nggak nemu-nemu. Lagi ngapelin si Lisa ternyata." Ucap Sofia blak-blakan.


"Kalian adik kakak?" Tanya Lisa kepo.


"Iya, kita adek kakak. Asal Lo tau Lis, gue kadang-kadang nggak pernah di anggep sama Abang gue yang satu ini. Kalok ada maunya doang baru inget gue adeknya dia. Kalok engga, jangankan ngomong nyapa aja nggak pernah." Adu Sofia, bisa kalian bayangkan bagaimana ekspresi Julian sekarang?


'Adek cem apaan yang ngejelek-jelekin kakaknya di depan calon pacar? Awas aja Lo sampe rumah, gue pites ni anak.' batin Julian kesal.


Lisa terkekeh saat Sofia mengadu padanya tentang Julian. Ia tak menyangka jika Julian dan Sofia adalah kakak adik, dilihat dari sikapnya saja mereka sangat berbeda bukan? Tapi jika masalah kemiripan, setidaknya Lisa bisa melihat kemiripan wajah di antara keduanya.


"Bisa diem?"


Sofia kicep, bukannya bagaimana wajah kakaknya terlalu menyeramkan untuk di tertawai.


"Eh iya Lis. Soal bola voli yang kena ke kepala Lo itu ulahnya si Janu, gue nggak sengaja ngeliat dia ngelemparin bola voli yang dia bawa ke arah Lo. Sumpah tu anak nggak mikir apa, gimana kalok Lo kenapa-napa." Ucap Sofia menggebu-gebu.


"Janu yang duduk di pojok itu?" Sofia mengangguk, "yaudah nggak masalah. Udah lewat, gue juga nggak kenapa-napa."


Belum sempat Sofia membuka mulutnya, Julian sudah bangkit dari duduknya lalu pergi dengan wajah yang sedikit, emm kesal mungkin?.


"Woy bang, Lo mau kemana?"


"Diem di sini! Jagain Lisa." Setelah mengatakan itu, Julian keluar dari UKS dengan kedua tangannya ia masukkan ke saku celana.


"Kakak Lo kenapa?"


"Nggak tau. Pms kali."


🍁🍁🍁


Bughh,,,bughh,,,,bughhh.


"BANGUN LO BNGST!"


Juna bangun sambil meringis kesakitan. Wajahnya yang tampan sudah banyak di hiasi dengan luka yang hampir membiru akibat pukulan yang dilayangkan Julian padanya.


Bughh,,,,


"Woy Julian, udah!"


"Lo bisa bunuh anak orang ****!"


Julian tidak mengindahkan ucapan kedua sahabatnya. Ia terus memberi bogeman mentah ke seluruh tubuh Juna yang saat ini berada di bawahnya.


"Gue nggak yakin Lisa bakal maafin Lo, kalok dia tau Lo ngelakuin ini." Sontak ucapan Alvaro membuat Julian menghentikan pukulannya."Maksud Lo apa hah?!"


"Lo nggak mikir? Baru tadi Lo minta maaf, dan sekarang Lo udah mulai lagi? Yang ada Lisa ngejauh dari Lo."


Julian mengangguk. Nafasnya yang awalnya memburu kini sudah mulai tenang, pemuda itu lalu bangkit dari tubuh Juna yang sudah habis babak belur di tangannya.


"Kali ini Lo selamat. Lagi sekali Lo ngelakuin hal yang nggak-nggak sama Lisa. Gue pastiin liang lahat atas nama Lo udah nunggu di TPU!" Ucap Julian mengancam, ia lalu berbalik dan melangkah pergi menjauhi Juna yang sudah terkapar lemah di tanah.


"Lisa memang pantes buat digituin. Dia cuma cewek miskin." Ucap Juna remeh.


"Eh buset tu anak. Udah bagus tu mulut di tutup, sekarang malah ngomong lagi." Bisik Aksa di telinga Delvin.


"Alamat masuk kuburan ini mah namanya."


Julian terdiam, "cewek miskin yang Lo bilang itu orang yang penting di hidup gue. Kalok Lo coba-coba buat ngelukain dia barang seinci pun, gue nggak akan segan-segan ngelukain semua badan Lo." Ucapnya tanda membalikkan badan.


"Inget pesen gue."


Aksa dan Delvin melongo di tempat. Mereka berusaha mencerna ucapan Julian tadi. Apa Lisa orang yang penting dalam hidup Julian? Sejak kapan Julian rela turun tangan untuk mengatasi hama seperti Juna demi membalaskan perbuatan pemuda itu pada Lisa? Dan satu lagi pertanyaan di benak mereka, apa Julian waras?


🍁🍁🍁