Sincerity

Sincerity
Papi...



"Maksud kamu?" Greisy dibuat kebingungan lagi dengan ucapan Helena yang penuh teka teki.


Helena tersenyum dan kemudian ia membuka tasnya untuk mengambil ponsel.


Setelah itu, ia menunjukkan foto Xylon serta beberapa gadis yang terdapat di layar ponselnya pada Greisy.


"Ini semua editan." ucap Helena sembari menggeser foto-foto itu di layar ponselnya.


"Jadi, kamu udah tau?" ujar Greisy yang dijawab anggukan oleh Helena.


"Ah... that's good then, I don't need to explain to you at length (Ah... bagus kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar)," ucap Greisy lalu bernafas lega.


"Xylon udah tau semuanya?" tanya Helena


"Iya, dan aku yakin kalau Xylon bakal urusin ini semua secepatnya," jawab Greisy


Helena manggut-manggut.


Kemudian, mereka pun saling diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing sampai Greisy membuka suara kembali.


"Kamu tau Helena? aku yakin, pasti ada orang yang bantu teman kamu itu," ucap Greisy


"Iya, pasti. nanti aku cari tau siapa orangnya," sahut Helena


"Sebenarnya kamu gak perlu repot-repot cari sih, because Xylon pasti udah suruh orang untuk menyelesaikan ini semua," tutur Greisy


"Gak ah, aku tetep penasaran dan pengen cari tau sendiri atau.." Helena menggantung perkataannya.


"Atau apa?" tanya Greisy penasaran


"Atau kamu bantu kita" jawab Helena


"Bantu?"


"Iya, mau kan?"


"Ya mau, bantu gimana?"


"Let's see, just follow my plan (Mari kita lihat, ikuti saja rencana aku)," ucap Helena sembari tersenyum miring dan tatapan matanya yang tajam.


"But, if you have a good idea, you can use it (Tapi, jika kamu punya ide bagus, kamu bisa menggunakannya)," sambung Helena yang kembali menatap Greisy.


"Okey," sahut Greisy menyetujui


"Greisy! apa Xylon masih ngira aku salah paham?" ujar Helena


"Maybe, you are lucky Helena," sahut Greisy


"Lucky kenapa?"


"Ya kamu beruntung diperjuangkan sama laki-laki yang benar-benar cinta sama kamu, hm ... aku-aku juga pengen jadi kamu"


Helena tersenyum pada Greisy dan berkata, "Greisy.. gak perlu jadi aku buat dapat laki-laki yang cinta sama kamu"


"Be yourself, you will be special in the eyes of the right man who really loves you (Jadilah dirimu sendiri, kamu akan istimewa di mata pria yang tepat yang sangat mencintaimu)" sambungnya


Greisy pun tersenyum mendengar itu lalu menganggukkan kepalanya.


1 jam kemudian, mereka pun selesai berbincang-bincang. Kini, Helena hendak pergi dari hotel itu. Namun, langkahnya terhenti saat dia tak sengaja berpapasan dengan Roy dan Carine saat menuju pintu keluar.


Roy menatap Helena lalu tersenyum. ia begitu merindukan putrinya.


"Helena? kamu disini? apa kabar nak?" ujar Roy yang hendak memeluk putrinya. namun, Helena segera mundur untuk mengindari pelukan dari Ayah kandungnya itu.


Helena terdiam lalu menatap Carine yang juga tengah menatapnya penuh kebencian.


"Maaf, anda siapa?" ujar Helena yang berpura-pura tidak mengenal Roy.


"Helena, apa maksud kamu? ini Papi, sayang..."


"Maaf, saya gak kenal siapa kamu, saya permisi," ucap Helena dengan suara yang bergetar menahan tangisan.


Dengan cepat, Helena langsung pergi meninggalkan Hotel tersebut dan Roy tidak menahan langkah putrinya itu, karena ia tau bahwa putrinya masih merasa kecewa.


Melihat Helena sudah pergi, Carine langsung mengubah ekspresinya dengan berpura-pura sedih dan berkata, "Tuhkan Sayang, Helena udah ngelupain kamu, padahal aku kangen sama Helena dan mau minta maaf, tapi dia malah pergi gitu aja dan gak menghargai kita. kamu lupain aja dia.. Kitakan udah ada Selena, jadi lupain aja masalalu kamu"


"Masa lalu kamu bilang? dia itu Helena Jefferson!! dia anak aku, darah daging aku sendiri!!" seru Roy yang kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan istrinya.


Carine pun mengejar Roy, lalu mensejajarkan langkahnya dengan langkah suaminya.


"Iya Sayang, aku minta maaf.. jangan marah ya?" Carine mencoba membujuk suaminya. namun, melihat Roy yang sama sekali tidak merespon perkataannya, membuat Carine merasa kesal.


FLASHBACK OFF


Helena meneteskan air matanya. sejujurnya, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia begitu merindukan Roy. Namun, Helena masih belum siap jika bertemu dengan ayah kandungnya itu.


'Kenapa hidup berat banget' batin Helena


Kemudian, ia menghela nafas berat.


"Oke stop mikirin kayak gitu, Lo harus lupain masalalu Lo dan hadapi yang sekarang" gumam Helena pada dirinya sendiri.


"Masa gini doang gue nangis, banyak kali yang lebih menderita dari gue, haha." Helena mengusap air matanya dan tertawa sumbang sambil bergumam agar dirinya kembali semangat dan tidak merasa bahwa dirinya yang paling menderita.


Helena pun mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, ia membuka aplikasi pesan dan melihat kontak Xylon.


Helena merasa bersalah karena telah mengatakan hal yang tidak pantas pada Xylon.


Kemudian, Helena pun membuka blokir kontak Xylon dan menelepon pria itu untuk meminta maaf.


Jujur saja, saat ini ia memang merindukan Xylon dan berniat ingin menemui pria itu. namun, ia merasa gengsi jika harus mengajak Xylon untuk bertemu.


disisi lain, Xylon sedang berada dijalan menuju kediaman keluarga Williams untuk menemui Helena. Xylon berpikir jika ia harus memperjuangkan cintanya, ia akan membujuk Helena supaya tidak salah paham lagi terhadapnya.


Tiba-tiba Xylon baru teringat jika ia tidak membawa apa-apa untuk orangtua Helena. ia pun menyuruh Gavin membeli sesuatu untuk keluarga Helena.


Setelah itu, supir Xylon kembali melajukan mobil sampai ke rumah Helena.


Saat Xylon hampir sampai di kediaman keluarga Williams, ponsel Xylon berdering.


Terlihat nama Helena tertera di layar Handphonenya sebagai penelpon tersebut.


'Udah gak di block?' batin Xylon


Xylon pun segera mengangkat teleponnya.


...📞📞📞📞📞📞...


"Halo"


"Ha-halo"


"Ada apa?" tanya Xylon. namun, tidak mendapat jawaban dari Helena, ia pikir jika gadis itu masih marah padanya.


"Halo Helena?"


"I-iya Xylon"


"Kenapa diem? masih marah? atau udah gak? tumben telepon duluan, kangen?" ujar Xylon lalu tertawa kecil. tetapi masih tetap saja tidak ada sahutan dari Helena.


"Helena ..." panggil Xylon kembali


"Iya"


"Iya terus dari tadi, kapan ngomongnya?"


"Maaf"


mendengar itu, Xylon tersenyum tipis lalu berkata, "It's ok, i miss you hel.."


"Miss you too"


Xylon langsung tersenyum bahagia saat Helena mengatakan jika gadis itu merindukannya juga, hatinya benar-benar merasa senang saat ini.


Xylon melihat ke arah depan dan ternyata sebentar lagi ia akan memasuki halaman rumah Helena.


"Yaudah turun"


"Huh? turun apa?"


"Ya kamu harus turun kebawah kalau kangen sama aku." ucap Xylon yang tiba-tiba memakai kata 'aku kamu' pada Helena.


"Kamu ke rumah aku?" ujar Helena yang entah mengapa ikut memakai kata 'aku kamu' pada Xylon.


"Hm, buruan turun atau aku yang naik ke atas terus masuk ke kamar kamu!"


"Iya iya"


"Dua puluh detik dari sekarang!" Xylon langsung mematikan sambungan teleponnya.