
Siang hari setelah mereka berbelanja, Xylon dan lainnya pergi menuju salah satu restoran mewah milik Papi Adelard yang memang berada di Bali.
Saat di perjalanan, Helena tidak satu mobil dengan Xylon. Melainkan, bersama sahabat-sahabatnya, geng Asyulo. Sementara Xylon, ia satu mobil dengan Kenzie dan Galang.
"Ck, gua gak habis pikir sama Helena, kalau dia emang sukanya sama Eric kenapa mau jadi cewek gua? bikin emosi aja."
Sepanjang perjalanan, Xylon terus menggerutu sembari menyetir mobilnya. Galang dan Kenzie yang sejak tadi mendengar ocehan Xylon yang tidak ada habisnya itu, terus menguap karena merasa bosan dengan gerutuannya.
"Eh, Lo pada dengerin gua gak sih?" ujar Xylon pada mereka berdua.
"Dengerlah, sampe mau copot kuping gue dengerin bacotan lu," sahut Kenzie kesal.
"Lagian Lo apain si Helena sampe-sampe bilang gitu?" tanya Galang menoleh ke arah Xylon yang berada di sampingnya itu.
"Ya gak diapa-apainlah!" jawab Xylon.
"Kalau gak diapa-apain, kenapa bisa gitu?" ujar Kenzie.
"Gak taulah anj*** makanya gua cerita ke Lu berdua," sahut Xylon.
"Awalnya gua pikir, dia lagi PMS. Tapi kayaknya bukan, malah makin ngelunjak," sambungnya.
"Namanya juga cewek," ucap Galang santai.
"Helenakan sama Eric udah deket dari lama, lagian mereka pernah pacaran cuma gak direstuin sama Denzel," tutur Kenzie yang membuat Xylon terkejut.
"Kapan?" tanya Xylon serius.
"Udah lama, pas lu masih kuliah di Harvard. Jadi, waktu itu si Denzel gak bolehin Helena pacaran dulu, makanya terpaksa putus, lagian Lo tau sendiri kalau si Eric playboy," jelas Kenzie.
"Nah iya, gua juga baru inget tuh kalau mereka pernah jadian. Makanya, karena terpaksa putus pas masih sayang-sayangnya, mungkin sampe sekarang masih ada benih-benih cinta gitu, kayaknya ya," timpal Galang.
"Kenapa gua gak tau? padahal gua udah nyari tau semua tentang Helena," ucap Xylon
"Ya berarti lu belum nyari tau semua tentang dia," jawab Kenzie.
"Bukan masalah dia ngambek atau gimana, tapi kalau emang masih suka sama Eric, kenapa dia mau nerima gua dan bilang cinta sama gua juga. Kan jadi ribet kayak gini, gak mungkin kan gua putus padahal ke Bali mau ngerayain jadian gua sama Helena."
"Gak tau, urusan Lo itu mah," sahut Kenzie cuek lalu memainkan ponselnya yang membuat Xylon berdecak sebal.
"Yang sabar, dude." kata Galang menepuk-nepuk pundak Xylon.
"Eh, rumor lu sama Helena udah diberesin? Kok udah gak ada postingan sama artikel-artikelnya?"
Kenzie yang tengah memainkan ponselnya dan melihat bahwa rumor tentang Xylon dan Helena pun bertanya karena sudah tidak ada beritanya.
"Ada orang yang bersihin," jawab Xylon.
"Siapa?" tanya Galang penasaran.
Xylon hanya mengedikkan bahunya karena ia sendiri pun tidak tahu siapa yang sudah membantunya.
***
Sesampainya di parkiran restoran, Xylon dan kedua sohibnya turun dari mobil. Xylon melihat ke arah Helena yang sedang masuk ke dalam restoran dan asik tertawa tanpa ada masalah dan tidakkah ia memikirkan Xylon saat ini?
Xylon menghembuskan nafasnya kasar.
"Udahlah, lepasin aja kalau lu sakit hati. Lagian Helena juga cintanya sama Eric," ujar Galang pada Xylon dan diangguki Kenzie yang menyetujui ucapannya.
"Cewek masih banyak, kalau dia udah gak ngehargain Lo, mending putusin aja si saran gua. Lagian Lo liat sendiri kan kalau dia aja gak peduli ama lu," timpal Kenzie.
Xylon mengerutkan keningnya dan menatap kedua temannya bergantian. Tidak biasanya Galang dan Kenzie berkata seperti ini, biasanya mereka tidak peduli dengan urusan orang lain dan menurut Xylon, mereka ini lama-kelamaan seperti perempuan arah pembicaraannya. Padahal Xylon tidak merasa sekesal itu sampai harus memutuskan Helena, Ia juga harus cari tahu terlebih dahulu daripada termakan omongan orang lain.
"Freak Lo pada," sahut Xylon.
Kemudian, ia pun langsung berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam restoran meninggalkan kedua curut tersebut.
"Susah Cok! Lagian orang mana yang bisa nipu dia?" ujar Galang pada Kenzie saat Xylon sudah terlihat jauh dari pandangan.
"Iya, gua juga tau itu! Tapi yaudahlah, yang penting ntar tuh ada adegan ribut-ribut," sahut Kenzie.
"Si anjir hahahahahahaha," Galang tertawa mendengarnya.
Setelah itu, mereka berdua pun menyusul yang lain masuk ke dalam untuk makan siang bersama.
***
Ketika makan siang, Xylon maupun Helena tidak mengucapkan satu katapun. Bahkan, tempat duduk mereka saja sedikit jauh. Hingga akhirnya, Freddy pun angkat bicara.
"Xylon, Helena!" panggilnya yang membuat kedua pasangan yang tengah saling diam itu menoleh ke arah sumber suara.
Freddy terdiam sejenak
"Gak jadi," ucapnya yang malah tidak jadi berbicara, padahal Xylon dan Helena sudah menanti-nanti apa yang akan pria paruh baya itu katakan.
"Dih?" Xylon yang merasa kesal pun kembali melanjutkan makannya. Begitupun dengan Helena.
"Kok gak jadi ngomong sih Pa?" bisik Fiona pada suaminya.
"Lupa dialog," jawab Freddy yang tak kalah berbisik.
"Ih gimana sih!" kesal Fiona.
Freddy hanya terkekeh kecil, Sementara Xylon yang sejak tadi memerhatikan kedua orangtuanya pun merasa sedikit penasaran. Namun, ia tetap tidak peduli selagi bukan hal penting yang melibatkannya.
"Ekhem." Natasya berdehem lalu menyerahkan ponselnya pada Helena sembari berkata,"Nih, Kak Eric telepon"
Dengan semangat, Helena langsung menyambar ponsel Natasya begitu saja lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Halo kak!"
.......
.......
"Serius?"
........
"Oh my Gosh"
...
"Aaaaaaaa!!!! Makin sayang sama Kak Eric"
"Uhuk uhuk." Xylon tersedak mendengarnya, ia pun cepat-cepat mengambil minum lalu meneguknya.
Ketika ia sedang minum, matanya tetap mengarah pada Helena yang sepertinya benar-benar tidak peduli dengannya dan tidak melihatnya sama sekali.
'Orang-orang pada kenapa dah? Terutama Helena' batin Xylon yang merasa hari ini semua orang terlihat aneh menurutnya.
"Mau kemana?" tanya Fiona ketika melihat putranya bangkit dari kursinya.
"Toilet." jawab Xylon sambil melangkahkan kakinya.
Helena dan Viorenza saling menatap. Kemudian, Vio bangkit dari duduknya dan entah pergi kemana.
***
Beberapa menit kemudian, Xylon keluar dari toilet dan dikejutkan dengan keberadaan Vio yang sedang berdiri di luar toilet.
"Koko!" seru Vio.
Yang dipanggil pun hanya menatap dengan wajah datar sambil menunggu apa yang akan gadis itu katakan.
"Tadi pas di mobil Helena curhat, dia sakit hati sama lu, lu gak percaya sama dia sampe-sampe harus ngehack handphonenya karena keposesifan lu, kalau lu gak bisa bahagiain Helena, mending putus aja deh, daripada ngekang dia dan bikin dia gak nyaman," ucap Vio.
"Daripada lu ngatur-ngatur dan bikin gua kesel, mending minggir." jawab Xylon yang hendak pergi dari sana.
Namun, tiba-tiba saja ia dikejutkan lagi dengan perlakuan Viorenza yang membuatnya benar-benar kesal. Pasalnya saat ini, gadis itu tengah memeluknya bersamaan dengan Helena yang tiba-tiba saja datang dan melihat hal itu.
"What?" gumam Helena.
Xylon yang awalnya mamatung karena kedatangan Helena begitu saja, langsung tersadar. Ia langsung mendorong Viorenza hingga gadis itu melepas pelukannya.
"Oh, aku yang salah, haha," Helena tertawa kecil melihatnya dan membuang muka menahan kekesalan.
Xylon menghampiri Helena dan memegang pundaknya seraya berkata, "Kenapa kamu temenan sama orang kayak Viorenza? kamu tau? dia yang peluk aku duluan, aku harap kamu liat semuanya dari awal dan gak salah paham."
Helena menatap tajam Xylon dan tersenyum kecut lalu menepis tangan pria itu dari pundaknya.
"Aku kesini mau minta maaf sama kamu, tapi aku mikir lagi, sebenarnya yang salah itu aku atau kamu?" ujarnya.
"Kamu, kamu yang salah, salah paham," sahut Xylon dengan tenang.
"Oh, gitu? ok, sorry for being wrong to you." ucap Helena yang langsung pergi begitu saja tapi dengan cepat, Xylon menahan tangan gadis itu.
"Lepas!" Helena berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Xylon. Namun, pria itu tetap tidak melepasnya.
"Hel, jangan childish kayak gini. Kamu gak ngeliat kejadiannya dari awal, jangan suka menyimpulkan hal yang kamu sendiri belum tau bener atau gaknya!" tutur Xylon.
Helena pun terdiam dan disaat itu juga, Xylon melepaskan cengkraman tangannya dari Helena karena ia mengira jika gadis itu sudah tenang.
"Hel, aku-"
Belum selesai Xylon berbicara, Helena sudah berlari terlebih dahulu.
Xylon beralih menatap Viorenza dengan tajam lalu mendekat ke arah gadis itu.
"Mau Lo apa? anak kecil gak usah ikut campur!" bentaknya.
Gleg
Viorenza menelah salivanya dengan susah payah karena ketakutan.
'Ck, gegara Helena, gua yang jadi sasaran. Mana gua gak tau ini gimana kaburnya' ucap Vio dalam hatinya sambil berpikir bagaimana meloloskan dirinya dari singa yang tengah marah dihadapannya ini.
Namun dalam hitungan ketiga, Viorenza langsung kabur begitu saja. Xylon tidak mengejarnya, lagi pula untuk apa ia melakukan hal itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah cara membujuk Helena dan berdamai dengan kekasihnya itu. Ah, bahkan Xylon tidak tahu hubungannya dengan Helena saat ini disebut apa, karena gadis itu sendiri katanya mencintai Eric, bukan dirinya.
Lagi dan lagi Xylon menghembuskan nafas kasar. Kenapa pacaran harus banyak drama seperti ini? Sungguh, ini bukan yang ia harapkan.
Di sisi lain, Helena berlari keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil milik Fiona yang tadi ia bawa bersama geng Asyulonya.
Di dalam mobil, Helena memukul-mukul setiran mobil. Tubuhnya bergetar bukan karena menangis ataupun merasa kesal. Tetapi karena tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahahaha, aduh bengek hahaha, gimana tuh ya nasib si Vio? Hahahahahahaha"
Helena terus saja tertawa mengingat wajah Viorenza dan reaksi Xylon barusan.
Setelah beberapa saat, tawanya mulai hilang dan ia kembali duduk dengan tegak.
"Haduh... Udah ah, It's time to prepare a surprise for my beloved." ucapnya lalu segera menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan parkiran restoran menuju suatu tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa komen yang menarik ♥
Like
Vote
save in your favorite!